
"Selama ini aku diam, biarkan malam ini aku bicara. Sejak dulu aku tak pernah menjauhkanmu dari keluarga Atmaja. Perngertian yang sama malam ini aku minta. Jangan larang aku bicara, agar aku tak menjauh darimu!" Ujar Vika pada Arif.
"Nyonya Melda, kak Vira tak memiliki yang kamu inginkan!" Ujar Vika dingin.
Seolah Vika ingin mengatakan pada Melda, untuk pergi dari rumahnya. Vika menolak secara terang-terangan permintaan maaf Melda. Vika merasa kata maaf yang terucap dari nyonya besar keluarga Atmaja. Tak pernah tulus dan selalu ada imbalan di balik kata maaf itu.
"Farah, biarkan aku menemuinya!" Ujar Melda menghiba.
Arif seketika menoleh ke arah Vika. Lalu menoleh ke arah Fariz. Sebaliknya Vika menunduk lesu, dia tak mungkin membiarkan Farah bertemu dengan Melda. Namun menjauhkan Farah dari keluarga Azzam, bukan keputusan yang bijak. Apalagi Vira tak pernah membiarkan Farah atau Fatih menjauh dari keluarga Atmaja.
"Tante mohon Vika, izinkan tante melihat Farah sekali saja. Setelah itu tante akan pergi!" Ujar Melda menghiba, Vika diam menatap nanar Melda.
Banyak alasan yang membuat Vika terdiam. Selain Vika belum bisa memaafkan keluarga Atmaja. Pribadi Farah tak mudah dihadapi. Azzam yang tangguh tak berkutik di depan Farah. Sikap dingin Farah mampu membekukan tubuh yang tak bersalah. Farah takkan memandang siapa yang dihadapi? Farah akan mengatakan semua yang ada di dalam hatinya. Meski perkataannya melewati batas kewajaran.
"Vika!" Sapa Melda ramah, ketika melihat diam Vika.
"Ma, Fariz sudah katakan tadi. Mereka belum bisa memaafkan kita. Apa yang kita lakukan pada Vira? Tidak mudah dilupakan. Setidaknya mama harus mengerti itu!" Ujar Fariz, Arif menunduk lesu.
Posisi Arif hanyalah suami dari Vika. Tak ada hak Arif berpendapat. Apalagi menasehati Farah yanh dingin. Sikap keras Farah ada tak lain, karena luka yang dia rasakan dulu. Farah tak ingin mengerti kata maaf. Bukan hati Farah mati, tapi luka-luka yang dia rasakan. Terus mengisi benak Farah, seolah ingin mengatakan pada Farah. Sakit yang dia rasakan dulu, takkan pernah bisa sembuh. Trauma yang dialami Farah, air mata yang Farah teteskan. Takkan mengering begitu saja, karena air yang menetes tak mampu kembali.
"Maafkan Arif tante. Arif tidak bisa membujuk Farah, untuk menerima tante sebagai neneknya. Farah bukan pribadi yang mudah dihadapi. Kerasnya tak mudah dilunakkan. Sebelum tante terluka, Arif mohon pulanglah. Bukan Arif tak ingin membela tante, tapi diam mendengarkan amarah Farah pada tante. Arif takkan sanggup!"
"Kenapa Arif? Dia cucu perempuanku, tentu dia juga ingin menemuiku. Aku yakin, Farah tidak akan marah. Vira pasti mendidik Farah dengan baik. Tentu Farah akan bersikap sopan padaku sebagai orang yang lebih tua!" Ujar Melda percaya diri, Fariz seketika menunduk. Dia pernah berhadapan dengan Farah. Fariz jelas mengetahui bagaimana cara pandang Farah pada keluarganya.
"Mama, lebih baik kita pulang. Kita datang lain kali, saat Vira ada di rumah!"
"Mama ingin bertemu Farah!" Ujar Melda menghiba, Vika dan Arif terdiam.
Vika berdiri, Arif menahan tangan Vika. Seolah ingin bertanya, kemana Vika akan pergi? Dengan isyarat mata, Vika menunjuk ke arah pintu kamar Farah. Vika merasa iba melihat Melda memohon. Dengan sedikit kepercayaan diri Vika ingin membantu Melda. Meski jauh dalam hatinya, Vika takut melihat amarah Farah. Apalagi saat kondisi Farah tak baik-baik saja.
"Kamu yakin!" Ujar Arif lirih, Vika mengedipkan matanya. Vika menyakinkan Arif, jika dia bisa membuat Farah menemui Melda.
"Siapa lagi yang ingin menemuiku?"
"Farah!" Sapa Vika lirih, Vika tak percaya melihat Farah sudah berdiri tepat di belakangnya.
Arif dan Fariz seketika berdiri, mereka terkejut melihat Farah sudah ada di depan mereka. Melda tersenyum melihat Farah bersedia menemui dirinya. Melda menatap wajah cantik Farah yang terlindungi dengan hijabnya. Melda melihat mata Azzam, sinar mata yang sama di wajah Farah. Melda merasa yakin, Farah adalah putri kandung Azzam.
"Farah, ini oma sayang!"
"Siapa kamu? Oma siapa? Aku tak pernah memiliki oma!" Sahut Farah dingin, tatapan Farah tajam dan tegas.
Melda terhenyak mendengar dingin perkataan Farah. Melda menekan dadanya yang tiba-tiba merasa sakit. Perkataan Farah tidak hanya menyakiti Melda. Dingin katanya membekukan tubuh lemah yang Melda. Fariz langsung mendekap Melda, ketika dia melihat tubuh Melda bergetar. Kesehatan Melda belum sepenuhnya pulih. Dokter melarang Melda mendengar hal yang menyakitkan.
"Mama baik-baik saja!"
"Fariz, dia Farah putri Azzam. Wajahnya sangat mirip dengan Azzam!" Ujar Melda lirih dan lemah. Fariz mengangguk seraya mendekap tubuh lemah Melda.
Sedikit demi sedikit kesadaran Melda mulai menghilang. Tekanan darah yang diidapnya mudah kambuh. Hal itulah yang memvuat dokter melarang Melda berpikir terlalu berat. Fariz mendekap erat tubuh sang mama. Fariz mencium kening Melda, seolah Fariz tak ingin kehilangan Melda. Fariz tak pernah membayangkan akan terjadi hal seburuk itu.
"Mama, aku mohon sadarlah!" Ujar Fariz cemas, Arif mendekat ke arah Melda. Dia mencoba membantu menyadarkan Melda. Meski kesadaran Melda masih ada, hanya saja sangat lemah.
"Kenapa Farah? Kenapa harus bersikap sedingin itu? Dia nenek yang merindukanmu. Tak seharusnya kamu bersikap tak pantas. Meski kamu membencinya, dia tetap orang tua yang harus dihormati!" Ujar Arif emosi, Vika tercengang melihat amarah Arif.
Farah diam menatap tajam Arif. Dengan tubuh lemah, Farah berjalan tertatih mencari sandaran. Farah bersandar pada dinding tak jauh dari tempatnya berdiri semula. Farah keluar dari kamar tanpa menggunakan tongkat. Farah mencoba berjalan dengan kedua kakinya. Farah ingin menunjukkan pada dunia. Jika dia kuat dan bisa melakukannya sendiri. Meski dengan menahan rasa sakit. Farah terus berjalan keluar menemui nyonya besar Atmaja.
__ADS_1
"Kak Arif!"
"Apa Vika? Kamu ingin membela Farah yang jelas-jelas salah. Kamu harus membuka kedua matamu. Farah sudah melampaui batas. Dia menganggap dirinya yang tersakiti, tapi nyatanya dia yang terus menyakiti orang lain. Dengan sombongnya dia menolak semua hubungan yang ditawarkan. Padahal jelas dia butuh sandaran!" Ujar Arif emosi, kondisi Melda membuatnya kalut.
Arif mengatakan sesuatu yang tak pantas dikatakanya. Vika menggeleng lemah, dia melihat sisi lain Arif. Vika melangkah mundur, setetes bening air matanya mengalir. Vika mendengar penilaian Arif akan Farah. Penilaian yang menyadarkan Vika. Jika darah lebih kental dari air. Farah melihat pembelaan Arif akan keluarga Atmaja. Keluarga yang jelas menyakiti hatinya dan menghancurkan hidup Vira kakaknya.
"Kak Arif!" Ujar Vika lirih, langkah Vika semakin menjauh dari Arif. Vika merasa tak mengenal Arif. Sosok yang selalu melindunginya, kini menyakiti hatinya dengan sebilah pisau tajam.
"Vika, kamu jangan salah paham. Aku mengatakan yang memang seharusnya. Farah harus belajar menerima orang lain dalam hidupnya. Dia tak selamanya mampu bergantung pada keluarganya. Farah harus keluar dari zona nyamannya. Belajar memaafkan, melupakan rasa sakit yang pernah dia rasakan. Kita tidak selamanya ada di sampingnya. Sebagai penghafal Al-Quran, dia harus berhati bersih. Memaafkan orang lain, menjadi cara dia membersihkan diri. Apa artinya dia menjadi Hafidzoh? Jika nyatanya hatinya penuh dengan dendam!" Ujar Arif semakin tak terkendali, Fariz mencoba menenangkan Arif. Agar Arif tak melebihi batasan yang ada.
Vika diam membisu, bibirnya kelu. Vika menoleh ke arah Farah. Dia melihat tubuh lemah Farah yang bersandar pada dinding. Vika mendekat ke arah Farah. Nampak Farah yang tetap tenang, seakan perkataan Arif tak membuatnya terluka. Vika menangkup wajah Farah, dengan lembut Vika mencium kening Farah. Air mata Vika menetes, membasahi wajah putih Farah. Arif termenung menatap Vika yang tiba-tiba dingin.
"Maafkan tante Vika. Orang yang seharusnya menjadi semangatmu. Dia orang yang menguliti harga dirimu. Baginya lemahmu seolah beban. Sebagai seorang tante, aku merasa bodoh. Aku tidak bisa membelamu, karena dia laki-laki yang mengucap ijab qobul bersama tante!" Tutur Vika lirih, tangannya menangkup lembut wajah Farah.
Vika menempelkan keningnya pada Farah. Vika hancur tak berbentuk, Arif mulai sadar kalau dia salah. Suara tangis Vika pecah, menyadarkan Arif jika perkataannya tak lagi pantas. Farah hanya diam menerima kasih sayang Vika. Farah merasa belum waktunya dia melawan Arif. Nampak Arif berjalan menghampiri Vika. Dengan lembut Arif menarik tangan Vika. Spontan Vika menepis kasar tangan Arif. Vika menolak disentuh oleh Arif.
"Sayang!" Ujar Arif, Vika diam membisu. Lalu perlahan Vika memutar tubuhnya. Vika menatap Arif yang berdiri tepat di depannya.
"Kak Arif benar, Farah harus keluar dari zona nyamannya. Farah harus belajar memaafkan, menerima hubungan dengan orang lain. Farah tak seharusnya menggantungkan diri pada keluarganya. Semua yang kakak katakan memang benar. Namu kak Arif lupa sesuatu, bukan hanya Farah yang harus belajar mandiri. Aku harus mulai belajar hidup tanpa bergantung padamu!"
"Sayang kamu salah paham!"
"Kak Arif, malam ini di depan kedua mataku. Kakak membela keluarga Atmaja. Keluarga tempatmu dibesarkan. Demi mereka kakak menguliti harga diri dan lemah Farah. Demi mereka kakak menyalahkan Farah yang terluka. Kelak bukan hal yang tidak mungkin, kakak akan melakukan hal yang sama padaku. Bagaimanapun kakak memiliki keturunan darah keluarga Atmaja?"
"Tak pernah aku ingin merendahkan Farah?" Ujar Arif pada Vika. Arif merasa bodoh telah berkata kasar. Dia melihat Vika terluka dengan perkataannya.
Vika pribadi yang pendiam, dia tidak akan berdebat dengan Arif. Namun dalam diam Vika, jelas nampak luka yang begitu dalam. Vika hancur mendengar pendapat Arif tentang Farah. Lemah Farah seolah sesuatu yang tak pantas dan membebani. Sebuah kejujuran yang jelas menyakiti hati Vika. Keponakannya yang lemah tak berdaya. Semakin lemah tanpa dukungan keluarga terdekatnya. Vika mengingat saat Arif menyakinkan dirinya dan keluarganya. Namun semua itu seperti isapan jempol belaka. Sepintas ada penyesalan di hati Vika.
FLASH BACK
Arif tak percaya akan berhadapan dengan Vira. Wanita yang dulu mengetuk hatinya. Tak lain kakak perempuan wanita yang menggetarkan hatinya. Wanita bercadar yang mampu membuat hatinya terpaut. Mahasiswi terbaik di kampus yang kini dipimpinnya. Arif merasa sesak, dadanya seakan terhimpit batu besar. Diam Vira serta tatapan dinginnya. Membuat nyali Arif menciut. Sebelumnya Arif pernah bertanya, seandainya kakaknya menolak Arif. Akankah Vika setuju dengan sang kakak? Di luar dugaan Arif, Vika mengangguk tegas tanpa keraguan. Alasan terbesar Arif pesimis akan hubungannya dengan Vika.
"Vika, sejauh mana hubunganmu dengan pak Arif? Apa kakakmu Rayyan mengetahui masalah ini? Lantas apa pendapatnya?" cecar Vira dingin tanpa jeda. Sontak Vika menunduk lesu, Arif menggeleng tak percaya. Dia melihat sisi lain Vira. Lima tahun menghilang, Vira seakan terlahir kembali. Menjadi Vira yang dewasa dan pemberani.
Gleeekkk
Arif menelan ludahnya kasar, ketika tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Vira. Arif menyadari penolakan yang akan dia terima. Arif bisa menyimpulkan semua itu. Dari cara Vira bertanya dan sikap diam Vika yang seakan tak percaya pada ketulusannya. Arif pasrah apapun yang terjadi? Tidak ada alasan Arif memaksakan cintanya.
"Vika, kenapa kamu diam? kakak sedang bertanya padamu. Kemana keberanianmu saat meminta kakak menemui pak Arif? Sekarang setelah kakak mengiyakan permintaanmu. Kenapa kamu hanya menunduk? Seolah kamu sendiri tidak pernah yakin akan hubungan kalian!" ujar Vira dingin, Vika menunduk semakin dalam. Arif menggeleng lemah, dia berada diposisi yang tak menguntungkan. Vira bukan orang yang mudah dihadapi.
Arif jelas melihat keteguhan Vira saat meninggalkan Azzam. Tak ada penyesalan atau air mata yang terlihat. Apalagi kisah cintanya yang tak bersambut. Akan dengan mudah dihancurkan oleh Vira. Diam Vika semakin menciutkan nyali Arif. Kedua kalinya dia jatuh cinta, entah kenapa harus pada dua saudara kandung? Jika dulu Arif mampu melupakan Vira. Entah sekarang mampukah Arif melupakan Vika? Mahasiswi yang mengusik malam-malam indah Arif.
"Vira, tidak perlu menekan Vika. Dia bukan wanita pemberani sepertimu. Vika tidak akan bicara, jika kamu tidak mengizinkan. Biarkan dia diam, aku yang akan menjawab. Katakan apapun yang ingin kamu ketahui!" ujar Arif tegas, Vira mengangguk mengerti. Sekilas Vira menoleh ke arah Vika.
"Aku datang kemari bukan untuk bicara. Aku tidak ingin mencari kelemahan atau kebaikan dirimu. Aku mengenal pak Arif, sebelum pak Arif mengenal Vika. Aku percaya pak Arif calon imam yang baik. Sebaliknya aku memahami Vika, lebih dari pak Arif memahaminya. Aku tahu kapan dia yakin dan kapan dia ragu? Aku ada di depan pak Arif hanya demi Vika. Aku akan pergi, jika Vika menginginkannya. Sekarang katakan, pantaskah Vika diam dan terus menunduk? Disaat aku butuh kejelasan darinya" ujar Vira dingin, Arif menggeleng lemah. Vira menghubungi seseorang, Vira meminta orang dihubunginya datang.
"Vira, aku menyukai adikmu. Mungkin kamu tidak akan setuju, tapi aku percaya kamu memahami sakitnya hati. Ketika rasa rasa itu tak bersambut. Namun aku menyadari, masa lalumu yang pahit. Menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupmu dan kamu tidak akan pernah membiarkan Vika merasakannya. Namun alangkah bijaknya, jika masa lalumu tidak kamu sangkut pautkan dengan masa sekarang. Hubunganmu dengan Azzam, berbeda dengan hubungan diantara kami. Percayalah Vira, sampai detik ini Vika tidak pernah membalas rasaku. Vika mengenalku sebagai seorang dosen, tidak lebih!" ujar Arif, Vira diam seraya menoleh ke arah Vika. Lalu tak berapa lama Vira menggeleng seraya tersenyum tipis. Dia tidak setuju akan perkataan Arif. Pemikiran dangkal yang dianggap mampu memahami dalam hati Vira.
Sebaliknya Vika tak berani berbicara, dia hanya menunduk. Vika terlalu takut pada Vira. Memang dia tidak pernah mengetahui, apa hubungan Vira dengan Arif? Namun melihat sikap dingin Vira, Vika yakin hubungan mereka tidak baik-baik saja.
"Aku tidak pernah menyangkut pautkan masalahku dengan Vika. Dia tidak pernah mengetahui kepedihanku, biarkan semua terkubur sedalam mungkin. Aku hanya butuh satu ketegasan dari Vika. Yakin akan hubungan kalian!" ujar Vira tegas.
"Vika, bicaralah sekarang. Katakan isi hatimu, jika tidak Vira akan berpikir salah tentangku!" ujar Arif, Vika menghela napas panjang.
"Kak Vira, jika aku tidak yakin akan hubungan ini. Maka tidak akan pernah aku memintamu datang. Seorang imam jalan makmum menuju jannah-NYA. Sangat bodoh bila aku memilih seseorang dengan sembarangan. Pak Arif tidak sempurna, tapi aku percaya kami akan sempurna bila saling melengkapi!" ujar Vika, Vira mengangguk pelan. Arif merasa lega mendengar pembelaan Vika. Kini tidak ada lagi alasan Vira menolak rasanya untuk Vika.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!" ujar Vira lirih, sembari berdiri. Vira berjalan meninggalkan Arif dan Vika. Seketika Vika menghadang Vira. Dia merentangkan tangan di depan Vira. Pertanda dia tidak ingin melihat Vira pergi.
"Kakak jangan pergi, aku tidak akan meneruskan hubungan ini. Seandainya kakak tidak mengizinkan. Aku tidak akan bahagia tanpa restu kakak. Pilihanmu jalan hidupku. jangan tinggalkan aku tanpa bicara apa-apa?" ujar Vika, suara isak tangis terdengar jelas. Air mata Vika menetes di balik cadarnya. Arif termenung menatap Vika. Dia terenyuh melihat besar rasa sayang Vika pada Vira.
"Kakak harus pergi, tidak ada hak kakak memutuskan jalan hidupmu. Bukankah kamu sudah memutuskan, jika pak Arif yang terbaik. Jadi jangan pernah mundur dengan pilihanmu!" ujar Vira, Vika menggeleng lemah.
"Kakak berhak atas hidupku. Kakak bukan hanya saudaraku, kakak ibu bagiku. Aku butuh ridhomu, sedangkan diammu jelas mengatakan kakak tidak setuju!"
"Vika, kakak tidak menolak atau mengiyakan hubunganmu dengan pak Arif. Sungguh bukan kakak yang berhak bicara. Sebentar lagi kak Rayyan datang. Dia wali yang akan mengantarmu menuju pelaminan. Kak Rayyan yang akan menyerahkan dirimu pada imam pilihanmu!" ujar Vira, lalu berjalan melewati Vika.
"Aku mohon jangan pergi, Vika butuh kakak!" ujar Vika lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya.
FLASH BACK OFF
"Kakak tidak merendahkannya, tapi kakak menyadarkan aku. Selamanya keluargaku yang salah dan keluarga Atmaja benar dengan sikap sombongnya. Kakak mengingatkanku, jika aku tak sepadan dengan keluarga Atmaja!"
"Sayang kamu salah paham!" Ujar Arif, Vika menggeleng lemah. Vika menarik tangan Farah, membantu Farah berdiri.
Vika membawa Farah masuk, meninggalkan keluarga Atmaja di ruang tengah. Namun langkahnya terhenti, ketika Farah meminta Vika melepaskan tubuhnya. Farah berdiri menatap lekat sang RT.
"Om Arif!" Sapa Farah ramah. Arif mendongak menatap Farah.
"Om Arif, maafkan Farah jika selama disini. Farah selalu merepotkan om. Jujur om, jika Farah boleh memilih, Farah tidak ingin datang ke rumah ini. Selama dua puluh tahun Farah hidup tenang jauh dari kalian. Namun mama memaksa, agar kami tinggal dekat dengan keluarga. Bukan menjadi beban, tapi demi hubungan darah. Karena selamanya keluarga mama selalu saling mendukung. Memang benar Farah lemah, Farah cacat tanpa penopang. Namun tak pernah terbersit dalam benak Farah, selamanya bergantung pada kalian. Farah belajar berdiri dengan kaki lemah ini. Agar Farah bisa keluar dari rumah ini dengan tegak, bukan terhina seolah-olah Farah hanyalah beban!"
"Farah, bukan seperti itu maksud om Arif!"
"Om Arif, Farah memang seorang penghafal Al-Quran. Namun jauh sebelum itu, Farah hanyalah seorang anak yang lemah dan tersisih. Farah dicampakkan, Farah dibuang tanpa berpikir ingin melihat Farah lahir. Farah hidup sebagai anak yatim. Meski sebenarnya Farah memiliki seorang ayah. Jadi jangan pernah pertanyakan kesucian hati Farah. Apalagi menyalahkan Al-Quran, karena om Arif tidak merasakan pedih yang kurasakan. Sikap dingin Farah, bukan karena kesombongan hati Farah. Sikap dingin Farah, tak lain wujud sakit Farah. Sebab air mata Farah telah mengering bertahun-tahun yang lalu. Farah mulai lupa cara tersenyum. Namun Farah masih ingat, bagaimana perjuangan mama sembuh dari trauma? Keraguan keluarga besar om Arif tentang kehadiranku yang membuat mama tak berdaya!"
"Farah, lebih baik kita istirahat!"
"Tante Vika, Farah bisa sendiri!" Ujar Farah sembari menepis tangan Vika.
Buuuuggghh
"Farah!" Teriak Vika histeris. Fariz terkejut melihat Farah terjatuh.
"Aku baik-baik saja!" Ujar Farah, lalu bangkit dengan berpegangan pada meja.
"Tapi Farah?" Ujar Vika cemas.
"Aku yang akan menggendongnya masuk ke dalam kamar!" Sahut Bayu lantang.
"Turunkan aku!"
"Turunkan aku!" Teriak Farah histeris. Bayu tetap menggendong Farah. Dia tidak peduli tatapan tak percaya semua orang.
"Terima kasih Farah, karena kamu baik-baik saja!" Batin Bayu.
"Vika, maafkan aku. Tak ada maksudku menghina atau merendahkan Farah. Entah kenapa aku merasa marah? Ketika melihat sikap dingin Farah pada tante Melda. Percayalah, aku tak pernah terbebani dengan kehadiran Farah!" Ujar Arif menjelaskan, Vika diam menatap punggung Bayu yang menjauh.
"Vika, jangan salahkan Arif. Dia hanya emosi sesaat. Arif merasa marah, karena melihat mama yang lemah. Kasih sayangnya yang akhirnya membuat Arif menyalahkan Farah!" Ujar Fariz lirih.
"Kasih sayang yang sama pada Farah. Alasanku kecewa pada kak Arif. Sejak dulu bahkan jauh sebelum pernikahan kami. Dia mengetahui, betapa kejinya keluarga kakak. Mereka menghancurkan ketenangan dan kebahagian keluarga kecilku. Hanya demi ambisi memiliki mendapatkan menantu yang sempurna. Jika malam ini kak Arif marah melihat sakit tante Melda. Lalu bagaimana denganku yang terpisah bertahun-tahun dengan kak Vira? Apa kak Arif buta? Sampai dia tak melihat air mataku. Apa telinganya tuli? Sehingga dia tak mendengar isak tangisku. Mungkinkah hatinya mati? Sehingga dia tak merasakan sakit hatiku. Sekarang jika aku boleh bertanya, siapa yang jauh lebih terluka dan pantas marah? Aku yang bertahun-tahun terpisah dan melihat sakit kak Vira? Atau kak Arif yang baru sekali melihat luka tante Melda? Tanyakan itu pada hati kalian, agar kalian menyadari keluargaku yang lemah atau keluarga kalian yang terlalu keji!" Tutur Vika.
"Sayang!" Ujar Arif penuh rasa bersalah, Vika menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kak Arif, jangan pernah salah menilai diamku!" Ujar Vika dingin.