
"Azzam!" sapa Arif ramah.
"Kamu sudah datang!" sahut Azzam dingin, Arif mengangguk lalu duduk di samping Azzam.
"Ada apa Azzam? Hari ini kamu tidak bersemangat. Sudah tiga minggu Azzam, kurang satu minggu lagi Vira kembali. Kamu pasti kuat Azzam!" ujar Arif santai, Azzam menghela napas. Azzam seakan pesimis akan pertemuannya dengan Vira.
Azzam menatap lurus jauh ke depan.Tepat di tengah taman kota, Vika dan Fatih serta Syifa sedang bermain. Azzam sengaja meminta Arif datang. Agar Azzam tidak sendirian menemani Vika dan Syifa. Bagaimanapun keduanya bukan mukhrim Azzam? Bisa saja Azzam mengajak Rayyan. Namun sayang, Rayyan sedang bertugas dikesatuannya. Sehingga dia tidak bisa menemani Fatih dan Vika.
Arif sekilas menangkap raut wajah cemas Azzam. Bagaimana Azzam tidak akan kalaut? Pertemuan setelah lima tahun perpisahaan. Harus terpisah kembali, meski hanya satu bulan. Namun jelas Azzam lemah dengan perpisahan ini. Arif melihat ketakutan Azzam akan perpisahan yang jauh lebih lama dengan Vira.
Lima tahun lebih Arif melihat Azzam hidup layaknya mayat. Waktu berputar tanpa meninggalkan kesan di hatinya. Setiap langkah lemahnya hanya dipenuhi penyesalan. Sangat wajar bila Azzam merasa ragu akan pertemuan kembali dengan Vira. Sosok Vira tak tergantikan dan taka akan pernah terganti. Arif hanya bisa diam melihat lemah dan rapuh Azzam. Tak ada yang bisa menyembuhkan luka. Hanya orang yang merasakan sakit penyembuh paling cepat. Sebab dia bisa memilih bertahan atau melupakan rasa sakit itu.
"Kenapa cintaku harus seperti ini? Belum cukup aku terluka, kini rasa ini menyakiti Fatih. Lihatlah tawa Fatih, terlihat indah tapi menyakitkan bagiku. Bahagia yang tak pernah sempurna. Fatih hanyalah bocah 5 tahun, tidak pantas dia terluka dengan perpisahan kami!" ujar Azzam lirih, lalu menunduk dalam.
Arif menepuk pelan pundak Azzam. Dengan sabar Arif mencob menjadi sandaran Azzam. Arif merasakan rapuh Azzam, perlahan tapi pasti. Arif melihat luka dihati Azzam, bahkan semakin terlihat jelas luka Azzam. Ketika Arif melihat tubuh Azzam bergetar. Terdengar isak tangis dari bibir Azzam. Arif terkejut melihat hancur Azzam. Air mata Azzam menjawab seberapa besar Vira menghancurkan sahabatnya.
"Azzam, semua baik-baik saja. Kamu sudah bertahan selama lima tahun. Satu minggu bukan waktu yang lama. Kenapa kamu menyerah saat ini? Disaat kebahagian mulai menyapa padamu. Fatih bahagia meski tidak sempurna. Setidaknya Vika akan membuat Fatih lupa akan Vira!" ujar Arif lirih, Azzam mendongak menatap Fatih.
__ADS_1
Kedua mata Azzam sembab oleh air mata. Dia tidak menyangka akan rapuh tanpa Vira. Selama tiga minggu dia belajar tegar, menutupi kerinduan serta rasa takut kehilangan Vira selamanya. Namun semua berakhir, saat dirinya melihat kesedihan yang sama di mata Fatih. Suara parau Fatih, kala mencari Vira. Menusuk tepat di tengah jantungnya. Sakit sangat sakit, seolah Azzam tak lagi bisa berdiri.
"Aku dulu bertahan dengan harapan tanpa kepastian. Sekarang saat aku bertahan, tapi jelas kulihat air mata Fatih. Sungguh Arif, itu jauh lebih menyakitkan dari sebilah pisau tajam. Kerinduan Fatih pada Vira, bak hujan es yang membekukan hatiku. Dinginnya tak mampu kutahan!" ujar Azzam, Arif mengangguk mengiyakan.
"Percaya atau tidak, kita berdua jatuh cinta pada dua wanita yang berhati keras. Mereka selalu berpikir tentang orang lain. Namun tanpa mereka sadari, mereka menyakiti hati orang yang mencintai mereka. Vira dan Vika dua saudara yang sama, tapi meluluhkan hati pewaris keluarga Atmaja. Kesombongan Om Angga harus dibayar dengan air mata dan duka kita!"
"Kamu benar, cinta seharusnya membuat bahagia. Kita malah hancur, karena cinta mereka. Kita kalah oleh pesona dua kakak beradik itu!" ujar Azzam santai, sejenak Azzam mulai lupa akan rasa sedihnya. Arif tersenyum bahagia melihat Azzam kembali tenang.
Arif merasakan cinta Azzam yang begitu besar pada Vira. Mungkin sebesar rasanya pada Vika. Rasa yang seakan tak lagi bisa ditahan. Hanya bersama pemikat hati, maka hidup mereka akan bahagia. Baik Azzam atau Arif kalah oleh cinta. Mereka lemah oleh cinta dua wanita sederhana. Lama keduanya termenung, mengingat hati yang mencinta dengan luka dan bahagianya.
Tepat saat Fatih menoleh, dia melihat Azzam sedang menunduk. Jelas terlihat Azzam sedih merindukan Vira. Sontak saja Fatih berlari menghampiri Azzam. Seakan mengerti kegelisahan Azzam. Fatih mencoba menenangkan Azzam dengan menjadikan dirinya pengganti Vira.
Vika dan Syifa mengekor Fatih. Mereka yang setia menemani Fatih. Vika duduk tepat di samping Arif. Sedangkan Syifa duduk di sebelah Vika. Syifa sudah seperti adik bagi Vira. Dia yang dipercaya Vira mengawasi dan menjaga Fatih. Keduanya tersenyum ketika menyadari sikap lembut Fatih pada Azzam. Sikap dewasa yang seakan tidak mungkin ada dalam diri Fatih.
"Terima kasih sayang, Fatih dan mama segalanya buat papa. Jangan tinggalkan papa!" ujar Azzam lirih sembari memeluk Fatih erat. Fatih mengangguk tegas, dia bergelayut manja pada Azzam. Papa yang hampir terlupakan olehnya.
"Kalau Fatih merindukan mama. Siapa yang akan Fatih peluk?" goda Arif, Fatih menoleh lalu duduk dipangkuan Vika. Azzam dan Arif mengeryitkan kening mereka. Seakan tidak memahami alasan dibalik sikap Fatih.
__ADS_1
"Maksudnya!" ujar Azzam, Fatih memeluk erat leher Vika. Lalu dengan lembut mencium pipi Vika yang tertutup cadar.
"Kalau Fatih merindukan mama, Fatih akan memeluk tante Vika. Wajah tante Vika sangat mirip dengan mama. Beberapa kali Fatih salah mengenali!" ujar Fatih santai, Arif menatap dengan raut wajah tak percaya.
Arif sangat terkejut mendengar perkataan Fatih. Sejak pertama dia mengenal Vika. Dia tidak melihat wajah Vika. Jika hari ini Fatih bicara seperti itu. Tentu saja Arif terkejut, dua wajah yang sama. Tanpa sadar telah mengusik malamnya.
"Azzam, hanya Fatih yang bisa memeluk Vika. Kamu tidak masuk dalam daftar. Jangan coba-coba menganggap Vika itu Vira. Sebab Vika itu milikku!" bisik Arif tegas, Azzam mengangguk pelan.
"Kalau tante Vika dipeluk Fatih. Om Arif harus meluk siapa?"
"Om Arif meluk yang lain. Tante Vika milik Fatih!" teriak Fatih lantang. Vika terkekeh melihat sikap polos Fatih. Sebaliknya Arif menggeleng tidak percaya. Dia harus bersaing dengan Fatih.
"Azzam, anakmu pengganggu hubunganku. Dulu kurelakan Vira demi dirimu. Sekarang aku tidak akan merelakan Vika untuk putramu. Dasar kalian, ayah dan anak sama. Selalu menganggu kisah cintaku!" bisik Arif kesal, Azzam terkekeh mendengar kekesalan Arif.
"Tenang Arif, Vika masih sangat aman. Dia milikmu seutuhnya, tapi ijab dulu dia. Kalau sudah qobul, baru kaliah sah selamanya!" ujar Azzam lantang, seketika Vika menunduk malu. Perkataan Azzam membuat Vika canggung. Sedangkan Arif sangaf kesal pada Azzam.
"Azzam, tutup mulutmu!" teriak Arif kesal.
__ADS_1