Ikhlas

Ikhlas
Sakit dan Air Mata


__ADS_3

"Fia, batalkan semua rapat hari ini!" ujar Azzam kesal, Fia mengangguk mengerti. Jelas Fia melihat amarah Azzam. Sikap dingin Vira membuat Azzam bad mood. Dia seakan malas melakukan apapun.


Sebaliknya Vira enggan bertemu Azzam, karena dia malas menjadi pusat perhatian. Azzam ya g datang sebagai CEO muda Atmaja. Sudah cukup menyita perhatian para mahasiswa.Vira tidak ingin semua orang mengetahui hubungannya dengan Azzam.


"Kak Azzam, papa memintaku memberikan ini. Sebentar lagi papa datang. Dia akan bicara langsung denganmu!" ujar Nadya, Azzam mengangguk tanpa menatap Nadya.


Azzam menerima berkas dari Nadya. Dia memeriksa sebentar berkas dari Nadya. Lalu memberikannya pada Fia. Azzam melirik jam di tangannya. Waktu setengah jam sebelum penggalang dana semakin habis. Namun sikap dingin Vira tak menghangat. Azzam semakin gusar memikirkan diam Vira yang tanpa alasan.


Vira melirik ke arah Azzam dan Nadya. Sekilas Vira melihat sikap agresif Nadya. Sebaliknya Azzam seakan memberikan kesempatan pada Nadya. Vira mencoba fokus mengerjakan tugas-tugasnya. Kedua jarik lentiknya bermain indah dia atas laptopnya. Vira mengacuhkan keberadaan Azzam dan Nadya yang ada di sampingnya.


"Kak Azzam, papa mengajak kita makan siang. Papa ingin merayakan kerjasamanya denganmu. Tante Melda dan om Angga akan makan bersama kita!" ujar Nadya lantang, seolah ingin Vira mendengarnya. Azzam hanya diam tanpa menyahuti. Azzam pribadi yang bijak. Dia tidak akan mencampuadukkan urusan pribadi dengan pekerjaannya.


Azzam tidak bersikap kasar pada Nadya. Sebab dia ada di samping Azzam, karena urusan bisnis bukan pribadi. Nadya mencoba mendekat dan menggoda Azzam. Dia mencoba menarik perhatian Azzam. Kesempatan yang tak pernah ada selama ini. Sebaliknya sikap diam Azzam, seolah mengiyakan usaha Nadya.


"Fia, jam berapa sekarang? Kapan acara itu dimulai!" ujar Azzam sedikit emosi, Fia menunduk seraya menatap jam. Dia sudah sangat memahami sikap Azzam. Kapan Azzam dalam keadaan tak terkendali?


"Sepuluh menit lagi!" sahut Fia singkat, Azzam diam mendengarkan. Azzam melirik sekilas Vira yang terus fokus pada tugasnya.


"Kak Azzam, aku akan ikut bersamamu. Aku masuk sebagai undangan. Setelah acara ini kita akan makan siang bersama!" ujar Nadya, lagi dan lagi Azzam diam. Mencoba mengerti raut wajah Vira. Tak ada amarah atau rasa cemburu yang dilihat Azzam. Semua tampak tenang dan seolah baik- baik saja.


Abil diam mengamati sikap Vira, dia mengerti sakit yang coba ditahan Vira. Sejak dulu sangat mudah bagi Abil. Memahami isi hati Vira, mulai dari gerak tubuh dan bibirnya. Abil mengerti setiap gelisah Vira.


"Vira, setelah tugasmu selesai. Kita pergi bertiga, sudah lama kita tidak jalan-jalan!" ujar Abil, Vira mengangguk tanpa menoleh ke arah Abil. Seketika Cecil bersorak, setelah sekian lama mereka berteman. Akhirnya hari ini Vira bersedia ikut dengannya.


Azzam melihat jelas anggukan kepala Vira. Tanpa banyak bicara, Vira setuju pergi dengan Abil. Meski ada Cecil, tapi Abil laki-laki yang mampu membuat Azzam cemburu. Vira menghancurkan hati Azzam hanya dengan satu pukulan.


"Vira, kita akan pergi ke pantai pinggir kota. Sudah lama kita tidak melihat senja. Menikmati ikan bakar di malam hari. Lagipula besok hari minggu, jika perlu kamu menginap di rumahku!" sahut Cecil santai, Vira mengangguk setuju. Tak ada penolakan atau sanggahan dari Vira. Azzam menatap lekat Vira, sikapnya berubah tak menentu. Tanpa bertanya atau meminta izin pada Azzam. Vira memutuskan pergi dengan Abil dan Cecil.


"Kak Azzam, tidak perlu peduli pada Vira. Dia sudah punya rencananya. Nanti malam kita juga punya acara. Om Angga akan mengajak kita pergi ke Villa. Setahu aku, semua keluarga inti akan pergi!" ujar Nadya lantang, mencoba memanasi Vira.


"Aku tahu, tidak perlu banyak bicara!" sahut Azzam dingin, Nadya tersenyum penuh kemenangan. Perkataan Azzam barusan, tanpa sengaja menjadi awal hubungan baik diantara Azzam dengan Nadya. Sebaliknya Vira tetap mencoba fokus, meski jelas dia menahan rasa yang tak biasa.


Tepat waktu penggalangan dana dimulai. Fia mencoba mengingatkan Azzam. Namun Azzam diam tak berkutik. Menunggu Vira menahan dirinya untuk tidak pergi. Namun semua sia-sia, Vira terus fokus pada tugasnya. Tak berapa lama, Vira menutup laptopnya. Vira membereskan semua kertas yang berserakan.

__ADS_1


"Pak Arif, kebetulan bapak kemari. Semua tugas sudah saya kirim. Bapak janji akan mengizinkan saya cuti kuliah!" ujar Vira, saat melihat Arif dan Andra asisten Azzam datang. Arif mengangguk mengiyakan, sebaliknya Azzam terkejut mendengar tentang izin cuti Vira.


Azzam berdiri menghampiri Vira, dia menarik tangan Vira. Memaksa Vira menatap wajahnya. Sikap yang sejak tadi coba ditahan oleh Azzam. Vira menatap lekat Azzam, lalu menoleh ke arah Nadya yang selalu ingin menempel pada Azzam. Sontak Vira tersenyum simpul, Vira tersenyum mengingat kisah cintanya. Vira ingin marah, tapi pada siapa? Vira ingin bersandar, tapi pada pundak siapa? Vira ingin menangis, tapi siapa yang akan peduli? Satu hal yang bisa Vira lakukan. Terus ikhlas menjalani, apa yang sedang terjadi pada dirinya?


"Vira, katakan jika aku salah mendengar? Setidaknya katakan padaku, alasan yang membuatmu bersikap seperti ini?" ujar Azzam, Vira diam menunduk. Dengan lembut Vira melepaskan tangan Azzam. Vira menghampiri Nadya yang ada di belakang Azzam. Vira menatap lekat Nadya. Sahabat yang pernah ada dalam suka dan dukanya.


"Nadya, aku tidak tahu, jika rasa cemburu itu sangat sakit. Aku tidak berpikir, rasa takut kehilangan itu menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka, jika patah hati dan tersisih itu begitu menyengsarakan. Kini setelah aku merasakan semuanya. Aku mulai merasa lelah dan sadar diri. Aku tak ingin lagi bersaing denganmu. Aku mengalah, silahkan ambil kembali kak Azzam. Seseorang yang kurebut darimu!" ujar Vira lirih, lalu memutar tubuhnya menjauh.


Azzam diam mematung, mendengar perkataan Vira. Sikap diam Vira yang seolah tanda akan kepergiannya. Azzam menahan tangan Vira, dia bersikap tenang dan menganggap perkataan Vira hanya omong kosong.


"Azzam, kita harus masuk. Kamu tamu kehormatan. Tidak pantas kamu terlambat datang!" ujar Andra, Azzam tak bergeming. Dia menggenggam tangan Vira erat. Andra heran melihat sikap Azzam. Tidak biasanya Azzam bersikap sehangat ini pada wanita.


"Sayang!" ujar Azzam lirih, Vira tak bergeming. Sebaliknya Andra tak percaya dengan pendengarannya.


"Dia siapa?" bisik Andra pada Arif.


"Istri Azzam Atmaja, mahasiswi terbaik di kampus. Pemenang komba desain di perusahaan Atmaja!" sahut Arif, Andra terkejut dengan perkataan Arif.


"Lepaskan, kak Azzam harus segera pergi. Aku juga akan pergi. Sampai berjumpa kembali!"


"Om Angga!" sapa Nadya ramah, dia mendekat lalu mencium tangan Angga Atmaja. Vira melihat kehangatan yang diberikan Angga pada Nadya. Sikap hangat yang tidak pernah diberikan pada Vira.


"Pergilah kak, semua orang menunggumu. Tidak baik tamu kehormatan datang terlambat!" ujar Vira, sembari melepas tangan Azzam pelan.


Vira berjalan menjauh, Abil dan Cecil mengikuti di belakang. Azzam termangu menatap Vira. Entah kenapa sikap Vira berubah? Azzam tidak pernah mengerti yang terjadi. Vira terus berjalan menjauh, Azzam tersadar jika ada yang salah. Dengan langkah lebar, Azzam mengikuti Vira.


"Kita harus bicara, diam tidak akan menyelesaikan masalah!" ujar Azzam sembari menahan tangan Vira.


Angga menghampiri Vira dan Azzam. Dia ingin membawa Azzam ke dalam aula. Acara sudah dimulai, Angga tidak ingin melihat Azzam terlambat.


"Kamu anak ART, jangan menahan Azzam!" ujar Angga emosi.


"Sayang!" sapa Azzam mesra.

__ADS_1


"Lebih baik kakak masuk, aku tidak ingin disalahkan terus. Semua orang akan menyalahkanku, bila kak Azzam terua seperti ini!" sahut Vira, Abil menjadi satu-satunya teman yang Vira.


"Sayang, ada apa?" ujar Azzam, Vira tetap diam. Azzam semakin gelisah melihat perubahan sikap Vira. Sebaliknya Angga merasa menang dengan rencananya.


Tiba-tiba ada kurir yang menghampiri Vira. Dia menerima paket yang cukup besar. Vira menunduk lesu, setetes air matanya jatuh. Tubuh Vira mulai bergetar. Suara isak tangis jelas terdengar telinga Azzam. Vira menangis tanpa berpikir bersandar pada Azzam.


"Sayang!" sapa Azzam mesra, Vira menepis tangan Azzam. Dia berjalan mendekat ke arah Angga. Vira meletakkan paket yang baru saja diterimanya.


Vira menatap lekat Angga, lalu menoleh ke arah Azzam. Abil menghampiri Vira, dia sudah menduga ada yang salah dengan Vira. Abil menepuk pundak Vira pelan. Abil mencoba menjadi perisai Vira. Air mata Vira menjadi semangat Abil untuk membelanya.


"Tuan Angga Atmaja, di dalam paket itu ada uang yang anda berikan pada ibu saya. Jumlah yang sama, dengan uang yang sama. Tidak berkurang satu lembar saja. Silahkan anda hitung, untuk memastikan jumlahnya benar!" ujar Vira dingin, Arif dan Azzam menoleh tak percaya. Seakan perkataan Vira tidak mungkin dilakukan oleh Angga Atmaja.


"Tuan Angga, aku mungkin orang miskin dan hina. Aku mungkin tak pantas bagi putramu. Namun cintaku tak semiskin dan sehina itu. Sampai anda membayar untuk rasa ini. Hari ini aku kembalikan uang anda. Sekaligus putra kebanggan anda. Aku pastikan tidak akan ada hubungan antara diriku dengan putramu. Jangan pernah lagi menyakiti ibuku!" ujar Vira lirih, Angga tersenyum menang.


"Vira, apa yang kamu katakan?" ujar Azzam lirih.


"Tuan Azzam, maafkan aku yang salah mengartikan pedulimu. Seharusnya aku sadar, aku tak pantas menyimpan rasa untukmu. Hari ini aku kalah dan salah. Rasa ini tak pantas ada diantara kita. Aku sudah lelah, semoga anda bahagia bersama Nadya. Maaf aku tidak bisa datang di acara pertunangan kalian!" ujar Vira santai, Azzam meradang mendengar perkataan Vira yang melantur. Azzam mengepalkan kedua tangannya, menandakan betapa marahnya Azzam.


"Vira!" teriak Azzam marah.


"Tuan Azzam Auliqa Putra Atmaja, kembalilah pada keluargamu. Aku tidak pantas untukmu!" ujar Vira, lalu memutar tubuhnya.


Praaayyyrrr


"Selangkah lagi kamu pergi, aku akan memotong nadiku!" ujar Azzam sembari memegang pecahan kaca.


"Tidak perlu lagi darahmu yang mengalir. Kini biarkan darahku yang mengalir. Menggantikan darahmu yang berarti dan air mata terhina ibuku!" ujar Vira sembari merebut pecahan kaca dari Azzam. Vira meremas pecahan kaca, amarah dan rasa sakit hatinya. Seolah menghilangkan rasa sakit ditangannya.


Tes Tes Tes


"Viraaaa!" teriak Azzam dan Abil, darah Vira menetes tanpa henti. Sontak Azzam merebut pecahan kaca dari tangan Vira. Lalu nampak Vira berjalan mundur menjauh dari Azzam.


"Berhenti, tidak ada yang boleh mendekat padaku. Biarkan darah ini menetes, menggantikan air mataku. Setidaknya, kini aku bisa lupa akan rasa sakit dihatiku!"

__ADS_1


"Tuan Angga, hari ini darahku yang mengalir menggantikan air mata ibuku. Jangan pernah hina ibuku dengan hartamu lagi. Jika tidak ingin melihat air mata darah putramu!" ujar Vira lantang.


__ADS_2