
"Terima kasih atas harapan yang tuan berikan. Aku bukan makmum yang pantas untukmu. Kelak akan ada makmum yang jauh lebih baik. Tuan Azzam, aku ingin melihatmu bahagia. Bersama dengan makmum yang pantas bersanding denganmu!" tutur Vira, Azzam menggeleng lemah. Dia tidak ingin mendengar penolakan dari Vira.
Azzam tak lagi mampu menahan rasanya untuk Vira. Dia tak lagi bisa berpikir jernih, seakan hidupnya hanya berputar pada Vira. Jika dipikir dengan tenang. Apa yang dirasakan Azzam seolah tak nyata? Pertemuannya dengan Vira tak terlalu sering. Keintiman keduanya bisa dihitung dengan jari, tapi hati Azzam terlanjur terpikat. Suara merdu Vira saat mengaji menggetarkan hati dan jiwa Azzam.
"Hanya kamu yang aku inginkan!" sahut Azzam, Vira diam membisu. Tak ada yang bisa dikatakan Vira. Seteguh rasa cinta Azzam padanya. Sekuat itu pula penolakan Vira.
Vira menatap sendu wajah Azzam. Wajah pucat Vira mengatakan dengan jelas, betapa dia sedang tidak baik. Sebaliknya Azzam tak lagi mampu berpikir logis. Azzam sangat mengkhawatirkan kondisi Vira.
"Terserah apapun keputusanmu? Aku tidak butuh jawabanmu hari ini. Sekarang bagaimana kondisimu? Kenapa kamu bisa sakit? Kenapa tidak menghubungiku!" cecar Azzam kesal, vira menggeleng lemah sembari tersenyum. Azzam melotot melihat Vira tersenyum. Sekilas ada rasa hangat di hatinya. Azzam bahagia melihat senyum teduh Vira.
"Tuan Azzam, kecemasanmu terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir. Tubuhku memang rentan pada air hujan. Malam itu turun hujan sangat deras. Kebetulan aku tidak membawa payung. Terpaksa aku pulang dengan hujan-hujanan!" ujar Vira santai, Azzam meradang mendengar santainya Vira berbicara.
Spontan Azzam menyentuh dahi Vira.Telapak tangan Azzam bergetar terasa panas. Terlalu panas suhu tubuh Vira sampai membuat Azzam terkejut dan menarik tangannya secepat mungkin. Azzam menggeleng tidak percaya melihat Vira tetap santai meski tubuhnya sangat panas. Sedikitpun tak terdengar Vira mengeluh akan rasa sakitnya.
"Vira, suhu tubuhmu terlalu panas. Aku akan memanggil dokter. Agar kamu mendapatkan penangan lebih baik. Awas saja kamu sampai hujan-hujanan lagi. Seharusnya kamu memintaku mengantarmu pulang!" ujar Azzam marah dengan rasa cemas yang berlebihan.
Vira menatap lekat ke arah Azzam. Dia melihat tuan muda keluarga Atmaja berdiri di depannya. Raut wajah cemas jelas diperlihatkan Azzam. Kecemasan yang menggetarkan hati kosong Vira. Namun sedetik kemudian Vira tersadar akan statusnya. Vira menggeleng lemah membuang semua rasa bahagianya akan perhatian Azzam padanya.
Sedangkan Azzam melakukan hal yang sama pada Vira. Kedua bola matanya mengunci wajah yang sangat dirindukannya. Azzam tidak pernah takut mencintai Vira. Namun mengungkapkan secara terang-terangan tanpa persiapan yang matang. Hanya akan menyakiti Vira saja. Kekuasaan keluarga Atmaja tidak bisa diremehkan begitu saja. Azzam tidak ingin terjadi sesuatu pada Vira atau kehilangan Vira. Melihat Vira sakit saja, Azzam sudah tak bisa berpikir tenang.
__ADS_1
"Terima kasih, tuan Azzam peduli padaku. Dokter sudah melakukan perawatan sesuai kemampuan mereka. Lagipula di puskesmas tidak terlalu banyak dokter. Jadi akan ada giliran saya diperiksa oleh dokter!" ujar Vira lirih, lalu dia memijit kepalanya pelan. Azzam memegang kepala Vira. Sontak Vira tersentak kaget, ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Azzam.
Jika sekali Azzam menyentuhnya, Vira berpikir hanya karena kecemasan Azzam yang berlebihan. Namun kedua kalinya sentuhan Azzam membuat Vira malu sekaligus tidak suka. Azzam melihat raut wajah tidak suka Vira. Dia sadar telah melakukan kesalahan. Rasa khawatirnya seakan salah, sebab Vira bukan mukrimnya.
"Maaf!" ujar Azzam, Vira menoleh membelakangi Azzam. Seketika Azzam mengusap wajahnya kasar. Melihat Vira sakit sudah membuatnya frustasi. Sekarang Vira marah padanya. Azzam semakin kehilangan akal memikirkannya.
"Baiklah, aku akan pergi. Aku harus keluar kota sekarang. Seandainya ini proyek kecil, tentu aku lebih memilih disini menemanimu!" pamit Azzam, Vira diam tak bergeming.
Vira tidak marah akan sikap Azzam. Vira merasa tidak pantas menerima kepedulian Azzam. Vira berpikir dengan mengacuhkan perhatian Azzam. Mungkin bisa membuat Azzam membencinya. Dugaannya benar, sikap acuh dan marahnya membuat Azzam pergi. Vira merasa senang sekaligus kehilangan. Namun Vira harus sadar akan posisinya. Sehingga dia tidak terlalu berharap pada Azzam.
Azzam diam mematung melihat Vira yang mengacuhkannya. Sentuhan Azzam menjadi alasan Vira mengacuhkannya. Sikap bodoh yang dirutuki oleh Azzam dalam hatinya. Tanpa Vira sadari Azzam mengeluarkan ponsel pintarnya. Azzam merubah beberapa pengaturan dalam ponselnya. Azzam mengganti kode ponsel pintarnya. Dia menggunakan nama Vira sebagai kunci akses membuka ponsel pintarnya.
"Aku pergi, tapi akan kutinggalkan ponselku disini. Aku akan menghubungimu, ketika aku tidak sibuk. Jika kamu butuh bantuanku. Kamu tinggal menekan tombol 1. Secara otomatis akan terhubung dengan ponsel pribadiku. Kode ponselku gabungan namamu dan namaku tanpa spasi. Terserah kamu ingin mengabaikan atau menjawab panggilan di ponselku!" ujar Azzam tegas, lalu berbalik meninggalkan Vira.
Vira takkan pernah bersedia menerima ponsel pintar Azzam. Privasi Azzam ada dalam ponsel itu, sangat tidak mungkin Vira mengetahuinya. Bukan hanya kehidupan pribadi Azzam, tapi seluruh pekerjaan Azzam tersimpan rapi di memori ponsel. Vira tidak bisa membayangkan, jika keluarga Atmaja mengetahui semua ini.
"Ambil kembali ponsel tuan. Aku tidak bisa menggunakan ponsel. Lagipula ponsel ini barang yang sangat penting untuk tuan. Sebaiknya tuan Azzam gunakan sendiri!" tolak Vira ramah, Azzam menoleh. Vira melihat Azzam berjalan menghampirinya.
Azzam mendekat pada Vira, kedua tangannya menempel di tempat tidur menopang tubuh Azzam. Wajah Azzam dan Vira sangat dekat. Azzam bisa merasakan hembusan napas Vira. Detak jantung Vira berpacu saat menatap kedua mata indah Azzam.
__ADS_1
"Kamu terima ponsel itu atau aku yang akan berada disini menunggumu sampai sembuh. Mungkin cemasku hanya permainan bagimu. Tapi sejujurnya jika aku harus bekorban. Maka akan kukorbanku semua proyekku demi bisa bersamamu. Di dalam ponsel itu, tidak ada yang jauh lebih penting dibandingkan dirimu. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa memeriksa semua isi ponselku!"
"Tidak ada hakku melakukan itu!"
"Kamu berhak, karena aku yang memberikan hak itu!" sahut Azzam dingin, Vira menggeleng menolak.
"Tuan Azzam, aku mohon ambil kembali ponsel tuan. Aku tidak bisa menggunakannya, sebab aku gagap teknologi. Sekaligus aku tidak pernah menggunakan ponsel!"
"Kamu murid dengan kepintaran di atas rata-rata. Sangat mudah bagimu mempelajari cara menggunakannya!" sahut Azzam dingin, dengan posisi yang masih sama. Keduanya merasakan desiran hangat yang menggetarkan hati masing-masing.
"Lebih baik aku menemanimu, agar aku merasa tenang. Sebab kamu menolak pemberianku!" ujar Azzam memaksa.
"Tuan Azzam!" ujar Vira lirih sembari menangkupkan tangan di depan dadanya. Azzam menggeleng lemah.
"Terima atau aku tinggal!" ujar Azzam tegas, lalu mundur menjauh dari wajah Vira. Azzam menarik kursi tepat di samping tempat tidur Vira.
"Baiklah!" sahut Vira lemah. Azzam tersenyum simpul, lalu menghampiri Vira. Seketika Vira menjauhkan wajahnya dari Azzam. Detak jantung Vira masih berdetak hebat. Tidak mungkin dia berani mendekat pada Azzam. Jika tidak ingin jantungnya meledak.
"Kamu segalanya dalam hidupku. Kamu berhak atas hidupku. Kamu semangat dalam hidupku. Jadi jangan pernah berusaha menjauh dari hidupku. Jika tidak ingin melihatku hancur!" ujar Azzam, lalu membelai kepala Vira yang tertutup hijab.
__ADS_1
Kedua bola mata Vira membulat sempurna melihat sikap hangat Azzam. Perlakuan Azzam membuat Vira tersipu malu. Vira menutup rapat kedua matanya. Dia takut tidak bisa mengendalikan hawa napsunya. Vira takut menatap ketampanan Azzam. Ketampanan yang kelak membuatnya terjerumus pada rasa yang salah.
"Kelak aku akan membuatmu halal untukku!" bisik Azzam tepat di telinga Vira.