Ikhlas

Ikhlas
Angga Pratama Atmaja


__ADS_3

"Vira!" teriak Melda lantang, Vira menoleh ke arah Melda. Terlihat Melda berdiri diantara dua pewaris keluarga Atmaja. Azzam Atmaja dan Fariz Atmaja, kakak beradik yang tak pernah satu kata. Namun darah yang mengalir, tak membiarkan mereka terpisah.


Vira menuntun sepeda mini usang miliknya. Dia keluar dari pintu samping menuju gerbang tinggi keluarga Atmaja. Gerbang kokoh yang takkan mampu diterjang oleh lemah tulang Vira. Dengan perlahan Vira berjalan keluar dari rumah Atmaja yang begitu megah. Vira pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia harus segera pergi ke kampus.


Vira menghentikan langkahnya, tepat sesaat setelah Melda memanggil namanya. Vira menoleh menatap sekilas Melda. Lalu kembali menunduk menatap tanah tempatnya berpijak. Vira tidak mingkin mampu menatap Melda lama. Di saat dua pasang mata elang Azzam dan Fariz menatapnya. Bak dua mata elang yang sedang mengunci mangsanya.


"Kenapa mama memanggilnya?" ujar Azzam dingin, Melda tersenyum sembari merangkul lengan kanan Azzam. Sedangkan sisi satunya merangkul lengan kiri Fariz.


Azzam dan Fariz tak pernah satu kata atau saling mendekat. Namun setiap pagi, tangan Melda selalu menyatukan mereka. Hanya rangkulan Melda yang mampu membuat mereka dekat meski sejenak. Melda memahami jarak yang ada diantara Azzam dan Fariz. Tapi dengan kasih sayangnya. Melda selalu berusaha menyatukan keduanya.


"Vira sayang, kemarilah!" ujar Melda lantang, Vira mengangguk pelan.


Dengan perlahan Vira meletakkan sepedanya. Tanpa mengangkat kepalanya. Vira berjalan mendekat ke arah Melda. Fariz tersenyum sembari menatap Vira. Sebaliknya Azzam terus sibuk dengan ponselnya. Dengan kata lain mencoba menyibukkan diri. Hanya agar dia tidak terlihat peduli pada Vira.


"Maaf nyonya Melda, semua pekerjaan sudah selesai. Kalau anda tidak keberatan. Bisakah saya pulang. Kebetulan hari ini saya ada kuliah pagi!" cecar Vira gugup, Melda menggeleng pelan. Terutas senyum simpul di wajah Melda. Ketika Vira berdiri di depannya.


Melda melihat kesopanan Vira. Sikap rendag diri dan menjaga martabatnya sebagai wanita. Menggetarkan hati terdalam Melda. Vira tidak mengangkat wajahnya ketika bicara dengannya. Melda merasa Vira menjaga jarak dengan kedua putranya. Jarak yang serasa wajar, karena status Vira. Namun sangat salah dihadapan Melda yang baik hati.


Vira merasa sudah menyelesaikan pekerjaan ibunya. Sehingga Vira berani untuk bergegas pulang. Vira merasa heran, saat Melda memanggilnya. Seolah masih ada pekerjaan yang belum Vira selesaikan. Dengan gelisah Vira mendekat ke depan Melda.


"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku yakin pekerjaanmu juga sudah selesai. Aku hanya ingin memintamu berangkat bersama Fariz. kalian satu kampus, bahkan satu jurusan. Bukankah lebih cepat bila kamu berangkat bersama Fariz!" ujar Melda lirih dan hangat. Seketika Vira menggeleng menolak perkataan Melda.

__ADS_1


Sontak perkataan Melda membuat Azzam dan Fariz menoleh serentak. Raut wajah Azzam dan Fariz sama, keduanya heran mendengar perkataan Melda. Sebaliknya Melda terkekeh melihat kedua putranya terkejut di waktu yang bersamaan.


Vira tidak pernah ingin pergi dengan Fariz. Meski hubungannya dengan Fariz sekarang jauh lebih baik. Vira bisa sadar diri akan posisinya. Mungkin Melda bisa menerima pertemanan Vira dan Fariz, tapi tuan besar Atmaja tidak akan semudah itu menerimanya. Angga Pratama Atmaja tidak akan pernah membiarkan keturunannya dekat dengan sembarangan orang.


"Tidak nyonya Melda, saya bisa sendiri. Terima kasih atas tawarannya!" tolak Vira, Melda menggeleng tidak setuju.


"Ini bukan tawaran, tapi perintah dariku. Masuk ke dalam mobil Fariz. Percuma berdebat denganku, kamu akan terlambat ke kampus. Sepedamu akan baik-baik saja disana!" ujar Melda final, dengan lemah Vira mengangguk. Menolak perintah Melda hanya akan membuat ibunya kecewa. Meski dengan separuh hati, Vira melangkah masuk ke dalam mobil Fariz.


Tanpa komando lagi, Fariz mencium punggung tangan Melda. Sesaat setelah melihat Vira masuk ke dalam mobilnya. Fariz mengucapkan salam, lalu Fariz masuk ke dalam mobilnya. Bak menerima durian runtuh, tanpa berdebat atau memaksa. Akhirnya Vira setuju berangkat dengannya. Apalagi dengan izin sang mama. Melda tersenyum bahagia melihat kecerian Fariz. Berbanding terbalik dengan senyum sinis Azzam.


Fariz melajukan mobilnya keluar dari rumah megahnya. Azzam diam menatap Vira duduk tepat di samping Fariz. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Azzam bak gunung es yang semakin dingin, ketika melihat kedekatan Vira dengan Fariz.


"Jangan sampai mama salah dalam memutuskan yang terbaik untukku atau Fariz. Seandainya mama salah melangkah, mama akan kehilangan salah satu diantara kami. Selama ini aku diam, bukan berarti aku setuju. Aku hanya ingin melihat seberapa besar kasih sayangmu padaku. Aku ingin membuktikkan, bahwa seorang ibu akan lebih mengerti hati putranya. Tanpa perlu seorang putra mengatakan lukanya. Sebab air susunya yang mengalir dalam darahnya. Air matanya yang mengalir saat putranya terluka. Jangan buat diriku meragukan ketulusan kasih sayang seorang ibu!" tutur Azzam dingin, lalu menarik tangan Melda. Azzam mencium punggung tangan Melda sebelum akhirnya di berjalan menuju mobilnya.


Azzam berjalan perlahan, meninggalkan Melda yang termenung mendengar perkataan Azzam. Ada rasa takut, ketika Azzam mulai mempertanyakan sikapnya. Ada rasa tak biasa, melihat Azzam pergi setelah bicara seperti itu.


"Azzam!" panggil Melda, Azzam menoleh sembari tersenyum.


"Sampai saat ini, mama orang yang paling aku hargai dan kusayangi. Jangan pernah membuatku merubah semua itu. Berikan kasih sayang tulusmu padaku. Meski aku tahu, sejak aku ada dalam rahimmu. Tak sedetikpun kamu membiarkan aku hidup tanpa kasih sayang. Namun hari ini, cobalah melihat luka


hati yang kusimpan dalam diam!" ujar Azzam lagi, lalu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ada apa Azzam? Apa yang ingin kamu katakan pada mama? Kenapa kamu meragukan kasih sayang mama?" ujar Melda lirih, sembari memegang dadanya.


Setetes air mata bening menepel di pipinya. Melda menghapus air mata yang menetes dari hatinya. Keraguan Azzam menusuk hati terdalamnya. Meninggalkan luka yang tak biasa. Selama ini Azzam selalu diam, tapi pagi ini dia bicara. Namun keraguan yang seakan ingin dikatakan oleh Azzam.


"Kenapa kamu termenung?" ujar Angga lirih, Melda tersentak ketika ada tangan yang melingkar memeluk tubuhnya. Angga memeluk erat Melda, wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Dengan perlahan Angga meletakkan kepalanya di atas pundak Melda.


"Aku telah melukai hati Azzam!" ujar Melda lirih tak terdengar, Angga menoleh heran. Dengan lembut Angga memutar tubuh Melda menghadap ke arahnya.


"Ada apa dengan Azzam?" ujar Angga, Melda mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.


"Jangan terlalu dipikirkan, sikap Azzam selalu seperti itu. Aku malah ingin bertanya kepadamu. Kenapa kamu membiarkan Fariz berangkat dengan anak pembantu!" ujar Angga, Melda mendongak menatap tajam Angga. Seketika raut wajah Melda terlihat tak suka dengan perkataan Angga.


"Dia Vira putri bik Siti, jangan pernah memanggilnya anak pembantu. Mungkin hartamu yang menggaji ibunya, tapi semua sepadan dengan keringat mereka yang menetes. Vira gadis yang baik dan pintar, tak sepantasnya kamu merendahkannya. Jangan pernah berpikir, hartamu segalanya di dunia ini. Kamu tidak akan pernah tahu, jika kelak Vira yang akan berada di atas kita. Jangan pernah bangga akan sesuatu yang tak kekal!" ujar Melda sinis, sembari menepis tangan Angga.


"Melda, ada apa denganmu?" ujar Angga lantang. Melda menoleh menatap Angga tajam.


"Aku lelah hidup dengan orang, yang selalu memandang rendah orang lain. Kini aku sadar, sedikit demi sedikit aku mulai kehilangan senyum putraku. Semua hanya karena status yang selalu kamu banggakan!"


"Melda, jaga bicaramu? Kenapa kamu berbicara kasar padaku? Aku hanya berbicara satu kata tentang anak pembantu itu. Kenapa kamu menganggapnya penting?"


"Karena dia yang akan membuat kita kehilangan putra. Dia gadis yang menjadi alasan senyum putraku!" sahut Melda dingin.

__ADS_1


__ADS_2