Ikhlas

Ikhlas
Tuan Besar Atmaja


__ADS_3

"Mama, Fatih rindu mama!" teriak Fatih lantang sembari berlari ke arah Vira.


Dengan langkah kecilnya Fatih berlari memeluk Vira. Seketika Vira berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya. Menyambut tangan mungil Fatih menggapai leher jenjangnya. Fatih meluapkan kerinduan akan sosok Vira. Selama sebulan lebih dia jauh dari bayangan Vira. Namun ketegaran Vira seakan menurun padanya. Tak pernah Fatih menangis mencari Vira. Bukan tak merindukan Vira, tapi pesan terakhir Vira yang tak ingin melihat Fatih lemah. Selalu diingat oleh bocah kecil buah hati Vira.


"Mama juga merindukan Fatih!" ujar Vira sembari mendekap erat bocah kloningan Azzam.


Semua yang ada dalam diri Fatih, tak ada bedanya dengan yang ada dalam diri Azzam. Sifat yang tak bisa ditebak, amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak. Ketampanan yang nyata nampak di wajah Fatih. Serta kepintaran yang seolah ingin menyaingi dirinya. Fatih laksana kembaran Azzam. Mungkin lebih tepatnya pengganti Azzam untuk dirinya.


"Sayang, kita temui tante Vika dan om Arif!" ujar Vira, Fatih menggeleng lemah. Dia terus memeluk lengan Vira. Dengan mudah Vira bisa menyadari. Kerinduan yang teramat dalam diri Fatih. Ketakutan akan kepergian Vira yang kedua kali. Menjadikan Fatih pribadi yang tiba-tiba manja.


"Baiklah, mama akan menggendong Fatih. Kalau nanti mama lelah, Fatih janji untuk turun!" ujar Vira lirih, Fatih mengangguk pelan. Vira tersenyum simpul. Dia sudah menduga, Fatih merindukan dirinya. Sehingga Fatih tidak ingin melepaskan pelukannya.


Vira menggendong Fatih menemui Vika dan Arif. Pasangan pengantin yang baru saja sah secara hukum dan agama. Vira melihat kebahagian Vika yang tak sempurna. Vira menangkap raut wajah sedih Vika. Entah karena ketidakhadirannya atau tidak adanya orang tua yang menyaksikan pernikahannya?


Vira berjalan semakin dekat ke arah Vira dan Arif. Namun langkah kakinya terhenti, ketika kedua matanya menangkap bayangan keluarga Atmaja. Vira mencoba menata hati, melupakan yang pernah teejadi demi Vika adik tercintanya. Vira lalu berjalan mendekat, Vika yang melihat kedatangan Vira. Sontak turun dari pelaminan.


"Kakak!" teriak Vika lantang.


Vika turun tanpa peduli lagi akan terjatuh. Memeluk Vira menjadi keinginan terbesarnya saat ini. Mungkin pesta pernikahan impian semua wanita. Namun bagi Vika, pesta tanpa Vira tidak akan pernah ada artinya. Vira jauh lebih berarti dari semua yang ada.


"Maafkan Vika, maaf!" bisik Vika tepat ditelinga Vira. Vika memeluk sang kakak dengan erat. Vira sempat kewalahan menerima pelukan Vika Seandainya dia tidak sedang menggendong Fatih. Mungkin akan sangat mudah baginya menerima pelukan Vika.


"Kakak bahagia untukmu, jangan menangis. Hari ini kamu harus bahagia. Akhirnya kakak bisa memenuhi amanah ibu dengan baik. Menyerahkan dirimu pada imam yang sangat tepat. Impian beliau selama ini, menjadikanArif sebagai menantunya!"


"Kembalilah ke pelaminan, keluarga Atmaja menunggumu. Mereka kini keluargamu, sayangi mereka layaknya kamu menyayangi kakak. Jangan pernah jadikan masa lalu kakak. Alasan kamu membenci mereka. Rawat mereka sepenuh hati, gapai ridho suamimu dengan menyayangi keluarganya!" ujar Vira, Vika mengangguk dalam pelukan Vira.


"Aku juga ingin memeluk kalian!" ujar Rayyan menimpali. Vira dan Vika terkejut ketika merasakan tangan kekar Rayyan memeluk tubuh mungil mereka. Ketiga saudara bersatu dalam pelukan hangat. Mereka lupa sejenak akan keberadaan orang disekitarnya.


"Awwwwssss, sakit!" teriak Fatih histeris, tubuhnya terhimpit Vika dan Rayyan. Sontak Rayyan dan Vika melepaskan pelukan mereka. Ketiganya tertawa bersama, ketika melihat raut wajah kesal Fatih. Azzam tertegun menatap kehangatan yang seharusnya menjadi bagian hidupnya. Namun nyata semua itu disia-siakan oleh Azzam.

__ADS_1


"Penyesalanmu tidak ada artinya. Aku pernah mengatakan dengan jelas dulu. Jika hanya ingin mempermainkan Vira, pikirkan kembali. Vira wanita yang tidak biasa. Dia berharga, bahkan terlalu berharga. Dengan mudah dia bisa membuat kita hancur dalam cintanya. Sebaliknya dia akan dengan mudah melupakan cinta kita. Kebahagian yang aku dambakan, nyata kamu sia-siakan. Baik cintaku yang tulus atau cintamu yang semu. Semua harus kalah oleh kuat Vira Azza Ifatunnisa!" ujar Fariz berdiri tepat di samping Azzam.


Seketika Azzam menoleh, dia terkejut menyadari Fariz sudah berdiri di sampingnya. Keduanya menatap nanar kebahagian Vira. Menyadari mereka bukan bagian dari kebahagian Vira. Azzam menghela napas panjang. Menyadari perkataan Fariz nyata benar adanya. Hanya penyesalan yang kini tersisa. Vira bukan lagi miliknya, Azzam harus berjuang mendapatkan Vira kembali.


"Sekarang kembali ke pelamninan, aku harus bertemu keluarga Atmaja!" ujar Vira, Rayyan menahan tangan Vira.


Rayyan menggelengkan kepalanya perlahan. Seakan meminta Vira tidak pergi menemui keluarga Atmaja. Vika merasa heran dengan sikap Vira dan Rayyan. Namun dia hanya bisa mengatakannya dalam hati. Tanpa bisa mengutarakannya pada Vira dan Rayyan. Arif menghampiri Vika, dia ingin menyapa Vira. Mahasiswinya dulu yang kini menjadi kakak iparnya.


"Terima kasih kakak sudah hadir dalam pernikahanku. Kini aku tenang, akhirnya Vika bisa tersenyum. Kehadiranmu hadiah terindah di pernikahan kami!" ujar Arif ramah, Vira mengangguk dengan mengedipkan kedua matanya.


"Rayyan, pernikahan sudah berlangsung. Vika sudah resmi menjadi bagian keluarga Atmaja. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Mereka tidak akan membuat keributan. Jika akan membuat mereka malu!" ujar Vira menenangkan kecemasan Rayyan. Lagi dan lagi Rayyan hanya bisa mengikuti keputusan Vira. Dengan tatapan tak bisa diartikan. Rayyan mengiringi langkah Vira. Dia melihat sang kakak berjalan menghampiri keluarga besar Atmaja.


Vira berjalan anggun menghampiri meja keluarga Atmaja. Dengan menggendong Fatih, Vira mendekat menuju meja keluarga besar Atmaja. Rayyan dan Vika mengikuti Vira di belakangnya. Azzam dan Fariz seketika mendekat, mengekor langkah kaki Vira. Mereka merasa akan ada yang terjadi. Firasat yang seolah tersirat saat Azzam dan Fariz melihat tatapan Arka Dwi Atmaja. Tatapan membunuh yang terlihat jelas di kedua mata sang kakek Arka.


"Apa kabar tuan besar Atmaja? Lama tidak bertemu!" ujar Vira ramah tapi tegas. Vira seakan ingin menunjukkan jati dirinya. Kuat yang tersimpan dalam lemahnya.


"Ayah mengenal Vira!" ujar Angga, tuan Arka hanya diam. Seakan tak peduli akan pertanyaan Angga. Sebaliknya dia terus menatap tajam Vira. Seolah ingin menghunus Vira dengan tatapannya. Azzam dan Fariz berada tepat di belakang Vira. Tanpa aba-aba mereka menjaga Vira. Seolah mengerti sifat dan karakter Arka yang kejam dan dingin.


Arka berdiri menghampiri Vira, jarak keduanya sangat dekat. Fatih mengeratkan pelukannya pada Vira. Dia seakan merasakan kehadiran Arka. Aura dingin Arka membuat semua orang tegang. Hanya Vira yang terlihat tenang. Dia memahami cara menghadapi Arka yang dingin tak berhati.


"Apa hubunganmu dengan keluarga ini? Kenapa kamu bisa ada di negara ini?" ujar Arka dingin, Vira tersenyum sinis mendengar perkataan Arka.


Arka Dwi Atmaja tidak lagi muda. Usia dan pengalamannya dalam dunia bisnis tidak bisa diragukan lagi. Hampir semua pengusaha takut dan tunduk pada kekuasaannya. Sifat angkuh Angga menurun dari Arka. Kesombongan akan derajat yang mereka miliki. Tak lain didikan Arka sang ayah yang tegas dan tak pandang bulu. Dia akan bersikap sama pada semua keturunannya. Kejam dan bengis bila harga diri mereka menjadi taruhannya.


"Janji yang kuucapkan dulu. Jika kita akan bertemu kembali. Pertemuan yang akan membuat anda syok. Sebuah fakta yang akan membuat anda lupa akan status yang selalu anda banggakan!" ujar Vira dingin, Arka diam menatap lekat Vira. Raut wajah yang menahan amarah.


"Ayah mengenal Vira!" ujar Angga, sontak Arkan menoleh seraya meletakkan jari telunjuknya di tengah bibirnya. Arkan meminta Angga diam dan tak banyak bicara. Angga langsung terdiam, dia melihat amarah yang begitu menakutkan. Angga tak berkutik dihadapan Arka.


"Tuan Angga, aku dan ayahmu memiliki hubungan yang begitu erat. Sangat eratnya sampai beliau ingin sekali mengurungku di dalam istananya. Bukan karena dia menyayangiku, tapi lebih kepada kebencian yang begitu besar padaku!" sahut Vira.

__ADS_1


"Diam kamu, jawab pertanyaanku. Apa hubunganmu dengan keluarga ini?"


"Aku saudara tertua Vika. Aku kakak sekaligus ibu bagi Vika!" sahut Vira lirih, Arka meradang.


"Angga, apa yang dikatakannya benar? Kamu berbesan dengan dia!" ujar Arka marah, Angga mengangguk pelan.


Plaaakkkk


"Bodoh kamu!" teriak Arka marah sesaat setelah menampar pipi Angga.


"Papa!" teriak Fatih ketakutan, dia turun dari gendongan Vira. Azzam mengangkat tubuh Fatih. Mendekap erat Fatih dalam gedongannya.


"Fatih jangan takut, papa ada disini!" ujar Azzam menenangkan.


"Dia...!" ujar Arka tak percaya, Vira mengangguk pelan.


"Kejutan kedua untukmu!" ujar Vira sinis.


"Maksudmu!"


"Tanyakan pada putra kesayanganmu. Kejutan terakhir yang akan membuatmu kaget. Sampai kamu takkan sanggup berdiri!"


"Apa hubungannya dengan Dimas? Katakan sekarang, jika tidak!" ujar Arka mengancam Vira, tapi perkataannya terhenti. Ketika Vira mengangakat telunjuknya dan meletakkannya tepat di tengah bibirnya. Seolah dia tidak ingin mendengar perkataan Arka.


"Jika tidak kenapa? Dulu aku bisa terselamatkan dari kekejamanmu. Sekarang aku dengan mudah lolos dari ancamanmu. Tuan besar Atmaja, jika aku ingin. Bukan hanya perusahaanmu yang kuhancurkan. Namun hati keturunanmu akan aku luluhkan. Sehingga tidak akan ada yang tersisa dari keluarga Atmaja!" ujar Vira sinis.


"Diam!" teriak Arka marah.


"Jangan berteriak, bila suaramu tak lagi lantang!"

__ADS_1


__ADS_2