
"Farah sayang!" Sapa Dimas lirih, Farah tak bergeming. Dia tetap menunduk, Farah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Farah menunduk berusaha menyimpan rasa sakitnya. Dibalik ketegasan dan kekejamannya. Farah menyimpan sepi yang tak bisa diutarakan pada orang lain. Farah tak mampu mengatakan titik lemahnya. Sebab dia tak ingin orang lain mengasihaninya. Sudah cukup orang memandangnya sebelah mata. Tak lagi Farah ingin terlihat lemah, dia akan berusaha berdiri di atas kedua kakinya yang lemah. Farah siap menantang langit terik, menahan panasnya matahari. Demi harga diri yang lama terinjak oleh orang lain.
"Farah, angkat kepalamu. Jangan lemah, kamu harus kuat. Ingat akan tujuanmu, keluarga Atmaja masih berdiri tegak. Buat mereka jatuh, menghiba pada orang-orang yang pernah dihancurkan oleh kesombongan mereka!" Tutur Dimas hangat, tapi penuh ketegasan.
Farah diam tak bergeming, perkataan Dimas tak mampu menenangkan hati Farah yang gundah. Sejak semalam Farah gelisah, tidurpun Farah tak pulas. Entah apa yang mengganggu pikirannya? Farah cemas tanpa alasan. Keteguhannya menghancurkan keluarga Atmaja begitu kuat. Namun sedetik berikutnya, Farah merasa lemah tanpa dukungan orang terdekatnya.
"Ayah, salahkah langkah yang aku ambil? Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka. Jika kesombongan dan keangkuhan mereka tak abadi. Aku hanya ingin melihat mereka menghiba. Bukan padaku, melainkan pada Tuhan sang pemilik hidup. Tak ada secuil pikiran dalam benakku. Jika menghancurkan mereka, demi kepuasan hatiku!"
"Ayah tahu itu sayang dan keputusanmu tidak salah. Lakukan yang tak pernah mampu ayah atau papamu lakukan. Ambil tanggungjawab menyadarkan keluarga Atmaja yang kejam. Percayalah sayang, kebaikan tidak akan pernah kalah. Sebaliknya kejahatan tak selamanya menang. Ayah ada di belakangmu, jangan ragu dalam melangkah. Terus melangkah maju, menoleh ke belakang hanya akan membuatmu lemah!" Tutur Dimas lembut, tangan Dimas membelai lembut kepala Farah.
Aditya Dimas Putra Atmaja, putra kedua tuan besar Atmaja. Putra yang jauhh berbeda dengan ayahnya Arka Dwi Atmaja. Dimas penuh kasih sayang, dia tak mampu bersikap kasar pada siapapun? Dimas pribadi yang hangat, wibawanya dalam bisnis disegani. Baik kawan atau lawan dalam bisnis. Watak yang berbeda, membuat Dimas memilih menjauh. Berpura-pura tak mengenal keluarga yang memiliki darah sama dengannya.
"Jika memang ayah merasa aku benar, kenapa sejak dulu ayah tak pernah menjadi diriku? Menyadarkan keluarga Atmaja, menghancurkan kesombongan keluarga itu. Apa karena ayah putra tuan besar Atmaja? Sehingga ayah tidak tega menghancurkan mereka!" Ujar Farah polos.
Dimas berdiri sedikit menjauh dari Farah. Tatapannya lurus, seakan tak menemukan arah tujuan. Perkataan Farah mengingatkan Dimas akan suatu kejadian. Awal rasa takut Dimas pada Arka, sekaligus dia melihat betapa kejamnya Arka. Sejujurnya Dimas tak pernah takut pada Arka, tapi Dimas seolah tak sanggup menatap mata yang begitu menakutkan. Kekejaman Arka pada ibu yang melahirkannya. Sekejap membuat Dimas tak ingin mengenal Arka. Dimas ada dalam keluarga Atmaja, hanya karena satu amanah terakhir dari ibu yang melahirkannya.
"Masa lalu yang membuatku bungkam. Sebuah janji yang membuatku harus tetap diam menerima sikap keji papa!"
"Janji pada siapa?"
"Ibu yang melahirkanku, wanita yang mencintai Arka Dwi Atmaja dengan sepenuh hati hingga akhir hayatnya!" Ujar Dimas, Farah terdiam menatap punggung Dimas.
Seorang laki-laki yang selama ini merawatnya dengan penuh cinta. Laki-laki yang begitu hangat mendekap tubuh kecilnya. Seseorang yang membuatnya selalu merasa bahagia. Limpahan kasih sayang Dimas, membuat Farah tak mengingat akan Azzam ayahnya. Namun hari ini dia melihat, Dimas yang begitu tegas dan hangat. Nampak jelas rapuh dan lemah, seakan ada yang membuat Dimas tak berdaya.
"Aku tak pernah mendengar ayah menceritakan tentang beliau. Apa yang membuat ayah begitu takut pada tuan Arka?"
"Dia laki-laki berhati dingin, tangannya penuh noda darah. Tak ada belas kasih dalam hatinya. Hanya ada kesombongan dan keangkuhan semata!"
"Apa yang dilalukannya?" Ujar Farah penasaran.
Dimas menunduk, mengingat masa lalu yang begitu indah sekaligus menyakitkan. Kenangan akan bayi mungil yang dulu dirawatnya, tapi harus Dimas relakan. Ketika tuan Arka melakukan sesuatu yang membuat Dimas kehilangan dia selamanya. Konsekuesi dari kecerobohan Dimas dan pembangkangan akan perintah ayahnya.
Kisah cinta yang harus berakhir, ketika dua status tak sama mencoba menjadi satu dalam sebuah kata cinta. Dimas harus kalah oleh kesombongan Arka. Cinta dikala mudanya harus berakhir tak tersisa. Menghapus satu nama indah dihatinya. Dimas mengingat kepingan cinta yang ada diantara dirinya dengan satu nama. Bukan Vira, melainkan nama lain yang mengisi dinding hatinya.
FLASH BACK
Temaram lampu jalan menghiasi kota. Langit biru tak lagi nampak. Tergantikan jingga senja yang menyapa. Hawa panas tak lagi menyentuh kulit. Tinggallah angin sore yang sejuk menerpa. Menenangkan tubuh yang lelah dan penat. Meninggalkan hari yang padat lagi berat. Senja menyeruak menghapus siang, demi menyambut petang yang datang. Syahdu terasa menyentuh hati. Suara burung kembali ke sarang terdengar merdu.
"Sebentar lagi gelap, tapi belum ada angkot yang lewat!" batin Nissa resah, sesaat setelah dia melirik jam di tangannya.
Huuffff
Helaan napas Nissa menandakan berat hari yang dilaluinya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 17.15 WIB. Senja mulai beranjak meninggalkan peraduan. Petang mulai menyapa awal malam hari yang akan datang. Namun Nissa masih berdiri tegak di depan perusahaan Sanjaya. Dilla sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Keduanya tidak pulang bersama, sebab Nissa masih ada pekerjaan tambahan. Biasanya Nissa ikut kuliah sore yang di gratiskan pihak perusahaan.
Lama Nissa berdiri menatap ke jalan besar. Ramai kendaraan tak mampu menghapus gelisah Nissa. Tak ada satupun angkot yang kosong. Maklum jam pulang kantor, akan sangat sulit mendapatkan angkot. Biasanya Nissa baru sampai di rumah saat gelap.
__ADS_1
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Nissa. Membangunkan Nissa dari mimpi sejenaknya. Nissa tersadar akan ramai sekelilingnya. Seketika Nissa mendongak menatap mobil mewah berwarna silver di depannya. Lama Nissa terdiam, memikirkan siapa yang ada di dalam mobil?
"Nissa!"
"Bapak!" sahut Nissa lirih, Vian mengangguk sembari tersenyum. Sontak Nissa menunduk, ketika dia melihat Aditya duduk di kursi belakang.
Vian menoleh ke belakang, lalu menganggukkan kepala perlahan. Menyadari sikap canggung Nissa. Meski keduanya tak begitu akrab, tapi Vian tipe yang mudah bergaul. Sehingga para pegawai nyaman bicara dengannya. Tidak terkecuali Nissa yang pendiam dan pemalu.
"Abaikan dia, aku yang menyapamu. Jadi jangan takut kepadanya!" ujar Vian menjawab ketakutan Nissa. Dengan anggukan kepala, Nissa mengiyakan perkataan Vian.
"Ada apa bapak memanggil saya? Jam kantor sudah selesai!"
"Aku hanya ingin menawarimu tumpangan. Kamu pasti kesulitan mencari angkot!" ujar Vian santai, seketika Aditya melotot. Dia tidak pernah mengijinkan siapapun ikut dalam mobilnya? Tak terkecuali itu Nissa gadis office girl di kantornya. Gadis yang seolah jijik menatap wajahnya.
Aditya mengingat jelas pertemuan keduanya. Ketika Aditya sengaja meminta Nissa mengantarkan secangkir kopi. Tanpa menatap wajah Aditya, Nissa keluar dari ruangannya. Tak sedetikpun Nissa mendongak menatap Aditya. Sekadar menanyakan keperluan Aditya yang lain. Sebaliknya Nissa hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Kala Vian bertanya, seolah mengangkat wajah dan memandang wajah Aditya sebagai dosa besar.
"Vian, jaga bicaramu. Ini mobilku, seenaknya saja kamu mengajak orang lain!" ujar Aditya lantang dan ketus. Vian menghela napas kesal. Kesempatan Vian mengantar Nissa pupus sudah.
Nissa yang mendengar penolakan Aditya, seketika mundur beberapa langkah. Nissa sadar diri, jika tidak pantas dirinya pulang bersama kedua bos besarnya Sanjaya. Nissa menggelengkan kepala menolak tawaran Vian.
"Baiklah, kamu hati-hati. Seandainya ini mobilku, aku sudah memaksamu pulang bersamaku!" ujar Vian, lalu menutup kembali kaca mobilnya.
Vian menggerutu melihat sikap Aditya. Sekilas Vian menoleh ke arah spion. Dia melihat Nissa berdiri tegak menanti angkot. Lampu jalan telah menyala sempurna. Sayub terdengar murotal dari speker mushola. Vian semakin cemas menatap Nissa. Vian menoleh ke jok belakang, Aditya tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Gara-gara kamu, aku meninggalkan Nissa sendirian di pinggir jalan. Dasar tuan muda arogant!" ujar Vian kesal, sesaat setelah melempar berkas ke pangkuan Aditya.
Kedua bola mata Aditya membulat sempurna. Menatap tajam Vian, amarah yang seakan siap meledak. Sebaliknya Vian merasa benar dengan sikapnya. Malah mengacuhkan amarah Aditya. Sehingga Aditya marah dan merasa diacuhkan.
"Apa istimewanya dia? Sampai kamu berani kurang ajar padaku. Lagipula jam kantor selesai satu jam yang lalu. Kemana saja dia pergi? Sampai jam segini masih berada di pinggir jalan!" sahut Aditya lebih ketus, Vian menatap lekat Aditya.
Vian tak peduli akan perkataan Aditya. Nyatanya Vian mengetahui alasan, kenapa Nissa masih ada di pinggir jalan? Vian mengenal Nissa melebihi Aditya.
"Terserah padamu, aku tidak peduli lagi. Apapun yang dikerjakannya, kamu tidak berhak mengeluhkannya. Nissa mengerti tanggungjawab dan haknya. Tak pernah Nissa mengecewakan!" ujar Vian mengakhiri perdebatan yang tak penting.
"Sepertinya dia sangat istimewa, sampai Vian membelanya mati-matian. Siapapun kamu? Aku tidak peduli, satu hal yang aku pahami. Kamu bukan wanita yang peduli padaku. Satu-satunya wanita yang menganggap kelebihanku. Tak lebih dari kelemahan yang ada dalam diriku.Tak ada kekaguman, hanya pesimis yang kamu tunjukkan. Seolah kelebihanku tidak ada artinya!" batin Aditya.
"Jika kamu menyukainya, kenapa tidak kamu dekati? Dengan pesonamu, aku yakin dia akan luluh dalam rayuanmu!"
"Jika dia tipe wanita yang kita kenal. Dengan mudah aku akan mendekatinya. Nissa bukan wanita murah, layaknya wanita yang mengejar kita. Dia berbeda dan istimewa!"
"Kamu terlalu meninggikan dia, tidak mungkin ada wanita yang menolak pesonamu. Tampan dan kaya sudah ada dalam dirimu!" sahut Aditya dingin, Vian menggeleng lemah.
"Jika dia mudah ditaklukkan, tentu pesonamu jauh lebih menariknya. Tapi tadi pagi aku lihat, sedetikpun dia tidak menatapmu!" sahut Vian meledek, seketika Aditya melotot.
"Diam kamu!" sahut Aditya kesal.
__ADS_1
Lama keduanya terdiam, melupakan sejenak Nissa yang menjadi bahan perdebatan. Wanita yang tiba-tiba terasa istimewa untuk diperdebatkan. Aditya dan Vian larut dalam pikiran masing-masing. Mencoba mencerna apa yang sedang mereka alami?
"Aditya, Nissa bukan wanita kuat. Jangan pernah sakiti dia. Lupakan nama Nissa dari benakmu. Jangan anggap dia sama dengan wanita-wanita yang kamu kenal. Wanita yang hanya menjadi pelampiasan napsu sesaatmu. Nissa, hanya dia yang aku minta kamu jauhi. Kejar wanita lain, jangan Nissa!" ujar Vian lirih, memecah keheningan.
Aditya mendongak menatap ke arah spion mobil. Dia melihat raut wajah Vian yang serius. Nada bicara Vian terlihat berbeda. Tidak terlihat Vian yang suka bercanda.
"Apa maksudmu?" sahut Aditya tidak mengerti perkataan vian.
"Aku mengenalmu melebihi siapapun? Tatapanmu pada Nissa tadi pagi. Bak mata elang yang siap memburu mangsanya. Penolakan Nissa seakan memacu hasrat dalam dirimu. Melampiaskan kekesalan pada makhluk bernama wanita. Membuktikan teori yang ada dalam benakmu. Jika wanita sama, haus akan harta dan status!" tutur Vian, Aditya menatap nanar raut wajah Vian.
"Kenapa kamu peduli padanya? Jika kamu mencintainya, kejar dan lindungi dia. Jangan hanya garang bicara, tapi tak sanggup bertindak!" sahut Aditya dingin.
"Aku tak pantas bersamanya, karena iman yang dia miliki. Sebaliknya dia tak layak dipandang sama dengan wanita yang mengejar kita. Nissa istimewa!"
"Kita lihat saja Vian!" sahut Aditya dingin. Nama lain yang digunakan Dimas di tempat yang baru.
"Selama aku ada, tidak akan kubiarkan kamu menyakitinya. Nissa layak dicintai, bukan dikhinati atau disakiti!" batin Vian.
FLASH BACK OFF
Dimas menghela napas, kenangan akan pertemuannya dengan Nisaa harus terlupakan. Sebuah kisah yang nyata harus menjauh dari. Kisah yang membuatnya harus menerima, jika cinta tak selamanya bersatu. Seperti kisah cinta Azzam dan Vira. Sebuah kisah yang sama dan hancur di tangan keluarga Atmaja. Cinta yang termakan oleh kesombongan akan status dan harta. Dimas tak pernah berharap, lemah dirinya dan Azzam menurun pada Farah. Dimas ingin melihat Farah terus tegak, melawan ketidakadilan keluarga Atmaja.
"Sudahlah, apapun yang terjadi? Kamu tidak perlu mengetahuinya. Dia bukan laki-laki yang baik, hanya kamu yang mampu menghentikan langkahnyaa!" Sahut Dimas datar, mencoba melupakan kisah indah cintanya dengan satu nama.
"Apa yang membuat ayah yakin?"
"Papa tidak pernah mengeluh atau takut, tapi ketika berhadapan denganmu. Jelas dia takut, ada sedikit titik lemah papa. Kak Angga yang tak pernah ingin mendengarkan orang lain. Dia terdiam, seolah perkataanmu telah membuatnya kalut. Kamu harus bertahan, tapi seandainya ada yang membuatmu harus mundur. Ayah takkan menghalangi!"
"Maksud ayah!" Ujar Farah tak mengerti. Dimas menoleh menatap Farah, terutas senyum simpul di wajah Dimas. Isyarat ada yang membuat Dimas bahagia.
"Bayu!"
"Kenapa dia?"
"Bukankah dia alasan lemahmu saat ini!" Ujar Dimas lantang, Farah menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ayah bukan ayah kandungmu. Namun ikatan yang ada diantara kita, dengan mudah membuat ayah mendengar suara hatimu. Jika memang hatimu telah memilih, ayah tidak akan melarang. Hanya saja, mencintai tak seindah bayanganmu. Akan ada air mata yang mengiringinya. Sakitnya takkan mampu kamu tahan. Kamu bisa melihat itu dari Vira. Kehancuran Vira atas akhir kisah cintanya dengan Azzam. Membuktikan satu hal, setegar apapun hati dan jiwamu. Akan kalah oleh fana sebuah cinta!"
"Ayah benar, sebab itu aku tak ingin mengenal cinta. Lagipula Bayu jauh lebih pantas bersama Nafisa. Mereka berdua saling melengkapi. Tak ada waktuku memikirkan cinta. Kehancuran keluarga Atmaja masih belum tampak. Aku harus meruntuhkan keangkuhan mereka. Tak ada yang bisa membuatku berpaling. Aku akan tetap pada jalanku. Jika mungkin cinta itu ada, aku telah memetiknya sebelum bersemi!"
"Kenapa Farah? Aku menyayangimu dengan tulus!" Ujar Bayu, Dimas dan Farah menoleh.
Bayu berdiri tak jauh dari Dimas dan Farah. Nampak Bayu memegang sebuah berkas. Bayu menghampiri Farah hanya karena ingin menyerahkan berkas. Namun dia mendengar sesuatu yang membuatnya hancur. Tidak hanya penolakan, Farah sengaja mencarikan jodoh untuknya. Isyarat cinta Bayu tak berarti bagi Farah.
"Karena cinta tulus itu tak pantas aku genggam. Kakak berhak bahagia, Nafisa wanita yang tepat. Dalam hidupku hanya ada satu tujuan. Kehancuran keluarga Atmaja tanpa sisa. Aku hanya bisa bahagia, saat melihat keluarga Atmaja menghiba. Entah sampai kapan aku harus bertarung? Aku akan menghadapinya sendiri, karena ini pertarunganku. Cintamu hanya akan membuatku lemah, keberadaanmu akan membagi hatiku. Aku melawan keluarga tak berhati, sebab itu aku harus membunuh hatiku!" Ujar Vira lantang.
"Tapi cinta ini tulus!" Ujar Bima lirih.
__ADS_1