
"Vira!"
Vira menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Arif berjalan cepat mengejar Vira. Setelah dua minggu lebih Vira cuti kuliah. Hari ini Vira kembali masuk, tapi Arif tidak bertemu dengan Vira. Sebab tidak ada jadwal Arif mengajar kelas Vira.
"Pak Arif!" sapa Vira ramah, sembari membungkuk pelan. Vira sangat menghargai Arif. Sebagai seorang dosen, Arif sangat pintar dan baik. Sebagai seorang ustad di kampungnya. Arif telaten mendidik anak-anak di kampungnya. Vira mengagumi sikap Arif yang begitu rendah diri. Ilmu dan kepintaran yang dimiliki Arif. Tak lantas membuat Arif merasa sombong.
"Bisa kita bicara, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kita bisa bicara sembari berjalan keluar dari kampus!" ujar Arif santai, Vira mengangguk setuju.
Vira mulai membuka diri pada orang lain. Selama niat itu bersih, Vira akan membuka tangan selebar mungkin. Apalagi Arif bukan orang lain. Vira mengenal Arif sebagai dosen, sekaligus orang yang taat. Vira percaya Arif tahu batasan diantara mereka berdua. Akhirnya Vira dan Arif berjalan perlahan menuju gerbang kampus.
Entah kebetulan atau tidak? Hari ini Arif tidak membawa mobil. Dia akan dijemput seseorang di luar kampus. Sedangkan Vira memang tidak pernah membawa kendaraan. Vira selalu menggunakan angkutan umum. Sekadar untuk berangkat dan pulang dari kampus.
"Vira, kamu pulang naik apa? Ikut denganku saja, aku akan minta temanku mengantarmu dulu. Baru aku akan keluar bersamanya!" tawar Arif, Vira menggeleng lemah.
Arif mengangguk mengerti. Dia memahami sifat Vira. Wanita yang tahu batasan, tidak akan dengan mudah menerima tawaran pergi dengan orang lain. Meski Arif tidak mengenal Vira, dia memahami cara berpikir Vira. Termasuk jarak yang harus ada saat mereka berjalan berdua. Bahkan keduanya bicara tanpa saling menoleh.
"Terima kasih pak Arif. Vira ada janji dengan seseorang. Kami akan bertemu di depan kampus!" ujar Vira ramah, Arif mengedipkan mata tanda mengiyakan perkataan Vira.
Keduanya berjalan berdampingan, ada jarak yang memisahkan keduanya. Jarak yang akan selalu dijaga Vira dan Arif. Agar tak ada fitnah dari orang lain yang melihatnya. Vira dan Arif berjalan bersama tanpa saling menatap. Keduanya bicara tanpa berpikir saling melihat. Pengertian yang seolah mudah, tapi sulit dilakukan. Jarak yang dijaga Vira ketika bersama Arif. Namun kalah oleh kehangatan Azzam malam itu. Saat tanpa sengaja Vira merangkul tangan Azzam erat.
"Vira, sebenarnya bukan kapasitasku bertanya. Aku juga tidak ada hak melarangmu. Namun hatiku seakan tidak setuju dengan keputusanmu. Sebab itu aku bertanya padamu!" ujar Arif ramah, Vira diam menunduk. Hatinya mulai merasa gelisah. Bayangan keputusan akhir Vira akan rasa Azzam. Membuatnya takut mendengar perkataan Arif.
"Katakan pak Arif, selama Vira bisa menjawab. Insyaallah Vira akan menjawabnya!" sahut Vira lirih, Arif menunduk menahan napas. Dia tak lagi peduli pada pandangan orang. Arif merasa benar dengan berjalan bersama Vira. Mencari tahu alasan sebenarnya Vira.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin entransfer nilai kuliahmu? Bukankah ini masih tengah semester. Aku juga mendengar, kamu mencoba mengajukan beasiswa lagi. Apa yang sedang kamu pikirkan? Setidaknya sebagai seorang guru, aku tidak ingin melihat murid berprestasiku memutuskan jalan yang salah!" ujar Arif, Vira diam membisu.
Vira diam bukan tanpa alasan. Dia sudah menduga akan ada yang mengetahui rencananya. Namun secepat ini semua terbuka, sungguh Vira tidak menyangkanya. Seandainya Vira bisa memilih, dia tidak akan diam-diam melakukannya. Namun hubungan rumit diantara dirinya dan dua pewaris keluarga Atmaja. Membuat Vira tak mampu memilih jalan lain. Selain pergi tanpa ada yang menyadari.
"Pak Arif, aku mohon jangan tanyakan hal itu. Setidaknya bapak cukup tahu aku melakukannya. Banyak alasan yang mendasari keputusanku. Percayalah, aku melakukan semua ini demi kepentingan semua orang!" jawab Vira tegas, Arif menggeleng tak setuju.
Arif tidak pernah tahu masalah yang terjadi antara Vira dan Azzam. Namun dia mengenal Vira, sosok wanita yang tidak akan kalah oleh ujian hidup. Vira tidak akan terluka dan menyerah menghadapi rintangan. Namun hari ini Arif melihat Vira yang menyerah kalah dan mengalah. Bukan menghadapi masalah yang ada di depannya.
"Bukan yang terbaik, tapi kekalahan yang seolah kamu akui. Seseorang yang mengenal iman, tidak akan takut akan ujian. Dia akan selalu berusaha dan percaya ikhtiar yang dilakukannya akan mendapat hasil yang terbaik. Bukan pasrah dan menyerah tanpa berusaha. Apa yang aku putuskan sekarang? Bukan sebuah ikhtiar, tapi pasrah akan ujian-NYA!" ujar Arif, Vira terdiam membisu. Dia menunduk menatap tanah yang basah.
Vira berjalan di bawah gerimis, sejak pagi hujan turun tanpa henti. Meski hanya gerimis, air hujan telah membasahi bumi dengan sempurna. Sedingin hati Vira, sedingin itu angin menusuk ke tulang Vira. Lama keduanya terdiam bermain dengan pikirannya. Vira dengan gelisah hatinya. Arif dengan ketidakmengertiannya.
"Mungkin aku menyerah, karena tulangku lemah dan tak bertenaga. Iman dan keyakinanku kalah oleh rasa yang tak seharusnya ada. Dua pewaris keluarga terhormat menghancurkan pondasi yang kubangun kokoh. Mereka membuatku lemah dan tak berdaya. Menjauh mungkin jalan terbaik, agar aku menjadi Vira yang dulu. Kuat akan ujian yang menerpaku!" batin Vira.
Tin Tin Tin
"Diakah alasanmu menyerah? Jika iya, kamu wanita bodoh. Lihatlah dia bisa menatap dunia di depannya. Sebaliknya kamu malah mundur menjauh!" ujar Arif lirih, Vira hanya diam menunduk seraya menekan dadanya perlahan.
"Kamu akan disana sampai kapan? Aku tidak punya banyak waktu!" teriak Azzam dengan emosi. Arif mengangkat tangan mengiyakan panggilan Azzam.
"Vira!"
"Silahkan pak, aku bisa menunggu temanku sendirian!" sahut Vira mengerti panggilan Arif. Vira berpamitan pada Arif, berjalan perlahan menjauh dari Arif.
__ADS_1
Arif berjalan masuk ke dalam mobil Azzam. Dia hendak duduk di belakang. Namun Azzam melarangnya, Azzam meminta Nadya pindah ke kursi belakang.
"Aku pikir kita akan pergi berdua!" ujar Nadya lirih, Azzam tersenyum sinis mendengar perkataan Nadya.
"Aku pergi denganmu hanya demi mama. Jangan pernah berpikir aku bersedia pergi berdua denganmu!" ujar Azzam ketus, Arif tersenyum melihat sikap dingin Azzam pada Nadya.
Tiiiiiiiiiinnnnnnnnn
Azzam menekan klakson mobilnya penuh emosi. Arif dan Nadya terkejut mendengar suara klakson. Mereka melihat jelas amarah Azzam. Bahkan Arif memegang tangan Azzam mencoba menenangkan hatinya.
"Minggir!" teriak Azzam, Arif dan Nadya menatap ke depan mobil Azzam
"Vira, kenapa selalu ada di setiap langkahku?" batin Nadya kesal.
Tiiiiiiinnnnnn
"Vira, cepat naik!" ujar Abil, Vira mengangguk pelan. Dengan cepat Abil melajukan mobilnya. Vira duduk di kursi belakang sepeda motor sport Abil. Keduanya pergi jauh dari pandangan Azzam.
Braaaaakkkkkk
"Percuma kamu marah, Vira tidak akan kembali. Dia mulai bersiap pergi dari kota ini. Kini aku mengerti alasan kepergiannya. Ternyata kamu yang membuat Vira lemah. Jika kamu cemburu dengan laki-laki tadi. Dia Abil Muwafaq sahabat Vira. Keduanya berada di kelas yang sama. Bahkan mereka duduk di bangku yang sama!"
"Diam!" teriak Azzam kesal. Setiap perkataan Arif hanya membuatnya marah.
__ADS_1
"Kamu egois Azzam. Vira berhak dekat dengan siapapun? Layaknya kamu yang hari ini duduk semobil dengan Nadya. Jika kamu sakit, hal yang sama dirasakan Vira!" ujar Arif.
"Gapai kesempatanmu sebelum aku yang menggapainya. Vira berhak bahagia!"