
"Assalammualaikum!" sapa Vira sembari berjalan memasuki rumah.
Terlihat ruang tamu rumahnya terang benderang. Vira memutuskan pulang ke rumah utamanya. Fatih sejak tadi siang ada di rumah utama. Rumah yang khusus dibangun Vira untuk Rayyan dan Vika. Sedangkan Vira memilih tinggal di rumah lamanya. Hanya sesekali Vira datang ke rumah ini. Sekadar ingin melihat kondisi Vika. Vira jauh lebih nyaman tinggal di rumah lamanya. Vira bisa mengingat kenangan akan ayah dan ibunya yang telah tiada.
"Waalaikumsalam!" sahut Rayyan. Vira mendengar suara sahutan Rayyan.
Vira berjalan menjauh melewati ruang tamu. Tanpa Vira berpikir menoleh, sekadar melihat siapa tamu yang datang? Vira berpikir tamu yang datang tak lain teman atau kolega Rayyan. Sebab itu Vira tidak ingin mengganggu pertemuan itu. Vira berjalan perlahan, tepat di depan anak tangga. Dia berpapasan dengan Vika, terlihat Vika membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Kak Vira!" sapa Vika lirih, Vira mengangguk pelan. Vika menunduk melihat sikap dingin Vira. Vika semakin yakin, jika Vira tidak akan setuju dengan hubungannya dengan Arif.
"Kak Vira, bisa ikut aku ke ruang tamu. Kakak harus bertemu dengan keluarga Arif. Letakkan ego kak Vira, lakukan itu demi bahagia Vika!" ujar Rayyan bijak, Vira mengangguk pelan.
Vira berjalan mengikuti langkah Rayyan. Sedangkan Vika mengekor di belakang Vira. Ketiganya berjalan beriringan menuju ruang tamu. Namun langkah Vira terhenti, saat telinganya mendengar sesuatu. Vira menahan tangan Rayyan, agar berhenti mendengarkan pembicaraan keluarga Arif. Vira terdiam mendengar hangat percakapan Arif dengan kedua walinya.
"Arif, kamu hebat bisa mengenal gadis dari keluarga kaya. Setidaknya salah satu keturunan keluarga Atmaja ada yang berakal. Tidak seperti Azzam dan Fatiz yang tergila-gila pada anak ART!" ujar Angga lantang, sontak Arif menggeleng. Arif meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya. Berharap Angga diam dan tidak membicarakannya.
"Kenapa om Angga harus diam? Lihat saja rumahnya yang megah. Aku bisa membayangkan mereka bukan orang sembarangan. Rumah om jauh lebih kecil daripada rumah ini. Perabotannya juga tidak main-main. Jujur om Angga tidak sabar menjadi besan mereka!" ujar Angga senang, Arif menggeleng lemah.
Arif tak lagi bisa menghentikan Angga. Cara pandangnya akan kekayaan orang, jauh lebih tinggi daripada orang yang tulus menyayanginya. Arif hanya berharap, Vira tidak mendengar semua ini. Jika tidak semua akan berakhir sebelum semuanya dimulai. Arif tak lagi bisa berharap berdampingan dengan Vika.
"Papa cukup, tidak sepantasnya papa bicara seperti itu. Papa melihat sendiri kehabagian Azzam saat Vira kembali. Lagipula untuk apa harta yang banyak. Jika papa hidup sendiri, jauh dari Azzam dan Fariz. Ingat pa, siapapun calon keluarga Arif. Jangan sampai papa bicara sembarangan. Jika tidak ingin melihat amarah mama!" ujar Melda sinis, Arif menunduk pasrah. Dia tidak tahu cara menjelaskan pada Angga. Sifat tamak akan harta, membuat Angga lupa cara menghargai orang lain.
"Tenang saja, aku akan bicara dengan sangat manis. Sangat bodoh, bila aku melewatkan kesempatan pernikahan ini. Aku akan menyetujui hubungan ini tanpa banyak berpikir. Keluarga ini bukan seperti Vira yang hanya anak ART. Tentu saja aku akan melakukan apa saja agar bisa berbesan dengannya!"
"Om Angga, aku mohon cukup. Vira sangat baik, dia tidak serendah itu. Seandainya om Angga tahu sekarang Vira telah berubah. Aku yakin om Angga akan menerima Vira dengan tangan terbuka. Vira bukan yang dulu, dia sangat berbeda!" ujar Arif, Angga menggeleng tak setuju.
"Vira tetap Vira anak ART. Dia anak buruh cuci fi rumah keluarga Atmaja. Meski dia kaya, tapi statusnya rendah. Aku tidak akan pernah menerimanya. Lagipula tidak mungkin Vira menjadi kaya. Dia anak miskin dan hina, ibunya banting tulang mencuci di rumah keluarga Atmaja. Sampai kapanpun anak tukang cuci, tetap menjadi buruh cuci!" ujar Angga sinis, Arif menghela napas panjang.
__ADS_1
Vira berjalan mundur, Rayyan menoleh ke arah kakaknya. Rayyan marah, dia mendengar sendiri hinaan Angga pada Vira. Saudara sekaligus ibu baginya. Vika jauh lebih terpukul, dia tertegun. Hatinya sakit, sangat sakit. Dia mendengar Vira dan ibunya terhina tanpa sisa. Dipandang sebelah mata, meski mereka tidak salah. Tanpa Vika sadari, nampan yang dipegangnya jatuh.
PRAAAYYYRRR
Suara keras gelas pecah, membuyarkan lamunan Vira dan Rayyan. Menyadarkan mereka, jika yang baru saja didengarnya itu nyata adanya. Vika menangis terisak, dia sakit dan menyesal telah menerima pinangan ini. Tanpa bertanya alasan dibalik sikap dingin Vira.
"Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Dia bisa menghina kakak, tapi tidak akan bisa menghinamu. Kakak ada untuk menjagamu, kerja keras kakak. Semua hanya untukmu, jangan pernah berpikir sendiri. Percayalah, kakak akan membuatmu bahagia bersama Arif. Apa yang terjadi pada kakak? Tidak akan pernah terjadi padamu!" ujar Vira lirih, seraya menarik tubuh Vika ke dalam pelukannya.
Vira mengusap lembut kepala Vika. Lalu mencium lembut kepala Vika yang tertutup hijab. Vira mengusap lembut bahu sang adik Menengnakan Vika yang terus menangis. Rayyan menatap sendu sang kakak. Rayyan melihat sisi kelam Vira. Ketegaran yang terus ditunjukkan Vira, seolah tameng untuk menutupi luka hatinya.
"Apa kabar tuan Angga Atmaja?" ujar Vira lantang, Vira berjalan perlahan menghampiri Angga. Sontak Angga berdiri, jelas terlihat raut wajah terkejut Angga.
Vira duduk tepat di depan Angga, Vira duduk dengan sangat anggun. Melda menatap Vira tak percaya. Kini dia benar-benar bertemu Vira. Wanita yang menjadi alasan kebahagian Azzam. Melda berniat mendekat, tapi dengan cepat Vira merentangkan tangannya ke depan. Vira menolak memeluk Melda, sontak Melda duduk kembali. Jelas penolakan Vira membuat Melda kecewa. Angga merandang melihat sikap angkuh Vira.
"Kamu, kenapa bisa ada disini? Sejak kapan kamu berani menghina istriku?" teriak Angga marah, Vira tersenyum tipis. Keangkuhan Angga Atmaja tak pernah berubah.
"Vika ambilkan minum untuk tamu. Minta Asih membersihkan kaca pecahan gelas yang berserakan itu!" ujar Vira lembut, Vika mengangguk tanpa menoleh ke Arif. Vika merasa menyesal telah menerima pinangan Arif.
"Siapa kamu sebenarnya?" ujar Angga heran.
"Aku Vira Azza Ifatunnisa, wanita yang kamu puji sekaligus kamu hina. Istri dari putramu yang tak pernah mendapatkan restu. Ibu dari cucu pertamamu. Cucu yang pernah kamu tolak kehadirannya dan mengganti nyawanya dengan segepok uang!" ujar Vira lirih, sontak Melda menoleh ke arah Angga. Kedua matanya merah, menahan amarah. Melda tidak percaya, Angga akan melakukan semua itu.
"Diam kamu Vira, bukankah kamu berjanji akan tutup mulut. Ternyata kamu tidak lebih dari pembohong. Selain kamu hanya anak miskin!" ujar Angga sinis.
"Tutup mulut anda!" teriak Rayyan emosi, sontak Vira menahan tangan Rayyan. Vira meminta Rayyan kembali duduk. Vira tidak ingin melihat Rayyan marah. Vira tahu cara menghadapi Angga Atmaja. Rayyan kembali duduk di samping Vira. Terlihat jelas Rayyan menahan amarahnya.
"Aku hanya akan diam di depan kak Azzam. Sedangkan disini tidak ada kak Azzam. Jadi aku berhak mengatakan fakta yang kamu tutup rapat selama ini!" ujar Vira dingin.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik kamu diam. Kamu bukan siapa-siapa? Aku yakin kamu tak lebih dari buruh cuci di rumah ini!"
"Sayangnya dugaan anda salah. Rumah yang sedang anda datangi, tak lain rumahku. Orang yang ingin anda jadikan besan, itu aku. Vira yang kamu hina sekaligus kamu puji keberadaannya. Vika Nur Khairunnisa itu adik bungsuku. Aku orang yang akan memutuskan, ada tidaknya pernikahan diantara Arif dan Vika!"
"Kamu mengigau!" ujar Angga tak percaya.
"Sayangnya, apa yang aku katakan benar adanya?"
"Pak Arif, sudah kukatakan keluargamu akan tetap sama. Menganggap kami tak layak menjadi bagian keluarga Atmaja. Sekarang aku ingin bertanya, masihkah kamu ingin menikah dengan Vika!" ujar Vira, Arif mengangguk tegas.
"Baiklah pak Arif, aku percaya akan jawabanmu. Aku hanya ingin kamu meninggalkan keluarga tak berhatimu. Menjadi menantu seutuhnya keluaga kecilku, menyatu dengan keluarga tanpa derajat ini. Jika kamu sanggup, satu bulan ke depan. Aku akan melangsungkan pernikahan kalian dengan sangat megah!"
"Aku sanggup!" sahut Arif lantang.
"Arif, jangan kehilangan akal kamu. Dia bukan siapa-siapa?"
"Aku akan merebut satu per satu harta berhargamu. Harta yang kamu sia-siakan dan kamu tukar dengan materi!" ujar Vira dingin, lalu berdiri menjauh.
"Rayyan, lanjutkan tanpa kakak. Ada yang harus kakak selesaikan!" ujar Vira lirih.
"Tunggu sayang!" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira.
"Seberapa besar putraku dihargai olehnya!" ujar Azzam dingin, Vira menoleh ke arah Angga.
"Seharga sepeda motor!" ujar Vira lirih, lalu menjauh dari ruang tamu.
"Tuan Angga, anda ingin membeli nyawa putraku dengan sepeda motor. Maka aku akan mengambil 100 kali lipat dari harga itu. Aku pastikan besok satu bisnis keluarga Atmaja hancur!"
__ADS_1