
"Assalammualaikum, ma!" Sapa Farah ramah, Vira membuka matanya perlahan.
Nampak Farah berdiri tepat di samping tempat tidurnya. Vira melihat pakaian Farah sudah sangat rapi. Sekilas Vira melirik jam di dinding, jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Vira menghela napas, ada sebuah rasa cemas di hati terdalamnya. Putri kecilnya mulai lupa akan waktu. Di pagi buta, Vira melihat Farah yang sudah siap bekerja. Tanda jika Farah tak istirahat dengan baik. Sebab baru tiga jam yang lalu Farah pulang dari rumah sakit.
"Waalaikumsalam!" Sahut Vira hangat, Farah duduk tepat di samping tempat tidur Vira.
Farah meletakkan kepalanya, tepat di samping tangan Vira. Farah menggenggam erat tangan Vira yang terpasang infus. Farah mencium lembut punggung tangan yang selalu memeluknya hangat. Tangan yang setia menuntun langkah kakinya yang lemah. Farah bersandar di tempat tidur Vira. Mencari ketenangan dalam dekap hangat tubuh Vira yang lemah.
"Kamu akan pergi!" Ujar Vira, Farah mengangguk lemah. Vira merasakan anggukan kepala Farah. Anggukan yang membuat hati Vira teriris. Mengingat hanya tiga jam Farah pulang. Waktu yang tak cukup, sekadar untuk menghilangkan penat.
"Sepagi ini!" Ujar Vira lagi, Farah mengangguk untuk kedua kalinya.
Vira menghela napas, sembari mengelus tangan Farah. Vira sakit melihat Farah putrinya yang terus menjauh darinya. Farah memilih bekerja keras, demi tujuan yang tak pernah Vira inginkan. Farah berjuang keras, demi menggapai impiannya. Vira tak mampu menyalahkan Farah. Namun mendukung keputusan Farah, bukan hal yang benar. Ketika Vira menyadari, Farah bersaing dengan keluarganya sendiri. Meski keluarga Atmaja tak pernah mengakui Farah.
"Kamu tidak istirahat!"
"Farah sudah cukup istirahat!" Sahut Farah lirih, tetap pada posisi semula.
Vira membelai lembut kepala Farah yang tertutup hijab. Seolah Vira ingin mengambil sedikit rasa lelah Farah. Namun tangan Vira tak sekuat dulu. Jangankan mengambil sedikit lelah Farah. Merangkul tubuh Farah, Vira seolah tak mampu. Farah kini jauh dari pandangannya.
"Haruskah sepagi ini kamu berangkat? Tidak bisakah kamu menunggu sang fajar menyapa. Sekadar memejamkan kedua matamu!"
"Farah harus berangkat. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditunda. Besok kemungkinan Farah akan pulang ke rumah kita. Mungkin Farah akan menetap selama satu minggu!" Ujar Farah, Vira terkejut mendengar perkataan Farah.
Vira perlahan mengangkat kepala Farah. Dengan isyarat, Vira meminta Farah berdiri. Perkataan Farah jelas membuat Vira gelisah. Ada sesuatu yang janggal, ketika Farah mengatakan ingin pulang. Rumah yang dimaksud, bukanlah rumah yang ditempati Vira dan Fatih. Melainkan rumah tempat tinggal Farah dan Vira dulu. Rumah yang jauh dari kota kelahiran Fatih dan Vira.
"Ada apa? Kenapa Farah pulang?" Tanya Vira, sesaat setelah Farah berdiri.
Farah menundukkan kepalanya dalam, tak ada suara yang menyahuti pertanyaan Vira. Sebuah jawaban yang sangat dinantikan Vira. Kejujuran Farah akan isi hatinya yang tak mudah terucap oleh Farah. Sebaliknya diam Farah, semakin membuat Vira gelisah. Ada hal yang sengaja ditutupi Farah. Sifat tegas dan pribadi yang bijak Farah. Takkan diam bila ada yang bertanya. Semakin membuat hati Vira cemas.
"Kenapa diam? Farah menyembunyikan sesuatu!" Ujar Vira cemas, Farah menggelengkan kepalanya lemah.
"Farah, tatap mama. Jawab jujur pertanyaan mama. Jangan biarkan mama gelisah. Mama selalu percaya keputusan Farah yang terbaik. Dengan cacatan, Farah jujur pada mama!" Tutur Vira tegas, Farah menunduk semakin dalam. Seolah jujur bukan jalan terbaik.
__ADS_1
"Farah!" Sapa Vira lirih.
"Farah harus pulang. Ada yang harus Farah kerjakan disana!"
"Tanpa mama!" Sahut Vira, Farah mengangguk pelan. Vira menggelengkan kepalanya pelan. Ada rasa tersisih, ketika Farah dengan tegas mengatakan pergi tanpa dirinya.
"Mama sadar, Farah sudah dewasa. Sehingga Farah tidak butuh mama!"
"Maafkan Farah mama, jika kepergian Farah menyakiti mama. Namun tak sekalipun terbesit dalam pikiran Farah, jika Farah tidak butuh mama. Farah memang harus pergi sendiri. Mama sudah cukup bahagia dan tenang di sini. Percayalah, Farah akan baik-baik saja!" Tutur Farah tegas, Vira menggelengkan kepalanya lemah.
"Kamu salah Farah, kebahagian mama tidak akan lengkap tanpamu. Ketenangan mama, hanya saat dua buah hati mama dekat dan ada dalam pandangan mama. Namun entah kenapa mama merasa Farah menjauh? Seandainya mama mengetahui, kamu akan menjauh dari mama setelah tiba disini. Mama memilih tidak akan kembali. Mama akan tetap menjauh, setidaknya kita akan hidup tenang bersama!"
"Keputusan sudah diambil, dua puluh tahun sudah cukup mama menjauh. Sekarang mama harus mendapatkan kebahagian yang sepantasnya. Pengakuan keluarga Atmaja!"
"Kamu salah paham Farah!" Ujar Vira lirih, sembari menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku mungkin salah paham, tapi ketenangan dan senyum mama semalam. Jelas mengatakan, mama bahagia ada dia di kamar ini!" Sahut Farah dingin, Vira menggelengkan kepalanya lemah. Vira tidak setuju akan pendapat Farah tentangnya.
"Papa datang bersama Nafisa. Dia sengaja menjenguk mama, ketika Arif mengatakan kondisi mama. Tidak ada pemikiran seperti perkataanmu. Kakakmu Fatih ada disini semalam, hanya saja saat kamu datang dia ada di kamar mandi!" Tutur Vira menjelaskan.
"Farah sayang, kamu salah paham!" Ujar Vira lirih, Farah menggelengkan kepalanya lemah.
"Salah paham atau tidak, semua itu tidak penting. Selama mama bahagia, Farah pasti bahagia. Layaknya mama yang percaya akan keputusan Farah. Aku juga percaya akan keputusan mama. Percayalah ma, sudah ada kebahagian yang tersimpan untuk mama!"
"Kamu mengigau Farah, tidak ada hal yang seperti itu. Papa dan mama tidak akan bersama!" Ujar Vira final, Farah diam menatap sendu tubuh lemah Vira.
"Sudahlah ma, tidak ada gunanya kita berdebat. Farah harus pergi, jaga diri mama. Semoga lekas sembuh, aku sayang mama!" Ujar Farah lirih, lalu mencium punggung tangan Vira.
Farah berjalan perlahan menuju pintu. Vira termangu menatap punggu Farah yang menjauh. Vira merasa gagal menjadi seorang ibu. Dia hanya bisa diam melihat Farah pergi dengan sepinya. Langkah tegap Farah, bak detak jantung Vira yang bergejolak. Gelisah memikirkan kondisi Farah yang semakin jauh darinya.
"Farah!" Panggil Vira, seketika Farah menoleh.
Farah terkejut sekaligus histeris, melihat tetes demi tetes darah Vira. Selang infus yang dicabut paksa oleh Vira. Membuat nadinya luka dan meneteskan darah merah segar. Farah yang kaget, langsung berlari berhambur ke arah Vira. Tanpa banyak berpikir, Farah menahan tangan Vira dengan hijabnya.
__ADS_1
"Kenapa mama melakukan ini?"
"Mama akan ikut bersamamu. Mama tidak sanggup melihatmu pergi sendiri. Saat pikiran dan hatimu mengatakan mama bahagia tanpamu. Sejak kamu kecil, kita hidup berdua. Melewati sakit dan sedih bersama. Tanpa ada Fatih, putra kebanggaan mama. Tanpa ada papa, laki-laki yang mama cintai. Kita akan bersama Farah, mama akan bersamamu!" Tutur Vira sembari meneteskan air mata.
"Tidak ma, Farah akan pergi sendiri!" Sahut Farah, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu mungkin sanggup tanpa mama, tapi mama tak mampu berdiri tanpamu. Mama mohon, biarkan mama ikut!" Pinta Vira menghiba, Farah menggeleng lemah.
"Maafkan Farah!" Ujar Farah lemah, Vira menunduk lesu.
Tap Tap Tap
"Permisi, saya akan mengganti infusnya!" Ujar perawat ramah. Farah mengangguk, lalu mundur beberapa langkah.
Farah berjalan keluar dari kamar Vira, hijab putihnya penuh dengan noda darah. Vira terpaku melihat keteguhan hati putrinya. Tak ada lagi cara Vira menghentikan Farah. Kenekatannya tak menyentuh hati Farah.
"Farah!" Panggil Vira di sela sakitnya. Farah menghentikan langkah kakinya. Namun Farah tak menoleh, dia tidak sanggup melihat luka Vira.
"Katakan satu alasan yang membuat mama harus tetap disini? Agar mama tenang melihatmu pergi!" Ujar Vira, Farah menghela napas melepas beban berat yang kini ditanggungnya. Farah memutar tubuhnya, dia melihat Vira yang tengah mendapatkan perawatan. Darah merah Vira sudah berhenti, tapi kecemasan Vira masih bergejolak.
"Karena kak Fatih butuh mama dan mama butuh dia!"
"Tidak masuk akal!" Sahut Vira dingin.
"Dua puluh tahun lalu mama memilih tinggal bersamaku. Sangat tidak adil, jika mama pergi denganku lagi. Kak Farih butuh mama!" Ujar Farah final. Farah melangkah keluar dari ruang rawat inap Vira.
"Kenapa pergi dik?" Sapa Fatih, tepat di depan pintu.
Farah mendongak, dia melihat Fatih dan Bayu berdiri berjejer. Tak jauh dari mereka, nampak Azzam dan Nafisa. Seketika Farah menjauh. Dia tidak ingin berurusan dengan penerus keluarga Atmaja. Namun langkahnya terhenti, ketika Fatih menahan tangannya. Farah menoleh, lalu mengutas senyum simpul. Seolah Farah sedang baik-baik saja.
"Maafkan Farah!" Sahutnya hangat, lalu berjalan menjauh dari Fatih dan Bayu.
"Jangan tinggalkan mamamu, jika itu demi diriku!" Ujar Azzam lantang.
__ADS_1
"Entah hubungan apa yang anda tawarkan pada mama? Satu hal pesanku, jangan pernah ragukan kesuciannya. Mama sudah cukup menangis, dia pantas bahagia. Aku pergi bukan karena mengalah atau menerimamu kembali dalam hidup mama. Hanya saja, terus membencimu di depan mama. Hanya akan membuat mama terluka!" Ujar Farah tegas.