Ikhlas

Ikhlas
Darah


__ADS_3

Terdengar alunan melodi indah dari piano besar yang terletak di tengah-tengah taman. Tangan sang pianis bermain indah menghasilkan lantunan melodi indah. Menenangkan hati yang mendengarkannya. Menambah syahdu malam yang indah.


Vira berdiri diantara mendongak menatap langit gelap yang penuh dengan bintang. Kemeriahan pesta sedikitpun tak membuatnya tertarik. Vira larut dalam dingin dan sunyi malam. Ketenangan yang tak pernah terbantahkan. Malam yang membuatnya kuat melewati hari esok. Ikhlas menerima apa yang telah terjadi hari ini? Berani melewati hari esok yang sulit.


Vira berdiri menepi dari pesta malam ini. Kediaman keluarga Atmaja sedang mengadakan pesta besar-besaran. Malam ini tuan besar Atmaja sedang merayakan hari jadinya. Angga sengaja mempersiapkan pesta besar untuk sang ayah. Malam ini juga akan diumumkan pertunangan Azzam dengan Nadya.


Semenjak Nadya yakin Azzam menyukai Vira. Sejak saat itu Nadya menjaga jarak dengan Vira. Meski sebenarnya tak pernah Vira menyadari atau peduli dengan perasaan Azzam padanya. Namun Nadya tetap menjauh darinya. Vira hanya bisa ikhlas kehilangan sahabatnya. Tak ada yang bisa dilakukan Vira. Menerangkan sesuatu yang sudah dianggap kebohongan. Hanya akan membuang tenaga percuma.


Sekilas Vira melihat Nadya berdiri diantara kedua orang tuanya. Nadya terlihat anggun dengan balutan gaun mewah yang kebetulan senada dengan Azzam. Vira mengucap syukur masih diberi kesempatan menyaksikan hari bahagia sahabatnya. Tak ada rasa kecil hati, ketika menyadari perbedaan antara dirinya dan Nadya. Gaun mewah Nadya, berbanding terbalik dengan celemek biru yang dikenakannya. Tatanan rambut Nadya yang begitu cantik, serta riasan wajah Nadya yang begitu mempesona. Tak sedikitpun memncing rasa dengki Vira. Meski Vira hanya menggunakan hijab instan lusuh. Wajah yang terlihat lelah tanpa make up. Vira tetap bersyukur bisa menjadi bagian dari hari paling penting Nadya.


"Minumlah!" ujar Azzam dingin, sembari memberikan sebotol air mineral pada Vira.


Sontak Vira menoleh, dia melihat Azzam berdiri tepat di sampinya. Sekilas Vira bisa mencium harum aroma tubuh Azzam. Penampilan Azzam semakin tampan dan berwibawa. Dengan setelan jas yang sedikit bewarna. Sejenak Vira terpesona dengan kedewasaan Azzam. Lalu tersadar saat Vira menyadari rasa kagumnya tak pantas ada.


"Tuan muda ada disini!" sahut Vira heran, Azzam diam mengacuhkan perkataan Vira. Dengan santai Azzam meneguk satu botol air mineral tanpa bernapas. Azzam seakan tak peduli pada pendapat Vira atau keluarganya.


Azzam meninggalkan pesta tanpa ada yang menyadarinya. Azzam lelah mengikuti kemauan keluarga yang selalu peduli pada harta. Perjodohannya dengan Nadya tak lebih dari hubungan bisnis. Penyatuan dua bisnis besar, alasan yang membuat Azzam merasa tak beharga.


"Memangnya siapa yang melarangku berada disini? Dimanapun aku berdiri? Tidak ada yang berhak melarangku. Ini rumah kedua orang tuaku!" sahut Azzam dingin dan tegas, Vira menunduk seraya menggeleng lemah.

__ADS_1


Bukan maksud Vira melarang Azzam berada di sampingnya. Namun Vira mengetahui jelas, Azzam yang menjadi bintang pesta malam ini. Tidak pantas rasanya bila Azzam berada di sudut bersamanya. Meninggalkan pesta yang khusus digelar untuknya.


Azzam sekilas melirik Vira yang menunduk merasa bersalah. Meski Azzam mengerti maksud perkataan Vira. Maksud yang membuat Azzam semakin kesal, karena Vira seakan menyetujui pertunangannya dengan Nadya. Sikap yang jelas dilarang oleh Azzam. Walau sebenarnya kebahagian Vira tidak salah. Sebab sampai saat ini. Azzam tidak pernah mengutarakan cintanya pada Vira.


"Maaf tuan Azzam, bukan maksud saya melarang tuan ada disini. Dimanapun tuan Azzam ingin berdiri? Tidak akan ada yang melarang. Setiap jengkal tanah yang ada disini. Nyata milik keluarga tuan Azzam. Seharusnya saya yang pergi!" tutur Vira tegas tapi sopan. Azzam menelan ludahnya kasar.


Sikap dinginnya bukan ingin melukai hati Vira. Dia hanya ingin tetap berada di samping Vira. Mencari ketenangan diri, melupakan sejenak amarah dan rasa kecewa pada keputusan keluarganya. Hanya dengan berada di dekat Vira. Azzam merasa tenang dan melupakan masalah yang membebani pikirannya. Suara merdu Vira saat mengaji. Selalu terngiang di telinganya. Keteduhan wajah Vira tanpa make up. Mendinginkan hatinya yang penuh amarah.


"Tidak bisakah kamu menemaniku!" pinta Azzam lirih, Vira menggeleng lemah. Tanpa menoleh atau berpamitan. Vira melangkah menjauh dari Azzam.


Vira berdiri di sudut hanya ingin melepaskan lelah sebentar. Dia sengaja menatap langit malam. Agar lelah yang dirasakannya tak terasa berat. Namun di saat yang bersamaan, Azzam melihat Vira pergi. Dengan perlahan Azzam mengikuti Vira. Dia merasa sesak berada di pesta yang hanya peduli pada status.


Azzam menghantam meja kaca tepat di depannya. Suara keras kaca pecah, berhasil menarik perhatian Vira. Seketika Vira menoleh ke arah Azzam. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ketika melihat darah segar mengalir dari tangan Azzam. Vira berlari menghampiri Azzam. Dengan tubuh bergetar Vira mendekat ke arah Azzam. Sejak kecil Vira takut melihat darah. Ada trauma yang tak pernah bisa Vira hapus.


Duuukkk


Suara keras lutut Vira yang menghantam lantai marmer. Tubuh Vira semakin bergetar, terlebih saat melihat darah yang terus mengalir. Tulang belulangnya semakin terasa rapuh. Vira jatuh terduduk, dia menunduk menatap lantai. Kedua tangannya menopang tubuh yang tak lagi mampu tegak.


"Vira!" teriak Azzam, sontak Azzam mendekat. Dia cemas melihat tubuh Vira yang bergetar hebat. Bahkan terlihat lemas tak bertenaga. Azzam berjongkok di depan Vira. Darah segar Azzam menetes tepat di atas punggung tangan Vira. Sontak Vira menutup mata, spontan Vira berhambur memeluk Azzam.

__ADS_1


"Daraaaaaahhhhhh!" teriak Vira lantang dengan suara bergetar, tangannya memeluk erat Azzam. Vira bersembunyi di balik tubuh tegap Azzam. Melihat ketakutan Vira, Azzam langsung membungkus tangannya dengan kemeja yang dipakainya.


"Maafkan Vira, maaf!" bisik Azzam lirih, seketika Vira tersadar. Lalu mendorong tubuh Azzam menjauh. Vira memeluk erat kakinya, dia ketakutam setengah mati.


"Vira minumlah, tanganku sudah tidak berdarah. Kamu tidak perlu cemas lagi, aku baik-baik saja!" ujar Azzam, Vira mengangguk sembari merentangkan tangan ke arah Azzam. Vira menahan Azzam agar tidak mendekat.


"Maaf semua salahku!" ujar Azzam cemas, Vira menggeleng lemah. Dia menahan dadanya yang mulai terasa sesak. Trauma yang dialami Vira saat kecil terbawa sampai saat ini.


"Tuan Azzam tidak salah, aku yang tak pernah bisa mengendalikan trauma yang pernah kualami!" ujar Vira lirih.


"Apa yang pernah terjadi padamu?"


"Tidak penting, lebih baik tuan Azzam merawat tangan yang terluka. Maaf juga tadi tanpa sengaja aku memeluk tuan!" ujar Vira, lalu berdiri menjauh dari Azzam.


"Vira, tidak bisakah kamu tetap berada disini!"


"Maaf tuan Azzam, batasan diantara kita nyata. Aku tidak mungkin berada di sampingmu. Saat Nadya dan keluargamu menatap sinis ke arahku. Meski kita hanya berteman, tapi kekuasaan mereka berpikir berbeda. Anda pewaris keluarga Atmaja. Anda bertanggungjawab menjaga nama baik dan martabat keluarga Atmaja. Namun sebagai seseorang yang peduli pada anda. Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan memaksakan sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Tuan Azzam berhak bahagia!" ujar Vira.


"Bahagiaku dengan melihat senyumu. Tenangku saat di dekatmu. Lukaku ketika mendengar penolakanmu. Gelisahku terasa bila air matamu menetes. Ketahuilah Vira rasa ini nyata. Entah sejak kapan rasa ini ada? Satu hal yang pasti, hidupku berjalan dengan bayangan dirimu!" batin Azzam sembari menatap Vira.

__ADS_1


"Azzam, kemejamu berwarna merah darah. Entah sebesar apa rasa sayangmu padanya? Sampai kamu tidak merasakan lagi sakit tanganmu. Hanya rasa cemas yang nyata terlihat, saat kamu menatap Vira yang ketakutan!" ujar Arif lirih.


__ADS_2