
"Kak Vira!"
"Ada apa Vika?" Sahut Vira, Vika berhambur memeluknya. Vika menangis di pelukan Vira, dengan air mata yang tak lagi mampu ditahannya.
Vira merasa heran melihat Vika yang menangis sesegukan di pundaknya. Dengan penuh kasih sayang, Vira membelai punggung Vika yang bergetar hebat. Vira mencoba menenangkan Vika yang sedang menangis. Vira merasakan hangat pelukan saudara yang lama ditepisnya.
"Kenapa harus pergi? Tidak bisakah kita berkumpul. Bertahun-tahun kakak menjauh, hari ini kakak akan pergi selamanya!" Ujar Vika lirih, Vira diam sembari memeluk erat Vika.
Dia merasakan kepedihan Vika, perpisahan yang kesekian kali akan terjadi. Hidup di negara yang asing, jauh dari saudara yang senantiasa ada bersamanya. Vira mengetahui benar sepinya jauh dari kedua adiknya. Namun keputusan Vira sudah sangat bulat, dia harus pergi menjauh. Agar tak ada lagi masalah yang menimpa keluarganya.
"Kakak harus pergi!"
"Kenapa?" Sahut Vika, Vira menarik pelan tubuh Vika. Keduanya saling menatap, tak ada kata yang mampu terucap. Tatapan mata yang seolah menjawab luka hati Vira dan Vika.
"Agar tak ada lagi dendam diantara keluarga kita. Kamu harus bahagia bersama Arif. Keberadaan kakak disini, hanya akan memancing emosi keluarga Atmaja!" Ujar Vira, Vika menggeleng lemah. Menolak kepergian Vira dengan Azzam. Keduanya akan menjauh dari keluarganya.
"Aku akan ikut bersama kakak!"
"Tidak perlu, kamu harus menjadi istri terbaik untuk Arif. Jaga Rayhan untuk kakak. Kelak saat semua membaik, kakak akan kembali!" Ujar Vira menenangkan, Vika menunduk dalam. Dia tak ingin kehilangan Vira lagi. Lama Vika merindukan kehangatan seorang kakak. Kini dia harus kehilangan Vira lagi. Mungkin untuk selamanya.
"Vika, aku dan kakakmu harus pergi. Negara ini tidak lagi aman buat kami. Tidak akan pernah ada kata bahagia. Seandainya kami tetap ada di negara ini. Kebencian dan amarah yang ada diantara kakakmu dengan keluarga Atmaja. Tidak akan pernah hilang. Sudah seharusnya kami mengalah, semua demi kedamaian!"
"Tapi tidak harus ke luar negeri. Kalian bisa tinggal di kota lain di negara ini. Agar aku bisa menghubungi atau berkunjung ke rumah kakak!"
"Vika, kak Vira ingin merasakan hidup tenang. Pertikaian tidak baik untuk perkembangan Fatih. Kami harus memulai semuanya dari nol, mendirikan rumah impian penuh dengan kebahagian. Percayalah, kelak kita akan bertemu, tapi disaat semuanya sudah membaik!" Ujar Vira mencoba menenangkan, Vika menunduk semakin dalam.
Arif datang merangkul pundak Vika. Dia mencoba menenangkan istrinya. Vika sangat kehilangan Vira. Bukan hanya sebagai sosok kakak, tapi juga seorang ibu. Vira mendedikasikan hidupnya untuk menjadi tulang punggung. Kini saatnya Vira menjadi tulang rusuk. Penopang hidup Azzam, pelindung bagi Fatih buah hatinya.
"Baiklah, aku tak lagi bisa menghentikan kakak!" Ujar Vika lirih, Vira mengedipkan kedua matanya. Vira tersenyum bahagia, melihat Vika bersedia memahami keputusannya.
"Terima kasih Vika, kakak selalu ada disampingmu. Kakak ada di hati terdalammu, doa kakak akan melindungi langkah hidupmu. Kelak kakak akan datang, memelukmu erat sebagai ganti air matamu hari ini!" Ujar Vira lirih, Vika dan Arif mengangguk bersama. Azzam memeluk Vira, seolah ingin menopang tubuh Vira yang mulai lemah.
"Sayang, lagi dan lagi aku memisahkanmu dengan keluargamu. Namun percayalah, aku akan membuatmu bahagia. Kita akan hidup jauh dari keluarga Atmaja. Hanya ada kita dan Fatih!" Ujar Azzam, Vira mengangguk setuju.
Tap Tap Tap.
Terdengar langkah kaki yang begitu nyaring, Vira dan Azzam mendongak bersama. Hentakan high heels yang menyentuh lantai bandara. Sejenak menyita perhatian Azzam dan Vira. Kedua bola mata mereka membulat sempurna, kala mereka melihat Nadya berdiri tak jauh dari mereka.
"Nadya, ada apa dia datang kemari?" Batin Vira.
"Ada apa Nadya?" Ujar Azzam, Nadya berjalan mendekat. Vira menatap nanar Nadya sahabatnya dulu. Dengan langkah anggun Nadya menghampiri Azzam. Tanpa sedikitpun menoleh pada Vira.
"Kita harus bicara!"
"Katakan saja, tidak ada yang perlu aku tutupi dari Vira!" Sahut Azzam dingin, Nadya menggeleng seraya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara dengan kakak, tidak ada urusanku dengan Vira!" Sahut Nadya dingin, Azzam menggeleng tak setuju.
"Sebaliknya Nadya, aku tidak akan bicara denganmu tanpa Vira!" Sahut Azzam, Nadya diam menatap dingin Vira. Tatapan penuh kebencian dan rasa jijik. Persahabatan yang begitu indah, harus berakhir dengan tragis. Hanya karena cinta segitiga yang tak kunjung usai.
"Vira, bolehkah aku bicara berdua dengan kak Azzam!" Pinta Nadya sinis, Vira menoleh ke arah Nadya. Dengan tatapan sendu dia menatap Nadya. Vira diam membisu, tak ada kata yang terucap dari bibir mungilnya.
"Bicaralah, jika kak Azzam bersedia. Aku hanya seorang istri, tidak ada hakku melarang kak Azzam. Sebaliknya bukan tempatnya kamu memaksa!"
"Apa maksudmu?"
"Nadya, aku tidak pernah membayangkan. Jika persahabatan kita harus berakhir dengan permusuhan. Kebencianmu padaku seakan tak pada tempatnya. Mungkin aku ada salah padamu. Namun tak seharusnya, kamu membenciku hanya karena hubunganku dengan kak Azzam. Seandainya aku bisa, ingin aku menebus semuanya. Agar persahabatan kita kembali terjalin!" Ujar Vira, Nadya tersenyum sinis. Menertawakan perkataan Vira yang terdengar lucu.
"Kamu lucu!"
"Aku serius, katakan apa yang bisa kulakukan? Agar persahabatan kita kembali utuh!" Sahut Vira tegas, Azzam menggeleng tak setuju. Nadya menatap dingin Vira, dia melangkah lebih dekat ke arah Vira.
"Kembalikan Azzam padaku!" Ujar Nadya dingin tepat di depan wajah Vira.
"Diam kamu Nadya, jangan bicara tidak-tidak!" Teriak Azzam sembari menarik tubuh Nadya menjauh dari Vira. Sentuhan tangan yang nyata membangunkan hasrat cinta Nadya pada Azzam.
"Vira, jangan pernah setuju dengan permintaannya. Dia sedang melantur, Nadya mulai kehilangan akal!" Ujar Azzam cemas, ketika dia melihat Vira diam. Seakan perkataan Nadya telah merasuk ke dalam hatinya. Vira terlihat bimbang dengan keputusannya.
"Tidak perlu takut kak, Vira tidak akan memutuskan. Namun kamu yang harus memutuskan. Kamu sendiri yang akan meninggalkan Vira dan kembali padaku!"
"Kamu bermimpi!" Ujar Azzam sinis, Nadya tersenyum. Lalu dengan tenang, Nadya mengeluarkan ponsel pintarnya. Dia menghubungi seseorang, lebih tepatnya melakukan panggilan video dengan seseorang.
"Mama!" Ujar Azzam lirih, Vira mundur beberapa langkah. Tubuhnya kaku, bibirnya kelu serta pandangannya mulai kabur.
Sedetik yang lalu Vira mulai merasakan bahagia, tapi detik ini Vira merasakan kehancuran. Impian menggapai bahagi, mulai kabur dari benaknya. Vira melihat tubuh Melda tak sadarkan diri. Dengan selang infus yang terpasang di tangan. Alat-alat medis penopang hidup terpasang di seluruh bagian tubuh Melda.
"Kak Vira!" Ujar Vika lirih, Arif mencoba menenangkan Azzam yang tertunduk lesu.
"Azzam, bangunlah kamu harus kuat!" Bisik Arif, Azzam diam membisu.
"Nadya, kamu menang!" Ujar Vira lirih.
Nadya tersenyum sinis, ketika melihat Vira mendekat ke arah Azzam. Vira berjongkok tepat di samping Azzam. Vira meminta Vika dan Arif pergi membawa Fatih. Ketika Vira melihat Fatih berjalan ke arahnya bersama Syifa. Vira tidak ingin Fatih melihat kerapuhan Azzam.
"Kak Azzam!"
"Jangan katakan apapun. Jika hanya memintaku pergi!" Sahut Azzam pilu, Vira menggeleng lemah. Dengan lembut Vira menarik kepala Azzam. Vira mendekap hangat kepala Azzam, mencium lembut puncak kepala Azzam.
"Aku tidak akan memintamu pergi, bila hatimu tak ingin pergi. Namun berpura-pura buta tidak melihat kepedihan dan kegelisahanmu, sungguh aku tidak mampu!" Sahut Vira lirih sembari mendekap hangat Kepala Azzam.
"Tante Melda seorang ibu yang baik. Dia istri yang setia. Seorang menantu yang patuh. Air mata dan kepedihannya terus dipendam. Hanya demi ketenangan keluarga Atmaja. Kini tubuh lemahnya tak lagi mampu menyimpan duka. Terbaring tak berdaya, menjadi pilihan terakhir hati. Menunjukkan pada kalian anak dan suaminya. Beliau butuh dekapan hangat dan kasih sayang kalian!" Tutur Vira lirih, Azzam diam menunduk semakin dalam. Tangannya mendekap erat tubuh Vira. Seolah hatinya benar-benar gelisah.
__ADS_1
"Jika air matanya tak pernah kamu hapus. Kini saatnya kakak menghapus peluh rasa sakitnya. Jika dulu tangannya yang menyuapi kakak makan. Kini tangan kakaklah yang harus menopang hidupnya. Takkan ada tawa dalam kebahagian kita. Jika tak ada senyum seorang ibu mengiringinya. Sebab Allah SWT tersenyum pada hamba-NYA, kala senyum seorang ibu terutas karena perilaku anaknya!"
"Kita pergi bersama!" Ujar Azzam memelas, Vira mengangguk pelan. Seketika Azzam berdiri, anggukan kepala Vira yang ditunggu Azzam. Dengan perlahan Azzam menarik tangan Vira, tapi terhenti kala Azzam merasakan kaki Vira tertahan.
"Kenapa?"
"Aku akan pergi denganmu, tapi tidak sekarang!"
"Kalau begitu aku tidak akan pergi!" Ujar Azzam tegas, Vira menggeleng lemah. Dengan sopan Vira menepis tangan Azzam. Vira melepaskan tangan Azzam dengan sangat sopan.
"Penyesalan terbesarku selama ini, bukan mencintai atau menikah denganmu. Namun statusku yang rendah saat bersamamu. Keputusan yang terlalu terburu-buru untuk hidup bersamamu. Sebab kelemahanku yang menjadi alasan kepedihan dan kematian ibuku. Jadi jangan pernah lakukan kesalahan yang sama. Jadilah seorang anak yang berbakti, sebelum menjadi suami dan ayah yang baik!"
"Kamu ingin aku pergi!"
"Pergilah, sebelum semuanya terlambat. Aku dan Fatih akan menyusul!"
"Kamu berbohong!"
"Aku akan datang, saat semuanya membaik!"
"Kamu janji!" Ujar Azzam, Vira mengangguk.
Azzam berjalan menjauh dari Vira, Nadya mengikuti langkah kaki Azzam. Terutas senyum penuh kemenangan di wajah Nadya.
"Aku menang Vira!" Ujar Nadya lirih, Vira menggeleng.
"Kamu tidak pernah menang, dulu atau sekarang. Kamu hanya bisa merebut, tanpa bisa memilikinya!" Sahut Vira lirih, Nadya meradang. Namun amarahnya ditahan, karena Azzam sudah semakin menjauh. Nadya berlari mengejar Azzam, meninggalkan Vira yang termangu menatap punggung Azzam.
"Kak Azzam!" Teriak Vira, Azzam menghentikan langkahnya. Azzam menoleh ke arah Vira, tatapan sendu Vira menusuk hati Azzam. Ada rasa ngilu yang tiba-tiba terasa di hati Azzam.
"Ajak Fariz menemui tante Melda. Sudah saatnya kalian bersama, menjaga ibu yang telah lama merindukan kalian!" Ujar Vira lantang, Azzam mengangguk pelan. Azzam hendak berlari menghampiri Vira, tapi Vira melarang dengan merentangkan tangan ke arah Azzam.
"Jangan kembali, kakak harus terus maju. Jaga diri kakak baik-baik!" Teriak Vira lantang, Azzam mengangguk ragu. Tatapan Vira seolah ingin mengatakan hal sebaliknya.
"Vira, aku pergi demi dirimu. Aku berharap, kamu penuhi janjimu. Semoga firasatku salah, jika kamu akan meninggalkanku. Aku mencoba menyakinkan diriku. Jika kamu akan tetap bersamaku. Aku akan segera kembali!" Batin Azzam menatap nanar Vira.
"Jaga dirimu imamku, berbahagialah meski tanpa diriku. Sudah seharusnya impian tetap menjadi impian. Sudah sepantasnya seorang anak kembali pada ibunya. Semoga kelak ada bahagia untuk kita!" Batin Vira pilu.
"Kak Vira!"
"Kakak baik-baik saja dan selamanya baik-baik saja!" Sahut Vira tegas.
...☆☆☆☆☆...
Semoga para readers selalu sehat dan bahagia. Terima kasih selalu mendukung author dengan tulisan-tulisan recehnya. Dukungan kalian selama ini yang membuat author selalu bahagia saat menulis. Namun maaf jika tulisan receh author tidak berkenan. Sekali lagi terima kasih telah mendukung author selama ini.
__ADS_1
Malam ini "IKHLAS" dengan terpaksa harus terhenti. Author tidak tega bila membuat para readers menunggu terlalu lama. Jadi sementara waktu, author skip dulu di "IKHLAS". Jika memungkinkan, author akan lanjut setelah beberapa waktu. Jadi terus dukung author receh ini ya....Terima kasih......😗😗😗😗😗
TERIMA KASIH BANYAK READERS