
Setelah kelas selasai, Vira dan Abil pergi bersama. Tidak ketinggalan Dilla ikut bersama mereka. Tidak akan pernah Vira pergi berdua dengan Abil. Meski Vira percaya Abil tidak memiliki rasa padanya. Namun sebagai wanita dan laki-laki yang bukan mukhrim. Akan banyak kemungkinan yang terjadi. Persahabatannya dengan Nadya mulai berubah. Jadwal kuliah yang tak pernah sama. Membuat keduanya sulit untuk bersama. Sebab itu Vira lebih banyak bersama Abil dan Dilla.
Sekitar setengah jam lebih Abil mengemudikan mobilnya. Akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang di desain dengan sangat manis dan nyaman. Vira dan Dilla masuk dengan bergandeng tangan. Abil sudah memesan tempat di lantai dua. Bagi orang sekelas Abil dan Fariz sangat mudah bisa mendapat tempat di cafe ini. Suasana cafe sangat ramai, pengunjung bergantian datang dan pergi.
Abil memesan tempat di lantai dua, karena Vira suka menatap langit tanpa terhalang apapun. Vira selalu ingin menelan langit. Bukan menantang kehendak alam, tapi Vira ingin menjadi orang yang mampu menaklukkan kerasnya hidup yang dijalaninya. Selama ini Vira selalu jatuh dan bangkit kembali setelah menantap langit. Sebab luasnya langit seakan ingin mengatakan. Ada banyak jalan yang belum terjamah oleh Vira.
Setelah memesan minuman dan makanan. Abil langsung kembali ke tempat mereka duduk. Abil melihat jari jemari Vira menari di atas laptop milik Abil. Sebenarnya Abil sudah memberikannya pada Vira. Namun Vira tidak menerima pemberian Abil. Bukan karena merasa terhina, tapi menerima hadiah sebesar itu. Vira merasa tidak pantas mendapat kebaikan sebesar itu. Akhirhya setelah perdebatan panjang. Vira hanya bersedia meminjam bila ada tugas. Setelah itu Vira akan mengembalikan laptop milik Abil. Dengan senang hati Abil mengiyakan. Satu-satunya alasan yang bisa membuatnya membantu Vira.
Vira fokus pada tugasnya, tanpa dia peduli keberadaan Abil dan Dilla. Meski suara Abil dan Dilla sangat keras. Sedikitpun tidak mengganggu konsentrasi Vira. Tidak ada yang jauh lebih penting dibandingkan segera menyelesaikan tugasnya. Vira harus berpacu dengan waktu. Hari semakin sore, tidak mungkin Vira membawa pulang laptop milik Abil. Meski Abil tidak akan pernah keberatan.
Hampir satu jam lebih Vira fokus mengerjakan tugas yang diberikan Arif. Akhirnya setelah bersusah payah, Vira mampu menyelesaikannya tepat waktu. Abil dan Dilla selalu kagum akan fokus Vira. Seolah Vira tidak akan terganggu dengan keberadaan mereka. Meski Abil dan Dilla layaknya kucing dan tikus yang selalu ribut bila bertemu.
"Alhamdulillah!" ujar Vira lantang, tanpa dia sadari ada beberapa pasang mata yang menoleh ke arahnya. Sontak Vira menutup mulutnya sesaat setelah mengusap wajahnya. Vira menunduk malu, ketika dia menjadi pusat perhatian.
Abil dan Dilla terkekeh melihat Vira yang canggung. Pertama kalinya mereka melihat sikap ceroboh Vira. Sikap yang menunjukkan betapa sederhana bahagia dalam hidup Vira. Seketika Abil menyodorkan minuman pada Vira. Dia mengerti bila Vira kehausan setelah satu jam lebih fokus pada tugasnya.
"Terima kasih dan maaf aku membuat kalian berdua malu dengan sikap spontanku!" ujar Vira lirih, Abil dan Dilla menggeleng serempak. Tak pernah mereka merasa keberatan melihat sikap spontan Vira.
Sebaliknya Abil dan Dilla senang melihat Vira yang tersenyum dengan tulus. Mereka merasa telah membuat Vira bahagia. Meski hanya sskejap dalam pahit getir hidup yang dijalani Vira. Arti dari sebuah pertemanan tulus yang akan saling mendukung. Ketika kita saling membutuhkan. Bukan hanya dalam senang tapi juga dalam duka.
__ADS_1
"Jangan pernah takut berteriak, tidak akan ada yang berani memarahimu. Selama ada aku di sampingmu. Aku akan melawan mereka semua!" ujar Abil lantang, sembari menunjukkan otot kekarnya. Sontak Vira dan Dilla tertawa sangat keras.
Vira lupa akan dingin yang selalu tersemat dalam hidupnya. Vira tertawa lepas, seolah tak ada ganjalan dalam hidupnya. Sesaat Vira lupa akan beban yang menjadi pikirannya. Vira menjadi pribadi yang lain, lebih hangat penuh dengan senyum yang hangat. Vira dan Dilla tertawa lepas melihat sikap spontan Abil yang menunjukkan tangan kekarnya.
"Percaya kamu jago berkelahi, tapi saat ujian kamu jeblok. Maklum dengan uang kamu mampu lulus!" goda Dilla, Abil manyun mendengar perkataan Dilla. Vira hanya tersenyum simpul melihat perdebatan Dilla dan Abil yang tak pernah ada akhirnya.
"Jangan sering berdebat, takutnya kalian akan saling merindukan ketika tidak bertemu satu dengan yang lain. Satu hal lagi, meski aku menginginkan kalian bersama suatu hari nanti. Namun sebelum kalian sah, aku mohon jaga diri masing-masing!" ujar Vira menggoda Dilla dan Abil. Sontak Abil dan Dilla menggelengkan kepala.
Sebagai seorang teman mereka selalu berdebat. Apalagi menjadi sepasang kekasih, sungguh hubungan yang tidak akan mudah. Abil dan Dilla saling membuang muka. Abil dan Dilla saling menolak bila Vira menjodohkan mereka berdua. Sebaliknya Vira terkekeh melihat Dilla dan Abil yang kelabakan. Mendengar Vira mendoakan keduanya berjodoh. Tanpa Vira sadari, dia tertawa tanpa ada rasa canggung.
"Tertawalah Vira, selama ini aku hanya ingin mendengar tawamu. Katakan apapun yang ada dalam benakmu tentangku. Selama semua itu membuatmu bahagia!" ujar Abil lirih, Dilla seketika merangkul tubuh Vira. Abil bahagia bisa membuat Vira tertawa tanpa ada rasa takut.
Suara tawa lantang Vira mengusik telinga seseorang yang akhirnya sadar akan keberadaan Vira. Seketika dia menoleh ke arah Vira. Dengan kedua bola mata hitam legamnya. Dia melihat tawa Vira bersama Abil dan Dilla. Dua bola mata yang tak lain milik Azzam. CEO dingin yang akan menjadi imam sahabat Vira.
"Memangnya aku patung, sampai kamu berpikir aku tidak bisa tertawa!" sahut Vira, sembari melempar bolpoint ke arah Abil. Sontak Abil menghindar, meski sebenarnya hanya pura-pura agar Vira tetap tertawa melhat sikap konyol Abil.
"Kamu bukan patung, tapi kamu layaknya gunung es yang penuh dengan salju. Dingin dan membeku, seakan kehangatan matahari tak mampu mencairkan salju yang menutupi dirimu. Tawa yang kudengar, bagai sinar matahari yang mencairkan salju. Mengalirkan air murni hangat dari dalam hati terdalammu!" ujar Abil lantang dan tegas, Dilla melempar kulit kacang ke arah wajah Abil.
"Kamu tidak pantas berpikir bijak. Apalagi bersikap layaknya pujangga. Kamu lebih pantas menjadi playboy penakluk hati wanita yang kesepian!" ujar Dilla, sontak Abil menatap Dilla lekat. Meski perkataan Dilla menghina dirinya. Abil tidak merasa marah, sebab Abil menyadari Dilla hanya bercanda. Keduany selalu bersikap seperti itu. Bertengkar bila bertemu, saling menanyakan bila tak melihat.
__ADS_1
"Kalian pasangan unik!" ujar Vira.
Braaaakkkkk
Terdengar suara meja yang digebrak. Vira seketika menoleh, kedua bola matanya membulay sempurna. Melihat Azzam duduk tepat di sampingnya. Ada darah segar keluar dari tangan kanan Azzam. Terlihat pecahan gelas berserakan di atas meja.
"Tuan Azzam!" ujar Vira lirih, lalu diam menatap lekat Azzam yang menatapnya. Keduanya saling menatap.
"Satu tawamu bersama laki-laki lain. Bagai satu pisau yang menancap tepat ke dadaku. Terasa sakit, sangat sakit. Tawa yang selalu ingin aku lihat, tapi tawa itu yang kini membuatku terluka. Kenapa tawamu ada bersamanya? Tidak bisakah kamu tertawa di depanku!" batin Azzam sesaat setelah meremas gelas kaca di depannya.
Darah yang terus mengalir membuat semua rekan kerja Azzam terkejut. Mereka tidak mengerti, kenapa Azzam tiba-tiba marah? Tak ada yang mengetahui alasan amarah Azzam yang tiba-tiba datang. Azzam menepis setiap tangan yang ingin membantunya. Tanpa dia mengetahui tangan siapa yang selalu ditepisnya? Sebab Azzam terus menatap Vira yang ada di depannya.
"Kita pulang!" pinta Vira lirih, lalu berdiri diikuti Abil dan Dilla. Azzam semakin marah, lalu berlari mengejar Vira. Azzam tidak mampu mengendalikan rasa yang tak seharusnya ada untuk Vira.
"Tertawalah sesuka hatimu, karena kamu pantas bahagia. Tapi aku mohon, jangan tertawa di depanku bila ada laki-laki lain yang menjadi alasan tawamu!" ujar Azzam dingin sembari menahan tangan Vira.
Darah segar yang menetes dari tangan Azzam membasahi lengan putih baju Vira. Sontak Vira mengambil sapu tangan yang ada di dalam tasnya.
"Darah ini tak sepantasnya menetes sia-sia. Jangan pernah melampiaskan amarah, dengan cara yang tak pantas. Jika terasa berat dan sakit. Ambillah wudhu, sholat jawaban dari kegelisahan. Akan ada ketenangan setelah bermunajat!" sahut Vira dingin, sembari membalut tangan Azzam. Lalu berjalan menjauh dari Azzam. Vira terus berjalan tanpa menoleh ke arah Azzam lagi.
__ADS_1
"Vira, dia siapa?" ujar Dilla.
"Tunangan sahabatku Nadya!" sahut Vira dingin.