
Sekitar pukul 14.00 WIB, Vira pulang dari kampus. Dengan menumpang mobil Abil, Vira pulang ke rumah kecilnya. Tanpa meminta izin pada Azzam. Vira memutuskan pulang ke rumahnya. Vira tidak mungkin pulang ke rumah keluarga Atmaja tanpa Azzam. Lagipula Vira merasa tak pantas berada di rumah megah itu. Meski rumahnya kecil, Vira merasa nyaman dan tenang. Tak ada ketakutan atau kegelisahan dalam hatinya.
Setelah membersihkan diri, Vira membersihkan seluruh bagian rumahnya. Hanya sehari Vira meninggalkannya. Rumah Vira sudah sangat kotor. Sebab itu Vira merapikan rumahnya sebelum dia memasak untuk makan malam. Lebih tepatnya memasak untuk buka puasa. Vira sengaja tidak ikut sarapan dengan Azzam. Sebab dia sedang puasa sunnah. Fariz mengetahui kebiasaaan Vira. Sebab itu dia tidak bertanya pada Azzam.
Vira membeli beberapa bahan makanan di toko dekat rumahnya. Vira membeli bahan makanan untuk dirinya sendiri. Sejak pagi tadi, dia tidak bisa menghubungi Azzam. Vira tidak cemas akan kondisi Azzam. Vira percaya Azzam akan baik-baik saja. Sebab itu Vira tidak terlalu peduli pada Azzam. Vira menyiapkan makanan untuk dirinya. Bukan makanan mewah layaknya makanan yang ada di rumah keluarga Atmaja. Hanya makanan sederhana, tapi berkah bagi Vira.
TOK TOK TOK
Terdengar suara pintu rumah Vira di ketuk. Pintu yang sudah rapuh semakin membuatnya terdengar nyaring. Vira membuka pintu dengan menggunakan mukena. Vira penasaran siapa yang datang di jam seperti ini. Suara azan maghrib baru saja berkumandang. Hampir semua orang pergi ke mushola atau setidaknya mereka berada di dalam rumah. Melakukan kewajiban mereka sebagai muslim.
"Siapa?" ujar Vira lantang, Vira membuka pintu kayu rumahnya. Vira diam membisu, dia melihat Azzam datang dalam kondisi yang berantakan.
Vira merasa heran dengan penampilan Azzam. Terlihat berantakan dan raut wajah bingung jelas Azzam tunjukkan. Azzam mendongak menatap sendu Vira. Air wudhu yang membasahi wajah Vira. Meneduhkan mata yang memandang. Sekerika raut wajah Azzam berseri. Dia melihat Vira baik-baik saja!
"sayang, kemana saja kamu? Kenapa tidak menghubungiku?" ujar Azzam cemas, sembari menarik tubuh Vira ke dalam pelukannya.
Azzam sesaat lupa akan keberadaan Vira. Kesibukan di kantor menyita waktu dan pikirannya. Azzam tersadar setelah semua pekerjaannya selesai. Seketika Azzam panik memikirkan dimana Vira berada? Azzam tidak bisa menghubungi Vira, karena dia tidak membawa ponsel. Azzam melaju membelah padatnya jalan. Dalam perjalanan dia menghubungi Melda. Menanyakan keberadaan Vira.
Namun hasilnya nihil, Vira tidak pulang ke rumahnya. Azzam semakin cemas memikirkan kondisi Vira. Meski Azzam tahu, Vira menjaga dirinya sendiri. Namun kondisinya berbeda, Vira kini tanggungjawabnya. Dia baru menyadari Vira tidak mungkin kembali ke rumah megah keluarga Atmaja. Azzam bertanya pada Arif, tapi dia tidak melihat Vira di kampus. Akhirnya Azzam memutar mobilnya menuju rumah Vira. Azzam yakin kalau Vira ada di rumah lamanya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak meminta izin padamu!" ujar Vira lemah, Azzam menggeleng lemah. Dia memeluk erat Vira. Azzam tidak peduli lagi akan batasan. Azzam tak mampu menahan kerinduannya. Ketakutan akan kehilangan Vira nyata di depan matanya. Azzam tak mampu jauh dari Vira.
"Lebih baik kita masuk. Tidak baik bila orang lain melihat. Duduklah, aku akan buatkan minum. Jika kak Azzam tidak keberatan. Bersihkan diri kak Azzam disini. Aku tidak ingin tante Melda khawatir melihat kondisi kakak saat pulang nanti!" ujar Vira lirih, sembari melepaskan pelukan Azzam.
Vira berjalan menuju kamarnya. Vira melepaskan mukena yang dipakainya. Azzam tertegun menatap kecantikan Vira. Rambut hitam legam Vira tergerai indah. Azzam berjalan mendekat ke arah Vira. Azzam memeluk Vira erat.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Jangan bersikap dingin padaku. Aku bukan orang lain, aku suamimu. Aku tidak sanggup melihat amarahmu!" bisik Azzam sembari memeluk Vira. Azzam mencium harum shampo di rambut Vira. Azzam menyandarkan kepalanya di pundak Vira.
"Mandilah, aku akan membuatkan kak Azzam kopi!" ujar Vira seraya melepaskan diri dari Azzam.
"Vira!" sapa Azzam lirih, sembari menahan tangan Azzam.
Azzam termenung menatap Vira. Azzam mulai menyadari, dilema yang dialami Vira. Bukan hanya penolakan dan tatapan sinis keluarganya. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asing tidaklah mudah. Azzam mulai merasakan sesak hati Vira. Sebab dia merasakan hal yang sama.
"Kak Azzam, silahkan diminum!" ujar Vira membuyarkan lamunan Azzam. Vira melihat Azzam terus berdiri menunggunya. Sepintas Vira berpikir, Azzam risih berada di rumah kecilnya. Satu lagi kenyataan yang menyadarkan dirinya. Jika Vira dan Azzam berada di dunia yang berbeda.
Vira meletakkan secangkir kopi di meja ruang tamu. Ruangan kecil yang hanya diisi beberapa kursi kayu lama, tapi masih layak untuk tempat duduk. Vira berjalan menuju kamarnya, dia mengambilkan handuk bersih untuk Azzam. Vira tidak ingin keluarga Atmaja melihat penampilan lusuh putranya.
"Kak Azzam, bersihkan dirimu sebelum pulang. Tapi maaf kamar mandiku sederhana!" ujar Vira lirih, Azzam menatap Vira. Sikap dingin Vira menusuk ke tulang belulang Azzam. Sakit, sangat sakit. Seolah Azzam tak lagi mampu berdiri menahan sakitnya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak sanggup menerima sikap dinginmu. Setiap perkataanmu seakan membedakan diriku denganmu. Kita memang dari dunia yang berbeda, tapi jangan jadikan perbedaan itu alasanmu menjauh dariku. Aku akan belajar hidup di duniamu. Sebaliknya kamu akan belajar hidup dalam duniaku. Percayalah, rasaku tak selemah itu. Sehingga kalah oleh perbedaan. Aku mencintaimu, aku takut kehilangan dirimu!"
"Aku tahu, sekarang mandilah. Setelah itu temani aku berbuka!" ujar Vira, Azzam memutar tubuh Vira.
Cup
"Aku tidak takut akan dunia ini. Aku hanya takut kehilanganmu. Jangan pernah berpikir berbeda denganku. Kita akan berjuang bersama melawan perbedaan itu!" ujar Azzam sesaat setelah mengecup kening Vira.
Vira diam menatap wajah Azzam. Laki-laki yang kini menjadi imam dunia akhiratnya. Vira harus belajar bergantung pada Azzam. Meski sejak kecil dia terbiasa mandiri. Namun kini Azzam ada di sisinya untuk menjaga dan melindungi Vira. Azzam memilih Vira sebagai makmum, tanpa berpikir akan perbedaan yang ada. Sudah seharusnya Vira bersikap sama. Menerima Azzam dengan kelebihan yang dimilikinya.
"Kak Azzam, pergilah mandi. Aku sudah tidak tahan mencium bau keringatmu!" ujar Vira, Azzam tersenyum lalu menarik tubuh Vira ke dalam pelukannya.
Azzam menenggelamkan wajah Vira ke dalam dada bidangnya. Vira meronta keluar dari pelukan Azzam. Sebaliknya Azzam semakin mendekap erat Vira.
"Kak Azzam, aku mohon lepaskan!" ujar Vira memelas, Azzam melonggarkan pelukannya.
"Aku mencintaimu, karena aku percaya. Bahagiaku hanya bersamamu. Bukan karena perbedaan yang ada. Jangan pernah berpikir pergi dariku. Jika tidak ingin melihat hancurku!" ujar Azzam lirih, Vira mengangguk pelan.
"Terima kasih!" sahut Vira.
__ADS_1