Ikhlas

Ikhlas
Pemilik yang Baru


__ADS_3

"Farah!" Ujar Fariz lantang, amarah Fariz tersulut. Tepat setelah melihat berkas yang diberikan Arya asisten Farah.


Fariz yang kebetulan berada di ruang kerjanya. Terperanjat kaget, saat dia melihat Arya yang tiba-tiba membawa satu tim khusus. Fariz seketika berdiri, menyapa Arya yang datang dengan persiapan yang matang. Fariz mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba gelisah. Namun ketakutan jelas tak bisa ditutupi oleh Fariz. Kedatangan Arya seolah pertanda buruk. Sesuatu yang tak mampu dibayangkan oleh Fariz.


"Ada apa? Kenapa berteriak?"


"Apa maksud dari berkas ini?" Ujar Fariz sembari menunjukkan berkas ke depan Farah.


Farah menatap Fariz dengan tatapan datar. Farah tak terkejut melihat amarah Fariz, saat dia mengetahui alasan amarah Fariz. Dengan santai tanpa rasa bersalah. Farah mengambil berkas yang ditunjukkan Fariz. Farah membuka perlahan berkas, dia ingin melihat ada tidak tandatangan Fariz. Farah tersenyum sinis, saat dia tak melihat tandatangan Fariz.


"Kenapa belum anda tandatangani? Aku yakin, Arya sudah menjelaskan pada anda. Lantas, kenapa anda belum menandatanganinya? Apa yang membuat anda ragu!" Ujar Farah dingin tanpa hati.


Fariz meradang, dia marah mendengar betapa santainya Farah bicara. Seolah semua yang terjadi tidak penting. Fariz semakin marah, ketika Farah menginginkan sesuatu yang benar-benar tak mampu dilakukan Fariz. Sesuatu yang jelas akan membuat Fariz hancur dan terpuruk.


"Kamu kehilangan akal, apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal? Apa hakmu meminta semua itu? Sedangkan aku yang bekerja keras sejak awal. Perusahaan ini ada bukan dengan sulap. Aku bekerja keras, semua ini usahaku!" Ujar Fariz lantang, Farah diam seolah tidak peduli akan amarah Fariz.


"Dalam perjanjian jelas dikatakan, apa hak anda dan apa kewajibanku pada anda? Sekarang aku memenuhi kewajibanku, aku mengambil alih seluruh perusahaan anda. Sebaliknya, hak and memberikan dengan ikhlas seluruh saham perusahaan anda. Atau anda membeli sahan yang aku punya. Tentu saja dengan nilai saham saat ini!"


"Tidak mungkin, darimana aku mendapatkan dana itu. Saham yang ada padamu, tidaklah sedikit. Apalagi proyek yang sedang dikerjakan membutuhkan banyak dana. Pilihanmu sama saja ingin membunuhku!" Sahut Fariz emosi, Farah mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


Farah sudah tidak bisa mentolelir sikap kejam Arka. Api amarah Farah tersulut, ketika para pekerja yang mambantunya menjadi korban. Farah tidak akan semarah ini. Seandainya Arka bermain sportif dalam bisnis dan bersaing sscara sehat. Namun Arka tetap tuan besar Atmaja yang angkuh. Dia mampu melakukan apapun? Agar tujuannya tercapai, bahkan kalau dibutuhkan dia akan meneteskan darah lawannya.


"Darimana anda mendapatkan dana? Itu bukan tanggungjawabku. Satu hal yang abda harus ingat, waktu terus berputar. Batas yang aku berikan sudah semakin tipis. Waktu anda kurang dari tiga puluh menit. Anda harus memutuskan, membeli sahamku atau menjual saham anda padaku. Menyerahkan perusahaan atau akan kulelang perusahaan anda. Ingat tuan Fariz, dana yang aku investasikan tidak sedikit. Jadi jangan terlalu lama berpikir!" Sahut Farah dingin, Fariz menggelengkan kepalanya tak percaya.


Farah yang ada di depannya begitu bengis. Mampu melakukan segala cara, agar tujuannya tercapai. Fariz bak makan buah simalakama. Seandainya Fariz maju, dia akan hancur tanpa sisa. Melihat sepak terjang Farah, serta banyaknya koneksi Farah di dunia bisnis. Dengan kemampuannya, Farah mampu mengatur pasar dalam dunia bisnis. Sebaliknya jika Fariz mundur, perusahaan yang dibangunnya sejak awal. Akan menjadi hak milik Farah sepenuhnya. Sebuah kesepakatan yang membuat salah satu hancur dan yang lain bangkit.


"Kenapa kamu menjadi kejam? Apa salahku, sampai kamu ingin mengambil alih perusahaan kecilku!"


"Anda tidak salah, tapi kakek anda harus merasakan sakit yang sama denganku. Sakit ketika melihat orang yang paling kita sayangi terhina. Aku menginginkan air matanya. Agar aku merasa, Tuhan itu adil. Jika aku menangis, karena sikap tak pantas kakek anda. Maka hal sama juga bisa aku lakukan. Merebut perusahaan anda dengan cara apapun?"


"Kamu tidak adil Farah, kakek yang salah. Kenapa aku yang kena imbasnya? Seharusnya kamu menuntut balas padanya. Tidak cukupkah 51% saham yang kamu miliki. Sekarang kamu menuntutku menyerahkan seluruh perusahaan!"


"Apa yang kakek lakukan? Sampai kamu sanggup menghancurkan perusahaanku. Aku bukan orang lain. Selain aku pamanmu, aku juga sahabat ibumu. Pantaskah kamu bersikap sekeji ini!"


"Pantas, sangat pantas!" Sahut Farah lantang, amarah jelas nampak dari kedua matanya. Farah tak lagi bisa bersikap baik. Farah begitu emosi, ketika teringat darah yang mengalir dari para pekerja. Orang yang tidak salah dan tidak pantas disalahkan.


Fariz tertunduk lesu, tak ada lagi yang bisa dia lalukan. Hanya menghitung detik, perusahaannya akan berpindah tangan. Jerih payahnya selama puluhan tahun hancur tak bersisa. Fariz lemah tak bertenaga, dia melihat Farah tersenyum puas. Farah merasa bahagia, ketika tujuannya berhasil. Dengan satu gerakan saja, semua orang tunduk dan patuh.


"Baiklah Farah, katakan padaku apa yang dilakukan kakek padamu? Setidaknya biarkan aku tahu, kesalahan apa yang harus aku tanggung?"

__ADS_1


"Anda yakin!" Ujar Farah datar, Fariz mengangguk pelan.


"Tuan Arka telah mengirim preman ke lokasi proyek. Dengan membabi buta para preman memukuli para pekerja. Sikap pengecut yang dimiliki tuan Arka, menyakiti orang-orang tak berdaya. Meski tanpa dia sadari, mereka orang yang berjasa dalam hidupnya. Kemewahan yang dirasakan tuan Arka, bukan datang karena kerja kerasnya semata. Namun ada para pekerja kasar yang menyelesaikan proyek besarnya. Beliau bukan hanya pengecut, tapi juga seorang yang tidak tahu diri!"


"Apa alasan yang membuatmu begitu marah? Mereka bukan saudaramu!" Sahut Fariz heran.


"Memang para pekerja bukan saudaraku, tapi mereka ibarat tulangku. Sekali mereka tersakiti, maka akan ada tangan yang membelanya!" Sahut Farah, lalu memberikan kertas yang harus ditandatangani Fariz.


"Silahkan!" Ujar Farah sembari memberikan berkas di tangannya.


"Terima kasih!" Ujar Farah, sembari menerima berkas kepemilikan perusahaan.


"Kamu menang Farah!" Sahut Fariz lirih, Farah menggelengkan kepalanya lemah. Farah masih jauh dari kata menang. Sebab tuan Arka masih belum hancur.


"Aku belum menang tuan Fariz, masih banyak yang harus aku lakukan!" Ujar Farah dingin


"Apa itu?


"Kehancuran tuan Arka, sebab kehancuran kecilmu hanya menggores hatinya yang beku!"

__ADS_1


"Seluruh perusahaanku menjadi milikmu. Namun dengan santainya kamu mengatakan? bahwa semua itu masih sangat kecil. Seolah kehancuran keluarga Atmaja menjadi satu-satunya tujuan hidupmu!" Batin Fariz tak percaya.


__ADS_2