
"Kakak, boleh aku masuk!" ujar Vika, Vira menoleh ke arah Vika. Vira mengangguk pelan, Vika berjalan perlahan menghampiri Vira. Sengaja Vika menemui Vira di kamarnya.
Sejak dia mendengar hinaan Angga akan hidup kakaknya. Vika merasa bersalah telah mengenal Arif. Jalan yang tak pernah Vika sadari telah membuka aib masa lalu sang kakak. Rahasia yang tersimpan rapat selama bertahun-tahun. Hinaan yang membuat dirinya kehilangan ibu tercinta. Jauh dari sang kakak Vira. Vika mengingat semua kenangan yang menjadi jalan pahit hidupnya.
Tak pernah Vira mengatakan alasan kepergiannya. Menghilang bak ditelan bumi selama bertahun-tahun. Sang ibu hancur dan terhina di usia tuanya. Kala tulangnya tak lagi mampu menerima hinaan dan cacian. Ketika seharusnya bahagia yang dia rasakan. Sang ibu malah harus menangis dan menahan kerinduan akan Vira. Semua karena hinaan keluarga Atmaja, hinaan yang tanpa sadar terdengar kembali malam ini.
"Masuklah Vika, kakak sudah selesai!" ujar Vira ramah, Vika melirik ke arah samping Vira.
Satu tas besar sudah siap, jelas tidak sedikit baju yang akan dibawa Vira. Tumpukan berkas tinggi telah masuk ke dalam tas satunya. Dua tas besar sudah siap untuk dibawa Vira. Seketika Vika memegang dadanya. Ada rasa ngilu melihat sang kakak yang akan pergi. Bayangan jauh dari Vira terlitas dalam benaknya. Namun Vika tak sanggup bertanya. Hanya menunggu Vira bicara sendiri dan mengatakan alasan kepergiannya.
"Kak Vira, maafkan Vika. Semua karena Vika, kakak mendengar kembali hinaan yang tak sepantasnya. Vika membuka luka lama kak Vira. Seandainya Vika mengerti masalah yang ada. Tentu Vika akan melupakan rasa untuk pak Arif!" ujar Vika penuh penyesalan, Vira menggeleng lemah tanpa menoleh ke arah Vika.
Vira menyibukkan diri, agar dia tidak terbawa perasaan. Vira tidak ingin melihat Vika hancur, luka dan amarah yang tersimpan selama bertahun-tahun takkan pernah mudah hilang. Rasa sakit yang takkan pernah Vira tunjukkan pada orang lain. Vika melihat Vira yang terus mengalihakan perhatian pada yang lain. Jelas Vira ingin membuat dirinya tak mengetahui sakit dan sedih hati Vira.
"Apapun yang kamu dengar malam ini hanya masa lalu. Jangan jadikan semua itu beban dalam pikiranmu. Tenangkan dirimu dan bersiap menjadi istri Arif. Jadilah makmum yang mengikuti imam menuju jannah-NYA. Kakak sudah menyiapkan semua yang kamu perlukan. WO ternama akan menyiapkan acaramu. Besok mereka akan datang, menanyakan konsep pernikahanmu. Saat makan siang, tim catering akan datang. Katakan pada mereka makanan yang kamu inginkan!" ujar Vira tanpa jeda, Vika menggeleng lemah.
Vira berdiri menjauh dari Vika, sepintas Vira menghapus air mata yang memaksa keluar. Vira menjauh agar Vika tidak melihat kesedihannya. Rasa sakit yang takkan bisa ditahan siapapun? Sesak dan ngilu terasa menyiksa dirinya. Vira berjalan menuju balkon kamarnya. Vira memegang pagar besi sekuat tenaga. Vira menahan air mata yang terus memaksa keluar.
"Kak!" sapa Vika lirih, Vira diam menunduk. Tangis Vira pecah, sakitnya tak lagi bisa ditahan.
__ADS_1
"Kak Vira, aku tidak akan menikah dengan pak Arif. Vika percaya akan ada imam yang lain. Vika sanggup menahan rasa ini!" ujar Vika lirih, Vira diam membisu.
Tak berapa lama Vira mendongak menatap langit merah. Langit yang seakan ingin menangis bersama Vira. Entah kenapa Vira tak mampu mengubur amarahnya? Vira mengingat jelas tangis sang ibu. Vira melihat tatapan benci Angga padanya. Vira hancur dan rapuh ketika dia harus bahagia. Vira hampir kehilangan Fatih kecil. Semua kenangan pahit yang seakan tak pernah ingin menjauh darinya.
"Tidak ada yang memintamu membatalkan pernikahan. Aku sudah menyiapkan semua untukmu. Tanggungjawab terakhirku untukmu. Setelah ini kamu akan hidup dengan jalan yang ada. Air mata dan lukaku, bukan hambatan untuk kebahagianmu. Kamu tidak akan pernah memahami luka ini!" ujar Vira dingin, Vika menunduk mematung. Dia berdiri sedikit jauh dari Vira. Sekilas Vika melihat tubuh Vira bergetar.
"Vika, rasa sakitku akan hilang seiiring waktu. Namun amarah yang ada, seolah tak pernah ingin menjauh dari hati dan benak kakak. Setulus rasamu pada Arif, setulus itu pula restu kakak untuk kalian. Namun kakak hanya wanita biasa, kakak rapuh tanpa sandaran. Air mata kakak tak mampu ditahan. Sakit hati kakak tak bisa ditutupi, sesak sangat sesak!" ujar Vira sembari memukul dadanya pelan, Vika menggeleng lemah tak percaya. Dia melihat rapuh dan hancur Vira.
"Kakak, aku tidak akan menikah!"
"Vika, aku tidak ingin melihat batalnya pernikahanmu. Kakak akan mengantarmu ke pelaminan dengan doa paling tulus. Jangan pernah takut kakak terluka. Kakak baik-baik saja!" ujar Vira, Vika menggeleng lemah. Dia berlari memeluk tubuh Vira dari belakang.
"Kenapa kakak pergi?" ujar Vika lirih.
"Kakak harus pergi, ada pekerjaan di luar kota. Kakak akan kembali tepat di hari pernikahanmu!" ujar Vira tegas, Vika menggeleng tak percaya. Vira merasakan nyata gelengan kepala Vika di punggungnya. Vira memahami rasa tidak percaya Vika. Air mata Vira tidak akan dengan mudah dilupakan oleh adik-adiknya.
"Kakak pergi demi tanggungjawab yang tertunda. Kakak titip Fatih, jaga dia baik-baik. Kak Azzam akan sering datang menjenguknya!" ujar Vira tegas, lalu menarik tubuh Vika ke dalam pelukannya. Vira mendekap erat tubuh sang adik.
TOK TOK TOK
__ADS_1
"Vika, bisa gantian tidak dengan kak Azzam? Kakak juga ingin dipeluk kakakmu!" ujar Azzam santai, Vira menggeleng seraya tersenyum.
Azzam masuk ke dalam kamar Vira, sesaat setelah Vira mengizinkan dia masuk. Azzam melihat Fatih tidur terlelap di atas tempat tidur. Azzam menghampiri Fatih, lalu mencium lembut kening Fatih. Vika memilih keluar dari kamar, dia merasa akan menjadi pengganggu.
"Sayang, kenapa setiap kali kamu bersikap hangat padaku? Tepat disaat kamu itu kamu pergi meninggalkanku. Kamu selalu seperti ini, meninggalkan senyum sebelum tangis!" bisik Azzam, sembari memeluk Vira dari belakang.
"Mungkin perpisahan yang membuat pertemuan kita semakin indah. Aku tak pernah menyangka setelah sekian tahun terpisah. Kamu masih menyimpan rasa untukku!"
"Aku tidak akan pernah lupa, kenangan manis atau pahit bersamamu. Setiap langkahku selalu diikuti bayanganmu. Kamu segalanya dalam hidupku!"
"Maaf, sekali lagi aku harus meninggalkanmu. Tapi percayalah sejauh aku pergi. Aku pasti kembali kepadamu. Meski cinta tak lagi ada dihatiku, masih ada Fatih yang menyatukan kita!" ujar Vira menyesal, Azzam menggeleng sembari memeluk Vira.
"Aku tidak akan keberatan menunggumu. Asalkan kamu tetap ada untukku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi, kasihan Fatih sendirian!"
"Aku tidak cemas meninggalkan Fatih. Sebab ada kamu yang akan menjaganya. Malah aku gelisah bila membawanya pergi. Sebab aku akan melihat dirimu dalam dirinya. Aku pasti gagal fokus, karena merindukanmu!" ujar Vira, sontak Azzam menarik tubuh Vira ke depan menghadap ke arahnya.
"Kamu sedang merayuku!"
"Tidak, aku memang merindukanmu setiap kali melihat Fatih. Alasan kenapa aku memberi nama Fatih dengan namamu. Itu tak lain, karena aku tidak akan bisa melupakamu. Benciku kalah oleh besar cintaku padamu. Aku merindukanmu!"
__ADS_1