
"Arya, siapkan berkas yang aku minta. Satu jam lagi, kita bertemu di perusahaan tuan Fariz!" Ujar Farah tegas, lalu Farah berjalan menuju mobilnya.
Farah sengaja membawa mobil sendiri. Sedangkan Arya dan Siska berangkat menggunakan mobil lain. Farah akan menemui seseorang sendiri. Setelah itu dia akan datang menemui Fariz di perusahaannya. Farah akan menyelesaikan masalah yang belum selesai. Lebih tepatnya mengakhiri semua yang sudah berjalan. Meratakan satu per satu keluarga Atmaja.
Hampir lima belas menit Farah mengendarai mobilnya. Farah berhenti tepat di depan gerbang tinggi rumah keluarga Atmaja. Dengan sopan Farah meminta penjaga rumah membukakan pintu gerbang. Sebuah gerbang yang seolah ingin mengatakan, betapa angkuh dan sombongnya keluarga Atmaja? Farah menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Nampak dua tiang tinggi yang menopang rumah mewah keluarga Atmaja. Tingginya sekuat keangkuhan keluarga Atmaja yang selalu memandang rendah orang lain.
Tok Tok Tok
Tiga kali Farah mengetuk pintu megah rumah keluarga Atmaja. Dengan langkah anggun penuh wibawa. Farah masuk ke dalam rumah tuan besar Atmaja. Suara gesekan sepatu Farah menggema di seluruh ruang tamu. Farah datang dengan kesopanan yang begitu besar, tapi tak seorangpun menyadari. Apa yang tengah dipikirkannya? Farah bak labirin tanpa akhir. Hatinya bak misteri yang tak mudah terpecahkan. Farah tak ingin siapapun mencoba mengenalnya? Sebab Farah akan selalu menjauh, ketika ada hati yang mulai mendekatinya. Sebuah rasa yang ditawarkan Bayu dengan tulus. Namun teracuhkan oleh dingin Farah.
"Maaf nona, tuan Arka sedang istirahat. Beliau tidak bisa diganggu!" Ujar salah satu asisten rumah tangga.
Farah mengangguk mengerti, dia tidak marah atau kecewa mendengar jawaban asisten rumah tangga keluarga Atmaja. Farah datang bukan ingin membuat masalah. Kedatangan Farah murni untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga Atmaja. Setelah merasa takkan bertemu tuan besar Atmaja. Farah memutar tubuhnya, dia keluar dari rumah keluarga Atmaja. Farah teringat akan janjinya bertemu Arya. Tetap berdiri di dalam rumah keluarga Atmaja. Hanya akan membuang waktunya.
Tap Tap Tap
Langkah anggun Farah terdengar meninggalkan rumah keluarga Atmaja. Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Farah berhenti tepat di depan sebuah foto dengan pigura yang begitu mewah. Sebuah foto yang memperlihatkan kebahagian keluarga Atmaja. Farah membelikka tubuhnya, menatap lekat foto penuh kehangatan dan kegembiraan. Nampak keluarga Atmaja dengan formasi lengkap.
Tuan Arka yang begitu tegas dalam keluarga Atmaja. Beliau duduk di tengah, diapit dua putra kebanggaanya. Angga Atmaja dan Dimas Atmaja. Tepat di belakang penerus Atmaja, belahan jiwa masing-masing yang melahirkan penerus keluarga Atmaja. Sedangkan Azzam dan Fariz, berdiri di sisi kanan dan kiri orang tuanya. Mereka berdiri bersama putra-putri mereka. Cucu kebanggaan keluarga Atmaja yang tak lain, Nafisa gadis periang.
__ADS_1
"Foto yang begitu hangat, penuh dengan kebahagian. Sebuah foto yang tak pernah kumilik, bahkan dalam bayangan dan benakku. Foto yang membuatku tersadar, jika kebahagian mereka ada di atas duka dan lukaku. Azzam Atmaja nampak begitu bahagia, putri dan istri tercinta selalu mendampinginya. Sebaliknya aku dan mama hidup tanpa hangatnya. Lalu atas dasar apa dia ingin hak sebagai ayahku? Jika jelas dia memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia!" Batin Farah, lalu menunduk. Farah mengusap setetes air mata yang mengalir di pelupuk matanya.
"Kenapa kamu diam menatap foto itu? Apa kamu mulai sadar? Jika keluarga tetap yang utama dan tak seharusnya kamu menjadikan keluargamu musuh!" Ujar Azzam mengagetkan Farah.
Sontak Farah menoleh, dia melihat Azzam sudah berdiri tepat di sampingnya. Azzam menatap nanar Farah. Tangan Azzam seolah ingin menarik tubuh Farah. Memeluk erat putri kecilnya, tapi semua itu hanya angan. Azzam tak mampu menggapai Farah yang jelas jauh dari genggamannya.
Farah menunduk, menenangkan hatinya dan menghapus sedih yang tiba-tiba hadir di hatinya. Tak berapa lama Farah mendongak, dia melihat Azzam menatap sendu ke arahnya. Sebuah tatapan yang diartikan Farah sebagai rasa kasihan bukan kasih sayang. Farah merasa bodoh, ketika Azzam melihat lemahnya. Namun Farah bukan pribadi yang ingin di kasihani. Dengan tatapan tajam, Farah menyahuti perkataan Azzam. Seolah ingin mengatakan pada Azzam. Jika Farah baik-baik saja dan akan selalu baik.
"Aku tak pernah menjadikan keluargaku musuh. Jadi maaf tuan Azzam, anda mungkin telah salah paham!"
"Kenapa sikapmu masih sama? Kamu sudah mengenalku lebih dari dua bulan. Meski tak pernah sekalipun kita menyapa. Setidaknya kamu mengetahui, jika aku ayah kandungmu. Kamu darah dagingku, aku wali yang kelak menikahkanmu!" Sahut Azzam menggebu, Farah menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Sebagai seorang ayah, pernahkah anda menanyakan. Apa yang diinginkan putrimu saat dia ulang tahun? Sebagai seorang wali, pernahkah anda bertanya. siapa imam pilihan hatiku? Sebagai pelindung, pernakah anda bertanya. Mampukah aku berjalan di atas kedua kakiku yang lemah? Selama ini aku hanya melihatmu yang terus menginginkan status dariku. Namun tak sekalipun, anda ingat akan tanggungjwab seorang ayah. Kecemasan seorang ayah, saat putrinya sakit. Kekhawatiran seorang ayah, ketika putrinya tak pulang. Kegelisahan seorang ayah, bila melihat air mata putrinya. ketegasan seorang ayah, di kala rapuh dan lemah putrinya. Sebelum anda mengaku sebagai ayahku, tanyakan pada hatimu apa yang baru saja aku katakan? Aku yakin, anda akan menyadari siapa yang salah dan benar?"
"Tapi Farah!" Ujar Azzam terhenti, ketika Farah menempelkan jari telunjuknya tepat di tengah bibirnya.
"Tidak perlu menjawab, karena aku datang bukan menghiba rasa kasihan. Aku menatap foto itu, hanya karena aku merasa bahagia melihat keluargamu bahagia!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena akan datang air mata yang tak pernah dibayangkan keluarga Atmaja!" Sahut Farah dingin.
"Kenapa kamu sedingin ini?"
"Sebab hangat telah terenggut dari hidupku!"
"Tidak Farah, ayah selalu bersamamu!" Ujar Azzam, Farah menggelengkan kepalnya tak pecaya.
"Sudahlah tuan Azzam, tidak perlu membahas masalah itu. Hari ini aku datang, membawa surat untuk tuan arka. Jika berkenan, tolong sampakan surat ini!"
"Surat apa?" Sahut Azzam datar.
"Salinan kekejaman keluarga Atmaja!" Sahut Farah santai, sembari menyodorkan sebuah kertas ke arah Azzam.
"katakan sendiri padanya!" Sahut Azzam dingin. Azzam tak mengerti dengan watak Farah yang begitu dingin dan kaku.
"Baiklah tuan Azzam aku pamit!"
"Kita akan bertemu saat aku mulai mengusik ketenangan jiwanmu!" Batin Farah nanar.
__ADS_1