Ikhlas

Ikhlas
Imam Pilihanku


__ADS_3

"Assalammualaikum, imam pilihanku!" sapa Vira ramah dan ceria.


Seketika Azzam meletakkan berkas yang sedang di pegangnya. Azzam menoleh ke arah Vira. Suara yang lama tak di dengarnya, nyata menyapan dengan senyum yang begitu manis. Sepintas Azzam merasa heran melihat kedatangan Vira. Apalagi Vira datang di pagi hari dengan membawa nampan berisi sarapan untuknya.


Azzam meletakkan berkasnya begitu saja. Dia menatap lekat Vira yang berjalan perlahan ke arahnya. Tak ada amarah atau rasa sakit yang nampak di wajah Vira. Sebaliknya Azzam melihat senyum tulus yang seakan ingin menunjukkan rasa bahagia Vira. Azzam merasa heran melihat sikap Vira. Namun disisi lain, Azzam bahagia ketika bisa melihat senyum Vira. Senyum yang sempat menjauh darinya. Senyum yang pudar bersamaan dengan rapuh dirinya.


"Kenapa malah diam? Seharusnya kak Azzam menjawab salamku. Ingat kak Azzam, salam itu doa bagi yang mendengar dan menyahutinya!" ujar Vira dengan riang, Azzam menatap heran Vira. Seolah dia tak percaya dengan sikap hangat Vira. Sikap hangat yang seakan menjadi isyarat kepergian Vira.


Azzam diam mengamati wajah Vira. Mencari alasan senyum dan riang Vira. Azzam tak ingin tertipu dengan sikap manis. Jika sikap itu hanya sementara dan akan hilang selamanya. Azzam tak berkedip menatap Vira. Azzam mencoba mencari celah, alasan dibalik sikap hangat Vira. Namun semua sia-sia, saat Vira terus tersenyum sembari melihat ke arah Azzam. Tak ada kepalsuan yang terlihat, bahagia yang Vira tunjukkan nyata dan tulus tanpa pura-pura.


"Kak Azzam, aku tadi mengucapkan salam!" ujar Vira dingin, Azzam tersadar dari lamunannya. Azzam mengangguk pelan, isyarat dia mengerti maksud Vira. Sebaliknya Vira mulai kesal dengan sikap Azzam.


Vira menjauh dari Azzam, dia enggan mendekat ke arah Azzam. Sampai Azzam menyadari kesalahannya. Azzam terkekeh melihat Vira yang merajuk. Vira membuat Azzam bahagia dengan sikapnya. Azzam merasa berarti saat Vira merajuk dan bersikap manja padanya.


"Sayang, mendekatlah aku ingin bicara!" ujar Azzam, Vira diam membisu. Dia tak ingin mendekat pada Azzam. Ucapan salam Vira tulus untuk Azzam, tapi sepertinya Azzam mengacuhkannya. Vira merasa kesal melihat sikap acuh Azzam.


"Waalalaikumsalam, makmum dunia akhiratku!" ujar Azzam lirih, Vira tetap tak bergeming. Dia terlanjur kesal dengan sikap Azzam. Sebaliknya Azzam merasa bahagia melihat sikap kekanak-kanakan Vira. Tidak setiap hari Vira bersikap seperti ini. kemandirian Vira terkadang membuatnya dewasa. Sehingga selalu berdiri sendiri, tanpa bantuan Azzam. Sikap yang terkadang membuat Azzam merasa tak dibutuhkan.


"Sayang, aku hitung sampai tiga. Jika kamu tidak menghampiriku. Aku yang akan menghampirimu!" ujar Azzam, sontak Vira menggeleng lemah.

__ADS_1


Vira tidak akan keberatan, jika Azzam menghampirinya dalam keadaan sehat. Namun kondisi Azzam belum memungkinkan. Selang infus masih terpasang di telapak tangannya. Dengan langkah pelan, Vira mendekat ke arah Azzam. Vira terpaksa diam saat melihat Azzam bekerja. Vira tidak ingin melihat Azzam jenuh. Hanya dengan bekerja, Azzam bisa lupa akan rapuh dan hancurnya.


"Selalu mengancam!" sahut Vira kesal, sembari duduk di dekat Azzam.


Vira memangku nampan berisi sarapan untuk Azzam. Setelah sholat subuh, sengaja Vira datang ke rumah Atmaja. Meski semalam Vira pulang larut malam. Sepagi mungkin Vira berusaha datang ke rumah Azzam. Vira ingin membuatkan Azzam sarapan. Sekaligus menyiapkan semua keperluan Azzam selama sehari. Vira mungkin tidak tinggal di rumah Atmaja, tapi Vira tetap istri Azzam. Dia wajib merawat dan menjaga Azzam. Kewajiban yang akan terus ada, meski mereka tidak tinggal di bawah atap yang sama.


"Jika aku tidak mengancam dengan sakitku. Aku yakin kamu akan semakin menjauh dariku. Apapun sanggup kulakukan, selama aku bisa berada di sampingmu!" ujar Azzam, Vira menunduk lesu.


Vira menghela napas panjang. Seandainya rasa diantara mereka tidak pernah ada. Mungkin tidak akan Azzam lemah dan rapuh. Sebaliknya takkan pernah Vira hancur dan sakit. Rasa cinta yang harus dibayar mahal oleh Azzam dan Vira. Status yang ada, seolah benteng tinggi yang tak mudah ditembus.


"Baiklah, apapun yang ingin kak Azzam lalukan. Selama itu tidak menyakitimu, aku akan memaafkannya. Namun jika sekali lagi kak Azzam rapuh dan memilih hancur demi diriku. Saat itu juga kak Azzam akan kehilanganku. Aku tidak akan datang menemuimu!" ujar Vira dingin dan tegas, Azzam menarik tangan Vira. Azzam menggenggam erat tangan Vira. Dia menggelengkan kepalanya tidak setuju perkataan Vira.


"Jangan pergi!" ujar Azzam sembari menggenggam tangan Vira. Sontak Vira mengangguk mengiyakan. Vira tidak akan pergi selama dia mampu menahan hinaan Angga. Namun saat Vira merasa lelah, dia akan pergi tanpa banyak bicara.


"Sekarang makanlah, aku sengaja membuatkan kak Azzam bubur. Setelah menyuapimu, aku harus pergi ke kampus. Nanti setelah pulang kampus, aku akan datang kemari!" ujar Vira lirih, Azzam menolak sarapan. Mulutnya masih terasa pahit. Azzam enggan mengunyah makanan. Selama seminggu dia tidak makan. Sehingga Azzam mulai kehilangan napsu makannya.


"Baiklah, aku akan pergi. Percuma aku berada disini. Aku berjalan kaki di pagi buta. Hanya untuk membuatkanku sarapan. Tapi ternyata kamu menolak memakannya. Lebih baik kamu minta koki dapurmu atau Nadya membuatkab kak Azzam sarapan!" ujar Vira kesal, lalu meletakkan napan ke atas meja nakas.


Vira berdiri menjauh dari Azzam. Namun dengan sigap, Azzam menarik tangan Vira. Keras tarikan Azzam, membuat Vira jatuh ke dalam pelukan Azzam. Seketika Azzam memeluk tubuh Vira erat. Azzam mencium tengkuk Vira lembut.

__ADS_1


"Sayang, aku akan memakannya. Maaf jika aku membuatmu kecewa. Jangan marah padaku, aku benar-benar minta maaf. Satu hal lagi, jangan pernah menyebut nama Nadya di depanku. Kamu tahu benar, aku tidak pernah mengenalnya dulu atau sekarang!" bisik Azzam mesra, Vira mengangguk kikuk.


"Sekarang lepaskan aku, biarkan aku menyuapimu. Aku harus segera ke kampus!" ujar Vira, Azzam mengangguk. Vira menyuapi Azzam dengan telaten. Entah kenapa Azzam menurut saat Vira menyuapinya? Napsu makan yang menghilang. Serta merta ada, sampai Azzam bisa menghabiskan sarapannya.


"Sayang, kenapa kamu tidak ikut sarapan bersamaku?" ujar Azzan heran.


"Aku sedang puasa!" sahut Vira singkat sembari mengutas senyum simpul.


TOK TOK TOK


"Permisi mbak Vira. Pakaian tuan Azzam, saya letakkan dimana?" ujar salah satu ART di rumah Azzam. Mbak Asih biasanya Vira memanggilnya. Vira menghampiri Asih yang berdiri di depan kamar Azzam. Vira mengambil keranjang pakaian dari Asih. Pakaian Azzam yang tadi pagi disetrika Vira.


"Terima kasih mbak Asih!" ujar Vira.


"Mbak Asih, pakaian tuan Azzam biarkan saja. Jangan dicuci atau disetrika. Nanti sepulang saya kuliah akan saya kerjakan!" ujar Vira lirih, Asih mengangguk lalu pamit kembali ke dapur.


"Sayang, kenapa kamu yang mengerjakan semuanya? Kamu istriku bukan ART rumah ini!" ujar Azzam marah, Vira tersenyum menatap Azzam.


"Aku bukan ART rumah ini, aku istrimu. Seorang pendamping sekaligus ART yang mengurus semua keperluanmu. Aku melakukan semua ini, bukan ingin dipuji. Namun kulakukan semua ini demi surga yang ada di telapak kakimu. Aku akan mengabdi padamu. Sampai aku lelah, yang akhirnya aku kalah. Namun percayalah, kamu imam pilihanku sekaligus pemilik surga yang kuimpikan!" sahut Vira tegas dan hangat.

__ADS_1


"Terima kasih atas rasa percaya dan cintamu!" ujar Azzam tegas.


__ADS_2