
"Kak!" sapa Rayyan sopan, dia membungkuk menarik tangan Vira. Dengan mengedipkan kedua matanya. Vira mengiyakan panggilan Rayyan. Vira tidak heran melihat Rayyan di sampingnya.
Muhammad Rayyan Ihsan, saudara laki-laki Vira yang setahun lebih muda. Adik yang jarang, bahkan tidak pernah bertemu. Adik yang sejak kecil hidup jauh dari keluarganya. Rayyan memilih hidup di pesantren sampai dia lulus SMU. Bahkan setelah lulus kuliah, Rayyan memilih tinggal di asrama sekolahnya. Rayyan menempuh pendidikan menjadi seorang prajurit. Cita-citanya sejak kecil dan harapan sang ayah di kala masih hidup.
"Kapan kamu datang? Nadya yang memberitahumu!" ujar Vira lemah, Rayyan mengangguk pelan. Terlihat Rayyan meletakkan kepalanya di samping tangan Vira.
Rayyan dan Vira mungkin terpisah cukup lama. Namun hanya pada Vira, Rayyan bisa bersikap manja. Vira satu-satunya wanita yang bisa dia ajak bicara dari hati ke hati. Vira saudara yang selalu ada di masa sulit dan rapuhnya. Selama ini tidak ada yang mengenal Rayyan. Hanya Nadya sahabat Vira yang dikenalkan pada Rayyan. Selain Silvia dan Abil, karena mereka berdua memiliki kedekatan yang tak biasa. Terutama Rayyan dengan Silvia.
"Kak!" ujar Rayyan lirih, Vira memahami arti sapaan Rayyan. Vira merasakan nada lemah suara Rayyan. Seolah ada beban berat yang sedang ditanggungnya.
Vira mengusap lembut kepala Rayyan. Usapan penuh kasih sayang seorang kakak. Belaian lembut penuh kasih sayang pada adik yang tak pernah ditemuinya. Vira bisa memahami duka Rayyan, hanya dengan mendengar suaranya. Meski Rayyan tak pernah bicara jujur. Namun jarak usia yang sangat dekat, kebersamaan mereka semenjak kecil. Membuat mereka layaknya saudara kembar yang memiliki hati satu.
Rayyan dan Vira satu hati dengan dua jiwa. Sikap tenang dan kedewasaan keduanya menurun dari sang ayah yang pendiam. Sebaliknya sikap tangguh dan tak pernah mengeluh, mereka dapat dari sang ibu. Seorang ibu yang kuat demi putra-putrinya. Namun rapuh dan tumbang melihat air mata buah hatinya.
"Ada apa dengamu? Kamu sudah bertemu kak Silvia!" ujar Vira lirih, Rayyan terlihat mengangguk. Vira mulai mengerti, kenapa Rayyan terlihat lesu?
Vira mencoba menjadi kakak yang diidamkan oleh Rayyan. Kakak perempuan yang sanggup menjadi kakak laki-laki di saat Rayyan membutuhkannya. Vira selalu tangguh di depan keluarganya. Dia tidak pernah ingin terlihat lemah, apalagi rapuh dan hancur. Vira kekuatan bagi ibu dan saudaranya. Semenjak sang ayah meninggal, Vira berusaha tegar demi menjaga ibu dan saudaranya. Kehilangan Vira akan sosok ayah menjadi ujian terberatnya. Namun menangis meratapi sesuatu yang tertulis. Tidak akan pernah mengembalikan sang ayah di tengah-tengah keluarganya. Tegar dan kuat menghadapi hidup, jalan yang harus Vira tempuh.
"Rayyan, kak Silvia tidak salah akan sikapnya. Sebab rasa itu nyata masih ada. Sebagai seorang wanita, kakak bisa mengerti perasaan kak Silvia. Seorang wanita mudah mencintai, tapi sangat sulit melupakannya. Seandainya rasa itu tumbuh di hati terdalam!" ujar Vira lirih, Rayyan menggeleng lemah. Rayyan menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Seandainya bisa, mungkin Rayyan akan memeluk erat tubuh lemah Vira.
Vira mencoba memahami isi hati Rayyan. Menemukan alasan sebenarnya, dia menolak rasa Silvia. Meski sesungguhnya Vira menyadari, Rayyan menyimpan rasa yang sama. Cara memandang Rayyan pada Silvia berbeda. Sikap menghargai Rayya jelas nyata di depan Silvia. Tak selamanya cinta itu diutarakan. Terkadang menghargai orang yang kita sayangi. Bukti cinta tulus kita pada pemilik hati.
"Aku tahu itu, tapi menyimpan rasa yang tak seharusnya. Hanya akan meninggalkan luka. Aku tidak ingin melihat kak Silvia terus-menerus terluka. Cinta tak harus bersama, aku yakin ada imam terbaik untuknya!" ujar Rayyan lirih, Vira mengangguk pelan. Meski anggukan kepalanya tidak terlihat Rayyan. Namun Vira yakin Rayyan mengerti jawabannya.
__ADS_1
Rayyan mendongak menatap raut wajah pucat Vira. Sekilas Vira tersenyum ke arah Rayyan. Sebaliknya Rayyan menatap sendu sang kakak. Vira terbaring lemah, dia tak berdaya akan cinta yang tak sempurna. Meski hidup tak selamanya sempurna, tapi menyimpan cinta dengan luka. Hanya akan membawa pada kepedihan tak berujung.
"Wanita dan laki-laki memiliki cara pandang yang berbeda. Jika laki-laki memutuskan dengan akal, sebaliknya wanita selalu yakin akan suara hatinya. Meski terkadang air mata yang harus jatuh menetes. Dua karakter yang takkan bisa dipahami. Hanya dengan ketulusan semua terjawab!" ujar Vira lemah, Rayyan mengangguk seraya menggenggam tangan Vira.
Rayyan mengerti duka sang kakak. Namun di waktu yang bersamaan. Vira harus mengerti gelisah Rayyan. Sesungguhnya Rayyan mengenal siapa sebenarnya Vira? Senyum yang terutas, hanya cara Vira melupakan air matanya. Ketenangan yang tersirat, tak lain gelisah hatinya yang rumit.
"Lantas cara mana yang kakak pilih? Dengan hati atau akal, kakak menjawab masalah pernikahan dengan kak Azzam!" ujar Rayyan, Vira menunduk lesu. Terdengar suara helaan napas panjang Vira.
Rayyan mendengar jelas beban berat Vira. Dengan lembut Rayyan menepuk punggung tangan Vira. Menenangkan gelisah hati Vira. Mengisyaratkan dirinya sanggup menjadi penopang duka Vira. Sandaran kala rapuh dan lemah tubuh Vira.
"Jika hatiku yang bicara, aku tak akan meninggalkan kak Azzam. Menyerah oleh kekuasaan keluarganya. Aku akan bertahan, meski akan hidup di atas ribuan duri. Seandainya akalku yang memutuskan. Maka hanya perpisahan jawaban dari rumit pernikahan ini. Aku tidak akan sanggup melihat air mata ibu. Kakak siap mengalirkan darah, agar air mata ibu tak menetes. Cukup kakak menyakiti keluarga kita. Kakak percaya cinta tak selamanya bersama. Akan ada masa kami berdua bahagia!" tutur Vira lirih, Rayyan diam mencoba memahami perkataan Vira.
"Jadi, kakak akan pergi meninggalkan kak Azzam!" ujar Rayyan, Vira mengangguk pelan.
"Tapi, putra kakak berhak mengenal kak Azzam. Dia ayah kandungnya, tak seharusnya kakak pergi. Jika akan menghancurkan dua kehidupan. Satu hidup kak Azzam, satu lagi hidup putra yang belum terlahir!" ujar Rayyan mengingatkan, Vira menggeleng.
"Aku bertahan yang pada akhirnya membunuhnya dan putraku. Sekarang katakan, mana yang harus aku pilih!" ujar Vira dingin, Rayyan menunduk. Vira sudah menduga, tidak akan ada yang bisa menjawab.
"Percaya padaku, biarkan aku memilih. Ikuti langkahku, kita hidup jauh dari mereka. Aku akan keluar dari keluarga Atmaja. Bila perlu, kita lupakan mereka. Layaknya mereka yang ingin melihatmu terbunuh bersama putraku!" sahut Azzam tegas, sontak Vira dan Rayyan menoleh.
Sejak awal Azzam mendengar percakapan antara Vira dan Rayyan. Azzam hancur mendengar keputusan Vira yang akan meninggalkannya. Azzam lebih baik lupa akan statusnya sebagai pewaris keluarga Atmaja. Daripada harus kehilangan Vira dan putra belahan jiwanya.
"Ternyata kak Azzam sudah tahu aku hamil. Pasti kak Silvia yang mengatakannya padamu. Apa dia juga cerita? Jika putramu hampir terbunuh dua kali. Ingatkah kamu saat aku mengatakan, ingin mengganti darahmu dengan darahku. Saat itu aku tidak ingin mengiris nadiku. Namun seandainya darahku yang mengalir. Bisa menggantikan darahmu yang tumbuh di rahimku. Sungguh aku ikhlas dunia akhirat. Agar tak ada lagi hubungan diantara kita!" ujar Vira dingin, Azzam diam membeku.
__ADS_1
Tatapan tajam Vira, bak mata elang yang mengincar mangsanya. Dingin sikap dan tutur kata Vira, menghunus tajam ke relung hati terdalam Azzam. Vira tak lagi merasakan cinta, hanya rasa takut dan kebencian yang nyata diperlihatkan Vira.
"Kebahagianmu akan hadirnya putra di rahimku. Layaknya kebahagian ibuku melihatku terlahir. Kesedihanmu saat ini, sama halnya air mata ibuku yang menetes. Terluka mendengar putrinya dihina oleh keluargamu. Aku akan membuat pewaris keluarga Atmaja hancur. Sehancur hati ibuku yang kalian hina dengan harta!" ujar Vira sinis, Azzam mundur beberapa langkah. Tubuhnya menabrak dinding ruangan Vira.
"Kakak, dia suamimu. Imam yang kamu pilih dengan iman. Kak Azzam jalanmu menuju surga!" ujar Rayyan tegas, Vira menggeleng seraya menangis. Tubuh lemahnya bergetar, Azzam hancur melihat Vira tersakiti. Suara tangis Vira menggema di telinga Azzam.
"Kesalahan terbesarku, menikah ketika aku tak mampu membahagiakan ibu. Aku anak durhaka, aku melupakan ibu demi pewaris keluarga Atmaja. Kini aku tak hanya menjadi anak tak berbakti. Aku istri yang durhaka. Aku lelah, sungguh aku lelah!" ujar Vira seraya menangis. Rayyan tertunduk lesu, Vira terluka di depannya. Azzam terpaku menatap kehancuran istri tercintanya.
"Vira!" ujar Azzam hendak mendekat, Vira menjulurkan tangannya. Meminta Azzam tidak mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat, beri aku waktu sendiri. Aku tidak ingin mengingat air mata ibuku. Dengan melihat pewaris keluarga Atmaja di depanku!" ujar Vira, Azzam diam membisu.
"Aaaawwwsss!" rintih Vira, Azzam berlari mendekat.
"Aku bisa tanpamu!" ujar Vira dingin, Azzam menggeleng tak percaya. Vira menolak sikap hangatnya. Rayyan tak lagi sanggup melihat rapuh Vira.
"Biarkan aku yang menjaganya. Pulanglah, aku kenal siapa kakakku? Dia semakin hancur, jika memang kakak alasan lukanya. Aku berjanji akan membujuknya. Percayalah, semua akan baik-baik saja!" ujar Rayyan, seraya mengajak Azzam keluar dari ruangan Vira.
"Kenapa dengan Vira? Belum cukup kalian membuatnya hancur. Haruskah dia tiada, agar kalian puas. Vira tidak dalam kondisi mampu menerima tekanan. Malah kalian alasan dia tertekan!" ujar Silvia sinis, tepat di depan pintu ruangan Vira.
Braaakkkk
"Abil, kakakmu dingin tak berhati!" bisik Cecil, sesaat setelah mendengar suara bantingan pintu. Silvia masuk melihat kondisi Vira.
__ADS_1
"Diam, jangan berisik!" sahut Abil ketus.