
Tepat pukul 09.00 WIB, acara wisuda dimulai. Nampak Azzam duduk paling depan. Azzam penyandang dana terbesar di kampus. Hal itu yang membuat Azzam menjadi tamu kehormatan dalam acara ini. Tepat di samping kiri Azzam, keluarga Fatih duduk berjejer. Hanya nampak Vika dan Arif yang mewakili keluarga Fatih. Sedangkan Rayyan memilih di luar gedung. Rayyan tengah menunggu kedatangan Vira. Memastikan janjinya pada Fatih terpenuhi.
"Fatih, silahkan maju ke depan!" Ujar pembawa acara. Terdengar tepuk tangan menggema di dalam aula pertemuan. Seakan mereka tengah menanti mahasiswa kebanggaan kampus yang begitu diidolakan.
Fatih melangkah dengan gagah ke tengah panggung. Nampak beberapa dosen dan rektor universitas tengah menanti Fatih. Tepat saat Fatih berdiri di tengah-tengah panggung. Pemandu acara langsung meminta Azzam naik ke atas. Azzam menjadi orang pertama yang akan memberikan piala dan piagam sebagai mahasiswa terbaik pada Fatih.
Sontak Fatih mengangkat wajahnya, dia terkejut sekaligus tak menyangka. Azzam akan menjadi orang pertama yang mengucapkan kata selamat padanya. Tak pernah terbayangkan dalam benak Fatih. Dia akan berurusan dengan Azzam. Apalagi Fatih tidak bisa berbuat apa-apa? Fatih harus menerima uluran tangan Azzam. Tangan yang sejak dulu selalu ditepis oleh Fatih. Menatap wajah Azzam yang tak pernah ingin dilihatnya.
Namun semua seakan harus terjadi. Fatih hanya bisa menghormati Azzam, bukan menolak Azzam. Sebagai seorang putra Fatih berhak marah, tapi sebagai seorang mahasiswa. Fatih tidak ingin mempermalukan orang-orang yang telah mengajarinya. Dengan tidak menghormati tamu yang datang. Fatih mencoba mengendalikan hatinya. Menyimpan jauh rasa sakitnya. Berusaha melupakan sejenak rasa kecewa pada orang yang begitu dekat dengannya.
"Selamat Fatih!" Ujar Azzam sembari mengulurkan tangan ke arah Fatih. Lama Fatih terdiam, tak ada senyum atau penolakan. Fatih menjadi sosok tanpa hati. Entah kenapa Fatih begitu dingin? Azzam merasa hancur melihat tatapan Fatih padanya. Tatapan yang menganggap dirinya orang luar. Namun Azzam tetap bahagia, karena putra kebanggannya menjadi mahasiswa terbaik di kampus ternama.
Azzam sangat bahagia, ketika dia menjadi orang pertama yang memberikan kata selamat pada Fatih. waktu yang ditunggu Azzam selama bertahun-tahun, hari ini terlaksana tanpa ada halangan. Azzam menatap lekat wajah putra yang selalu dirindukannya. Azzam begitu dengan Fatih, bahkan tak ada jarak yang memisahkan mereka. Detak jantung Azzam yang bergemuruh, mampu terdengar oleh Fatih. Senyum bahagia Azzam, dengan mudah dilihat oleh mata indah Fatih. Namun kebahagian itu seakan tak pernah menyentuh hati Fatih. Tatapan dingin menjadi jawaban ucapan selamat yang terucap penuh cinta dari bibir Azzam. Fatih diam tak bergeming, sekadar menyambut tangan Azzam. Tangan yang terulur penuh cinta dan ketulusan.
"Mungkin aku terlalu berharap!" Ujar Azzam lirih, saat menyadari tangan Fatih tak terulur menyambut ucapan selamat darinya. Azzam menarik tangannya perlahan. Hati Azzam terasa sakit, melihat dingin yang sangat dingin dari Fatih.
"Terima kasih tuan Azzam!" Ujar Fatih dingin, sembari membalas uluran tangan Azzam. Tepat saat Azzam menarik tangannya. Azzam terkejut sekaligus bahagia. Dia melihat Putranya menyambut hangat ucapan selamat darinya.
Beberapa detik Azzam merasakan hangat tangan putranya. Tangan yang dulu pernah dipegangnya. Saat-saat indah tumbuh kembang Fatih. Beberapa detik hangat yang dirasakan Azzam. Setidaknya mampu mengobati rindu puluhan tahun jauh dari Fatih. Azzam merasa begitu bahagia, akhirnya rindu yang ditahannya selama ini terbalaskan. Azzam begitu bahagia, bak mimpi yang telah menjadi nyata
"Sebenci itukah kamu, sampai hati kamu memanggilku seperti itu. Aku bukan orang lain Fatih. Aku ayah kandungmu, darahku yang mengalir dalam nadimu. Tak sepantasnya kamu memanggilku seperti itu. Setidaknya kamu bisa memanggilku papa, meski setelah itu kamu tak ingin mengakui hubungan darah diantara kira!" Batin Azzam penuh rasa pilu yang teramat.
"Tuan Azzam!" Ujar Azzam menirukan perkataan Fatih. Azzam menunduk lesu, menyadari dirinya tak lebih dari tamu dimata Fatih putranya. Fatih mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Azzam. Sebuah isyarat, jika Azzam tak lebih dari tamu bukan ayah bagi Fatih.
"Aku pikir kamu akan memanggilku!" Gumam Azzam lirih, Fatih menggeleng lemah. Seketika Fatih melepaskan tangan Azzam.
"Tuan Azzam, sekali lagi terima kasih atas ucapan selamat dari anda. Bagi saya anda tetap tuan Azzam. Jadi jangan pernah berharap lebih!" Sahut Fatih tegas, Azzam tertunduk lesu. Dia tak menyangka kebahagiannya akan meninggalkan sakit yang teramat
"Kenapa? Sekali saja aku ingin mendengarnya!" Pinta Azzam menghiba, Fatih menggeleng lemah. Bak permintaan Azzam sesuatu yang sangat tidak mungkin.
"Panggilan yang anda inginkan, sudah lama saya lupakan. Sejak dua puluh tahun lalu, saya tak lebih dari anak yatim-piatu. Lantas, siapa anda berharap saya mengenali anda?" Ujar Fatih lugas dan tegas tanpa ragu.
"Kamu benar-benar marah?"
"Saya tidak marah, tapi kecewa yang pernah saya rasakan. Sudah cukup menjadi alasan rasa benci dan amarah ini!" Sahut Fatih dingin, datar tanpa belas kasih.
Azzam menggelengkan kepalanya lemah. Azzam merasa tak berdaya melihat amarah dan rasa kecewa Fatih. Tak ada lagi cara Azzam meminta maaf. Azzam merasa bodoh, karena telah meninggalkan Fatih. Melupakan sejenak tanggungjawabnya pada Fatih. Sampai Azzam kehilangan Fatih saat ini.
"Fatih, papa mohon!" Ujar Azzam, Fatih menatap lekat Azzam. Fatih merasa risih, ketika Azzam mengatakan kata papa.
"Maaf tuan Azzam, sebaiknya anda bergeser. Masih banyak acara yang akan dilaksanakan. Jangan sampai karena masa lalu, acara ini berantakan!" Ujar Fatih dingin.
"Maafkan papa!" Suara Azzam lirih hampir tak terdengar, lagi dan lagi hanya dingin yang diterima Azzam. Fatih tak tersentuh, meski Azzam menghiba penuh harap.
"Saya mohon, bergeserlah!" Ujar Fatih tegas, Azzam menunduk lalu berjalan beberapa langkah ke sisi kanan Fatih. Azzam pasrah dengan sikap dingin Fatih. Semua memang salahnya, tak ada cara Azzam memperbaikinya.
Kreeekkk
Fatih mendongak ke arah suara pintu yang terbuka. Suara yang begitu lirih, tapi seolah keras dalam hati Fatih. Entah kenapa Fatih begitu tertarik dengan suara pintu yang terbuka? Lebih tepatnya Fatih menanti dengan cemas kehadiran seseorang. Jika Azzam begitu tak berarti bagi Fatih. Lain halnya dengan sosok yang dinanti oleh Fatih. Begitu berarti, sampai Fatih rela kehilangan segalanya.
Tap Tap Tap
Langkah kaki yang terdengar berirama memasuki aula. Seorang wanita dengan gamis panjang dan hijab syar'i yang senada. Masuk ke dalam ruang wisuda dengan sangat anggun. Beberapa mata tersepesona dengan kecantikan yang berbalut kesopanan. Usia yang nampak tak lagi muda. Tidak mampu mengalahkan aura kecantikan yang jelas terpancar dari raut wajahnya. Sosok wanita anggun dan lembut penuh kasih sayang.
"Mama!" Teriak Fatih histeris, tepat saat Vira berjalan memasuki aula.
Mungkin Fatih sudah lama tidak bertemu Vira. Namun ikatan batin seorang anak, akan dengan mudah mengenali ibu yang melahirkannya. Suara hatinya mudah mengenali wanita yang begitu dirindukannya. Fatih benar-benar tak menyangka, jika ibu yang hanya ada dalam bayangannya. Kini nyata berdiri menunggu pelukannya.
"Vira!" Ujar Azzam tak percaya.
Azzam tidak pernah menyangka, jika dia bisa melihat Vira setelah dua puluh tahun mereka terpisah. Sungguh Azzam tak percaya akan sosok yang ada di depannya. Wanita yang sangat dirindukannya, berjalan anggun ke arahnya. Lebih tepatnya menghampiri Fatih buah hati mereka.
Praaaaayyyrrr
Piala yang dipegang Fatih, seketika terlepas dari tangannya. Suara keras hantaman piala, menggema di setiap sudut aula. Membuyarkan lamunan orang-orang yang tiba-tiba sunyi. Sontak semua mata menatap heran Fatih. Azzam mundur beberapa langkah, kebahagian yang dirasakan hari ini. Seolah tak mampu ditampungnya. Azzam merasa rapuh, tulang belulangnya hancur. Cinta yang dirindukannya, berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Mama, benarkah itu mama!" Batin Fatih tak percaya. Fatih sangat mengharapkan pertemuan ini. Penantian dua puluh tahun dalam hidupnya. Akhirnya berakhir hari ini, semangat dan tujuan telah kembali dalam hidupnya.
"Fatih sayang!" Ujar Vira sembari merentangkan tangan. Berharap Fatih memeluknya, mendekap erat tubuhnya.
Vira berdiri menatap lurus ke arah Fatih. Sekilas Vira melihat Azzam, meski tak pernah ada inginnya bertemu dengan Azzam. Namun takdir seolah ingin membuatnya bertemu dengan Azzam. Orang yang dia tinggalkan, imam yang tak pernah bisa dimiliki seutuhnya.
"Mama!" Teriak Fatih, lalu berlari menghampiri Vira.
Fatih melempar semua yang dipegangnya. Fatih melepas semua atribut wisuda. Fatih berlari sebagai Azzam Al-Fatih. Fatih merubah dirinya menjadi putra kecil Vira. Fatih tak lagi peduli dengan tatapan tajam orang-orang yang mengaguminya.
"Mama!" Ujar Fatih, sembari mencium telapak kaki Vira.
"Berdirilah sayang, tak pantas kamu bersikap seperti ini!" Pinta Vira pada Fatih. Seketika Fatih menggelengkan kepala, Fatih merasa pantas berlutut di kaki orang yang melahirkannya.
"Tidak, mama pantas menerima rasa hormatku!" Ujar Fatih lirih, Vira membelai lembut rambut lebat Fatih.
"Tapi papamu lebih pantas mendapatkan rasa hormatmu!"
"Mama, jangan pernah tinggalkan Fatih!" Pinta Fatih memelas.
"Mama akan disini, takkan mama pergi lagi!"
"Mama janji!" Ujar Fatih sembari memeluk erat Vira.
"Mama janji!" Sahut Vira hangat, Fatih mengangguk pelan percaya akan janji ibu yang melahirkannya.
"Vira!" Sapa Azzam tak percaya, Vira menatap datar Azzam. Imam yang pernah mengisi hatinya. Menjadi pemimpin dalam hidupnya dan kedua buah hatinya. Azzam mengingat hari dimana dia berpisah dengan Vira. Kepergian Vira yang menjadi awal kehancuran hidupnya.
FLASH BACK
"Aku tidak akan memintamu pergi, bila hatimu tak ingin pergi. Namun berpura-pura buta tidak melihat kepedihan dan kegelisahanmu, sungguh aku tidak mampu!" Sahut Vira lirih sembari mendekap hangat Kepala Azzam.
"Tante Melda seorang ibu yang baik. Dia istri yang setia. Seorang menantu yang patuh. Air mata dan kepedihannya terus dipendam. Hanya demi ketenangan keluarga Atmaja. Kini tubuh lemahnya tak lagi mampu menyimpan duka. Terbaring tak berdaya, menjadi pilihan terakhir hati. Menunjukkan pada kalian anak dan suaminya. Beliau butuh dekapan hangat dan kasih sayang kalian!" Tutur Vira lirih, Azzam diam menunduk semakin dalam. Tangannya mendekap erat tubuh Vira. Seolah hatinya benar-benar gelisah.
"Jika air matanya tak pernah kamu hapus. Kini saatnya kakak menghapus peluh rasa sakitnya. Jika dulu tangannya yang menyuapi kakak makan. Kini tangan kakaklah yang harus menopang hidupnya. Takkan ada tawa dalam kebahagian kita. Jika tak ada senyum seorang ibu mengiringinya. Sebab Allah SWT tersenyum pada hamba-NYA, kala senyum seorang ibu terutas karena perilaku anaknya!"
"Kenapa?"
"Aku akan pergi denganmu, tapi tidak sekarang!"
"Kalau begitu aku tidak akan pergi!" Ujar Azzam tegas, Vira menggeleng lemah. Dengan sopan Vira menepis tangan Azzam. Vira melepaskan tangan Azzam dengan sangat sopan.
"Penyesalan terbesarku selama ini, bukan mencintai atau menikah denganmu. Namun statusku yang rendah saat bersamamu. Keputusan yang terlalu terburu-buru untuk hidup bersamamu. Sebab kelemahanku yang menjadi alasan kepedihan dan kematian ibuku. Jadi jangan pernah lakukan kesalahan yang sama. Jadilah seorang anak yang berbakti, sebelum menjadi suami dan ayah yang baik!"
"Kamu ingin aku pergi!"
"Pergilah, sebelum semuanya terlambat. Aku dan Fatih akan menyusul!"
"Kamu berbohong!"
"Aku akan datang, saat semuanya membaik!"
"Kamu janji!" Ujar Azzam, Vira mengangguk.
Azzam berjalan menjauh dari Vira, Nadya mengikuti langkah kaki Azzam. Terutas senyum penuh kemenangan di wajah Nadya.
"Aku menang Vira!" Ujar Nadya lirih, Vira menggeleng.
"Kamu tidak pernah menang, dulu atau sekarang. Kamu hanya bisa merebut, tanpa bisa memilikinya!" Sahut Vira lirih, Nadya meradang. Namun amarahnya ditahan, karena Azzam sudah semakin menjauh. Nadya berlari mengejar Azzam, meninggalkan Vira yang termangu menatap punggung Azzam.
"Kak Azzam!" Teriak Vira, Azzam menghentikan langkahnya. Azzam menoleh ke arah Vira, tatapan sendu Vira menusuk hati Azzam. Ada rasa ngilu yang tiba-tiba terasa di hati Azzam.
"Ajak Fariz menemui tante Melda. Sudah saatnya kalian bersama, menjaga ibu yang telah lama merindukan kalian!" Ujar Vira lantang, Azzam mengangguk pelan. Azzam hendak berlari menghampiri Vira, tapi Vira melarang dengan merentangkan tangan ke arah Azzam.
"Jangan kembali, kakak harus terus maju. Jaga diri kakak baik-baik!" Teriak Vira lantang, Azzam mengangguk ragu. Tatapan Vira seolah ingin mengatakan hal sebaliknya.
__ADS_1
"Vira, aku pergi demi dirimu. Aku berharap, kamu penuhi janjimu. Semoga firasatku salah, jika kamu akan meninggalkanku. Aku mencoba menyakinkan diriku. Jika kamu akan tetap bersamaku. Aku akan segera kembali!" Batin Azzam menatap nanar Vira.
"Jaga dirimu imamku, berbahagialah meski tanpa diriku. Sudah seharusnya impian tetap menjadi impian. Sudah sepantasnya seorang anak kembali pada ibunya. Semoga kelak ada bahagia untuk kita!" Batin Vira pilu.
"Kak Vira!"
"Kakak baik-baik saja dan selamanya baik-baik saja!" Sahut Vira tegas.
"Rayyan, jaga dan didik Fatih. Dia amanah kakak, harta terbesar kakak. Jangan isi hatinya dengan dendam. Kakak akan kembali saat semua telah membaik!"
"Kenapa kakak harus mengalah?"
"Semua akan berakhir saat ada yang mengakhirinya!" Sahut Vira tegas, Rayyan dan Vika memeluk Vira erat. Perpisahan yang jelas terjadi dan tak lagi bisa ditunda.
FLASH BACK OFF
"Mas Azzam!" Sahut Vira datar, sembari memeluk Fatih.
Azzam dan Vira saling memandang. Cinta yang telah tenggelam selama dua puluh tahun lalu. Kini nyata terasa menyergam ke dalam hati Azzam. Guratan-guratan usia di wajah Vira. Tak mampu merubah rasa indah itu. Nyata Azzam merasakan kebahagian dan cinta yang begitu besar. Bayangan akan menyatu cinta dengan Vira. Pupus tak tersisa, kala tatapan dingin Vira dan sikap datar Vira padanya. Azzam hanya bisa menghela napa panjang. Pasrah akan sikap tanpa ada rasa cinta yang Vira tunjukkan.
"Kamu benar-benar Vira!" Ujar Azzam tak percaya. Azzam mencoba bersikap biasa, menutupi kegundahan hatinya.
Vira lepaskan pelukan Fatih, menatap lurus Azzam yang berdiri tegak di depannya. Azzam nampak gagah dan tampan sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Guratan usia tak membuatnya lemah dan menua. Laki-laki yang pernah ada dan mengisi hati kosong Vira.
"Fatih, mama ingin bicara dengan papa. Kamu kembali ke atas panggung. Lihat di sana, mereka menunggumu untuk naik ke atas!" Pinta Vira ramah, Fatih menggeleng. Tangannya menggenggam erat Vira.
Fatih bak bocah berusia lima tahun. Bocah yang takut kehilangan ibunya. Tak ada lagi Fatih yang dingin dan pendiam. Fatih terlihat lemah dan manja pada Vira. Namun dengan penuh kasih sayang, Vira memberikan pengertian. Meminta Fatih melepaskan tangannya. Agar Vira bisa bicara dengan Azzam secara pribadi.
"Mama mohon, naiklah ke atas. Mama harus bicara dengan papa!" Pinta Vira, Fatih tak bersuara. Ada rasa takut, ketika meninggalkan Vira. Raut kecemasan Fatih, mampu terlihat oleh Vira. Dengan penuh kasih sayang, Vira memberi pengertian pada Fatih. Vira berusaha membuat Fatih percaya tidak akan perpisahan diantara mereka.
"Mama tidak akan pergi!"
"Mama akan tetap di sini menemanimu. Jika memang mama ingin pergi. Lalu, kenapa mama kembali hari ini?" Ujar Vira tegas, tapi hangat penuh kasih sayang.
"Baiklah!" Sahut Fatih dengan anggukan kepala. Dengan langkah berat, Fatih berjalan menuju podium.
Fatih pergi meninggalkan Azzam dan Vira berduan. Fatih berusaha tenang, melupakan ketakutan akan ditinggalkan oleh Vira. Langkah tegap Fatih, menunjukkan sifat seseorang yang dewasa.
Tap Tap Tap
"Papa!" Sapa Nafisa.
"Putrimu!" Ujar Vira, Nafisa tersenyum ceria ke arah Vira. Dengan senyum yang sama, Vira membalas senyum Nafisa. Vira melihat Nadya di kala muda. Nafisa begitu mengingatkan Vira pada sosok sahabatnya.
"Iya!" Sahut Azzam kikuk.
"Cantik seperti ibunya!" Ujar Vira memuji Nafisa, Azzam menatap Vira heran. Perkataan Vira sesuatu yang aneh, ketika Vira jelas tak pernah mengetahui pernikahan Azzam. Namun sebelum Vira pergi, dia sudah menduga. Jika kelak Azzam akan menikah dengan Nadya. Raut wajah Nafisa sangat mirip dengan sahabatnya. Sesuatu yang jelas mengatakan, siapa sebenarnya istri Azzam.
"Tante kenal dengan mama!" Sahut Nafisa, Vira mengangguk tanpa ragu.
Tak ada alasan Vira tak mengenali Nadya. Bahkan Vira sangat dekat dengan Nadya. Persahabatan yang hancur, hanya karena cinta dari penerus keluarga Atmaja. Cinta yang tak pernah ingin Vira genggam, tapi nyata itu memilih Vira daripada Nadya. Awal sebuah kehancuran persahabatan Vira dan Nadya.
"Tentu tante kenal dengan mamamu. Dia wanita yang baik. Dia sahabat tante, kamu cantik seperti dirinya. Mata yang kamu miliki persis seperti mata indah Nadya!"
"Vira cukup, kita harus bicara!" Bentak Azzam.
Azzam mulai kesal, ketika melihat Vira seoalh mengulur waktu. Azzam hanya ingin bicara dengan Vira. Mencari alasan kepergian Vira dua puluh tahun yang lalu. Azzam ingin mengetahui, alasan keberanian Vira meninggalkan buah hatinya. Seolah Vira tak merasakan sakit saat meninggalkan Fatih. Azzam merasa sudah waktunya Vira menjawab semua pertanyaan hatinya. Kegalauan bertahun-tahun karena kepergian Vira harus terjawab hari ini.
"Papa, kenapa membentak tante cantik?" Sahut Nafisa lirih.
"Cantik, tante harus bicara dengan papa. Boleh tidak tante meminjam papa!" Ujar Vira ramah dan lembut.
"Tante,...!"
"Aku bukan barang yang bisa dipinjam!" Sahut Azzam sinis memotong perkataan Nafisa.
__ADS_1
"Kamu masih sama!" Gumam Vira.