Ikhlas

Ikhlas
Dia....Putramu


__ADS_3

"Rayyan, biarkan aku mencoba menyuapinya. Mungkin saja dia bersedia membuka mulut!" ujar Azzam tegas, Rayyan mengangguk pelan. Dia berharap Vira akan bersedia makan sesuatu.


Azzam berjalan mendekat, ketika hati dan pikirannya tak lagi bisa menahan rindu. Langkah kaki Azzam terasa sangat ringan. Seolah kaki Azzam tak menginjak bumi. Hanya berada di samping Vira satu-satunya harapan dalam benak Azzam. Meski dia harus menerima hinaan dan penolakan Vira. Azzam akan diam menerima. Asalkan Vira bersedia menemuinya walau hanya lima menit saja.


Azzam seakan tak lagi mampu jauh dari Vira. Kondisi lemah Vira saat hamil. Seakan ingin mengatakan pada Azzam. Vira butuh dirinya, bukan hanya tatapan kerinduan. Melainkan keberanian Azzam memulai, meski Vira menolak dan terus menolak. Azzam harus bisa meletakkan jauh rasa ego dan angkuhnya. Semua hanya demi Vira, makmum yang mulai menjauh. Seandainya ada perselisihan antara Azzam dan Vira, tapi tidak sepantutnya buah hati mereka terluka. Buah cinta yang hadir sebagai cara Allah SWT menyatukan dua hati yang menjauh.


"Kak Azzam!" ujar Vira lirih. Azzam berdiri tepat di samping Vira. Azzam menoleh seraya mengangguk. Azzam duduk tepat di depan Vira. Azzam merasa canggung berada di samping Vira. Dia takut semakin membuat Vira rapuh.


Sekilas Azzam menatap Vira yang terlihat kurus. Vira seakan rapuh tanpanya, tapi rasa sakit akan hinaan Angga. Membuatnya jauh dari Azzam, sang pemilik hati. Azzam melihat kursi roda, besi yang kini menjadi penopang tubuh lemah Vira. Bukan tubuh tegap serta kekar lengannya yang menjadi penopang Vira. Azzam menekan dadanya pelan. Semua yang terlihat membuatnya hancur, sehancur-hancurnya.


"Kak Azzam, sejak kapan kakak ada di cafe ini?" ujar Rayyan memecah kesunyian. Azzam diam membisu, bibirnya kelu tak mampu bersuara.


Azzam terpaku menatap Vira berada sangat dekat dengannya. Namun terasa sangat jauh, sehingga tangannya tak mampu menggapai tubuh Vira. Meski Vira tak lagi sama, tapi Vira tetaplah wanita yang merobohkan keangkuhan hatinya. Hanya Vira yang membuat Azzam lemah. Hati Azzam gelap dan dingin semenjak Vira pergi. Pelita hatinya memilih pergi membawa cahaya cinta yang ada diantara mereka.


"Cafe ini tepat berada di depan kantorku!" ujar Azzam singkat. Rayyan membelalak, dia terkejut mengetahui kenyataan yang baru saja dia dengar. Kenyataan yang tak pernah bisa dimengerti oleh akal.

__ADS_1


Rayyan menatap Vira, dia seakan bertanya alasan Vira memaksa datang kemari. Sekilas Vira mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya. Isyarat dia mengetahui lokasi cafe ini. Bahkan Vira sengaja datang ke cafe ini hanya ingin menatap kantor Azzam.


"Dunia sangat sempit kak!" ujar Rayyan menyahuti perkataan Azzam. Sepintas Azzam mengangguk pelan, tapi tak sedetikpun tatapannya beralih dari pandangan Vira.


Azzam seakan ingin melahap tubuh Vira dengan tatapannya. Azzam meluapkan kerinduan pada Vira dengan menatap Vira. Rindu yang membuncah di dalam dadanya. Azzam bahagia sekaligus sakit, dia hanya bisa menatap tanpa bisa menyentuh Vira.


Tak berapa lama, Rayyan berdiri dari kursinya. Dia memutuskan pergi menjauh. Dia tidak ingin ada diantara Vira dan Azzam. Dua insan yang saling mencintai, tapi seakan hanya benci yang ada diantara mereka. Rasa rindu jelas terlihat dari kedua mata mereka. Namun angkuh membuat mereka tak ingin saling mendekat dan mendekap.


"Sayang!" sapa Azzam lirih, seolah takut membuat Vira marah. Vira mengangguk mengiyakan panggilan Azzam. Sekilas Vira mengutas senyum, Azzam terkejut melihat hangat sikap Vira.


"Bagaimana kabarmu kak? Aku lihat kamu lebih kurus, jangan sampai terlambat makan. Kamu seorang pemimpin, tidak sepantasnya tumbang hanya karena rasa lemah ini!" ujar Vira lemah, Azzam menunduk. Perhatian terasa menusuk hati.


Vira mungkin khawatir akan kondisinya. Namun alasan perhatian Vira bukan demi hidup bersama Vira. Tak lebih dari karena tanggungjawab Azzam sebagai seorang pemimpin. Azzam menunduk merasa dirinya asing di depan Vira. Azzam tak mampu mendekat, saat Vira membangun benteng kokoh yang tak mampu di terjang.


"Aku tahu itu, tapi tidak bisakah aku hidup hanya untuk dirimu!" ujar Azzam lirih, Vira mengangguk pelan. Azzam terpana menatap raut wajah Vira. Tangan Azzam bergetar, dia mencoba menggapai wajah yang begitu dirindukannya.

__ADS_1


Azzam mengusap lembut wajah Vira. Terasa hangat menelisik ke dalam hatinya. Kala tangannya menyentuh pipi putih tanpa bedak Vira. Tubuh Azzam bergetar, dia sangat merindukan Vira. Kehangatan dan cinta Vira menghancurkan dirinya. Tak berapa lama, Azzam menarik tangannya. Tepat saat dia merasakan air mata Vira. Terasa dingin menusuk hati rapuhnya. Azzam merasa sakit, saat dia melihat Vira hancur.


"Kak Azzam, imam dunia akhiratku. Maafkan aku yang menghancurkan cinta dan kebahagian kita. Aku hanya wanita lemah, imanku kalah oleh amarahku. Tak seharusnya aku menjauh darimu. Disaat aku membutuhkanmu. Tak sepantasnya aku menyalahkanmu. Ketika nyata bukan dirimu yang bersalah. Namun air mata ibuku, seakan sebilah pisau yang membunuhku. Pisau yang membunuh cinta suciku. Darah yang mengalir dalam dirimu. Darah yang kini tumbuh di rahimku. Darah yang dimiliki orang yang membunuh hati dan jiwa ibuku. Air mataku yang menetes, takkan mampu mengganti air mata ibuku. Kepahitan yang terjadi, karena cinta kita tak mungkin bisa kusembuhkan. Maaf jika aku memilih hancur, hanya demi pengorbanan ibu yang membesarkan dan melahirkanku. Maafkan aku kak Azzam, maaf. Sejujurnya aku sangat merindukanmu. Putra kita mengharapkan belaianmu. Tubuhku dingin butuh dekapan hangatmu. Sungguh hanya dirimu nama yanh terukir di dinding hatiku!" Batin Vira pilu, tepat saat dia menangis menatap Azzam.


"Aku tidak bisa mengiyakan perkataanmu, tapi dia butuh dirimu. Alasan aku ada di depan kantormu. Dia yang meminta bertemu dengan ayah tercintanya. Dia yang seakan menangis ingin melihat wajahmu. Dia putramu yang ingin makan dari tanganmu. Hanya demi dia aku ada di depanmu. Dia juga yang membuatku tak membencimu hari ini. Darah dagingmu, buah cinta diantara kita. Putra yang belum terlahir, tapi seolah ada diantara rapuhnya ikatan cinta kita. Entah kehadirannya akan menjadi penyatu kita? Satu hal yang pasti, dia putra yang merindukan cinta sang ayah!" ujar Vira lirih dan lemah, sembari menempelkan tangan Azzam tepat di atas perut yang mulai membuncit.


"Sayang!" ujar Azzam dengan suara bergetar. Lembut tangan Vira saat menyentuhnya. Mengalirkan desiran hangat yang tak pernah Azzam rasakan selama ini. Detak jantung sang putra yang seolah terasa nyata diujung telapak tangannya. Menghancurkan ketakutan Azzam akan penolakan Vira. Azzam menangis, air mta haru jelas mewakili rasa Azzam.


"Maafkan papa sayang, maafkan papa!" bisik Azzam sembari memeluk erat perut Vira.


Azzam menenggelamkan kepalanya ke dalam perut Vira. Azzam mencium lembut perut Vira. Azzam meluapkan semua kerinduannya. Vira merasakan pelukan hangat Azzam. Dekapan yang sangat dirindukannya. Vira meneteskan air mata penuh rasa haru. Vira mengusap lembut rambut hitam legam Azzam. Vira memeluk kepala Azzam erat. Pelukan penuh kerinduan akan cinta diantara mereka.


"Maafkan aku, kebahagian yang seharusnya kita rasakan. Harus kuhancurkan demi air mata ibu yang melahirkanku. Maafkan aku kak Azzam, kita terpaksa berpisah. Hanya karena angkuh keluargamu. Aku akan menemuimu, ketika aku tak lagi hina di depan harta keluargamu. Maaf, hanya kata itu yang sanggup kukatakan!" batin Vira pilu. Vira membungkuk, mencium lembut kepala Azzam.


"Sayang, aku mohon jangan pergi dariku!" ujar Azzam lirih sembari memeluk Azzam. Vira diam membisu, tak ada janji yang akan Vira berikan.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon!" ujar Azzam lirih.


__ADS_2