Ikhlas

Ikhlas
Tamu di derasnya hujan malam


__ADS_3

"Sayang!" Sapa Arif mesra, Vika menoleh sembari menggeliat.


Vika merasakan geli teramat, ketika tangan Arif memeluknya erat. Arif sering melakukan hal-hal kecil, untuk menjaga keharmonisan pernikahannya dengan Vika. Sejak mengenal Vika, Arif belajar mengerti perasaan seorang wanita. Vika menjadi wanita pertama yang membuat Arif menyadari arti cinta.


"Kak lepaskan, nanti ada yang melihat!"


"Tidak ada siapapun disini. Kak Vira belum pulang, Fatih pergi bersama Bayu. Kalau Farah ada di kamarnya. Siapa lagi yang ada di rumah?"


"Hmmmm!" Sahut Vika datar, seolah malas meladeni Arif.


Akhirnya Vika membiarkan Arif bermain dengan perutnya. Meski terasa geli, Vika mencoba tetap tenang. Agar Arif merasa Vika tak merespon. Vika tak mirip dengan Vira yang tak mudah mengatakan cinta. Vika sangat pandai menyimpan rasa bahagianya. Sebab itu Arif selalu mencari cara. Agar Vika berubah hangat padanya. Namun semua itu selalu sia-sia. Vika selalu bisa mengendalikan diri saat di ruangan terbuka.


"Sampai kapan kakak akan memelukku?"


"Sebentar lagi sayang?"


"Sudah lebih dari lima belas menit. Jika kakak tak melepaskan pelukannya. Kita tidak akan bisa makan malam!" Ujar Vika dingin, Arif menghela napas pelan. Arif merasa kesal, karena tidak bisa membuat Vika tersenyum.


"Aku menyerah!" Ujar Arif kesal, Vika tersenyum simpul. Lalu dengan perlahan Vika mencoba melepaskan pelukan Arif. Namun Arif masih belum bersedia melepaskan pelukannya.


"Kak!" Ujar Vika, Arif menggeleng lemah. Arif menyandarkan kepalanya tepat di pundak Vika.


"Aku merindukanmu!" Bisik Arif mesra, Vika mengangguk mengiyakan.


Arif memeluk erat Vika, hembusan napas Arif menyentuh lembut pipi Vika. Kehangatan yang tiba-tiba tercipta. Menghanyutkan dua insan dalam indah cinta. Vika larut dalam dekapan hangat Arif. Sejenak Vika lupa akan tempat. Dengan mata terpejam, Vika merasa setiap sentuhan lembut tangan Arif.


"Maaf mbak Vika!" Sapa Bik Inah, seketika Vika membuka matanya.


Vika menghempaskan tangan Arif kasar. Vika kikuk ketika menyadari Bik Inah sudah berdiri di depan pintu dapur. Vika mendorong tubuh Arif agar menjauh. Vika benar-benar malu telah larut dalam buaian cinta Arif. Vika menggelengkan kepalanya lemah, seakan tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Sedangkan Bik Inah menunduk, tanpa berpikir ingin melihat kehangatan Vika dan Arif. Bik Inah bukan sekadar asisten rumah tangga di rumah Vika. Bagi Vika dan seluruh anggota keluarga, Bik Inah sudah selayaknya keluarga. Sosok ibu yang begitu dirindukan Vika. Sebaliknya Bik Inah sudah menganggap Vika seperti putrinya sendiri. Meski dengan batasan yang jelas.


"Ada apa Bik Inah?" Sahut Vika ramah, Bik Inah mendongak menatap Vika. Arif terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jauh di dalam hatinya, dia kesal saat bik Inah datang. Arif benar-benar tak menyangka akan kehadiran bik Inah yang seketika menghancurkan suasana.


"Maaf mengganggu mbak Vika dan mas Arif. Tapi di depan ada tamu yang mencari mbak Vira. Bibik sudah mengatakan pada mereka. Jika mbak Vira tidak ada, tapi mereka bersikeras masuk. Mereka ingin bertemu dengan orang yang ada di rumah?" Tutur bik Inah menerangkan, Vika dan Arif saling menatap. Keduanya merasa aneh dengan sikap para tamu.


"Siapa mereka? Bibik tidak mengenalnya!" Tanya Vika, bik Inah menggeleng lemah.


"Baiklah kami akan menemui mereka. Aku minta tolong bik Inah teruskan memasak. Sebentar lagi semua orang akan datang. Aku sudah menyiapkan semua bahannya!" Titah Vika, Bik Inah mengangguk.


Vika dan Arif berjalan menuju ruang tamu. Mereka ingin melihat tamu yang datang. Jam masih belum terlalu malam. Namun di luar rumah, nampak hujan turun dengan sangat derasnya. Kondisi yang tak memungkinkan seseorang bertamu. Sehingga Vika dan Arif menyangka, tamu yang datang ke rumahnya sangatlah penting. Sebab datang di waktu yang tidak mendukung.


"Assalammualaikum!" Sapa Vika ramah, Arif berdiri tepat di belakang Vika.


Nampak seorang laki-laki tinggi tegap berdiri di depan pintu. Bik Inah sudah mempersilahkannya masuk. Namun dengan sopan dia menolak. Sang tamu hanya akan masuk, jika pemilik rumah mengizinkan. Sebab itu dia tetap berdiri di luar menanti Vika datang menghampirinya.

__ADS_1


Arif dan Vika merasa heran, sebab keduanya merasa tidak mengenal laki-laki yang berdiri membelakangi mereka. Namun baik Vika atau Arif tak ingin berburuk sangka. Siapapun tamu yang datang? Mereka harus dihormati, karena tamu membawa rejeki bagi sang pemilik rumah.


"Waalaikumsalam!" Sahut sang tamu, sembari memutar tubuhnya. Arif dan Vika terbelalak, mereka tidak percaya akan yang dilihatnya. Tamu yang benar-benar istimewa, setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu.


"Fariz!" Ujar Arif gembira, lalu menarik tubuh Fariz. Arif memeluk erat sang sepupu. Hubungan darah yang terputus, karena masalah cinta Azzam dan Vira.


"Apa kabar Arif?" Ujar Fariz ramah, Arif mengangguk sembari tersenyum.


"Aku baik Fariz, mari masuk!" Sahut Arif, lalu merangkul tubuh Fariz masuk ke dalam rumah.


Namun langkah Arif terhenti, ketika dia menyadari Fariz tak ingin masuk ke dalam rumahnya. Arif menoleh heran, saat melihat Fariz berdiri mematung tepat di depan pintu. Fariz menatap lekat Vika, seakan Fariz menanti izin dari Vika. Sejak Fariz datang, tak sepatah katapun dari bibir Vika terucap. Hanya dua tangan yang menangkup, ketika Fariz mengulurkan tangan ingin menjabat tangan Vika. Sikap yang jelas bisa dimengerti oleh Fariz. Namun entah kenapa Fariz merasa perlu izin dari Vika?


"Kenapa Fariz? Ayo masuk, Vika tidak akan melarangmu masuk. Bagi Vika tamu itu rejeki. Jadi dia tidak akan menolak rejeki yang datang!"


"Termasuk nyonya Melda Atmaja!" Ujar Fariz menegaskan, seketika Vika mengangkat wajahnya.


Vika terkejut ketika nama Melda terucap. Vika menoleh ke kanan dan kiri, mencari Melda yang tengah dibicarakan Fariz. Vika tak pernah mengenal Melda. Namun Vika juga tidak terlalu tuli, untuk tidak mendengar perbuatan Melda pada Vira.


"Dimana tante Melda?" Ujar Arif cemas.


"Mama ada di mobil, aku sengaja tidak membawanya turun. Sebab aku ragu kalian akan menerima kedatangan mama!" Ujar Fariz, Arif melangkah ke luar. Arif mencari Melda di dalam mobil.


"Kenapa kamu biarkan tante Melda menunggu di mobil? Minta beliau turun, kita bicara di dalam rumah!" Ujar Arif lantang, Fariz dia membisu.


Fariz mendekat ke arah mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk rumah Vika. Fariz membuka bagasi mobilnya. Arif tak mengerti alasan Fariz membuka bagasi. Namun Arif tetap diam. Arif tidak sabar menanti pertemuannya dengan Melda. Seseorang yang sudah dianggapnya sebagai ibu.


Braakkk


Suara kursi roda terdengar nyaring di telinga Arif. Sejenak Arif merasa heran, kenapa Fariz mengeluarkan kursi roda? Namun rasa herannya berubah menjadi cemas. Ketika dia menyadari, Fariz mengeluarkan kursi roda tak lain untuk Melda. Arif seketika berlari ke arah pintu mobil. Arif mencium tangan Melda, ketika nampak Melda hendak memeluk Fariz.


"Tante Melda!" Ujar Arif cemas, sesaat setelah mencium punggung tangan Melda.


"Tante baik-baik saja Arif, tidak perlu cemas!" Sahut Melda, sembari mengedipkan mata indahnya. Keriput di wajah Melda, tak mengubah kecantikan yang dimilikinya sejak dulu.


Arif mendorong kursi roda Melda. Dengan perlahan Melda memasuki rumah megah Vika. Semegah kediaman Azzam dan Nadya. Memang dulu Vika putri dari asisten rumah tangganya. Namun sekarang Vika menjadi orang yang sepadan dengan keluarga Atmaja. Melda mengedarkan pandangannya. Dia menelusuri setiap inci dari rumah Vika. Melda tersadar, Vika ataupun Vira bukan orang sembarangan. Perabotan tertata dengan rapi, memberi kesan menenangkan bagi yang melihatnya.


"Rumahmu megah dan mewah Arif. Pantas saja kamu mulai jarang di acara keluarga Atmaja. Ternyata kamu betah di dalam rumah yang nyaman dan indah ini!"


"Rumah ini bukan milik Arif, rumah Arif dijadikan rumah singgah. Sedangkan rumah yang Arif tempati ini. Rumah kak Vira yang diberikan pada Vika. Rumah yang kak Vira bangun, sebagai tempat berkumpulnya tiga saudara!"


"Vira selalu menjaga hubungan saudara di atas yang lainnya!" Sahut Fariz, Arif mengangguk setuju.


Tak berapa lama, Vika keluar sembari membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan ringan. Setelah menyapa Melda, Vika duduk tepat di samping Arif. Keduanya menerima Fariz dan Melda dengan tangan terbuka.


"Arif, sebenarnya aku dan mama datang untuk menemui Vira. Tapi tadi aku mendengar dari asisten rumah tanggamu. Vira sedang tidak ada di rumah!"

__ADS_1


"Kak Vira izin ke rumah sakit. Obat untuk Farah tertinggal, jadi kak Vira mengambilnya di rumah sakit!"


"Apa mereka ikut?"


"Siapa Fariz?" Sahut Arif, Fariz diam membisu.


"Fatih dan Farah maksudmu!" Ujar Arif, Fariz mengangguk tegas.


"Seperti biasa Fatih belum pulang, mungkin akan lama. Kalau Farah ada di dalam kamarnya!" Sahut Arif, Fariz mengangguk pelan.


Terdengar sayub lantunan ayat suci Al-Quran. Awalnya Fariz menganggap biasa, tapi lama kelamaan Fariz menyadari. Jika suara yang terdengar di telinganya begitu merdu dan menenangkan. Fariz merasa damai dengan mendengar lantunan ayat suci yang mulai terlupakan oleh Fariz.


"Diakah yang sedang mengaji!" Ujar Fariz, Arif mengangguk pelan.


"Farah seorang penghafal Al-Quran!"


"Vira mendidiknya dengan sangat baik!" Ujar Fariz lirih.


"Arif, sebenarnya tante Melda ingin menemui Vira. Tante ingin meminta maaf secara pribadi pada Vira. Dua puluh tahun yang lalu, tante telah menghancurkan hidup Vira. Sebab itu malam ini tante ingin meminta maaf. Meski tante harua berlutut, tante akan melakukannya. Asalkan Vira bersedia menerima Azzam kembali!"


"Jika kak Vira tidak ingin kembali pada kak azzam. Masihkah nyonya bersedia meminta maaf pada kak Vira!" Ujar Vika dingin, Melda diam mendengar perkataan Vika. Seolah Vika perkataan Vika sebagai permintaan yang sulit.


"Sayang!" Ujar Arif, tangan Arif menggenggam erat tangan Vika. Seolah meminta Vika bersabar, menahan emosi dan menghormati yang lebih tua.


"Ada apa? Aku merasa perkataanku masih di batas sopan. Aku hanya ingin mendengar kejujurannya. Aku hanya ingin mengetahui, seberapa tulus dia meminta maaf. Sebab orang dengan level tinggi seperti mereka. Tidak akan datang atau menghiba. Jika kita tidak memiliki yang mereka butuhkan!"


"Vika!" Ujar Arif dengan nada sedikit lebih tinggi.


"Arif tak perlu marah. Perkataan Vika benar, kami tidak akan datang padamu. Jika kami tak mengharapkan apapun. Bukan tante mengakui, kedatangan tante karena sesuatu. Namun setulus apapun permintaan maaf tante. Takkan pernah menghapus dua puluh tahun yang menghilang!"


"Tapi tante!" Sahut Arif terbata, saat dia melihat tangan lembut Melda memegang tangannya. Melda menghentikan kecemasan Arif, seakan kondisi Melda baik-baik saja.


"Vika, tante datang bukan hanya ingin meminta maaf. Namun tante ingin Vira kembali pada pelukan Azzam. Tante merindukan Azzam!" Ujar Melda lantang.


"Sudah aku duga, kalian datang dengan maksud tersembunyi!" Ujar Vika dingin tanpa hati.


"Sayang!"


"Aku tak pernah membenci mereka. Namun tetap diam melihat kak Vira tersakiti. Jujur dalam hati aku menolak!" Ujar Vika pada Arif, sontak Arif menunduk.


"Selama ini aku diam, biarkan malam ini aku bicara. Sejak dulu aku tak pernah menjauhkanmu dari keluarga Atmaja. Perngertian yang sama malam ini aku minta. Jangan larang aku bicara, agar aku tak menjauh darimu!" Ujar Vika pada Arif.


"Nyonya Melda, kak Vira tak memiliki yang kamu inginkan!" Ujar Vika dingin.


"Farah, biarkan aku menemuinya!"

__ADS_1


__ADS_2