Ikhlas

Ikhlas
Dirimu Segalanya


__ADS_3

Hari ini Vira diperbolehkan pulang. Kondisinya sedikit membaik, dokter menyarankan untuk rawat jalan. Kapasitas puskesmas terbatas, sebab itu hanya pasien dengan gejala parah yang diperbolehkan rawat inap. Jadi Vira izinkan pulang dengan catatan kontrol tepat waktu. Atau segera ke puskesmas bila demamnya naik.


Tepat pukul 12.00 WIB, Vira tiba di rumahnya. Vira masih sangat lemah, tapi dia harus kuat demi ibunya. Vira berjalan perlahan sembari memegang dinding rumahnya. Vira masuk ke dalam kamarnya yang kecil. Vira merasa lega, ketika dia bisa tidur di kasur yang keras. Sebab di kamar inilah Vira menemukan kedamaian.


Vira bersyukur bisa keluar dari puskesmas. Dia sudah tidak tega melihat ibunya. Hampir setiap hari harus bolak-balik pergi ke puskesmas. Pertemuaannya dengan Azzam beberapa hari yang lalu. Membuat Vira gelisah dan takut. Vira tidak ingin mengenal Azzam lebih dalam. Apalagi hubungannya dengan Nadya yang memburuk. Vira tidak ingin terluka atau melukai siapapun? Sebab itu Vira mengabaikan panggilan di ponsel Azzam. Vira memang menerima ponsel Azzam. Namun tak sekalipun Vira memakainya.


Hari sudah semakin malam. Namun Vira tak bisa memejamkan kedua matanya. Vira gelisah memikirkan sang ibu. Tiba-tiba ibu dan adiknya harus pergi ke kampung halamannya. Nenek Vira jatuh di kamar mandi. Seketika nenek Vira mengalami stroke. Sontak ibu Vira kaget dan langsung memutuskan pulang. Sedangkan Vira tidak bisa ikut, mengingat kondisinya yang masih lemah.


Tok Tok Tok


Tepat pukul 21.00 WIB, terdengar suara pintu rumah Vira diketuk. Dengan merambat Vira berjalan membuka pintu. Suasana sangat sepi, baik di dalam rumah atau di luar rumah Vira. Maklum hujan baru saja turun membasahi langit. Bahkan langit masih menangis, meski tak sederas beberapa menit yang lalu.


Hawa dingin dan tanah yang basah oleh air hujan. Mengingatkan dirinya akan sahabatnya Nadya. Dia sahabat yang dimilikinya telah menjauh darinya. Hanya karena masalah yang tak pernah dia pahami. Nadya gadis baik hati dan periang, hujan menjadi salah satu kesukaannya. Namun kini berubah menjadi pribadi kasar dan mudah mengangkat tangannya.


"Sebentar!" teriak Vira sekuat mungkin. Meski suara Vira terdengar lemah. Tenaga Vira belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih sedikit demam, tapi tidak terlalu parah. Vira berpikir akan semakin sakit. Bila berada di puskesmas.

__ADS_1


Kreeeekkkk


"Siapa?" ujar Vira lemah sembari membuka pintu. Kedua bola mata Vira membulat sempurna. Vira terkejut melihat Azzam berdiri di depan rumahnya.


Azzam melajukan mobilnya secepat mungkin dari luar kota. Tiga hari dia tidak mendengar kabar Vira. Tiga hari dia tidak melihat Vira. Tiga hari pula Azzam seperti orang kehilangan akal. Dia bekerja seperti orang gila. Dia menyelesaikan pekerjaan selama seminggu, hanya dalam tiga hari saja. Tidak ada istirahat atau makan teratur. Azzam hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dan segera bertemu dengan Vira. Seandainya Vira bersedia menerima telponnya. Mungkin Azzam akan sedikit tenang. Namun kenyataan berkata lain, Vira tidak mengangkat panggilannya sama sekali.


"Tuan Azzam!" sapa Vira lirih, Azzam menatap lekat Vira. Tak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya.


Azzam menerjang gerimis malam ini. Berjalan di atas tanah becek. Dia tak lagi berjalan, Azzam berlari demi melihat Vira secepat mungkin. Penampilan Azzam sangat berantakan, pakaian Azzam sedikit basah oleh air hujan. Sedangkan celana yang dipakai Azzam basah, karena genangan air yang diterjang Azzam.


"Kenapa kamu membuatku kehilangan akal? Apa tubuhmu sangat lemah? Sampai menerima telponku saja kamu tidak bisa. Haruskah kamu bersikap dingin? Jika hanya ingin membuatku gelisah memikirkanmu. Tanpa kamu bersikap seperti ini, aku selalu merasa sesak bila memikirkanmu!" cecar Azzam emosi, Vira diam menatap Azzam. Emosi yang diperlihatkan Azzam, membuat Vira bingung. Penampilan Azzam yang jauh dari kata rapi. Seakan mengatakan dirinya penyebab kondisi Azzam saat ini.


Sedangkan Vira merasa tersentuh, sekaligus takut melihat perhatian Azzam padanya. Vira merasa berarti ketika ada Azzam yang memperhatikannya. Sebaliknya dia takut mengingat akan banyak hubungan yang hancur. Hanya demi hubungan yang terjalin antara dirinya dan Azzam. Vira tidak ingin terjebak dalam cinta yang nyata tapi menyakitkan.


"Lebih baik tuan Azzam duduk, aku akan masuk membuatkan minum. Sekaligus mengambilkan handuk untuk tuan Azzam. Air hujan tidak baik untuk kesehatan!" sahut Vira mengalihkan pembicaraan, Vira memutar tubuhnya. Dia memunggungi Azzam yang termenung menatapnya.

__ADS_1


"Tunggu, aku mohon Vira!" ujar Azzam lirih, sembari menahan tangan Vira. Sontak Vira menoleh, dia terkejut ketika dia merasakan tangannya ditahan oleh Azzam. Vira menoleh menatap sendu raut wajah memelas Azzam.


Vira mengedipkan mata, sembari mengutas senyum simpul. Seakan meminta Azzam percaya, Vira tidak akan pergi kemana-mana? Sebuah isyarat meminta sebuah kepercayaan. Jika Vira tidak akan mengacuhkan lagi. Melihat isyarat Vira, Azzam melepaskan tangan Vira. Dia mengangguk pelan, percaya Vira tidak akan mengacuhkannya lagi.


Vira masuk ke dalam rumahnya. Dengan tubuh lemah, dia kembali membawa secangkir teh dan sebuah handuk berwarna biru. Vira meletakkan teh di atas meja secara perlahan. Vira takut membuat Azzam terbangun.


Vira melihat Azzam tertidur dengan posisi duduk. Vira berdehem pelan, membangunkan Azzam. Berharap Azzam terbangun, tanpa perlu Vira membangunkannya. Tak berapa lama Azzam terbangun, Vira memberikan handuk pada Azzam. Jelas terlihat raut wajah lelah Azzam. Vira merasa kasihan dan tidak tega pada Azzam. Ada rasa ngilu dihati Vira melihat betapa kerasnya Azzam peduli padanya. Sedangkan dirinya tak mungkin membuka diri untuk Azzam.


"Terima kasih!" ujar Azzam, Vira mengangguk mengiyakan.


"Tuan Azzam, maaf bila aku membuatmu khawatir. Dengan sepenuh hati aku mengucapkan terima kasih. Namun alangkah baiknya, tuan Azzam mengkhawatirkan orang-orang yang jauh lebih pantas. Aku tak pantas diperhatikan atau mendapatkan kepedulianmu. Tuan Azzam, aku tidak ingin melihatmu seperti ini!" ujar Vira tegas, Azzam diam menunduk. Sekilas dia menoleh menatap Vira. Ada rasa ngilu mendengar perkataan Vira. Penolakan yang dia bayangkan, tapi tak secepat ini terucap.


"Aku memang tidak pantas untukmu. Usia kita berbeda jauh, imanku masih jauh dibawahmu. Aku bukam imam yang tepat untukmu. Pantas jika kamu menolakku!" sahut Azzam lirih, Vira menggeleng lemah. Vira menatap lurus ke depan. Gerimis malam yang tak berhenti, seolah mengiyakan kondisi hatinya yang bergemuruh. Dingin malam menambah sunyi hati Vira.


"Bukan tidak pantas atau pantas, tapi aku terlalu takut untuk mencintai. Setidaknya biarkan aku hidup sendiri dalam dunia yang ramai ini. Bebanku terlalu berat dan tak pantas ditanggung orang lain. Aku hanya ingin melihat tuan bahagia. Melihat kesusahanmu, aku sakit dan rapuh. Jadi aku mohon, hentikan semua ini, sebelum hatiku semakin sakit melihatmu hancur!" sahut Vira, sembari mengusap setetes air matanya yang menetes.

__ADS_1


"Aku hancur karenamu, aku bahagia bersamamu, aku bernapas denganmu, aku hidup melihat senyummu. Sekarang katakan padaku, jika kamu pergi dariku. Apa yang akan terjadi padaku? Hatiku telah memilih dan itu dirimu!" ujar Azzam tegas dan dingin. Vira diam membisu, Azzam menatap lekat wajah Vira.


"Demi dirimu, aku akan melawan dunia. Sebab dirimu segalanya dalam hidupku!"


__ADS_2