Ikhlas

Ikhlas
Farah Nada Maulida


__ADS_3

"Mama, boleh Fatih masuk!" Ujar Fatih, tepat setelah mengetuk pintu kamar Farah. Fatih sengaja menemui Vira, sebab dia ingin mengatakan sesuatu yang sedikit penting.


"Masuk sayang!" Sahut Vira hangat, Fatih mengangguk mengiyakan. Fatih melangkah tegap ke dalam kamar Vira. Lebih tepatnya kamar Farah, karena Vira tengah berada di kamar Farah saat ini.


"Dimana Farah? Kenapa aku tidak melihatnya di kamar?" Ujar Fatih, sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar Farah. Fatih heran melihat kamar Farah sepi. Hanya ada Vira yang tengah membersihkan kamar.


Sementara waktu Vira memilih tidur di kamar Farah. Vira ingin menemani Farah, setidaknya sampai Farah nyaman berada diantara keluarganya. Vira mengenal benar sifat Farah yang tak mudah dekat dengan siapapun? Trauma yang dialami Farah tidaklah mudah. Banyak hal yang membuat Farah merasa takut berada di lingkungan asing. Meski sebenarnya Farah pribadi yang mandiri. Dia tidak akan meminta bantuan orang lain. Jika memang Farah bisa melakukannya sendiri.


"Dia sedang keluar bersama om Rayyan. Ada apa mencari mama?" Ujar Vira hangat, Fatih tersenyum simpul. Vira menggeleng lemah, dia tak percaya Fatih layaknya anak kecil yang tengah merindukkan kasih sayangnya.


"Apa mama akan kembali bersatu dengan tuan Azzam?" Ujar Fatih ragu, Vira menoleh tak mengerti.


Ada sesuatu yang aneh dari tatapannya. Panggilang Fatih pada Azzam, sedikit melukai hati Vira. Sejak dulu Vira tak pernah mengajarkan pada anak-anaknya sikap tak sopan. Apalagi pada Azzam ayah kandung mereka. Panggilan yang disematkan Fatih pada Azzam, seolah ingin mengatakan pada dunia. Jika Azzam bukan siapa-siapa dalam hidupnya? Jelas Vira melihat kebencian yang begitu dalam dihati Fatih. Azzam benar-benar tak memiliki tempat di hati Fatih putranya.


"Apa itu yang kamu harapkan?" Ujar Vira, Fatih menggeleng lemah.


Gelengan kepala Fatih membuat Vira semakin yakin. Tak ada nama Azzam dalam hati Fatih. Pernikahan Vira yang berakhir, seakan benar dan harus terjadi. Fatih tak menginginkan hubungan lebih dengan Azzam. Secuil harapan agar kedua orang tuanya bersatu. Menjadi harapan yang tak mungkin ada dalam benak Fatih.


"Kenapa? Dia papamu, seharusnya kamu ingin kami bersatu!" Ujar Vira heran, Fatih menggelengkan kepalanya lemah. Seolah Fatih benar-benar tak ingin mengenal Azzam. Vira sangat menyesal telah meninggalkan Fatih. Jika kenyataannya, Fatih jauh dari Azzam.


"Tuan Azzam hanya ayah secara biologis!" Ujar Fatih lantang, Vira menatap lekat Fatih.


Vira menghela napas panjang, jelas Fatih tak mengharapkan Azzam menjadi ayahnya. Jawaban lantang Fatih, membuat Vira merasa bersalah telah meninggalkan Fatih. Bukan karena Fatih tumbuh tanpa didikannya. Namun seandainya Vira ada mendampingi Fatih. Tentu Fatih tidak akan sedingin ini pada Azzam. Vira benar-benar merasa bersalah pada Azzam.


"Fatih, dia ayahmu!" Sahut Vira lantang, Vira marah mendengar perkataan Fatih yang tak menghargai Azzam. Namun Fatih seolah tak peduli akan amarah Vira. Bagi Fatih, Azzam tak pernah menjadi ayah kandungnya. Hanya darah yang membuat status mereka sebagai ayah dan anak.


"Aku tidak mengharapkan kenyataan itu!" Sahut Fatih tanpa ragu.


Vira menghampiri Fatih, dengan penuh kasih sayang. Vira menepuk pundak Fatih. Menenangkan amarah yang nyata ada untuk Azzam. Vira melihat keteguhan hati yang tak bisa dicegah. Fatih benar-benar tak ingin mengenal Azzam sebagai ayah kandungnya.


"Pantas, papamu terlihat lemah dan frustasi!" Ujar Vira datar.


Vira mengingat kejadian pagi tadi. Saat dua mata bertemu setelah dua puluh tahun terpisah. Azzam nampak rapuh dan sakit menerima penolakan demi penolakan dari Fatih. Kebenaran yang semakin benar, setelah Fatih mengatakannya tanpa rasa takut. Fatih menolak kasih sayang Azzam tanpa ragu. Menepis kasar tangan yang ingin memeluknya.


FLASH BACK


"Mama, jangan pernah tinggalkan Fatih!" Pinta Fatih memelas.


"Mama akan disini, takkan mama pergi lagi!"


"Mama janji!" Ujar Fatih sembari memeluk erat Vira.


"Mama janji!" Sahut Vira sembari mengedipkan mata. Vira mengisyaratkan dia akan selalu ada untuk Fatih putranya. Sudah cukup Vira berlari, hari ini dia kembali untuk tinggal selamanya.


"Vira!"


"Mas Azzam!" Sahut Vira datar, sembari memeluk Fatih.


Azzam dan Vira saling memandang. Cinta yang telah tenggelam selama dua puluh tahun lalu. Kini nyata terasa menyergam ke dalam hati Azzam. Guratan-guratan usia di wajah Vira. Tak mampu merubah rasa indah itu. Nyata Azzam merasakan kebahagian dan cinta yang begitu besar. Bayangan akan menyatu cinta dengan Vira. Pupus tak tersisa, kala tatapan dingin Vira dan sikap datar Vira padanya. Azzam hanya bisa menghela napa panjang. Pasrah akan sikap tanpa ada rasa cinta yang Vira tunjukkan.


"Kamu benar-benar Vira!" Ujar Azzam tak percaya.


Azzam mencoba bersikap biasa, menutupi kegundahan hatinya. Azzam bingung hendak menyapa atau pura-pura tidak mengenali Vira. Namun kerinduan di hati Azzam tak lagi bisa dicegah. Kakinya seolah melangkah sendiri menemui Vira. Langkah yang begitu ringan tanpa beban.


Vira lepaskan pelukan Fatih, menatap lurus Azzam yang berdiri tegak di depannya. Azzam nampak gagah dan tampan sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Guratan usia tak membuatnya lemah dan menua. Laki-laki yang pernah ada dan mengisi hati kosong Vira. Ayah yang merindukan kasih sayang Fatuh putranya. Hangat peluk anak yang tak pernah dia besarkan.


"Fatih, mama ingin bicara dengan papa. Kamu kembali ke atas panggung. Lihat di sana, mereka menunggumu untuk naik ke atas!" Pinta Vira ramah, Fatih menggeleng. Tangannya menggenggam erat Vira.


Fatih bak bocah berusia lima tahun. Bocah yang takut kehilangan ibunya. Tak ada lagi Fatih yang dingin dan pendiam. Fatih terlihat lemah dan manja pada Vira. Namun dengan penuh kasih sayang, Vira memberikan pengertian. Meminta Fatih melepaskan tangannya. Agar Vira bisa bicara dengan Azzam secara pribadi.


"Mama mohon, naiklah ke atas. Mama harus bicara dengan papa!"

__ADS_1


"Mama tidak akan pergi!"


"Mama akan tetap di sini menemanimu. Jika memang mama ingin pergi. Lalu, kenapa mama kembali hari ini?" Ujar Vira tegas, tapi hangat penuh kasih sayang.


"Baiklah!" Sahut Fatih dengan anggukan kepala. Dengan langkah berat, Fatih berjalan menuju podium.


Tap Tap Tap


"Papa!" Sapa Nafisa.


"Putrimu!"


"Iya!" Sahut Azzam kikuk.


"Cantik seperti ibunya!"


"Tante kenal dengan mama!"


"Tentu tante kenal dengan mamamu. Dia wanita yang baik. Dia sahabat tante, kamu cantik seperti dirinya. Mata yang kamu miliki persis seperti mata indah Nadya!"


"Vira cukup, kita harus bicara!" Bentak Azzam.


"Papa, kenapa membentak tante cantik?" Sahut Nafisa lirih.


"Cantik, tante harus bicara dengan papa. Boleh tidak tante meminjam papa!" Ujar Vira ramah dan lembut.


"Tante,...!"


"Aku bukan barang yang bisa dipinjam!" Sahut Azzam sinis memotong perkataan Nafisa.


"Kamu masih sama!" Gumam Vira.


"Tunggu Vira!"


"Hmmm!" Sahut Vira, lalu menoleh ke arah Azzam.


"Sikapmu begitu tenang, seolah dua puluh tahun kepergianmu. Tak lebih dari 1 hari kamu menghilang. Tidakkah kamu merasa sikap tenangmu sangat keterlaluan!" Ujar Azzam tak percaya.


"Mas Azzam, dua puluh tahun sudah kita lewati dengan cara berbeda. Tidak perlu ada yang disesali. Kamu bahagia dengan keluarga kecilmu. Fatih sukses menggapai prestasi bersama adik-adikku. Aku tenang bersama kenangan keluarga kecilku. Lantas, dimana letak sikap tak pantasku?" Ujar Vira lirih, lalu melangkah keluar dari aula. Vira merasa tidak nyaman berdebat di depan banyak orang.


"Tapi Vira!"


"Cukup mas, kita bicara di luar!" Ujar Vira tegas. Vira melangkah menjauh, tanpa peduli Azzam mengikutinya atau tidak. Vira tak ingin menjadi tontonan, apalagi dalam acara penting putranya. Vira melangkah lebar, dia benar-benar ingin pergi. Namun langkah kakinya terhenti, ketika dia melihat Nafisa berdiri mematung


"Cantik, ikut bersama tante dan papa!" Pinta Vira, Azzam terkejut. Raut wajahnya berubah pias, ada rasa tak suka mendengar Vira mengajak Nafisa.


"Jika Nafisa mengangguk, artinya tidak akan pernah ada penjelasan yang kudapatkan dari Vira!" Batin Azzam, sembari menatap lekat Nafisa yang bingung mendengar permintaan Vira.


"Tidak terima kasih tante, Nafisa ingin melihat acara kelulusan kak Fatih!" Tolak Nafisa ramah, Vira mengangguk pelan. Nafisa berlari menuju tempat duduknya. Sedikitpun Nafisa tak terusik dengan perdebatan Vira dan Azzam.


Akhirnya Vira berjalan ke luar dari gedung pertemuan. Vira melangkah anggun keluar menuju taman kampus. Azzam mengikuti langkah tegas Vira. Sosok yang sangat dirindukan Azzam. Cinta yang takkan pernah pupus, terhapus jarak dan waktu. Keduanya sampai di taman kampus yang indah. Nampak danau buatan yang sengaja dibangun untuk menambah keindahan.


"Mama!"


"Dimana om Rayyan?" Sahut Vira, dengan isyarat mata sang gadis menunjuk ke arah jam 12. Nampak Rayyan tengah membeli sesuatu. Lebih tepatnya minuman untuk sang gadis.


Vira tersenyum sembari mengelus lembut hijab sang gadis. Farah Nada Maulida, gadis cantik nan anggun. Seorang gadis yang lahir dengan sedikit kelemahan, tapi memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh semua orang. Farah lahir dalam kondisi prematur. Sehingga Farah memiliki kelemahan dalam menopang tubuhnya. Farah harus menggunakan tongkat atau kursi roda. Namun dibalik lemahnya, Farah bukan gadis biasa. Dia seorang penghapal Al Quran. Kemampuannya dalam menghapal, membuatnya mencintai Al Quran melebihi dirinya sendiri.


Farah putri kecil yang lahir dari rahim Vira. Adik yang tak pernah dikenal oleh Fatih. Putri yang tak pernah diketahui oleh Azzam. Farah lahir saat kondisi Vira yang tertekan. Kehancuran pernikahannya, perpisahan dengan Fatih putranya. Menjadi faktor utama tekanan dalam hidup Vira. Alasan yang membuat Farah lahir tak sempurna.


"Vira dia?" Ujar Azzam penasaran. Vira menoleh ke arah Farah, lalu mengangguk pelan. Azzam terhenyak, dia terkejut melihat anggukan kepala Vira. Sebuah anggukan yang seolah ingin mengatakan. Jika Vira baik-baik saja tanpa dirinya.

__ADS_1


"Dia Farah Nada Maulida, putriku!" Ujar Vira lantang.


Duaaarr


Bak sebuah bom meledak di depannya. Perkataan Vira membuat Azzam terkejut. Perkataan Vira yang begitu lemah, sukses membuat Azzam hancur dan rapuh.


"Kamu sudah menikah!" Ujar Azzam tak percaya. Vira diam tak menjawab rasa penasaran Azzam. Sebaliknya seutas senyum terpancar dari wajah Vira.


Vira duduk berjongkok di depan Farah. Dengan lembut Vira menggenggam tangan Farah. Vira mencurahkan kasih sayang kepada Farah putri tercintanya. Kasih sayang yang mungkin dirindukan dan sangat diharapkan oleh Fatih dan Azzam.


"Dia alasanku bertahan menjalani hidup yang begitu berat. Senyumnya obat penyembuh luka yang aku rasakan. Lemahnya yang membuatku kuat berdiri sendiri tanpa siapapun? Menjauh bahkan melupakan masa lalu yang menjadi alasan di lahir tak sempurna!"


"Mama, maafkan Farah!" Ujar Farah lirih, Vira menggeleng lemah. Dengan penuh kasih sayang, Vira memeluk erat Farah.


"Dia papamu Farah, dia laki-laki yang selama ini kamu tanyakan. Jika Farah ingin, mama bisa meminta papa membawa Farah jalan-jalan. Atau Farah ingin mengenal papa lebih dekat!" Bisik Vira, Farah menggeleng dengan tegas.


Sontak Vira melepaskan pelukannya. Vira menatap nanar wajah putri kecilnya. Vira mencoba mencari arti kebohongan dalam keputusan Farah. Namun semua sia-sia, Farah benar-benar tidak ingin mengenal Azzam.


"Kenapa Farah?" Ujar Vira tak percaya, Farah menggeleng lemah. Farah menunduk, seolah tak ingin ada pertanyaan lagi dari Vira.


"Baiklah mas Azzam, kita sudah berada di luar. Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?"


"Aku hanya ingin bicara berdua denganmu!" Sahut Azzam datar, Vira hanya diam. Tak ada kata yang ingin dia ucapkan.


"Maafkan aku, kita tidak lagi berstatus suami istri. Tak pantas rasanya bila kita bicara berdua tanpa ada orang lain!"


"Kamu benar-benar melupakanku!" Ujar Azzam lirih, Vira menunduk menatap tanah merah tempatnya berpijak.


"Dua puluh tahun aku mengubur rasa itu. Jadi jangan pernah ingatkan aku akan rasa yang tak pantas lagi kugenggam!"


"Tapi aku masih mencintaimu!"


"Mas Azzam, kisah kita sudah berakhir dua puluh tahun yang lalu. Tidak sepantasnya kata cinta itu terucap!" Ujar Vira final.


"Baiklah, aku akan diam menahan cinta ini. Namun katakan satu hal padaku. Kenapa kamu pergi meninggalkanku? Menghancurkan keluarga kecil kita yang bahagia. Menjauhkanku dari putra yang sangat aku sayangi!" Ujar Azzam emosi penuh amarah, Vira diam termenung. Tatapannya lurus jauh ke langit. Azzam merasa pantas mendapat jawaban atas setiap lukanya.


"Jawab Vira!" Teriak Azzam emosi, diam Vira seolah menguji kesabaran Azzam.


"Karena harus ada seseorang yang mengakhiri semuanya!"


"Kamu gila Vira, kamu merasa tenang setelah menghancurkan banyak hati!"


"Terserah apa pendapatmu? Semua sudah berakhir sejak dua puluh tahun yang lalu. Aku kembali bukan untuk mengukirnya kembali. Aku berdiri di sini, hanya demi janji pada putraku!" Ujar Vira final dan tegas.


"Kamu kejam!"


"Aku harus kejam, karena jika ingin melihatmu menjadi lebih baik. Maka aku harus menjadi yang buruk dan salah!"


"Aku tak mengenalimu!"


"Karena kamu tak pernah sungguh-sungguh ingin mengenaliku!" Sahut Vira dingin.


FLASH BACK OFF


"Mama tidak akan kembali padanya, tapi sampai kapanpun dia papamu? Dia ayah yang kelak menjadi wali bagi adikmu Farah. Hormati papamu, itu sudah cukup membuat mama bahagia!"


"Mama!" Ujar Fatih sembari merangkul Vira.


"Jangan pernah pergi!"


"Tidak akan, selama kamu menghormati orang lain terutama papa kandungmu!!"

__ADS_1


__ADS_2