
"Permisi, bisa aku bicara denganmu!" Sapa dokter Bima ramah, Farah seketika menoleh. Raut wajah Farah heran melihat Bima sudah berdiri di belakangnya.
Sontak Farah menggeser kursi roda yang tengah dipakainya. Farah mencoba sedikit menjauh dari Bima. Farah merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Bima. Sebaliknya Bima yang mulai mengerti pribadi Farah. Hanya tersenyum sembari berjalan sedikit menjauh.
"Silahkan!" Ujar Farah ramah, tepat di samping Bima. Keduanya berada pada jarak yang dirasa nyaman oleh Farah.
Pagi ini Farah memiliki jadwal terapi dengan Bima. Sebab itu Farah datang ke rumah sakit. Kebetulan Vira tidak bisa mengantar. Farah datang bersama supir dan satu perawat yang siap membantunya. Namun tanpa sepengetahuan Vira. Farah kerap melarang perawat mengikutinya. Farah terkadang ingin mandiri. Jadi dia melarang siapapun membantunya? Apalagi ketika Vira tidak ada di sampingnya. Alasan yang kini membuat Farah mendorong kursi rodanya sendiri.
"Kalau tidak keberatan, bisa kita bicara di taman rumah sakit!" Pinta Bima ramah, Farah diam termenung.
Bukan Farah menolak, tapi kenapa harus pergi ke tempat lain? Jika tempat mereka berdiri saat ini sudah sangat nyaman. Farah merasa aneh, tapi Farah tetap tenang. Demi menjaga perasaan Bima. Dokter yang dengan telaten merawat dirinya.
"Kenapa?"
"Agar kita nyaman saat bicara, lorong rumah sakit tempat orang berlalu lalang. Aku takut itu mengganggu saat kita bicara!" Ujar Bima ramah, Farah menunduk tangannya menggenggam erat tas.
Lama Farah diam, dalam hati dia merasa bimbang pergi ke taman rumah sakit. Dia tak mengenal Bima dengan baik. Satu-satunya alasan yang membuat Farah takut bicara dengan Bima.
Jelas Farah mulai merasa tidak nyaman. Bima mulai gelisah, Farah bukan wanita kebanyakan yang dengan mudah mengiyakan ajakan laki-laki. Bima merasa menyesal meminta lebih dari sekadar bicara. Entah kenapa Bima begitu bodoh? Persetujuan Farah bicara dengannya. Seketika membuat Bima lupa akan trauma yang dialami Farah. Penyesalan yang membuat Bima merasa bodoh dan tak berguna.
"Bukan aku tidak bersedia, tapi taman rumah sakit terlalu jauh. Kedua tanganku tak sekuat itu, sehingga mampu mendorong kursi roda sejauh itu. Wanita lemah sepertiku, memiliki batasan yang tak mampu aku terjang!" Ujar Farah lirih, Bima diam menunduk. Penyesalannya semakin besar, permintaan bodohnya malah menyakiti Farah.
"Maaf!"
"Untuk apa? Lemahku, tidak perlu!" Ujar Farah, seraya menggelengkan kepala. Bima tak mampu bicara. Dia melihat wanita lemah, tapi dengan hati yang tangguh.
"Lebih baik kita bicara lain kali. Sekali lagi maaf telah membuat permintaan yang bodoh!" Ujar Bima, lalu pergi menjauh. Langkah kaki Bima nampak selaras, terdengar bak melodi yang indah.
Farah menatap punggung tegap Bima yang menjauh. Ada rasa yang menyergap dalam hatinya. Ketelatenan Bima menelisik jiwanya yang dingin. Rasa nyaman yang ditawarkan Bima membuat Farah menyadari. Jika tak semua laki-laki itu jahat dan menyakiti wanita. Punggung Bima semakin menjauh, jas putih yang membuat Bima nampak gagah. Mampu mengetuk dan menggetarkan hati yang sepi.
"Tunggu!" Teriak Farah, Bima langsung menghentikan langkahnya. Bima menoleh menatap Farah.
"Taman terlalu jauh, jika memang mungkin. Bisa kita bicara di sana!" Ujar Farah lantang, tangannya menunjuk tepat arah dua belas.
__ADS_1
Farah menunjuk sebuah kursi yang ada tepat di bawah sebuah pohon mangga. Bima menoleh ke arah yang ditunjuk Farah. Seketika Bima mengangguk, terutas senyum yang begitu manis dibibir Bima. Rasa bahagia yang entah kenapa ada dalam hatinya? Bima berjalan secepat mungkin menghampiri Farah. Bima seolah tak ingin kehilangan banyak waktu. Hanya bersama Farah yang kini ada dalam benaknya.
"Awas!" Teriak Bima, seraya menahan kursi roda Farah yang hampir jatuh.
Bima histeris melihat kursi roda Farah hampir jatuh. Bima dengan sigap berjalan setengah berlari menghampiri Farah. Dengan tangan kekarnya, Bima menahan berat kursi roda yang tengah diduduki Farah. Tangan kekarnya dengan kuat menahan kursi roda. Bima cemas saat melihat Farah yang hampir terjungkal ke depan.
"Maaf, bisa aku membantumu!" Ujar Bima lirih dan ramah.
Farah mengangguk dengan menundukkan kepala. Farah merasa segan sekaligus malu pada Bima. Kemandirian yang dia tunjukkan, malah membuat Farah lemah dan butuh bantuan Bima. Farah tak mampu menopang tubuh lemahnya. Tangan kekar Bima yang nyata membantunya.
"Terima kasih!"
"Sama-sama!" Sahut Bima ramah dan hangat, Bima mendorong kursi roda Farah.
Bima merasa Farah tak menolak bantuannya. Dengan perlahan dan sopan, Bima mendorong kursi roda Farah sampai di tempat yang dikendaki Farah. Bima memilih duduk sedikit menjauh, dia tidak ingin Farah merasa tak nyaman dekat dengannya.
"Maaf atas sikap kasarku selama ini!"
"Aku wanita penuh kelemahan. Jujur tak pernah aku membenci laki-laki. Namun mengenal makhluk bernama laki-laki, aku terlalu takut. Aku tak ingin sakit dan hancur saat mengenal laki-laki. Fakta mama hancur, karena cinta pada laki-laki!"
"Tak seharusnya kamu menyalahkan cinta!" Ujar Bima, Farah menggeleng lemah.
"Tak pernah aku menyalahkan cinta, hanya saja berpikir cinta itu manis dan bahagia. Hati dan jiwaku menolak. Apalagi untuk wanita lemah tak sempurna sepertiku. Aku tak lagi berharap akan sebuah cinta!"
"Kenapa merendah? Kamu memiliki kelebihan yang tak semua orang miliki!"
"Apa?"
"Ketakwaan dan iman yang kuat!" Ujar Bima tegas, Farah tersenyum. Seolah perkataan Bima tidak benar.
"Ada yang salah?"
"Dokter Bima salah menilaiku. Aku memang penghafal Al-Quran, tapi hatiku tak sebersih kecintaanku pada Al-Quran!"
__ADS_1
"Maksudnya!"
"Seseorang yang mengerti agama, tidak akan membenci orang tuanya sepertiku. Seorang anak wajib menghormati orang tuanya. Seburuk apapun pribadi orang tuanya. Selama orang tuanya tak memintanya melakukan keburukan. Sedangkan aku, jelas tak mampu menghormati ayah kandungku. Aku membencinya, jangankan mengenalnya. Berharap bertemu dengannya aku tidak pernah!" Tutur Farah tegas dan dingin.
"Jika kamu menyadari semua itu salah. Kenapa tidak belajar menerima tuan Azzam?" Ujar Bima, Farah menggeleng lemah.
"Sejak aku terlahir, aku telah menjadi seorang yatim. Tak ada inginku mengetahui, siapa ayah kandungku? Bagiku dia hidup atau tiada, tak lagi menjadi masalah. Sama halnya dulu mereka tak pernah menganggapku ada!"
"Setidaknya kamu bisa belajar menyayanginya. Bukankah kedatanganmu, tak lain untuk mengenal mereka!"
"Tidak!" Jawab Farah singkat dan tegas, gelengan kepala Farah. Seolah penegasan akan penolakan Farah pada keluarga besar Atmaja.
"Lantas!"
"Aku datang bukan untuk mengenal mereka atau bertemu dengan mereka. Aku datang demi sebuah pemrvbuktian. Jika aku bukan anak haram dan mama bukan wanita murahan. Seperti tuduhan mereka, saat aku belum terlahir!"
"Tidak mungkin mereka sekeji itu. Keluarga Atmaja bukan keluarga sembarangan. Mereka keluarga terpandang dan dermawan. Banyak orang yang mengagumi mereka!" Ujar Bima lantang.
"Termasuk anda yang notabene saudara angkat Nafisa!"
"Kamu mengetahuinya!"
"Tidak sulit mencari informasi tentang jati diri orang hebat sepertimu. Namun sama halnya dengan buku baru. Ketika melihat sampul yang bagus, kita berpikir buku itu pasti bermanfaat. Namun tak selamanya bagus di luar indah di dalamnya!"
"Apa lagi yang kamu tahu tentang aku?"
"Perjodohan yang sempat tergagas dengan Nafisa. Cucu perempuan keluarga Atmaja!" Sahut Farah lantang.
"Kamu mengetahui semuanya?" Ujar Bima lirih. Farah mengangguk pelan.
"Setidaknya bisakah kamu memberi kesempatan keluargaku mengenalmu!"
"Maaf anda siapa?" Sahut Farah lantang.
__ADS_1