
"Sampai kapan kamu hanya menatap punggung Vira? Sampai kapan kamu berharap? Ketika nyata harapan itu tak pernah ada?" ujar seorang wanita pada pemuda tampan. Dua orang yang mengawasi Vira sejak satu jam yang lalu.
"Sampai aku lelah akan hidup ini dan berpikir untuk mengakhirinya!" sahut Fariz dingin, Sheila menggeleng lemah tak percaya.
Bertahun-tahun dia diam menatap diam Fariz. Tahun-tahun pahit yang dilaluinya dengan air mata. Bukan hanya menangis, karena cintanya yang tak pernah bersambut. Namun tangisan akan kesedihan Fariz Maher Putra Atmaja. Sahabat sekaligus imam yang didambakannya.
"Cintamu mungkin kuat, tapi hatiku lemah melihat lukamu. Aku mohon temui dia, jika tidak menyerahlah. Kubur dalam-dalam rasa yang tak mungkin bersambut ini!" ujar Sheila, Fariz diam mendongak menatap langit.
Gelap dan dingin layaknya sahabat dalam hidupnya. Sepi tanpa saudara, jauh dari orang tua yang menyayanginya. Fariz hidup di dalam dunianya yang hampa tanpa kasih sayang. Fariz bertahan hanya dengan satu cinta suci dan tulus. Cinta yang membuatnya kuat melewati hari-hari sepinya.
"Aku akan tetap dengan rasa ini. Cukup dengan melihatnya kuat balasan yang kubutuhkan. Aku tidak memintamu berdiri menemaniku. Cinta inu menyakitkan, tapi aku bahagia dengan rasa ini. Vira bak bulan yang ingin kutatap, tapi tidak mungkin aku memeluknya. Cintaku rasa yang aneh tapi nyata. Dia kuat dan lemah langkahku. Menatapnya sudah mengobati lukaku. Menenangkan amarah yang membara di hatiku!" ujar Fariz lirih, lalu memutar tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Cecil tertegun menatap punggung Fariz. Sekilas dia memegang dadanya pelan. Terasa sakit yang teramata. Ingin rasanya Cecil menjerit mengeluarkan seluruh rasa sakitnya. Namun semua tak semudah harapannya. Sekali dia mengatakan cinta, saat itu juga dia akan kehilangan persahabatannya dengan Fariz.
Cecilia Saputri Pratama wanita berparas cantik, satu-satunya pewaris keluarga Prawira. Anggun dan berpendidikan layaknya Vira. Lahir dari keluarga tak biasa, tapi memilih hidup sederhana bersama Fariz. Ketiganya sekolah di SMU yang sama. Vira tak pernah mengenal Cecil, persahabatannya dengan Nadya. Menutup mata Vira akan hubungan yang lain. Cecil tak lebih dari gadis cupu saat SMU. Dia menganggumi Fariz dalam diam. Namun semua berubah, ketika Cecil kuliah di kampus yang sama dengan Fariz.
Fariz dan Cecil memutuskan bekerja di perusahaan milik keluarga Cecil. Perusahaan besar yang kini di pimpin Fariz sebagai CEO. Cecil memilih duduk di samping Fariz. Menganggumi Fariz dalam diamnya. Menyimpan cinta yang tak mungkin bisa diungkapkan. Entah kapan rasanya akan terungkap? Cecil memilih mencintai Fariz dengan air mata.
"Sama halnya diriku yang akan bertahan dengan rasa ini. Jika kamu diam menatap Vira, aku menangis melihat kepedihamu. Cintamu tulus dan teguh hanya pada satu nama. Sebaliknya cintaku ikhlas menemani sepimu. Aku sakit menyimpan rasa cinta ini, tapi lebih sakit melihatmu terluka. Bahagia, harapan dalam cintaku yang tak sempurna. Meski dengan air mata, aku siap mengantarmu menyambut cinta tulusmu!" batin Cecil pilu. Lalu masuk ke dalam mobil yang sama dengan Fariz.
Fariz masuk ke dalam mobil mewahnya. Hampir setiap malam, Fariz mengawasi Vira tanpa Vira menyadarinya. Fariz akan pulang, ketika Vira masuk ke dalam kamarnya. Fariz dengan mudah mengawasi Vira. Dia telah meminta seluruh stafnya menjaga Vira. Kekuasaan dan wibawa Fariz dengan mudah membuat para stafnya tunduk. Vira tak pernah menyadari, Fariz berada di balik semua keistimewaan yang di dapatkannya.
TOK TOK TOK
"Keluar!" teriak Vira.
Sontak Fariz menoleh, dia melihat Vira berdiri di samping pintu mobilnya. Cecil tidak kalah terkejut dari Fariz. Dia melihat jelas amarah Vira. Sikap yang tak lagi bisa ditutupi, seakan bom yang siap meledak. Dengan kikuk Fariz membuka pintu mobilnya. Fariz tak sanggup bertemu dengan Vira saat ini. Cecil keluar dari mobil mengikuti langkah Fariz.
__ADS_1
"Kemana kamu pergi tanpa menyapaku? Selama ini aku menunggu kamu menemuiku. Tapi kamu terus diam tak bergeming. Bahkan di malam terakhir aku di kota ini!" ujar Vira lantang penuh emosi.
"Vira!"
Plaakkk
"Viraaaa!" teriak Cecil marah. Seketika Cecil berlari menghampiri Fariz. Dengan sekuat tenaga Cecil menarik tubuh Vira menjauh dari Fariz.
Dia mendorong Vira ke belakang. Cecil menangkup wajah Fariz yang ditampar Vira. Cecil marah melihat sikap kasar Vira. Dengan lembut Cecil menyentuh pipi Fariz. Namun dengan kasar, Fariz menepis tangan Cecil. Fariz marah melihat Vira terhuyung ke belakang.
"Vira!" teriak Fariz hendak menahan tubuh Vira. Namun terlambat, dorongan Cecil terlalu keras. Tubuh mungil Vira terhuyung mundur dengan cepat. Tanpa bisa dihentikan, sampai ada tangan yang menahan tubuhnya.
Nyuuuuttt
Cecil tertegun menatap Fariz, dia menepuk dadanya pelan. Terasa sakit melihat kecemasan Fariz pada Vira. Sikap kasar Fariz bak garam diatas lukanya. Perihnya tak tertahankan.
Cecil mundur beberapa langkah ke belakang. Menatap nanar kecemasan Fariz pada Vira. Terluka dengan sikap acuh Fariz akan dukanya. Cecil tak percaya, Fariz akan melupakan air matanya dengan begitu mudah. Dia menyadari dirinya tak pernah berarti dalam hidup Fariz. Namun Cecil tetaplah wanita yang butuh dekapan, bukan hanya sikap dingin dan diacuhkan.
"Kamu baik-baik saja!"
"Kak Azzam!" ujar Vira lirih.
"Apa kabar Fariz?" sapa Azzam lirih, Fariz diam menatap lekat Azzam.
Sontak Vira melepaskan pelukan Azzam. Dia berjalan menjauh dari Azzam dan Fariz. Dua pewaris keluarga Atmaja yang kini menjadi bagian hidup Vira. Ada rasa heran dan tak percaya, melihat Fariz dan Azzam berada di depannya. Kebetulan yang tak mungkin terjadi tanpa kesengajaan.
Vira menggeleng lemah tak percaya. Melihat Azzam dan Fariz berdiri di depannya. Fariz yang seminggu terakhir selalu mengawasi. Sedangkan Azzam yang entah mulai kapan ada di kota ini? Vira tak percaya menatap Azzam dan Fariz di waktu yang sama.
__ADS_1
"Kalian ada di tempat ini. Tidak mungkin kalian kebetulan bertemu. Atau aku yang bodoh tak pernah menyadari keberadaan kalian!" ujar Vira lirih, sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Vira merasa bodoh, saat dirinya tak pernah tahu akan keberadaan Azzam dan Fariz.
"Vira, aku bisa menjelaskan semuanya!" ujar Fariz gelisah melihat rasa kecewa Vira.
Bak ribuan jarum menancap tepat dihatinya. Terasa sangat menyakitkan melihat kekecewaan Vira padanya. Fariz berjalan maju menghampiri Vira, tapi langkah kakinya terhenti. Saat Vira merentangkan tangannya ke depan. Seakan meminta Fariz tidak mendekat padanya.Vira merasa tertipu dan kecewa, bukan pada Fariz seorang, melainkan Azzam.
"Vira, kita bisa bicara baik-baik!" ujar Azzam, Vira menggeleng lemah.
"Kalian berdua hebat, mempermainkan hatiku layaknya gelembung sabun. Kalian meniup lalu meletuskannya lalu menganggapnya angin lalu!" ujar Vira lirih, lalu Vira berjalan menghampiri Azzam. Dia menatap lekat Azzam, laki-laki yang menjadi ayah dari putranya.
"Azzam Auliqa Putra Atmaja, imam yang kupilih. Namun tak pernah berpikir ingin berjuang menggapaiku. Hanya diam dan amarah yang menjadi bukti cintanya. Seakan semua itu membuatku bahagia merasa dipedulikan. Nyatanya anda salah, aku tak pernah bahagia dengan sikapmu. Aku tersiksa dengan sikap diammu, aku tertekan melihat amarahmu. Kucoba menggapai tinggi statusmu, semua demi harga diri yang sepadan denganmu. Bukti cintaku padamu. Agar tak ada lagi amarah yang kelak menyakitimu!" ujar Vira lantang di depan Azzam.
"Kamu, Fariz Maher Putra Atmaja. Teman yang pernah mengisi hari-hariku. Adik ipar yang tak pernah bersedia mengakuiku. Rasa cinta yang kamu katakan, membuatku merasa bersalah dan tak berdaya. Kalian pewaris keluarga Atmaja, memiliki darah dan watak yang sama. Tak pernah berpikir aku yang terluka dengan cinta kalian!"
"Vira, lebih baik kamu tenang. Kita bicara baik-baik!" ujar Azzam.
"Aku tidak akan tenang, ketika menyadari kalian memperlakukanku bak orang bodoh. Sang kakak diam-diam mengawasiku. Seakan tidak percaya akan kesetianku. Sang adik terus menjagaku, tanpa berpikir ingin bertemu denganku. Padahal aku ingin menatap wajahnya sekali saja. Aku ingin meminta maaf atas dukanya selama ini!"
"Vira kamu salah, aku baik-baik saja!"
"Kamu baik-baik saja, aku yang tidak baik. Hidup dalam rasa bersalah. Karenaku kamu menjauh dari keluargamu. Karenaku kamu tersiksa dengan cintamu. Kalian tak akan pernah mengerti diriku!"
"Vira, jangan pergi!"
"Maaf kak Azzam, cinta kalian terlalu menakutkan!" sahut Vira lalu berlalu.
"Bukan cintaku yang menakutkan, tapi dirimu yang terlalu berharga!" ujar Fariz lirih, hampir tak terdengar.
__ADS_1