
"Azzam, berhenti kamu. Selangkah lagi kamu melangkah, kakek tidak segan-segan membuat hidupmu sengsara!" Teriak Arka lantang, Azzam tak bergeming. Dia terus melangkah keluar dari rumah keluarga Atmaja.
Langkah lebar Azzam membuatnya terlihat gagah. Suara tarikan koper kecil Azzam, menggema di seluruh rumah keluarga Atmaja. Meruntuhkan keangkuhan keluarga Atmaja. Membuktikan pada dunia, cinta itu kuat dan mampu menghancurkan benteng setinggi apapun. Azzam melawan amarah Arka yang tak pernah bisa dilawannya selama ini. Amarah yang nyata kalah oleh kuat cintanya pada Vira.
"Azzam!" Teriak Arka semakin lantang.
"Maaf kakek, aku harus keluar dari rumah ini. Kali ini aku tidak bisa menuruti permintaan kakek. Sekian tahun aku hidup dalam aturan yang nyata membuatku tersiksa. Kini aku ingin hidup bebas, jauh dari aturan yang tak berhati ini!"
"Jika kamu keluar dari rumah ini. Aku akan pastikan hidupmu sengsara. Aku akan menghancurkan seluruh usaha Vira. Akan kubuat keluarga Vira hancur. Dia alasanmu membangkang padaku!" Ancam Arka, Azzam tersenyum sinis. Seolah ancaman Arkan tak lebih dari ancaman kosong. Sekali Azzam memutuskan, dia tidak akan mundur meski selangkah.
"Silahkan kakek melakukan apapun. Aku akan menjadi perisai Vira. Takkan kubiarkan kakek menyentuh secuil kulit Vira. Kakek berjanji menghancurkan Vira. Sebaliknya aku siap melindungi Vira dengan nyawaku!" Sahut Azzam lantang dan tegas.
Melda terdiam di pojok rumahnya. Tepat di depan pintu dapur, Melda menatap nanar putranya Azzam. Bertahun-tahun yang lalu, Melda kehilangan Fariz putra bungsunya. Pagi ini rasa sakit itu kembali. Melda harus siap kehilangan Azzam putra sulungnya. Lengkap sudah rasa sakit Melda. Dua putra kebanggaannya kini telah pergi. Meninggalkan dirinya dalam penjara ikatan pernikahan dengan Angga Atmaja.
"Sombong kamu Azzam, kamu tidak akan pernah bisa melawanku. Dulu atau sekarang, kamu tak lebih dari anak ingusan. Jika kamu mampu melawanku. Tentu kamu marah, ketika dua kali nyawa putramu hampir melayang ditanganku. Terlambat jika hari ini kamu mencoba melindungi putramu. Nyatanya aku sudah siap membuat Vira hancur tak tersisa!" Ujar Arka sombong, Azzam menatap tajam Arka.
Azzam mulai menyadari, betapa kejam kakeknya? Dengan lantang Arka mengatakan semua kebusukannya. Penculikan dan usaha Arka menghancurkan Vira yang hampir membuat Fatih kehilangan nyawa. Diakui tanpa sedikitpun rasa berdosa atau sekadar simpati akan keturunannya sendiri. Dingin dan kejam, hanya itu gambaran hati Arka dimata Azzam saat ini.
"Kakek, kamu sungguh tak berhati!" Ujar Azzam lirih, seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Azzam memutar tubuhnya 180°, dia mulai melangkah keluar dari rumahnya. Hampir separuh hidup Azzam dihabiskan di dalam rumah ini. Namun kini dengan keyakinan penuh, Azzam melangkah pergi dari rumah Atmaja. Menyosong kebahagian yang lama terlepas dari genggamannya.
"Azzam, tunggu sebentar. Ada yang harus papa katakan padamu!" Ujar Angga menghentikan langkah Azzam.
Dengan terpaksa Azzam memutar tubuhnya, menatap lekat sang papa. Seorang ayah yang lebih senang melihat putranya hancur. Daripada melihat kebahagian putranya. Azzam diam menanti Angga yang tengah berjalan menghampirinya. Terlihat sebuah map berwarna merah. Azzam tidak mengerti apa isi map tersebut?
"Sebelum kamu melangkah keluar rumah ini. Baca baik-baik berkas ini, lalu pikirkan dengan kepala dingin!"
Azzam mengambil map merah yang diberikan Angga. Dengan penuh ketenangan Azzam membaca detail yang ada di dalam map. Azzam membelalak terkejut, tepat di tengah-tengah map. Ada sebuah foto dan hasil visum seseorang. Tanpa Azzam sadari, tangannya bergetar hebat. Tubuhnya menggigil ketakutan, sepintas terlihat Azzam melangkah mundur.
__ADS_1
"Papa!" Ujar Azzam dengan suara parau.
"Iya Azzam, semua yang tertulis di dalam map itu benar adanya. Sebelum kamu mendapatkan kebahagian itu. Dengan tangan papa sendiri, akan kuhancurkan bahagiamu. Hanya dengan berkas ini, Vira akan menjauh darimu!" Sahut Angga angkuh, Azzam mundur beberapa langkah. Dia tak pernah menyangka, papa kandungnya akan membuka luka lamanya. Masa lalu kelam Azzam yang tertutup rapat.
Braaaakkk
"Papa, setega ini papa padaku!" Ujar Azzam, sesaat setelah map yang dipegangnya jatuh. Semua kertas berserakan tak tentu arah.
"Aku akan lebih kejam, jika kamu terus memaksa papa. Sekarang putuskan Azzam, keluar dari rumah ini sekarang juga. Meninggalkan semua kemewahan ini dan kamu tidak akan pernah bisa memilikinya lagi. Atau tetap bertahan di rumah ini, melupakan wanita hina itu!"
"Tidak, aku akan keluar dari rumah ini. Semakin papa mendesakku, semakin aku sadar siapa keluarga ini? Semua yang terjadi masa lalu dan aku siap menghadapinya. Aku percaya Vira akan memaafkanku, tapi seandainya dia membenciku. Aku siap lahir batin, selama aku tidak tinggal di rumah ini!"
"Papa, aku mungkin manja dan lemah. Namun aku bukan pengecut. Jika memang papa ingin membuka masa lalu itu. Silahkan saja, setidaknya aku akan tenang!" Ujar Azzam lantang.
"Angga, berikan pada papa berkas itu. Akan kubuat Vira hancur tak bersisa. Dia harus membenci Azzam, agar tak ada kebersamaan diantara mereka. Layaknya Vira yang membuatku kehilangan para penerusku!" Ujar Arka penuh amarah.
"Papa tidak perlu ini, jika hanya ingin menghancurkan Vira!" Ujar Dimas, sembari merebut berkas dari tangan Angga.
Kreeeekkkk
..."Dimas!" Teriak Angga dan Arka lantang, keduanya marah melihat Dimas merobek berkas. Angga meradang menatap Dimas penuh emosi. Sedangkan Dimas seakan tidak peduli dengan amarah Arka dan Angga....
"Maaf, aku sengaja melakukannya!" Sahut Dimas mengejek amarah Arka dan Angga.
"Dimas!" Teriak Angga lantang, sembari tangannya terangkat ke udara. Sontak Arka menahan tangan Angga. Menghentikan Angga yang akan menampar Dimas.
"Cukup Angga!"
"Kenapa papa membela Dimas? Dia sengaja melakukan ini. Agar kita tidak menyakiti Vira. Dia membela Vira dan menentang kita. Namun papa tetap membelanya. Papa keterlaluan!" Ujar Angga tak terima.
__ADS_1
"Dimas, papa mohon kali ini saja. Kamu tidak ikut campur dengan masalah papa!" Ujar Arka lirih, Dimas menggeleng lemah. Angga melihat lemah Arka di depan Dimas. Dalam hati Angga mengumpat, kenapa Arka begitu menyayangi Dimas? Meski sikap Dimas sudah sangat keterlaluan.
"Maafkan Dimas papa, selama ini menyangkut Vira. Dimas akan selalu ikut campur. Jadi berhenti mengganggu Vira. Jika tidak ingin melihatku menjadi anak durhaka!"
"Kak Angga, aku selalu menghormatimu selama ini. Namun kali ini aku akan melawanmu. Bukan demi Vira semata, tapi demi keadilan yang kamu renggut dari kekuarga Vira. Perbuatan kalian pada ayah dan ibunya, tidak termaafkan. Sudah sepantasnya kalian meminta maaf. Bukan malah menyerangnya dan ingin menghancurkan!"
"Kamu tidak tahu apa-apa Dimas?"
"Aku tahu kak, sangat tahu. Perbuatan Azzam pada ayah Vira. keangkuhanmu pada ibu Vira. Kekejaman papa pada putra Vira. Tak lebih dari paket komplit kejahatan kalian. Namun kalian tak pernah sadar, malah terus ingin menghancurkan Vira. Seolah luka yang kalian tinggalkan masih belum cukup!"
"Om Dimas tahu segalanya!" Ujar Azzam lirih, Dimas mengangguk pelan.
"Bukan hanya aku Azzam, Vira mengetahui semua kebusukan keluarga ini. Termasuk perbuatanmu pada ayahnya. Namun lagi dan lagi Vira harus mengalah, demi tatapan sendu Fatih yang mengharapkan ayahnya!"
"Vira tahu segalanya, tapi dia tetap diam!"
"Vira diam bukan tanpa alasan. Selama ini dia diam dengan mengharapkan kata maaf darimu!" Sahut Dimas, Azzam menunduk lesu.
"Satu hal lagi kak Angga, sebelum kakak berpikir menghancurkan Vira. Sebaiknya kakak periksa, investor terbesar di dua anak cabang perusahaan Atmaja!"
"Maksudmu apa?" Sahut Angga dingin.
"Vira Azza Ifatunnisa, dia investor terbesar. Sekaligus pemilik 51% saham Atmaja Group. Jika kamu ingin menghancurkan Vira, lebih baik siapkan mentalmu sebagai orang miskin!" Ujar Dimas dingin, sembari berlalu meninggalkan Azzam yang tertunduk merasa bersalah.
"Azzam!"
"Ada apa?"
"Ketakutanmu tak lebih dari musuh terbesarmu. Hadapi semua dengan keberanian. Jangan pikirkan hasil akhir, selama kita berusaha. Semua akan terasa nyaman dan melegakan. Pergilah temui Vira, meminta maaf meski terlambat itu jauh lebih terpuji. Daripada terus lari dari tanggungjawab. Ketenangan akan kamu dapatkan, bila rasa bersalahmu hilang!" Ujar Dimas lirih.
__ADS_1
"Om Dimas benar!"