
"Vira!" teriak Nadya lantang, Vira menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Nadya yang berjalan perlahan ke arahnya. Vira terperangah melihat Nadya datang bersama Azzam.
Vira baru saja selesai ujian. Dia berniat pulang, tapi Vira harus mengikuti ujian lanjutan demi beasiswa. Saat Vira berjalan menuju ruang dosen, Nadya memanggilnya. Nadya datang bersama Azzam. Keduanya berangkat bersama dari rumah Azzam. Sebaliknya Azzam datang ke kampus, untuk bertemu rektor. Dia bertanggungjawab atas beasiswa yang akan diterima beberapa murid.
"Nadya, kamu sedang apa? Bukankah kamu tidak perlu mengikuti ujian. Lalu kenapa kamu ada di kampus?" ujar Vira, Nadya tersenyum simpul. Dia melirik ke arah Azzam, Vira mengikuti arah tatapan Nadya.
"Dia laki-laki yang akan dijodohkan denganku!" bisik Nadya, Vira mengangguk mengerti. Vira ikut bahagia melihat Nadya bahagia. Sebaliknya Azzam terlihat kesal berada diantara Vira dan Nadya. Namun tidak ada pilihan bagi Raihan. Selain mengikuti langkah kaki Nadya yang ternyata membuatnya bertemu dengan Vira. Perempuan yang mulai mengusik ketenangan hatinya.
"Papa tidak salah, dia menjodohkan aku dengan anak kemarin sore. Dia lebih cocok menjadi adikku. Kenapa harus aku yang menikah dengannya? Kenapa bukan Fariz yang seumuran dengan gadis ini?" gerutu Azzam.
"Aku harus menemui rektor, kamu tetap disini. Tidak perlu ikut denganku!" ujar Azzam ketus, Nadya mengangguk pelan. Terlihat Nadya menurut pada Azzam. Entah kenapa kedewasaan Azzam mengusik hati Nadya? Jika ini cinta pandangan pertama. Maka Nadya sedang merasakannya. Pesona Azzam membuat Nadya bertekuk lutut.
"Nadya, aku juga harus bertemu dosen. Ada ujian yang harus aku ikuti. Jika tidak keberatan tunggulah sebentar. Aku akan segera menemuimu!" pamit Vira, dia berjalan menjauh dari Azzam dan Nadya. Tanpa menunggu persetujuan Nadya. Vira langsung pergi menjauh dari Nadya.
Azzam melihat punggung Vira yang semakin menjauh. Dengan langkah yang sama Azzam mengejar Vira. Dia mengikuti langkah Vira menuju ruang dosen. Azzam ingin mengetahui, apa yang dilakukan Vira? Entah kenapa langkah kaki Vira seakan membuat Azzam tergerak mengikutinya. Tepat di ruang dosen, Vira masuk setelah mengetuk. Terlihat beberapa murid yang memiliki tujuan yang sama dengan Vira.
Vira melakukan beberapa ujian demi mendapatkan beasiswa. Hanya dengan beasiswa, Vira bisa menggapai impiannya. Jika dia tidak bisa mendapatkan beasiswa itu. Dia tidak mungkin bisa menggapai impiannya. Sebuah harapan agar bisa membahagiakan adik dan ibunya. Menjadi tulang punggung keluarganya.
__ADS_1
Sekitar setengah jam lebih, Vira mengikuti ujian. Setelah selesai ujian, Vira langsung berjalan menuju kantin kampus. Nadya sedang menunggunya disana. Saat tiba di kantin, Vira berniat memutar balik. Dia melihat Nadya sedang duduk berdua dengan Fariz. Namun Nadya terlanjur melihat Vira. Sebab itu Vira tidak bisa kembali.
"Jangan berani pergi lagi. Sejak tadi aku menunggumu. Sekarang pesan makanan, setelah itu ikut aku pergi ke supermarket!" ujar Nadya, Vira menggeleng lemah. Dia tidak mungkin pergi dengan Nadya. Vira mengkhawatirkan kondisi keluarganya, terutama ibunya yang sejak semalam sakit.
"Nadya, aku harus segera pulang. Sejak semalam ibu sakit. Sedangkan adikku tidak mungkin bisa merawat ibu. Kamu teruskan saja makanmu. Kebetulan aku sedang puasa, lagipula ada Fariz. Dia yang akan menemanimu, sekalian kalian bisa saling mengenal. Sebentar lagi kalian menjadi saudara!" ujar Vira lirih, Nadya dan Fariz terkejut mendengar perkataan Vira. Meski apa yang dikatakan Vira itu kejujuran?
Fariz menatap raut wajah Vira, tak ada kebohongan dalam perkataannya. Doa tulus terdengar jelas dari bibir Vira. Fariz tersenyum simpul, kini dia yakin akan pemikirannya. Jika Vira tidak akan dengan mudah mencintai Azzam kakaknya. Banyak perbedaan yang membuat mereka tidak mungkin bersatu.
"Kamu benar Vira, dia yang kelak menjadi kakak iparku. Setidaknya aku tidak perlu bersaing dengan saudaraku demi cinta!" ujar Fariz lirih, Nadya terkekeh mendengar kejujuran Fariz. Sedangkan Vira terlihat heran dengan perkataan Fariz.
"Sudahlah, aku pulang dulu. Kalian lanjutkan tanpa aku. Doa terbaikku untuk kalian!" ujar Vira, Nadya dan Fariz mengutas senyum membalas perkataan Vira. Akhirnya Vira memutuskan untuk pulang lebih dulu. Hari sudah sangat siang. Vira harus membantu ibunya membersihkan rumah. Sejak keluar dari rumah keluarga Atmaja. Vira gelisah memikirkan kondisi ibunya.
"Awwssss!" pekik Vira kesakitan. Seketika Vira mendongak melihat orang yang bertabrakan dengannya. Sembari mengusap kepalanya yang masih sakit. Vira mencoba melihat orang yang ada di depannya. Sontak Vira terkejut, ternyata Azzam yang tanpa sengaja Vira tabrak.
"Tidak bisakah kamu jalan tanpa menunduk!" ujar Azzam ketus, Vira menunduk merasa bersalah. Sebaliknya Azzam acuh melihat Vira kesakitan. Tanpa peduli rasa sakit Vira. Azzam melewati Vira begitu saja. Dia berjalan menghampiri Fariz dan Nadya.
"Maaf!" sahut Vira lirih. Vira tidak peduli bila Azzam tidak mendengarnya. Satu hal yang paling penting. Vira sudah meminta maaf.
__ADS_1
"Fariz, dia temanmu bukan. Jadi antar dia pulang. Aku tidak ada waktu mengurusi gadis manja ini. Katakan pada mama, nanti malam aku pulang terlambat. Aku harus keluar kota!" ujar Azzam tegas, kedua mata Nadya membelalak tidak percaya. Sikap hangat sesaat Azzam telah menipunya.
"Apa kamu pikir aku bahagia berurusan dengan laki-laki tua sepertimu? Kamu memang tampan dan sukses, tapi menjadi istrimu. Aku tidak bisa membayangkan. Sikap dinginmu membuatku takut. Setiap hari mendengar suara ketusmu, melihat sikap dinginmu. Entahlah aku juga harus berpikir ribuan kali? Bukannya bahagia, aku akan sengsara dan beku. Seakan aku hidup di gunung es tak berhati!" batin Nadya kesal.
Azzam langsung pergi meninggalkan Nadya dan Fariz. Dia melihat kesana kemari, seolah dia sedang mencari seseorang. Vira yang merasa bersalah telah menabrak Azzam. Langsung pergi tanpa pamit, dia sempat melihat amarah Azzam saat bicara. Sontak tubuh Vira bergetar ketakutan. Dia takut menerima amarah yang sama. Sebab itu Vira memutuskan untuk langsung pergi menjauh.
Vira berjalan menuju halte bus, dia harus segera sampai ke rumahnya. Rasa cemas dan gelisah membuat hati dan pikirannya tidak tenang. Vira sangat khawatir akan kondisi ibu dan adiknya. Lama Vira menunggu, tak ada satupun bus yang datang. Lalu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Vira mengacuhkan mobil itu. Sebab Vira merasa tidak mengenal pemilik mobil tersebut. Vira berjalan menjauh, dia merasa risih dengan keberadaan mobil mewah itu.
"Masuk ke dalam mobil sekarang. Aku akan mengantarmu pulang!" ujar Azzam dingin, Vira menggeleng lemah.
"Kamu masuk atau aku akan menyeretmu masuk. Jangan lupa, kamu tadi yang menabrakku. Sebagai ganti rasa sakitku, ikut aku sekarang!" ujar Azzam ketus dan dingin, Vira diam membisu. Azzam semakin kesal, dia berjalan menghampiri vira. Belum sempat Azzam mendekat, Vira sudah berlari masuk ke dalam mobil Azzam
"Semoga hari ini terakhir kalinya aku berurusan dengan pewaris keluarga Atmaja. Seandainya bukan karena ibu bekerja di rumahnya. Aku tidak pernah ingin mengenalnya. Berurusan dengan laki-laki berhati dingin seperti dia. Dalam mimpipun aku tidak akan berharap!" batin Vira, lalu menghela napas.
"Jangan berpikir macam-macam tentangku. Suara helaan napasmu, seakan mengeluh akan diriku. Satu hal lagi, jangan pernah mendoakan kebahagianku bersama temanmu. Kebahagian yang belum tentu ingin aku miliki dengannya. Diammu jauh lebih baik, daripada doa tulus yang tidak pernah kuharapkan keluar dari bibirmu!" ujar Azzam dingin, tanpa menoleh pada Vira. Sebaliknya Vira hanya bisa diam membisu.
"Pakai sabuk pengamanmu, waktuku tidak banyak!" ujar Azzam, Vira mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aneh, satu kata yang tepat untuk pribadi tuan Azzam. Dia sibuk tapi memaksa mengantarku!" batin Vira sembari menggelengkan kepala.