Ikhlas

Ikhlas
Pergi Berdua


__ADS_3

"Kenapa belum kamu makan bekal dari Farah? Kamu tidak suka atau takut diracuni sama Farah!" Ujar Fatih lantang, Bayu seketika mendongak. Bayu menatap Fatih dengan raut wajah yang terkejut.


Fatih duduk tepat di depan Bayu, dengan senyum simpul Fatih melihat Bayu yang kebingungan. Hampir lima belas menit, Fatih melihat Bayu termenung menatap bekal yang dibuatkan Farah untuknya. Sejenak Fatih merasa Bayu tidak menyukai bekal dari Farah. Namun melihat Bayu yang begitu larut dalam lamunan. Fatih merasa Bayu sedang memikirkan Farah adiknya. Rasa cinta yang mulai tumbuh dihati Bayu. Jelas nampak oleh Fatih sebagai sahabat Bayu.


"Kamu mengagetkanku!"


"Bukan aku yang mengagetkanmu, tapi kamu yang melamun tanpa tahu jam!" Ujar Fatih dingin, Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Diam kamu!" Ujar Bayu kesal.


"Sudah jangan melamun, kita berangkat sekarang. Kamu tahu sendiri, klien hari ini sangat tepat waktu!" Ujar Fatih, Bayu melotot. Seolah dia tak setuju berangkat sekarang.


"Kenapa lagi? Kamu sudah kenyang dengan melihat bekal Farah. Aku yakin kamu tidak akan memakan bekal itu. Jadi lebih baik kita berangkat!"


"Tapi aku lapar!" Ujar Bayu lirih, Fatih tertawa lepas mendengar perkataan Bayu.


Fatih merasa lucu melihat sikap Bayu seperti anak-anak. Fatih melihat cinta Bayu pada Farah, membuat dunia Bayu berubah. Sikap dewasa dan tegas Bayu menghilang, berganti dengan sikap anak kemarin sore yang penuh drama. Dengan santai, Fatih membuka tutup bekal yang ada di depan Bayu.


"Buka mulutmu!"


"Aaaaa!" Ujar Fatih lantang, sembari menyodorkan satu suap penuh nasi goreng buatan Farah.


Bayu seketika membuka mulutnya. Ketika Fatih menempelkan sendok tepat di depan mulut Bayu. Fatih harus menyuapi Bayu, jika tidak ingin terlambat bertemu dengan rekan bisnisnya. Bayu hanya bisa pasrah, ketika Fatih menyaupkan satu sendok penuh nasi goreng.


"Sekarang kamu sudah makan. Jadi kita bisa pergi!" Ujar Fatih, Bayu mengangguk tanpa bisa bicara. Mulutnya penuh dengan makanan. Sampai Bayu tidak bisa bicara. Sekadar menyahuti perkataan Fatih.


Gleekkk


"Aku minum dulu!" Ujar Bayu, tepat setelah menelan nasi goreng yang terakhir ada dimulutnya.


"Dasar Fatih, sejak tadi aku tidak tega memakannya. Malah seenaknya saja menyaupiku, terpaksa aku memakan nasi goreng buatan Farah. Tapi aku akui, masakan Farah enak. Tidak salah aku memilih menyukainya. Dia bisa menjadi ibu yang baik buat anak-anakku. Hanya saja, sikap dingin Farah membuatku takut mendekatinya. Bagaimana aku mengatakan rasa ini? Semalam saja Farah kesal padaku. Farah tak ingin menemuiku lagi. Apa kabar hariku tanpa melihatnya?" Ujar Bayu bimbang, Sembari menggelengkan kepala lemah.

__ADS_1


"Kita pergi atau kamu berdiri disitu. Menatap bekal dari Farah!" Ujar Fatih lantang, Bayu diam mematung. Bayu termenung menatap bekal Farah. Tangan ajaib Farah saat memasak, membuat Bayu mabuk kepayang. Bayu lupa akan sekitar, hanya Farah yang ada dalam benaknya.


"Farah, kenapa kamu ke kantor!" Teriak Fatih.


"Farah, dimana dia?" Ujar Bayu, seketika Bayu sadar dari lamunannya.


"Farah sedang bertemu dokter Bima. Mungkin juga mereka makan siang. Kamu terlalu lama mengatakan cinta. Jadinya Farah pergi dengan dokter Bima!"


"Kamu serius!" Ujar Bayu tak percaya, Fatih tertawa lepas sembari keluar dari ruangan Bayu. Fatih tidak mengiyakan atau mengatakan tidak untuk pertanyaan Bayu.


"Fatih!"


"Kita pergi sekarang!" Ujar Fatih final mengalihkan pembicaraan.


"Dasar bucin!" Bisik Fatih, tepat di telinga Bayu.


Bayu dan Fatih berjalan beriringan keluar dari kantor. Tepat di depan kantor, Fatih menghentikan langkahnya, Bayu heran melihat Fatih berhenti tepat di depan kantor. Biasanya Fatih dan Bayu akan langsung menuju tempat parkir. Namun pagi ini berbeda, Fatih berdiri tegap seolah menunggu seseorang.


Tiiiiiinnn


"Farah!" Ujar Bayu, Fatih menepuk pundak Bayu.


"Dia memang Farah, hari ini dia yang akan mengantar kita. Aku sudah membantumu sejauh ini. Jangan sia-siakan kesempatanmu!" Bisik Fatih, Bayu menunduk.


Bayu masuk ke dalam mobil biru Farah. Sekali lagi Bayu terkesima melihat kemampuan yang disembuyikan Farah. Bayu benar-benar kagum, saat melihat Farah yang tetap merendah dan diam ketika dianggap lemah. Meski nyatanya Farah mampu dalam segala hal.


"Duduk di depan, aku bukan supirmu!" Ujar Farah dingin dan sinis, Bayu mengangguk seraya membuka pintu depan mobil Farah. Sedangkan Fatih tetap berdiri di luar. Bayu merasa aneh melihat Fatih tidak masuk ke dalam mobil.


Braakkk


"Kenapa Fatih tidak masuk?"

__ADS_1


"Bukankah kakak akan pergi ke luar kota. Sebab itu dia memintaku mengantarmu bertemu rekan bisnisnya!"


"Kamu tidak perlu repot-repot, aku bisa pergi sendiri atau diantar supir kantor!" Ujar Bayu menolak pergi dengan Farah. Meski sejujurnya, Bayu sangat mengharapkan pergi dengan Farah. Sebuah kesempatan langkah yang khusus diberikan Fatih.


"Sebenarnya aku juga malas mengantarmu. Jika bukan mama yang menyuruhku, aku juga tidak akan pergi. Kak Fatih meminta izin pada mama. Agar aku menggantikannya bertemu rekan kerjanya!" Sahut Farah sinis, Bayu tak bersuara. Kata-kata Farah sangat menyakitkan hatinya. Namun ada rasa bahagia, saat Bayu bisa pergi bersama Farah.


"Apa hanya karena permintaan tante Vira? Bukan karena yang lain!" Ujar Bayu lirih, seakan dia kecewa mendengar Farah pergi dengan hanya karena orang lain. Dengan tegas dan pasti Farah mengangguk. Sebuah anggukan kepala yang membuat Bayu menghela napas panjang.


"Aku tidak pernah berminat bertemu orang lain. Apalagi pergi satu mobil dengan laki-laki. Namun saat aku mengingat perkataanmu dulu. Aku merasa pergi berdua denganmu, tidak akan masalah!" Sahut Farah datar dan santai, Bayu bingung mendengar perkataan Farah. Seolah Farah memberikan harapan pada hubungan diantara mereka.


"Perkataan yang mana?" Ujar Bayu tak mengerti.


"Jika kamu menganggap aku adik, tidak lebih!"


Gleekkkk


Bayu menelan ludahnya kasar, dia merasa terkejut ketika Farah menganggap serius perkataannya. Bayu seketika lemas, kedekatannya dengan Farah. Hanya sebatas hubungan persaudaraan. Bayu merasa bodoh, telah mengatakan hal yang bertolak belakang dengan keinginan hatinya.


"Kakak!"


"Hmmm, bukankah kamu menganggap aku seperti seorang adik!"


"Kamu nyaman dengan status itu!"


"Tentu saja, aku nyaman dengan persaudaraan yang kamu tawarkan. Apalagi jika kamu menikah dengan Nafisa. Kamu akan menjadi adik iparku!"


"Nafisa, kenapa harus Nafisa?"


"Karena Nafisa jelas menyukaimu. Dia mengagumimu, aku melihat betapa Nafisa bahagia ada di sampingmu!"


"Tapi aku tidak menyukainya!" Sahut Bayu lantang, Farah tidak menoleh atau menyahuti perkataan Fatih. Farah fokus menyetir. Farah tak pernah peduli dengan pendapat atau kesibukan orang lain.

__ADS_1


"Kenapa? Nafisa cantik, dia pintar dan ceria. Nafisa akan membawa tawa dalam dinginmu!" Ujar Farah antusias, Bayu diam membisu.


"Karena aku mencintaimu!" Batin Bayu, sembari melirik Farah yang terus fokus mengemudi.


__ADS_2