Ikhlas

Ikhlas
Dingin Sikapnya...


__ADS_3

"Kamu mengenalnya dengan baik!" ujar Azzam lirih, Arif menggeleng lemah.


"Aku tidak pernah mengenalnya, dia yang takkan pernah ingin dikenal!" sahut Arif, Azzam mengangguk mengerti.


Azzam dan Arif menatap punggung Vira yang semakin menjauh. Tatapan yang memiliki arti dan hanya mereka yang mengetahuinya. Baik Azzam dan Arif memiliki perbedaan pendapat yang berbeda tentang Vira. Gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sangat sederhana. Seorang gadis yang memiliki impian sederhana. Menjadi tulang punggung keluarga. Bukan tulang rusuk seorang laki-laki. Entah untuk Azzam, Arif, atau Fariz? Vira hanya memikirkan hidup keluarganya. Kepentingannya hanya akan menjadi terakhir dan takkan pernah dia utamakan.


"Kita bukan laki-laki yang akan ada dalam daftar imamnya. Dia tidak akan mampu menopang tulang keluarga kita yang terlalu berat!" ujar Arif, Azzam diam menatap jalan yang telah dilewati Vira. Azzam melihat sosok Vira yang terus menghilang dalam kegelapan. Segelap jalan yang harus Azzam lawan. Jika dia memaksa untuk bersama Vira.


"Kamu memang benar, keluarga Atmaja tidak mudah untuk ditopang. Nama baik dan martabat mereka selalu yang utama. Sedangkan kebahagian menjadi prioritas yang terakhir. Seolah mereka buta dan tuli akan suara tangis serta air mata yang menetes. Hati mereka beku dan dingin. Bak gunung es yang menjulang. Tanpa ada kehangatan yang berani masuk ke dalamnya!" ujar Azzam lirih, Arif mengangguk pelan


Bagi Azzam dan Arif, tak ada harapan untuk dekat dengan Vira. Berbeda dengan Fariz yang pemberontak. Sikapnya yang selalu di luar kendali keluarga Atmaja. Memungkin dia mampu mengejar Vira. Namun semua masih jauh dari kata mungkin atau terjadi. Sikap tegas Vira yang menolak cinta dari laki-laki tidak akan pernah menerima siapapun?


"Fariz Maher Atmaja, dia yang akan menjadi pelindung Vira. Jangan dekati Vira, jika tidak ingin melihat amarah kakek. Aku pernah merasakan amarahnya. Dia tidak akan mengampuni siapapun? Jika rasa cinta itu memang ada untuk Vira. Sebaiknya kamu lupakan. Kamu harus ingat, kakek bukan orang yang mudah duhadapi!" ujar Arif, Azzam menunduk pelan.

__ADS_1


Diam Azzam yang menyimpan banyak arti. Arif sangat mengenal Azzam. Sejak dulu mereka mengenal watak masing-masing. Arif tahu bagaimana Azzam bila menyukai sesuatu? Arif han pengusa keluarga Atmaja.


"Kak Azzam!" panggil Nadya, Azzam dan Arif menoleh serempak. Nadya berjalan setengah berlari. Dia datang dengan raut wajah lelah. Nadya berlari secepat mungkin. Agar bisa mengikuti pengajian malam ini. Namun semua sia-sia, Nadya tetap terlambat. Acara selesai setelah dia datang.


Arif menoleh ke arah Azzam sembari mengedipkan mata. Seolah bertanya, Nadyakah wanita yang sedang dijodohkan dengan Azzam. Dengan anggukan kepala Azzam menjawab isyarat Arif. Sontak Arif terkekeh sembari menoleh ke arah Azzam. Dia tidak menyangka, sahabat Vira yang menjadi calon tunangan Azzam.


"Ustad Arif!" sapa Nadya heran, Arif mengangguk pelan. Senyum Arif ke arah Nadya semakin membuat Azzam heran. Apalagi panggilan ustad yang disematkan Nadya. Seolah keduanya saling mengenal.


"Kamu mengenalnya?" tanya Azzam dingin, Nadya mengangguk pelan. Arif mengangguk pelan, ketika Azzam menoleh ke arahnya. Azzam terdiam sesaat setelah mendengar jawaban Arif dan Nadya.


"Aku mengajar mengaji di mushola dekat rumahnya. Sekaligus aku menjadi imam disana. Vira memang dijodohkan denganku oleh warga sekitar. Sebab itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Vira menjauh dariku, dia tidak ingin mengenalku. Jika aku sebagai dosen, kamu sendiri mengetahui. Apa pendidikanku dan impianku sejak dulu?" ujar Arif santai, Nadya bingung melihat kedekatan Azzam dan Arif. Cara bicara Azzam berbeda pada Arif, sedangkan padanya. Azzam selalu dingin dan ketus. Seakan Azzam malas mengenalnya.


"Artinya kamu sudah bertemu Fariz. Aku dengar dia satu kelas dengan Vira. Sejak SMU dia selalu mengekor Vira. Bahkan kuliah dia memilih universitas dan jurusan yang sama dengan Vira. Aku tidak mengerti, Kenapa Fariz begitu ingin dekat dengan Vira?" ujar Azzam, Arif dan Nadya tersenyum mendengar perkataan Azzam.

__ADS_1


"Aku sudah bertemu Fariz si cengeng. Dia tidak bisa mengenaliku, aku pergi dari keluarga Atmaja sejak kecil. Tentang sikap Fariz yang ingin dekat dengan Vira. Semua itu wajar, sebab Fariz menyukai Vira dan ingin melindunginya!" ujar Arif, Nadya mengangguk mengiyakan perkataan Arif.


"Tapi Vira tidak menyukainya. Cinta Fariz bertepuk sebelah tangan!" sahut Nadya lantang, Azzam dan Arif menggelengkan kepala tidak percaya.


Sontak Nadya langsung menutup mulutnya dengan tangan. Nadya menunduk malu, menyadari jika sikapnya tidak sopan. Azzam sekilas menatap sinis ke arah Nadya. Dia tidak menyangka sikap blak-blakannya bisa membuat Azzam berpikir negatif. Nadya terbiasa ceplas-ceplos.


"Cinta Fariz tak lebih dari obsesinya. Kita lihat saja, siapa yang akan menjadi imam dunia akhirat Vira?" ujar Azzam dingin, sembari berlalu meninggalkan Arif dan Nadya.


Azzam berjalan menjauh tanpa menoleh pada Nadya. Azzam seolah tak menganggap keberadaan Nadya. Sekadar berpamitan atau mengajak Nadya pulang. Arif melihat betap dingin sikap Azzam pada Nadya. Sikap yang jauh berbeda terlihat ketika Azzam berbicara dengan Vira. Arif mengenal karakter Azzam yang tak mudah dihadapi. Dinginnya Azzam bisa membuat seseorang membeku. Azzam bak orang tak berhati. Bila dia berhadapan dengan orang yang tak diinginkannya.


Nadya hanya bisa diam melihat Azzam menjauh. Langkah lebar Azzam seolah jarak yang terus ada memisahkan mereka. Sekuat apapun Nadya mengimbangi langkah Azzam. Tetap saja langkah Azzam akan menjauh darinya. Punggung Azzam bak gunung tinggi yang tak pernah bisa Nadya peluk. Sejenak ada rasa ngilu dihati Nadya. Melihat sikap Azzam yang tak pernah bisa hangat padanya. Kedua mata Nadya mulai terasa panas. Sekuat tenaga Nadya menahan air matanya. Agar tak jatuh menetes. Nadya menguatkan hatinya, dia percaya suatu saat Azzam akan menghargai keberadaannya.


"Azzam Aulian Putra Atmaja, bukan laki-laki yang mudah dihadapi. Jika kamu tidak sanggup menghadapi dinginnya. Lebih baik mundur dari sekarang. Sekali dia tidak menganggapmu, dia tidak akan mudah menerimamu!" ujar Arif bijak, lalu menoleh ke arah Nadya. Arif melihat Nadya yang bingung. Lalu berpamitan pergi, dia mengangguk pelan ke arah Nadya.

__ADS_1


"Apa yang dikatakannya benar? Haruskah aku mundur dengan rasaku ini. Mungkinkah yang dikatakan Fariz benar. Vira wanita yang kamu cintai. Satu-satunya wanita yang menggetarkan hatimu yang dingin. Wanita yang membuatmu merasa hangat. Sanggupkah aku melihatmu bersanding dengan sahabatku sendiri. Siapa yang harus aku pilih? Bertahan dengan rasaku padamu atau menyerah melihatmu bersama dengan Vira!" batin Nadya pilu.


__ADS_2