Ikhlas

Ikhlas
Abimanyu Ahsan Abrizan


__ADS_3

"Kak!"


"Ada apa Rayyan?"


"Kenapa kakak menyembunyikan kondisi Farah?"


"Lantas, apa yang harus aku katakan? Haruskah aku mengatakan, selain Farah mengalami kelemahan untuk berdiri. Dia juga mengalami gangguan pada jiwanya!"


"Tapi!"


"Tapi apa Rayyan? Nyatanya Farah memiliki kelemahan itu. Dia harus ikhlas menerima semua itu. Berdamai dengan dirinya yang takkan mudah berinteraksi dengan orang lain!"


Rayyan terdiam, perkataan Vira bak belati yang menusuk tepat di hatinya. Sakit sangat sakit, bukan karena perkataan Vira yang menyakitkan. Namun bayangan kesepian dan ketakutan yang dialami Vira selama ini. Rayyan begitu sedih, ketika dia menyadari Vira merawat Farah sendiri. Tanpa ada satu orangpun yang menemaninya.


"Maafkan aku kak!"


"Untuk!"


"Kesendirian kakak melewati semuanya!"


"Tidak perlu, apa yang aku alami? Sudah menjadi resiko yang aku pilih. Setidaknya aku sudah menebus sedikit kesalahanku pada Farah. Keegoisanku membuat Farah lahir tak sempurna. Semua yang dialami Farah, tak lebih kebodohanku sebagai seorang ibu!"


"Kakak selalu menyalahkan diri sendiri. Tidak selamanya kakak mampu berdiri sendiri. Adakalanya aku menopang lemahmu, sebagai adik aku wajib melakukan semua itu. Selama ini kakak merawat aku dan Vika. Setidaknya sekali saja, beri kami kesempatan merawatmu. Sekadar menjadi tempatmu bersandar di kala menangis!" Ujar Rayyan liri, Vira menunduk.


Kedua tangannya menutup wajahnya, Vira mencoba menyembunyikan kecemasan dan ketakutannya. Namun semua sia-sia, meski tanpa suara Rayyan sudah bisa mendengar tangis sang kakak. Rayyan spontan menarik tubuh sang kakak masuk dalam dekapannya. Rayyan menenggelamkan Vira dalam pelukan hangat seorang adik. Tubuh kekar Rayyan, menjadi sandaran paling kuat bagi Vira. Rayyan semakin erat mendekap Vira. Tatkala Rayyan merasakan tubuh Vira yang bergetar.


"Menangislah kak, basahi kemaja dengan tangismu. Jadikan aku sapu tangan penghapus duka dan air matamu. Tangismu bak air yang menyenjukkan dan menenangkan hatiku!"


"Kenapa Rayyan? Kenapa kesalahan kakak menjadi alasan duka Farah? Fatih telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Sekarang Farah harus merasakan sakit yang tak mudah disembuhkan!"


"Tapi itu bukan salah kakak!"


"Om Rayyan benar, mama tidak salah. Fatih tidak pernah menyalahkan mama. Mungkin Fatih pernah kecewa, ketika mama meninggalkan Fatih. Papa menikah dengan tante Nadya. Namun itu dulu, saat Fatih belum mengerti arti kasih sayang. Kini Fatih sadar, mama tidak akan pergi. Jika bukan demi kebaikan Fatih dan demi kasih sayang mama pada Fatih dan Farah!" Tutur Fatih, lalu berhambur memeluk Vira.

__ADS_1


"Fatih sayang mama!" Ujar Fatih lirih, seraya memeluk erat Vira.


"Maafkan mama sayang!" Ujar Vira, Fatih menggeleng lemah. Seolah isyarat dia tak pernah menyalahkan Vira. Atas dua puluh tahun sepi dan sendirinya.


"Vira, siapa yang salah atas semua luka ini? Jika aku menyalahkanmu atas lukaku, lantas siapa yang akan kusalahkan atas lukamu? Haruskah aku marah akan semua yang terjadi? Dua puluh tahun kamu sendiri merawat putri kecilku. Dua puluh tahun yang tak mudah dan tentu kita sama-sama berat menjalaninya. Vira, kenapa kita harus saling menjauh? Jika nyatanya kita saling menyakiti dan tersakiti!" Batin Azzam di balik Tiang tak jauh dari Vira.


"Fatih, masuklah ke dalam. Farah pasti sudah sadar. Dia akan ketakutan, ketika tak ada orang di sampingnya. Mama harus menemui seseorang!" Titah Vira, Rayyan dan Fatih mengangguk tanpa membantah.


Vira tetaplah Vira, dalam lemah dan bingungnya. Perkataan Vira selalu tegas dan tak bisa dibantah. Vira tidak akan pernah bisa menerima penolakan. Vira selalu tegas akan semua hal. Rayyan dan Fatih yang mendengar permintaan Vira. Langsung berdiri menuju kamar Farah. Sedangkan Vira berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka. Arah yang sama, dimana Azzam tengah berdiri melawan cemasnya?


"Vira!"


"Kamu!" Sahut Vira dingin, Azzam berjalan maju beberapa langkah. Nampak keduanya berhadapan, dekat sangat dekat.


Azzam mengunci wajah Vira dalam tatapannya. Jelas tersirat cinta yang begitu besar dalam tatapan hangat Azzam. Vira menjadi wanita teristimewa dalam hati dan jiwa Azzam. Selamanya Vira akan selalu nama yang terpahat dalam dinding hati Azzam.


"Bisa kita bicara!"


"Tentang!"


"Jujur, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Perpisahan dua puluh tahun sudah kita lewati tanpa ada hambatan. Jika kita membicarakan yang telah lewat. Hanya akan membuka luka yang telah mengering!"


"Lukaku tak pernah mengering. Cinta ini nyata ada untukmu!"


"Aku percaya cinta itu ada untukku. Namun ada cinta dan hati lain yang lebih pantas untuk itu. Fatih dan Farah, menjadi saksi cinta kita ada. Cinta abadi yang takkan pernah berakhir!"


"Jika memang kamu mengakui cinta itu ada. Kenapa kamu mengingkarinya? Kita bisa bersama, menyatukan cinta suci yang terpendam dalam hati!"


"Mas Azzam, cinta itu memang ada dan nyata. Namun cintaku untukmu telah terkubur, tak ada harapku ingin mengingatnya. Cinta yang akan kukenang. Tanpa berharap menggapai bahagianya!"


"Tak adakah cela aku menggapai cintamu!" Ujar Azzam lirih dan menghiba. Vira menggeleng, Azzam seketika tertunduk lesu.


"Maafkan aku mas Azzam, cinta itu tak lagi pantas aku milikki. Aku hanya bisa mengulurkan tangan pertemanan, tidak lebih dari itu!"

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu keras?"


"Karena luka yang dulu aku rasakan. Ego hati yang membuatku menjauh darimu. Menjadi tamparan keras dalam hidupku. Menyadarkan aku, semua takkan pernah bisa prediksi. Terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan, sama halnya impian tak mudah untuk digapai. Cukup rasa pahit yang pernah aku telan. Tangis yang pernah aku teteskan. Kini aku belajar memahami, hidup tak hanya berputar pada cinta. Banyak hal yang penting dari itu!" Tutur Vira tegas dan lantang.


"Kenapa kita bertemu? Jika nyatanya kita terluka dan tak pernah bersama!" Ujar Azzam lirih, Vira diam menatap nanar Azzam.


"Jodoh!"


"Jodoh yang menyakitkan!" Ujar Azzam lirih, seraya menunduk.


"Mas Azzam salah, jodoh yang menyakitkan bagimu. Telah mengajarkan aku arti ikhlas dan bahagia. Cinta yang begitu indah, buah hati yang begitu bermakna. Semua ada karena jodoh yang mempertemukan kita!"


"Setiap katamu seakan menyimpan cinta yang begitu besar. Namun sesungguhnya cintamu menghancurkan!"


"Sudahlah mas Azzam, tak perlu lagi kamu berharap akan cinta diantara kita. Semua berakhir dan harus diakhiri!" Ujar Vira tegas.


"Sekali saja Vira, sekali saja kamu buka kesempatan untuk cintaku berjuang!"


"Maaf mas Azzam, aku tidak bisa!" Ujar Vira lalu berjalan melewati Azzam. Vira terus berjalan lurus tanpa menoleh ke arah Azzam. Vira seolah mantap menjauh dari Azzam. Tak lagi berharap akan cinta dan bahagia bersama Azzam.


Buuuughhh


"Om Azzam!"


"Kamu!"


"Tenanglah, Farah baik-baik saja. Dia sudah sangat stabil. Tidak ada yang perlu om Azzam khawatirkan!"


"Terima kasih, berkat dirimu kondisi Farah membaik!" Ujar Azzam pada dokter tampan yang kini menangani perawatan Farah.


"Bima tidak melakukan banyak hal. Perawatan yang didapat Farah sejak dulu. Membuat kondisinya tak begitu mengkhawatirkan!"


"Sekali lagi terima kasih!" Ujar Azzam.

__ADS_1


"Sama-sama, Bima harus masuk ke dalam!" Pamit Abimanyu Ahsan Abrizan, dokter muda yang kini menangani Farah.


"Wajahnya sangat familiar, siapa dia? Kenapa aku merasa pernah mengenal orang yang sama?" Batin Vira, sembari menatap wajah tampan Bima. Dokter yang telaten merawat Farah saat kritisnya.


__ADS_2