
"Azzam, mama akan mengobati lukamu. Agar tak terasa sakit!" ujar Melda cemas.
"Tanganku tak sesakit hatiku, melihat sikap dingin dan sakit Vira!" ujar Azzam. Melda menghela napas panjang. Melda menatap luka sang putra.
Nadya tertegun menatap rapuh Azzam. Rasa sayang Azzam nyata untuk Vira. Namun cintanya untuk Azzam tulus. Entah sejak kapan Nadya mencintai Azzam? Satu hal yang pasti, cintanya pada Azzam. Membuatnya bersikap egois dan kejam. Nadya mampu melupakan persahabatannya dengan Vira.
TAP TAP TAP
Azzam berlari menyusul Vira. Dia tak mungkin berdiam diri menerima sikap dingin Vira. Azzam berlari tanpa peduli teriakkan Angga dam Melda. Kekhawatiran kedua orang tuanya kalah oleh ketakutan Azzam akan kehilangan Vira. Bahkan darah Azzam mengalir tanpa henti, menetes di lantai marmer rumahnya.
Kreeeekk
Azzam membuka pintu kamarnya, dia mencari sosok Vira. Azzam mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamarnya. Azzam mencari Vira bak orang kehilangan akal. Azzam mencari Vira ke dalam kamar mandi. Namun tak terdengar suara dari kamar mandi. Lalu Azzam beralih menuju ruangan tempat lemari pakaian Azzam berjajar.
Azzam terduduk lesu, dia melihat Vira tengah bersimpuh di hadapan sang Khalik. Vira belum sempat sholat isya. Sesampainya di kamar, Vira langsung mengambil wudhu dan sholat isya. Azzam lemas sembari menatap punggung Vira. Makmum yang tanpa sengaja dia telantarkan.
"Assalammualaikum warrohmatullahhibarakatu!" ujar Vira lirih mengakhiri sholatnya. Vira menengadahkan tangan, memanjatkan doa tulus pada sang Khalik. Pemilik sehat dan sakitnya, pemberi rejeki dalam hidupnya.
Vira menyelesaikan sholatnya lalu melipat kembali mukena yang dipakainya. Rambut hitam legam Vira teruarai indah. Vira melepas hijabnya di dalam kamar mandi. Vira berjalan keluar dari ruangan itu, melewati Azzam yang bersandar di dinding.
"Kenapa tangan kakak? Tak seharusnya kakak melukai diri sendiri. Darah yang menetes, tidak akan bisa merubah keadaan!" ujar Vira dingin, lalu mengambil kotak P3K. Azzam diam menatap wajah Vira. Sikap dingin Vira jauh lebih sakit daripada luka ditangannya.
Vira mendekat ke arah Azzam. Menarik tangan Azzam ke atas pangkuannya. Vira membersihkan luka di tangan Azzam, tanpa sedikitpun menatap wajah Azzam. Rasa sakit dan tersisih Vira, mengalahkan trauma Vira akan darah Azzam yang menetes. Vira lupa akan rasa takutnya pada darah. Azzam menatap lekat wajah datar Vira. Entah kenapa rasa takut Azzam semakin menjadi? Diam dan dingin Vira seperti isyarat sebelum kepergiannya.
"Vira, jangan lakukan ini padaku. Marahi aku sepuasmu, tampar aku bila perlu. Namun jangan diam mengacuhkanku!" ujar Azzam, Vira diam tak bersuara. Azzam menunduk lesu, melihat sikap diam Vira. Dadanya terasa sesak dan sakit.
"Sudah selesai, bersihkan diri kakak. Aku sudah menyiapkan air panas. Setelah itu kakak sholat isya. Aku akan istirahat lebih dulu!" ujar Vira lirih, lalu berdiri meninggalkan Azzam.
Vira menyimpan P3K, sekaligus mengambil piyama untuk Azzam. Sesakit apapun hati Vira, dia tidak akan lupa akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Vira menikah dengan Azzam, itu artinya dia siap menerima segala luka yang mengiringinya.
"Kak Azzam!" sapa Vira, Azzam diam menunduk. Sikap dingin Vira menghancurkan tulangnya. Tubuh Azzam lemah tak bertenaga. Jangankan ke kamar mandi, berdiri saja Azzam seakan tak sanggup.
"Kak Azzam, kenapa kamu diam? Malam sudah sangat larut, pergilah mandi!" ujar Vira lagi, Azzam diam membisu.
"Baiklah, kalau kakak tidak ingin mandi. Aku akan tidur di luar. Selamat malam kak!" ujar Vira santai, sontak Azzam berdiri.
Azzam menarik tubuh Vira kasar. Azzam kalap mendengar Vira akan pergi. Tanpa sadar Azzam menarik tubuh Vira terlalu keras, sampai Vira jatuh terhuyung ke depan. Beruntung Azzam langsung menahan tubuh Vira. Lalu memeluk tubuh Vira erat.
"Jangan pergi dariku!"
"Kak, lebih baik kakak mandi. Aku harus istirahat!" ujar Vira, Azzam menggeleng tak peduli akan permintaan Vira.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana? Aku benar-benar lelah. Hatiku dan badanku sakit!" ujar Vira lirih, lalu melepaskan pelukan Azzam. Vira berjalan menuju tempat tidur.
Vira meringkuk di balik selimut. Azzam tertegun melihat sikap dingin Vira. Tak ada kehangatan dan kasih sayang yang Vira tunjukkkan. Azzam pasrah menerima amarah Vira. Setidaknya dia tidak akan pergi kemana-mana? Azzam pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
TOK TOK TOK
Terdengar suara pintu kamar diketuk. Azzam menoleh heran mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya selarut ini. Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam. Biasanya tidak ada yang berani mengetuk pintu kamarnya. Azzam tidak suka diganggu, jika sudah masuk kamar.
"Sebentar!" ujar Azzam lirih, Azzam takut Vira terbangun. Meski sebenarnya Vira belum tidur, dia hanya pura-pura tidur. Vira tak bisa tidur, dia teringat akan kejadian tadi.
Azzam membuka pintu, kedua bola matanya membuka sempurna. Dia melihat Nadya berdiri di depan kamarnya. Azzam ingin mengusir Nadya saat itu. Namun Azzam tidak ingin membuat keributan. Dia takut membangunkan Vira yang sedang tertidur.
"Ada apa?" ujar Azzam dingin dan ketus.
"Aku hanya mengantar makan malam untukmu. Om Angga yang memintaku!" ujar Nadya sembari menyodorkan nampan berisi makanan untuk Azzam.
"Bawa kembali, aku tidak lapar. Katakan pada om Angga kesayanganmu. Percuma kamu bersikap baik. Aku tidak akan menikah denganmu!" ujar Azzam dingin, Nadya tersenyum sinis. Tanpa mereka sadari, Vira berdiri di belakang mereka.
"Makanlah kak, Nadya membawakannya untukmu. Tidak baik menolak rejeki!" sahut Vira, Nadya menatap Vira sinis. Azzam menggeleng menolak, dia tidak ingin menerima kebaikan Nadya.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Kenapa kamu bangun? Apa kamu takut kak Azzam menerimanya?" ujar Nadya sinis, Vira menggeleng lemah.
"Aku hanya ingin melihat usahamu mendekati suamiku. Seberapa besar kamu ingin menjadi istri suamiku!" ujar Vira meledek Nadya, sontak Nadya meradang. Dia marah mendengar Vira meledeknya. Nadya berusaha mendekat ke arah Vira. Namun Azzam menghadang dengan tangannya. Azzam melindungi Vira dari sikap kasar Nadya.
"Menjauh dari kamarku, aku tidak lapar. Apa yang dikatakan Vira benar? Dia memang istriku, kami tidur di kamar dan tempat tidur yang sama. Apa kamu tidak malu melakukan semua ini?" ujar Azzam tegas, Nadya menunduk lesu.
"Azzam, jangan kurang ajar. Bukan Nadya yang harus menjauh darimu, tapi anak ART Itu. Dia yang tidak pantas menjadi istrimu. Dia pantasnya mencuci dan menytrika baju kita di belakang. Kamarmu terlalu besar untuknya. Kamar ART lebih pantas untuknya!" ujar Angga kasar, Azzam marah mendengar hinaan Angga.
"Papa cukup, dia istriku bukan ART rumah ini!" teriak Azzam lantang dengan tangan mengepal. Melda berlari menghampiri Azzam. Teriakan Azzam menggema di dalam rumah. Melda takut terjadi sesuatu pada Azzam dan Angga.
Vira masuk ke dalam kamar. Dia mengambil mukena dan tas miliknya. Vira berjalan melewati Azzam dan Nadya. Tanpa menoleh ke arah Azzam, Vira keluar dari kamarnya.
"Sayang!"
"Lepaskan tangan kakak, aku harus istirahat. Seharian aku sudah bekerja. Seorang ART saja punya jam istirahat. Kenapa aku tidak punya? Besok pagi aku harus bekerja kembali. Demi nasi yang aku makan.. Aku juga harus kuliah!" ujar Vira, Azzam menggeleng lemah.
"Ini kamarmu, istirahatlah di dalam. Kamu tidak perlu pergi!" ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah. Azzam merasakan sakit dihatinya. Azzam cemas memikirkan Vira.
Vira menoleh lalu menarik tangan Azzam. Menempelkan tangan Azzam di pipinya. Air mata Vira membasahi telapak tangan Azzam. Melda menatap sendu Vira yang berusaha tegar menerima sikap kasar Angga.
"Kak Azzam, kini kedua mataku mulai lelah. Air mataku menetes imbas dari rasa lelah ini. Biarkan aku tidur di belakang, agar tuan besar merasa lega. Telinga dan hatiku sakit, setiap kali beliau menghina pekerjaan ibuku. Istirahatlah, aku akan tidur di belakang!" ujar Vira, Azzam menggeleng lemah. Vira tidak peduli, dia terus berjalan menjauh.
"Sayang tunggu, kita pergi dari rumah ini. Hidup jauh dari mereka. Orang-orang yang tak pernah menghargaimu!"
"Azzam, jangan gila kamu. Dia hanya anak ART, Nadya jauh lebih baik darinya. Demi dia kamu akan meninggalkan rumah!" ujar Angga emosi.
"Aku dan Vira satu, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya!" ujar Azzam tegas.
"Azzam berhenti!" teriak Angga, Melda menangis melihat Azzam pergi. Nadya diam membisu, dia melihat cinta Azzam yang begitu mencintai Vira. Angga mengejar Azzam, sebaliknya Azzam mengejar Vira.
__ADS_1
"Sayang, kita pergi!" ujar Azzam sembari menarik tangan Vira. Azzam membawa Vira keluar dari rumah Atmaja.
Plaaakkk
"Lihat akibat perbuatanmu, Azzam meninggalkan keluarganya. Melda menangis memikirkan Azzam. Kamu wanita tak berhati!" ujar Angga kalap, sesaat setelah menampar Vira.
"Papa!" teriak Azzam emosi, Vira memegang pipinya. Seketika Azzam memeluk Vira.
"Lepaskan!" teriak Vira seraya mendorong tubuh Azzam kasar.
"Sayang!
"Kak Azzam cukup, aku mohon cukup. Aku lelah, hatiku sakit. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu, tapi aku tak sekuat dirimu. Aku lemah dan tak berdaya menahan hinaan dari ayahmu. Aku lelah, aku sakit!" ujar Vira sembari menangkupkan tangan, lalu terduduk di lantai. Azzam menahan dadanya yang mulai terasa sesak.
"Sayang, bangunlah!"
"Pergi dariku, aku mohon!" ujar Vira lirih, air matanya menetes membasahi lantai marmer rumah megah keluarga Atmaja. Tubuh Vira bergetar hebat. Azzam berjalan mundur, semuanya telah hancur tak bersisa. Vira tersakiti tepat di depannya.
"Vira, tidak pantas kamu menangis. Mereka orang-orang tak berhati. Harta dan kekuasaan membutakan mata hati mereka. Air matamu terlalu berharga, jangan kamu buang karena mereka. Jika kamu tak mampu berada di rumah ini. Pulanglah, kamu berhak memutuskan!" ujar Fariz sembari memakaikan jaket ke tubuh Vira.
"Fariz, salahkah aku mencintai kakakmu!" ujar Vira lirih, seraya menatap Fariz sendu.
"Cintamu tidak salah, mereka yang tak bisa menghargai cinta tulusmu!" ujar Fariz lirih, Azzam menggeleng tak percaya. Vira bersikap hangat pada Fariz.
Vira berdiri menghampiri Azzam. Dia menarik tangan Azzam, mencium lembut punggung tangan Azzam. Air mata Vira menetes membasahi tangan Azzam.
"Kak Azzam, izinkan aku pergi dari rumah ini. Aku lelah, aku ingin istirahat. Kepalaku terasa berat, aku merindukan ibu!" ujar Vira lirih, Azzam diam membisu.
"Jangan pergi, Azzam akan hancur tanpamu. Mama mohon, jangan pergi!" ujar Melda sembari menangkupkan kedua tangannya. Menghiba pada Vira akan kebahagian putranya.
"Nyonya Melda, aku tidak akan meninggalkan tuan Azzam. Dia suamiku, tapi berada di rumah ini. Tubuhku tak lagi mampu, keluar dari rumah ini bersamanya aku tak sanggup. Percayalah akan ada waktunya kami bahagia!" ujar Vira lirih.
"Vira, aku sudah memanggil taxi!"
"Terima kasih Fariz!" ujar Vira lalu menghilang digelapnya malam. Azzam berjalan menuju kamarnya.
"Azzam!" teriak Melda cemas.
BraaaakÄ·kkk
"Azzam!" teriak Melda sembari berlari naik ke kamar Azzam. Suara bantingan pintu kamar Azzam. Menggema memecah kesunyian malam.
"Viraaaaaaaa!" teriak Azzam histeris.
Praaaaayyyyyyyrrr
__ADS_1
"Kamu kejam Angga, kamu tega. Putramu hancur ditanganmu sendiri. Kamu tak berhati!" ujar Melda, Angga diam menerima kebencian Melda.
"Maafkan mama sayang, mama lemah!" ujar Melda seraya menempelkan tangannya di pintu kamar Azzam.