
"Assalammualaikum!"
"Vira!" Teriak Faris heran, seketika Faris berdiri.
Faris menatap tajam Vira, dia tak percaya Vira kembali setelah dua puluh tahun lamanya. Dengan perasaan yang bercampur, Faris menatap Vira. Entah Faris harus bahagia? Atau merasa biasa saja dengan kedatangan Vira. Satu hal yang pasti, Vira kembali dan berdiri tepat di depannya.
"Tidak perlu terkejut, aku memang Vira!"
"Kamu benar-benar Vira, kapan kamu kembali?"
"Aku memang Vira, apa kamu lupa denganku?" Sahut Vira, Faris menggeleng lemah.
Faris mempersilahkan Vira duduk. Faris bingung dengan kedatangan Vira. Namun satu hal yang pasti, Faris bahagia melihat sahabatnya baik-baik saja. Faris tidak datang sendiri. Dia datang bersama beberapa orang, salah satunya Azzam. Namun Faris memilih duduk tenang, sedangkan yang lain sibuk memesan makanan.
"Dimana mas Azzam?"
"Kenapa kamu bertanya tentang dia?" Sahut Faris kesal.
"Jelas aku menanyakannya, karena aku ada janji bertemu dengannya!"
"Artinya dia sudah tahu kamu datang!" Ujar Faris, Vira mengangguk pelan.
"Kenapa selalu kak Azzam yang pertama?" Ujar Faris lirih, Vira tersenyum mendengar gerutu Faris.
Vira merasa lucu melihat sikap Faris yang seolah kesal dengan pertemuan Vira dan Azzam. Seandainya itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, lebih tepatnya di saat Vira belum menjadi istri Azzam. Mungkin Vira merasa itu semua pantas. Namun jelas sikap Faris tak sesuai dengan usia mereka. Usia yang memikirkan cinta monyet penuh dengan kebahagian.
"Sejak dulu kamu menganggap lucu perasaanku!" Ujar Faris semakin kesal.
"Sudahlah Faris, kita sudah tua. Bukan masa kita memikirkan cinta. Sekarang kita hanya fokus memikirkan kebahagian buah hati masing-masing!"
"Terserah kamu Vira!" Ujar Faris final.
Tap Tap Tap
Terdengar langkah anggun kaki yang berirama. Faris dan Vira menoleh hampir bersamaan. Keduanya melihat Azzam dan Nadya berjalan mendekat. Suara sepatu kulit Azzam, terdengar berirama kala menyentuh lantai. Langkah kaki yang tegas penuh wibawa. Terlihat Nadya bergelayut manja pada lengan Azzam.
"Vira!"
"Apa kabar Nadya?" Sapa Vira ramah, Nadya terkejut melihat Vira duduk bersama dengan Faris.
Vira berdiri menyambut kedatangan Azzam dan Nadya. Tak ada amarah atau kecewa di mata Vira. Seutas senyum nampak di sudut bibir tipis Vira. Azzam melihat jelas sikap dingin Vira. Tak ada rasa cemburu yang diharapkan oleh Azzam.
"Tante cantik!" Sapa Nafisa ramah, Vira mengangguk seraya tersenyum.
"Nafisa, kamu mengenalnya!"
__ADS_1
"Tante cantik dan papa bertemu di kampus!" Sahut Nafisa polos.
"Kalian bertemu!" Ujar Nadya dengan raut wajah kesal.
"Tunggu Nadya tidak perlu marah. Kami tidak sengaja bertemu tadi pagi. Lain halnya malam ini, aku sengaja ingin menemui mas Azzam!" Ujar Vira menjelaskan, Nadya memerah menahan amarah.
Vira memahami rasa cemburu Nadya. Sebab itu bagi Vira, amarah Nadya sangatlah wajar. Amarah yang membuktikan Nadya sangat mencintai Azzam. Sebaliknya Azzam bersikap acuh, seolah pertemuannya dengan Vira malam ini tidak ada artinya. Azzam mencoba bersikap biasa. Meski dalam hati Azzam ingin melihat kecemburuan Vira.
"Silahkan duduk Vira!"
"Tidak terima kasih!" Sahut Vira ramah, Azzam menatap lekat Vira. Dia merasa bingung dengan sikap tenang Vira. Lebih tepatnya Azzam merasa kecewa, karena tidak bisa memancing rasa cemburu Vira.
"Maaf mas Azzam, jika kedatanganku menganggu waktu berhargamu. Namun bisakah kita bicara di meja yang lain. Aku tidak ingin, Nadya merasa tidak nyaman duduk satu meja denganku. Malam ini acara keluarga kalian, jadi tak sepantasnya aku mengganggu dengan duduk di meja yang sudah kamu pesan untuk acara keluargamu!"
"Kamu ingin duduk berdua dengan mas Azzam!" Sahut Nadya sinis, Vira menggeleng lemah.
"Faris akan duduk bersama kami!"
"Vira percayalah, tenangmu menghancurkan!" Batin Faris tak percaya.
"Baiklah Vira, kita duduk di sana!" Ujar Azzam dingin. Vira mengangguk mengikuti langkah kaki Azzam. Faria mengekor di belakang Vira. Ketiganya berjalan menuju meja yang sengaja di pesan oleh Azzam sebelum datang ke restoran ini.
"Baiklah Vira, apa yang ingin kamu katakan?"
"Apa maksud semua ini?" Ujar Vira tegas, sesaat setelah melempar berkas ke atas meja.
"Apa ini?" Ujar Faris tak mengerti.
Faris mengambil berkas yang dilempar Vira. Dengan raut wajah heran, Faris membuka berkas yang ada di tangannya. Sekilas Azzam terlihat tersenyum. Senyum sinis yang bisa dilihat jelas oleh Vira.
"Kenapa mas Azzam melakukan ini?"
"Karena aku ingin menghancurkan kesombonganmu!"
"Tapi mereka tidak salah!"
"Mereka tidak salah, tapi mereka yang memisahkan aku dengan putraku. Dua puluh tahun Fatih menjadikanku musuh. Aku hanya membalas sedikit sakit dari dua puluh tahun yang kurasakan!"
"Kamu tidak berhak menyalahkan mereka. Fatih menjauh darimu, karena kamu yang tidak bisa mendekatinya. Kamu tidak mampu mengenali putramu. Sampai kapanpun Fatih akan menjauh? Jika kamu mendekatinya dengan harta. Bukan cinta yang kamu tawarkan, melainkan kekayaan tak berhati yang kamu pamerkan!"
"Vira, jaga bicaramu!"
"Tidak perlu berteriak, apa yang aku katakan benar adanya? Sekarang kamu sendiri telah mengakui. Kamu menghancurkan perusahaanku hanya karena dendam masa lalu!"
"Aku seperti ini, semua karena sikapmu. Kamu menghancurkan hidupku. Cinta suciku kamu anggap sampah yang dengan mudah kamu buang!" Ujar Azzam emosi, Faris menggenggam tangan Azzam. Memohon agar Azzam bisa mengendalikan diri. Sebaliknya Vira tetap tenang, seolah teriakan dan amarah Azzam tak mampu mengusiknya.
__ADS_1
"Kak Azzam, jaga emosi!"
"Diam kamu!" Teriak Azzam, Faris kembali duduk di tempatnya. Faris hanya akan menjadi pendengar. Dia hanya akan menjaga takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Kesalahan bukan ada padaku, tapi dirimu yang tak pernah bisa mengakui kekalahan. Jika kamu merasa aku menghancurkan hidupmu. Lantas, hubungan apa yang sedang kamu jalani bersama Nadya? Dia bukan boneka yang akan kamu peluk saat kamu kedinginan dan sepi. Nadya seorang wanita yang tulus mencintaimu. Dia bukan wanita tanpa hati yang bisa kamu manfaatkan sebagai pelipur laramu!"
Braaakk
"Vira!" Bentak Azzam, sembari menggebrak meja.
"Mas Azzam, kenyataannya Nadya istrimu. Wanita yang melahirkan buah cinta kalian. Dia wanita yang selalu ada menghapus sepimu. Tak perlu lagi, kamu menyalahkan atau mencari siapa yang salah? Karena sejatinya kamu sudah bahagia hidup bersama Nadya!" Tutur Vira tegas.
"Mungkin kamu lupa atau tidak menyadari. Ketika satu jari tanganmu menunjuk ke arahku, empat jari yang lain menunjuk ke arahmu. Sadarilah, kamu bahagia bersama Nadya. Artinya tidak ada yang aku sakiti dengan kepergianku!"
"Kamu selalu pintar bermain kata!" Ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah.
"Sudahlah, takkan pernah ada akhirnya pembicaraan kita. Satu hal yang aku minta darimu. Jika memang kamu ingin bersaing, mari bersaing secara adil. Agar aku tetap bangga pernah mengenalmu!" Ujar Vira lantang.
"Faris, berikan berkas itu!"
"Sumpah Vira, aku tidak tahu permainan kotor ini!"
"Tidak apa-apa? Mas Azzam yang memulai, Fatih yang akan mengakhiri!"
"Maksudmu!" Sahut Faris lirih.
"Tidak ada maksud!" Jawab Vira, lalu berdiri hendak keluar dari restoran.
"Tunggu Vira!"
"Ada apa mas Azzam?"
"Kamu menyalahkanku atas pernikahanku dengan Nadya. Padahal kamu sendiri telah menikah dan memiliki seorang putri yang sama denganku!"
"Sayangnya aku tak pernah menikah. Farah memang putriku, tapi dia lahir dari darah dan cintamu!"
Praaaayyyrrr
"Kamu bohong Vira!"
"Aku tidak butuh keyakinanmu!" Ujar Vira dingin.
Vira hendak melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar permainan Piano. Dia menoleh ke arah panggung, nampak Fatih dan Farah tengah mengisi acara di restoran. Vira diam menatap lurus ke arah dua buah hatinya.
"Lihatlah mas, mereka purtri dan putra kebanggaanku. Mereka tak akan menyalahkanku, karena mereka percaya padaku!" Sahut Vira dingin
__ADS_1