
"Azzam, semua informasi yang kamu inginkan ada di dalam. Aku sendiri yang mengumpulkan semua itu. Aku melihat semuanya sendiri!" ujar Andra tegang, sembari meletakkan sebuah berkas bermap warna merah.
Azzam menatap lekat Andra, dia menerima gelagat yang tidak baik dari Andra. Azzam bisa merasakan, jika ada yang salah dalam berkas yang dibawa Andra. Sebuah rahasia yang akan membuat Azzam terkejut. Bahkan mungkin Azzam akan histeris sekaligus tidak percaya. Azzam mengambil berkas di depannya, bersamaan dengan helaan napas panjang Andra.
Azzam semakin penasaran dengan isi berkas yang dibawa Andra. Sikap Andra seolah menunjukkan ada hal yang tak bisa diterima Azzam. Dengan perlahan Azzam membuka berkas berisi informasi tentang Vira. Halaman demi halaman dibuka oleh Azzam. Tepat di halaman terakhir, kedua bola mata Azzam membulat sempurna.
Azzam melihat dengan hati yang berdetak hebat. Rasa penasaran akan sikap Andra terjawab sudah. Kepedulian Andra akan rasa sakit Azzam. Jelas terlihat kala Andra takut Azzam melihat kenyataan yang ada. Foto-foto yang menjawab semua pertanyaan dalam hati dan benak Azzam. Terdengar helaan napas panjang Azzam. Bersamaan dengan berkas yang diletakkan Azzam. Seakan tak lagi Azzam melihat semua fakta yang ada.
"Kini aku mengerti, kenapa aku begitu takut kehilangan Vira? Ternyata hatiku lebih dulu merasakan. Jika Vira tidak akan menjadi milikku seutuhnya!" ujar Azzam lirih, seraya menunduk.
Andra menatap lekat sahabatnya. Fakta yang digalinya, membuka tabir kelam yang tertutup rapat. Mungkin Azzam tidak perlu takut kehilangan Vira. Namun sosok yang selama ini menghilang. Kini kembali mengisi hari-hari Vira. Azzam diam termenung mengingat jalan hidup yang tertulis untuknya. Dia merasakan kebahagian setelah bertahun-tahun. Namun kembali dia harus merasakan pahit perpisahan. Kini Azzam harus siap menerima rasa sakit yang jauh lebih parah. Ketika kedua matanya melihat Vira bersama dengan orang lain.
"Azzam, apapun yang kami pikirkan? Belum semuanya benar. Namun pemikiranmu tidak salah. Cepat atau lambat Vira akan menyadari keberadaannya!" ujar Andra lantang, Azzam diam menunduk. Lagi dan lagi Andra mendengar helaan napas Azzam. Ketakutan yang seolah benar dan akan segera datang.
__ADS_1
"Maksudmu? Mereka belum bertemu!" ujar Azzam, Andra mengangguk tegas.
"Vira belum menyadari, sosok dibalik mega proyek yang dikerjakannya. Vira menerima proyek ini, karena proyek ini impian Vira sejak dulu. Tanpa peduli berapa yang dia dapatkan? Atau dengan siapa dia bekerjasama? Vira hanya peduli impian dan harapannya segera terwujud. Meski demi semua itu Vira harus bekorban begitu besar. Jauh dari Fatih buah hatinya!"
"Tidak mungkin mereka tak saling mengenal. Dari semua foto yang kamu daparkan. Jelas terlihat dia ada tepat di samping Vira!" ujar Azzam menyanggah perkataan Andra. Seketika Andra menggeleng tak setuju. Andra menyadari rasa pesimis Azzam yang semakin besar. Ketakutan akan cinta Vira yang menjauh. Kebersamaannya dengan Vira yang seolah takkan pernah terwujud. Menambah rasa tak percaya Azzam akan bahagianya dengan Vira.
"Itulah perbedaanmu dengannya. Kamu mencintai Vira dengan hati yang rapuh. Kamu takut kehilangan Vira, tapi tak pernah berjuang mendapatkan Vira. Kamu angkuh akan cinta yang ada dihatimu. Kamu selalu diam di tempat dan menyerah akan cinta kalian. Sebaliknya dia mencintai Vira dengan hati yang teguh. Dia ikhlas menatap kebahagian Vira bersama orang lain. Namun dia siap kehilangan segalanya demi Vira. Bahkan melupakan siapapun yang menyakiti Vira? Bukan untuk mendapatkan Vira, tapi ikut peduli akan rasa sakit yang dialami Vira. Dengan satu kata dari Vira. Dia siap merangkul atau menjauh dari Vira!" ujar Andra mencoba memberi pengertian pada Azzam.
"Azzam!" sapa Andra, Azzam diam menatap langit biru.
Harapan Azzam yang memudar dan ketakutan akan kehilangan Vira. Membuat Azzam terdiam menyadari. Jika cintanya hanyalah rasa tanpa keikhlasan. Dia menginginkan Vira, tanpa berpikir mengejar dan berjuan demi rasanya. Cinta yang berdasar napsu semata, tanpa rasa tulus dan ikhlas melepas atau berjuanga.
Andra berdiri menghampiri Azzam. Menepuk pundak sahabatnya pelan. Memberikan semangat pada Azzam. Agar bersedia berjuang demi rasa yang ada untuk. Bukan pasrah dan mengaku kalah tanpa berusaha mendapatkannya. Andra menatap Azzam lekat, melihat rapuh tanpa kuat sahabatnya. Perkataannya nyata membuat Azzam menyadari. Sikap angkuh yang selama ini membuatnya kehilangan Vira.
__ADS_1
"Azzam, bukan saatnya kamu diam dan menyesali. Dia ada bukan untuk merebut Vira. Meski dia menyimpan rasa untuk Vira. Jika kamu memang mencintai Vira. Buktikan pada Dia, kamu layak membahagiakan Vira. Agar dia menyadari, Vira bahagia bila bersamamu dan Fatih. Kejar Vira, perjuangkan cinta kalian. Aku percaya waktu telah membuktikan kuat cintamu. Waktu juga yang menjadi saksi, jika dia mencinta tapi tanpa balasan!" ujar Andra, Azzam menggeleng lemah. Seolah menyadari sikapnya selama ini salah.
"Andra, bukan dia yang akan merebut Vira. Tapi sejak awal akulah perebut itu. Dia dan Vira sejatinya bersatu. Seandainya aku tak pernah hadir diantara mereka. Dia begitu teguh mencintai Vira. Sedangkan aku mencintai Vira dengan keangkuhan seorang Atmaja. Tanpa kusadari cintaku menyakiti Vira. Bukan membahagiakan Vira. Fatih mungkin buah cintaku, tapi dia bukti nyata rasa sakit Vira!"
"Azzam tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Fatih kebahagian Vira, dia pengikat kalian. Jangan sangkut pautkan Fatih dengan semua ini!"
"Andra, aku sangat mencintai Vira. Namun ketakutan yang kurasakan, tak lebih dari kegelisahan seorang perebut. Aku yang tak pantas ada diantara mereka. Seandainya aku menyadari sejak dulu. Tidak akan pernah Fatih terlahir. Vira akan bahagia bersama dia. Orang yang tulus mencintai Vira. Menjadikan impian Vira tujuan hidupnya. Bukan laki-laki yang hanya ingin bersama, tapi tak pernah memahami luka Vira!" ujar Azzam lirih, lalu tangannya mengepal menghantam jendela kaca. Andra bersandar pada jendela kaca tepat di depan Azzam.
Andra menatap ke atas langit ruangan Azzam. Andra tersenyum simpul mendengar perkataan Azzam. Andra menertawakan sikap lemah Azzam. Menyerah ketika Azzam harus berjuang.
"Semua tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Jika kamu ingin menyerah, silahkan saja. Anggap cintanya lebih tulus untuk Vira, tapi Vira memilih cintamu yang lemah dan angkuh. Tanpa kamu menyerah, dengan mudah Vira bisa memilihnya. Namun Vira memilih menjauh darinya. Memutuskan hubungan diantara mereka. Bukan karena cintamu lebih besar dari cintanya, tapi karena kamu imam yang dipilih Vira!" ujar Andra, lalu menjauh dari Azzam.
"Satu hal lagi Azzam, Vira mengubur rasa sakitnya demi bersama denganmu. Menelan kepahitan akan hinaan keluargamu. Vira tidak pernah menyerah akan hinaan keluargamu. Dia berjuang membuktikan diri menjadi yang terbaik. Sungguh bodoh Vira mencintai laki-laki sepertimu!" ujar Andra tepat di depan pintu ruangan Azzam.
__ADS_1