
Entah apa yang difikirkan orang itu, hingga dia berkata seperti itu secara tiba-tiba.
“Pembunuh? Apa maksudmu pembunuh?” Rinjani terkejut tak habis fikir.
Ada rasa lega dan bahagia karena pertemuan yang mengobati rindu. Namun di sisi lain, ada rasa sakit begitu dalam karena harus bertemu dengannya dengan status istri orang maupun sebagai kakak iparnya.
“ Kamu sudah membunuh perasaanku padamu. 180 bulan yang berlalu, 5.475 hari yang kita lalui apakah tidak terpercik sedikit saja rasa cintamu untukku?"
"sedangkan, 1.31.400 jam aku mengenalmu, tak pernah kulewatkan detik demi detik untuk sekedar memikirkanmu.” Ucapnya dengan sorot mata yang nanar.
Pedih terasa menghujam ulu hati. Udara yang semula sejuk berubah menyesakkan.
“Bohong!” elak Rinjani.
Dipalingkan wajahnya. Tak sanggup ia menatap lebih lama lagi.
“Sejak kapan aku membohongimu?”
“Jika memang kamu mencintaiku. Kamu tidak akan mungkin membiarkanku menikah dengan orang lain. Apalagi dengan kakakmu sendiri. kamu pengecut Mas Riwan!”
Pengecut...
Kata itu begitu terngiang di kepala Riwan. Wajahnya mulai memerah padam. Di dalam benaknya tengah bergemuruh. Ada rasa marah, kecewa sedang beradu.
__ADS_1
Ditatapnya gadis yang sangat dicintainya itu. Netranya menatap tajam. Tatapan yang begitu mengusik kalbu, membuat Rinjani terperangah.
Keringat dingin mengucur deras di pelipis Rinjani.
“Ma ... maafkan aku, Mas. Aku ndak bermaksud ...,”
Belum selesai bicara. Jari telunjuknya menempel pada gadis pujaan hatinya. Terkunci sudah suara yang akan dikeluarkan. Bola mata Rinjani membulat sempurna.
“Kamu benar, ini semua salahku. Aku memang pengecut. Maafkan aku ...,” gerutu Riwan.
Tangannya mengayun memukul keras bagian dada berulang kali. Penyesalannya saat ini sudah terlambat. Batinnya semakin tertekan. Dipeluknya wanita didepannya. Namun, segera diurungkan keinginannya.
“Setelah semuanya, hanya maaf yang kamu ucapkan, Mas?
“Katakan, Rinjani! Apa yang harus kulakukan?”
Kali ini Ia benar- benar marah. Ditinjunya pohon di dekatnya dengan keras.
Hiks ...
Lemas. Lutut Rinjani serasa lunglai. Kemudian tersungkurlah lutunya di atas rerumputan. Telapak tangannya menutupi wajahnya yang mulai penuh dengan air mata.
“Kamu harus tau, Mas. Sangat sulit bagiku untuk melupakanmu. Apalagi menghapus dan mengeluarkan bayanganmu dalam hatiku.”
__ADS_1
Di benamkan wajahnya di kedua kakinya. Tangisnya tak terbendung lagi.
Perlahan, rambutnya bergerak. Dirasakannya sentuhan lembut di kepalanya. Seseorang tengah membelai tangannya.
Bukan reda yang ia temui tetapi air matanya semakin jelas mengucur.
“Hapuslah air matamu, istriku.” Bisiknya lembut.
Rinjani mendongak. Samar-samar wajah Rivan mulai terlihat jelas. Untuk pertama kalinya, ia bersikap ramah dengan istrinya.
Rinjani semakin bingung dengan apa yang ia lakukan. Di kucek matanya berulang kali. Tetap saja, sosok didepannya ialah Rivan suaminya bukan Riwan.
‘Astaga ..., Dimana Mas Riwan? Apa yang terjadi ? Apa yang kulakukan? Mungkinkah aku sedang berhalusinasi?’ gumam Rinjani.
Rasa bersalah perlahan menggelayuti Rinjani. Betapa nistanya, ketika memikirkan pria lain disaat sudah mempunyai suami. Keadaan tidak begitu cepat beradaptasi. Sehingga, membuat Rinjani berkhayal yang tidak-tidak.
“Ayo ..., sudah siang. Sudah saatnya kamu memasak untukku.”
Ditarik lengan sang istri dengan cepat tanpa.persetujuan. tak ada perlawanan yang di terima, meski ia tahu ada keraguan di balik itu.
Rasa penasaran akan isi hati pasangannya kian membuncah. 1000 pertanyaan sudah disiapkan guna menyelidiki kegundahannya.
“Kamu kenapa nangis? Maafkan aku ya, kalau terlalu kejam padamu?”
__ADS_1
Rinjani diam seribu bahasa. Enggan untuk menjawab.