Ikhlas

Ikhlas
Pilihan


__ADS_3

"Vira, kita harus bicara!" Ujar Azzam ramah, Vira menoleh ke arah Azzam.


Dengan anggukan kepala, Vira mengiyakan perkataan Azzam. Vira berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju balkon ruang kerjanya. Vira berdiri tepat di samping pagar pembatas balkon. Menatap lurus langit biru, panas sinar matahari menerpa kulit wajahnya. Vira terlihat tenang, seakan tak ada luka dalam hatinya.


Sebaliknya Azzam terlihat bingung. Risau memikirkan kisruh rumah tangganya yang tak ada ujungnya. Azzam merasa lelah dengan semua yang terjadi. Mencoba membuktikan Vira satu-satunya, tidak semudah membalikkan tangan. Sebaliknya keluarga Atmaja, seakan tak pernah lelah menjodohkan dirinya dengan Nadya. Wanita yang tak pernah dicintainya.


"Kak Azzam, sejujurnya aku enggan bertemu denganmu. Namun tetap diam, tidak akan membuat masalah kita selesai. Sebab itu aku setuju bertemu denganmu. Semua demi akhir damai yang aku harapkan!"


"Haruskah semua berakhir!" Sahut Azzam, Vira mengangguk tanpa ragu. Lelah hati Azzam juga dirasakan Vira. Mencoba berdamai dengan keadaan tidak mudah.


"Aku lelah dengan semua benci ini. Kakak pantas bahagia!"


"Apa kamu akan bahagia dengan perpisahan kita?"


"Mungkin!"


"Kamu berbohong, tidak mungkin cintamu hilang begitu saja!" Ujar Azzam tak percaya, seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Aku akan bahagia, saat melihatmu bahagia!"


"Aku mohon Vira, lupakan kejadian malam itu. Kita mulai semua dari awal. Sangat tidak adil, kamu menghukumku begitu berat. Tanpa memberikan kesempatan padaku. Aku akan berubah demi dirimu. Aku khilaf malam itu!" Ujar Azzam seraya menangkupkan tangan tepat di depan dadanya.


Vira terdiam menunduk, batin Vira beradu dengan benak Vira. Menimbang baik dan buruk hubungannya dengan Azzam. Mengingat setiap senyum dan tangis selama mereka bersama. Vira mengingat setiap keping rasa yang pernah ada. Bahagia yang selalu berjalan beriringan dengan rasa sakit. Vira bak perahu yang terombang-ambing di laut lepas.


"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku sendiri bingung dengan hidupku. Mungkin perpisahan menjadi jalan terakhir hubungan kita!"


"Aku mohon Vira, percayalah padaku sekali saja. Aku bukan Azzam yang dulu. Aku sanggup melakukan apapun demi dirimu!" Ujar Azzam lirih dan memelas, berharap Vira bersedia melupakan semua sakit yang terasa.


"Apa yang ingin kamu buktikan? Bukan satu atau dua tahun aku menunggumu. Bertahun-tahun aku menunggu sikap tegasmu. Namun kamu tetap sama, Azzam yang selalu ragu memutuskan. Kakak akan menangis, ketika tak mampu mencapai harapanmu. Kakak akan mengancam, saat menghiba tak lagi sanggup aku terima. Aku lelah selalu mengalah, menahan sakit dan terus menerima sikap manjamu!"

__ADS_1


"Apapun Vira, katakan apapun yang kamu inginkan. Asalkan kamu bersedia menerimaku kembali!" Ujar Azzam menyakinkan.


"Kakak yakin!"


"Aku yakin Vira, aku pasti bisa memenuhi keinginanmu!" Ujar Azzam antusias, Azzam merasa ada harapan dia bersama Vira.


"Tinggalkan keluarga Atmaja. Jadilah ayah Fatih yang sederhana. Tanpa harta dan status keluarga Atmaja!"


"Tidak ada syarat lain, haruskah aku melakukan semua itu!" Sahut Azzam, Vira tersenyum simpul. Seolah dia tahu jawaban Azzam.


"Tidak ada yang memaksamu!" Ujar Vira lirih, Azzam menunduk lesu.


"Maafkan aku kak Azzam, jika aku memintamu memilih. Aku lelah berada di posisi ini. Aku istri yang tak pernah dianggap, disisi lain aku istri yang tak ingin kamu lepaskan. Aku sudah siap melepasmu selamanya. Namun lagi dan lagi kamu kembali. Menghiba dengan ketulusan, memintaku kembali menerima hubungan rentan ini. Hari ini aku memintamu memilih, bukan untuk memisahkanmu dengan keluarga besarmu. Aku hanya ingin status yang selalu kamu tawarkan. Namun tak pernah nyata untukku. Maafkan aku kak Azzam!" Batin Vira, sembari menatap Azzam lekat.


"Vira, sekali lagi aku tanya. Haruskah aku melakukan semua itu!"


"Maafkan aku kak, kamu harus memilih.Tidak semua hal bisa kamu miliki bersama!" Ujar Vira lirih, lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Vira duduk di sofa ruang kerjanya. Meninggalkan Azzam yang diam menunduk.


"Mama!" Teriak Fatih, seraya berlari menghampiri Vira. Vika dan Syifa mengekor di belakang Fatih. Keduanya terkejut ketika melihat ke arah balkon. Nampak Azzam berdiri mematung, bingung mencari jawaban akan pilihan yang dikatakan Vira.


"Kenapa dia ada disini?" Ujar Vika dingin, Vira menggeleng. Vira tidak suka cara Vika bertanya. Meski Azzam selalu menyakitinya. Sangat tidak pantas bila Vika menyalahkan Azzam.


"Papa!" Teriak Fatih, sesaat setelah melepaskan pelukannya pada Vira. Fatih berlari menghampiri Azzam. Terlihat Azzam berjongkok, sembari merentangkan tangan. Menunggu langkah kecil Fatih menghampirinya.


"Fatih merindukan papa!" Ujar Fatih lantang, seketika Vira menekan dadanya pelan. Perkataan Fatih laksana belati yang menusuk hatinya. Kerinduan Fatih seakan jawaban keputusan Vira yang salah.


Vira merasa bersalah telah memisahkan Fatih dengan Azzam. Seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang ayahnya. Sikap yang tak mungkin bisa ditutupi oleh kepolosan Fatih. Vika melihat kesedihan Vira, jelas Vika melihat betapa Vira menyayangi Azzam dan Fatih.


"Papa juga merindukan Fatih!" Ujar Azzam membalas ungkapan kasih sayang Fatih.

__ADS_1


"Sayang, jika papa dan mama pisah. Fatih ingin tinggal bersama siapa?"


"Fatih akan tinggal bersama kalian. Fatih akan bergantian menemui papa dan mama!"


"Fatih tidak lelah!" Ujar Azzam, Fatih menggeleng ragu. Azzam mengusap rambut Fatih, lalu menarik tubuh mungil sang putra.


"Pasti Fatih lelah, maafkan papa sayang. Papa bodoh mengatakan sesuatu yang sudah jelas!" Ujar Azzam pilu, Fatih melepaskan diri dari pelukan Azzam.


"Papa, Fatih tidak lelah. Fatih benar-benar tidak lelah. Selama Fatih bisa memeluk papa dan mama. Fatih tidak akan lelah atau sedih. Fatih selalu membayangkan bertemu papa di mimpi. Sekarang Fatih ketemu papa, Fatih tidak ingin yang lain!" Ujar Fatih, lalu memeluk Azzam.


"Fatih, kenapa tidak pernah meminta papa dan mama bersama?"


"Selamanya papa dan mama bersama dalam hati Fatih. Tidak perlu papa dan mama bersama memeluk Fatih. Biarkan Fatih yang memeluk kalian!"


"Fatih, kemari sayang!" Panggil Vira lirih, Fatih mengangguk lalu menghampiri Vira. Azzam mengikuti langkah kecil Fatih.


"Sayang, papa dan mama akan berpisah. Fatih harus memilih salah satu diantara papa dan mama. Siapa yang akan Fatih pilih?" Ujar Vira dengan menahan air matanya. Sakit hatinya membuat dada Vira terasa sesak. Meminta putra semata wayangnya memilih kasih sayangnya atau Azzam. Kasih sayang yang seharusnya ada membesarkan Fatih.


"Fatih akan bersama mama!"


"Kenapa tidak bersama papa?" Sahut Vika.


"Papa laki-laki, bisa menjaga diri. Kalau mama sendirian, siapa yang akan menjaga mama? Fatih akan menjaga mama menggantikan papa!"


"Fatih, kalau papa menikah dengan tante Nadya. Fatih setuju!" Ujar Syifa, Fatih mengangguk tanpa ragu. Azzam dan Vira diam mendengarkan. Mereka merasa tercengang dengan sikap dewasa Fatih. Dewasa yang belum waktunya.


"Kenapa Fatih setuju? Fatih tidak menyayangi papa lagi!" Ujar Azzam lirih, seraya menatap mata teduh Fatih.


"Selama papa bahagia, Fatih juga bahagia. Mama dan Fatih akan bahagia meski tanpa papa. Selamanya papa ada dihati Fatih dan mama. Fatih sayang papa!"

__ADS_1


"Anak yang kelak akan jauh darimu. Jika kamu terus bimbang dalam melangkah. Ambil keputusan, sebelum kesempatan yang Vira berikan menghilang!" Bisik Arif lirih.


__ADS_2