
"Nadya, Fariz laki-laki yang baik. Dia pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tidak hanya menghargai Fariz. Aku menghormati keluarga Atmaja. Rasa yang ada tidak salah, tapi rasa itu bukan untukku. Aku tidak berharap merasakan cinta pada Fariz atau laki-laki lain. Termasuk uztad Arif, aku tulang rusuk yang harus menjadi tulang punggung. Jadi jangan pernah berpikir akan ada rasa itu!" ujar Vira lirih, Nadya langsung menarik tangan Vira. Menggenggam erat tangan Vira, lalu mengedipkan mata dan mengangguk.
"Maaf!" ujar Nadya, merasa bersalah. Vira menggeleng lemah. Isyarat dia baik-baik saja.
"Ustad Arif!" teriak Nadya spontan, sontak Arif Menoleh bersamaan dengan Vira. Tatapan keduanya bertemu di udara, Fariz mengikuti arah tatapan Vira. Dia melihat seorang laki-laki yang sejak tadi dibicarakan Nadya dan Vira.
"Nadya, tutup mulutmu. Lihatlah ustad Arif menoleh ke arah kita. Apa yang akan kamu lakukan? Seandainya dia datang kemari!" ujar Vira lirih, sontak Nadya menutup mulutnya. Tanpa sadar Nadya menyapa ustad Arif yang tidak pernah dikenalnya. Nadya langsung menunduk malu.
"Maaf!" ujar Nadya sembari tetap menunduk. Vira menatap Arif yang sedang menoleh ke arahnya. Dengan anggukan kepala dan seutas senyum. Vira terpaksa menyapanya, sebaliknya terlihat Arif membalas senyum Vira. Ketiga kalinya Vira harus berurusan dengan laki-laki karena Nadya. Vira seolah tak habis pikir, kenapa dia harus berurusan dengan yang namanya laki-laki? Arif Al Hakim seorang laki-laki yang selama ini selalu Vira hindari. Hanya demi menjaga nama baik keluarganya. Sekarang malah terkesan Vira ingin mengenal dan dekat dengannya.
Arif berjalan menjauh dari kantin. Memang sejak awal dia tidak ingin ke kantin. Arif sedang ada urusan dengan rektor. Sebab itu dia datang ke kampus. Lalu tanpa sengaja dia bertemu salah satu dosen yang kebetulan temannya. Akhirnya Arif pergi ke ruang rektor bersama temannya.
"Beruntungnya, dia tidak menghampiri kita. Jika tidak aku bisa malu!" ujar Vira lega, Nadya manggut-manggut setuju. Rasa malu sekaligus rasa bersalahnya. Membuat Nadya hanya bisa mengangguk setuju dengan Vira.
"Bukk!"
__ADS_1
Terdengar suara benda padat jatuh tepat di depan meja Vira dan Nadya. Sontak Vira dan Nadya terkejut. Mereka mendongak melihat benda yang menghantam meja dengan sangat sempurna. Memang suaranya tidak terlalu keras, tapi sudah bisa membuat orang kaget dan jantungan.
"Titipan dari mama, sekalian kamu diminta ke rumah siang nanti. Mama mengundangmu makan siang. Berangkatlah dengan Fariz, aku ada rapat. Jadi tidak bisa menjemputmu!" ujar Azzam dingin, Nadya mengangguk lalu mengambil paper bag kecil di depannya. Sekilas Nadya melihat isi paper bag. Ada sebuah gaun yang cantik di dalamnya.
Vira tak berani menatap Azzam. Suara dingin Azzam seketika membuatnya membeku. Apalagi sikap tegas Vira saat terakhir kali mereka bertemu. Membuat tubuh Vira semakin kaku. Seakan tak lagi mampu bergerak. Bukan dia takut akan Azzam, tapi dia memikirkan kondisi ibunya. Bila Azzam benar-benar marah padanya.
"Terima kasih, aku tadi membawa mobil. Aku akan menemui tante Melda sendiri. Tidak perlu merepotkan kak Azzam atau Fariz!" sahut Nadya tak kalah dingin dari Azzam. Meski kelak ada rasa dihatinya untuk Azzam. Nadya tidak akan membiarkan Azzam terus menindasnya. Nadya tidak akan tinggal diam atas perlakuan kasar Azzam.
"Nadya, aku harus pulang. Sebentar lagi aku ada janji!" ujar Vira lirih, Nadya mengangguk. Nadya mengerti kepergian Vira hanya alasan. Vira ingin memberikan waktu pada Nadya dan Azzam. Fariz melihat Vira pergi menjauh.
"Tuan Azzam, saya permisi!" ujar Vira, lalu meninggalkan Azzam. Tanpa menunggu jawaban Azzam. Vira langsung pergi meninggalkan Azzam dan Nadya. Azzam menatap dengan penuh kekesalan. Dia marah akan sikap dingin Vira.
"Kenapa dia begitu ingin aku menikah dengan temannya? Sekuat apapun dia dan mama menjodohkanku. Sampai saat ini, aku tidak tertarik dengan Nadya si anak manja ini. Aku tidak butuh wanita yang berpikir dirinya layak diperjuangkan!" batin Azzam kesal.
Lima menit setelah Vira pergi, Azzam juga pergi meninggalkan Nadya. Bagi Azzam waktu sangat berarti. Sangat tidak penting berada di dekat Nadya. Tanpa banyak bicara, Azzam pergi menuju tempat parkir. Nadya termenung melihat sikap Azzam yang begitu dingin dan tak berhati. Seolah tak pantas Nadya menerima sikap hangatnya.
__ADS_1
"Itulah Kak Azzam, dingin dan tak berhati. Namun jika aku boleh jujur. Hanya pada satu wanita aku melihat tatapan hangatnya. Sampai saat ini aku berusaha tak percaya, tapi sepertinya semua yang aku pikirkan benar!" ujar Fariz, Nadya menoleh terkejut. Raut wajah Fari sangat serius. Jadi tidak mungkin dia berbohong. Meski semua itu hanya pemikiran, tanpa pembuktian.
"Siapa wanita itu? Apa aku mengenalnya?" ujar Nadya lirih dan seolah berat. Fariz menunduk lemah tanpa keraguan. Sontak Nadya memegang jantungnya yang berdegub kencang Ada rasa takut akan kecewa, ketika Fariz mengatakan Nadya mengenalnya.
Sebaliknya Fariz merasa pemikirannya benar. Sejak awal Azzam datang, tak sedetikpun Fariz melepaskan pandangannya pada Azzam. Bahkan cara Azzam menatap Vira jelas terlihat oleh Fariz. Meski ada rasa marah dan kecewa. Mengetahui Vira wanita yang dicintai Azzam. Fariz mencoba tetap tenang, dia tidak akan menghancurkan persaudaraannya hanya karena satu cinta.
"Vira, dia yang mampu membuat Azzam bersikap hangat. Sejak pertama kali mereka bertemu. Azzam bersikap aneh, mulai dari cara bicara dan sikapnya. Semua itu bukan pribadi Azzam, tapi sepertinya Azzam harus menelah kepedihan. Melihat sikap dan cara bicara Vira padaku dan padanya. Jelas tidak akan pernah ada cinta Vira untuk kami!" ujar Fariz, Nadya seketika melongo.
Dia sangat terkejut mendengar perkataan Fariz. Tak pernah dia menduga, jika Azzam menyimpan rasa pada sahabatnya. Seandainya semua itu benar. Akankah Nadya masih bisa bersahabat dengan Vira. Haruskah dia menyalahkan Vira atau menerima kenyataan bukan dia yang dicintai Azzam.
"Jangan bercanda, aku mengenal Vira dengan baik. Tidak mungkin dia menyukai kak Azzam. Jelas-jelas dia mengetahui, siapa kak Azzam sebenarnya? Jika kamu hanya frustasi, karena sikap dingin Vira. Tidak seharusnya kamu melampiaskan padaku!" ujar Nadya tidak percaya, Fariz menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Tidak mungkin Fariz berbohong untuk sesuatu yang memang nyata adanya. Dia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang akan berakibat fatal bagi kehidupan Vira. Seandainya keluarganya mengetahui perasaan Azzam pada Vira. Atau perasaannya pada Vira. Sebab keluarga Atmaj tidak akan pernah membiarkan pewarisnya. Terutama Azzam mengenal wanita yang tak sederajat.
"Baik aku atau kak Azzam tidak akan mudah mencintai Vira. Kamu lihat sendiri, selama ini betapa Vira menolak mengenal kami. Vira mengenal keluargaku dengan baik. Namun seandainya Vira memilih diantara kami berdua. Aku yakin sekaligus percaya, bahwa aku dan kak Azzam siap berjuang demi Vira!" tutur Fariz, Nadya menunduk lemah.
__ADS_1
"Mungkinkah Vira akan mengkhianati persahabatan kami. Demi cintanya pada Kak Azzam!" ujar Nadya lirih.