
"Pagi Azzam!" Sapa Andra.
"Pagi, ada apa kamu menemuiku?" Ujar Azzam santai, Andra duduk tepat di depan Azzam.
Andra melihat serius wajah Azzam. Sejak dulu Azzam selalu sepenuh hati dalam bekerja. Azzam tak pernah bermain dengan pekerjaan. Dia selalu meletakkan pekerjaan di atas segalanya. Alasan yang membuat perusahaan Atmaja menjadi besar dan sukses.
"Keseriusan dan ketegasanmu, menurun padanya!" Ujar Andra lirih, Azzam mendongak tak mengerti arah perkataan Andra.
Azzam menatap lekat Andra yang tengah tersenyum simpul ke arahnya. Kedua tangan Azzam seketika menopang dagunya. Azzam seolah menanti jawaban atas rasa penasarannya. Sebaliknya Andra seakan menikmati rasa penasaran Azzam. Andra selalu bisa membuat Azzam penasaran dengan perkataannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Ujar Andra, meski dia mengetahui alasan tatapan mata Azzam. Tak perlu kata dalam hubungan Azzam dan Andra. Semua jauh lebih mudah dipahami, ketika kita mencoba mengerti dengan hati.
"Tidak perlu berbelit-belit, siapa yang kamu maksud?" Ujar Azzam tegas dan lantang.
"Putrimu!" Ujar Andra santai, Azzam seketika melotot. Kedua tangannya terlepas, Azzam terkejut saat Andra menyinggung Farah.
"Farah!" Sahut Azzam, Andra mengangguk tanpa ragu.
"Kapan kamu bertemu dengannya? Bagaimana keadaannya? Dia tidak marah melihatmu?" Cecar Azzam, Andra tertawa melihat rasa penasaran Azzam.
Kecemasan Azzam jelas terlihat, rasa rindu seorang ayah akan putri yang tak pernah diketahuinya. Kehancuran seorang ayah yang tak mendapatkan pengakuan dari seorang anak. Andra mampu menangkap rasa sakit Azzam. Akibat yang harus diterimanya, karena sebuah kesalahan yang tak pernah dilakukan Azzam.
"Aku melihatnya bersama Bima. Sengaja aku dan Fariz menghampirinya. Namun ketegasan dan keteguhannya membuatku emosi. Perdebatan yang terjadi diantara kami. Tanpa sengaja memercik amarahnya. Namun satu hal yang aku pastikan darinya. Dia benar-benar putrimu dan Vira. Tatapannya tajam, cara bicaranya tegas, pemikirannya bijak dan pandangannya luas. Gabungan pribadimu dan Vira!"
"Kenapa kamu bertengkar dengannya? Dia tidak salah!" Ujar Azzam emosi.
"Maafkan aku Azzam, tapi diam melihatmu hancur. Aku tidak sanggup, apalagi kamu tidak bersalah. Farah harus tahu kebenarannya. Tak sepantasnya dia mengacuhkan kasih sayangmu!"
"Kebenaran apa? Sebuah kebenaran, jika keluargaku lebih senang melihatku hancur. Jika kamu ingin membantuku, lakukan satu hal?" Ujar Azzam dingin, Andra menatap lekat Azzam.
"Apa?" Ujar Andra tak kalah tegas dari Azzam.
"Bantu aku menghancurkan kejayaan keluarga Atmaja. Aku ingin menghancurkan kesombongan mereka. Sekali saja, aku ingin melihat mereka menghiba pada Vira dan dua buah hatiku!"
"Kamu kehilangan akal!" Ujar Andra sembari menggelengkan kepala.
"Aku memang kehilangan akal. Jujur Andra, aku takut bertemu keluargaku. Mereka sangat menakutkan, hati mereka dingin. Putriku mereka anggap tiada, jauh sebelum mereka terlahir!"
"Tak sepantasnya kamu menyalahkan mereka. Sebab kesalahan tak sepenuhnya ada pada mereka. Sebagai seorang suami, pembisnis hebat dengan kekuasaan yang tak diragukan. Kamu mampu menemukan Vira dengan mudah. Namun rapuh dan hancurmu, membuat dirimu lemah. Pada akhirnya kamu menyerah akan hubunganmu dengan Vira!"
__ADS_1
Braaakkk
"Tidak perlu kamu marah. Jika memang perkataanku benar adanya. Aku sahabat yang selalu ada disetiap detik hidupmu. Besar cintamu pada Vira, kesombongan akan besar rasamu. Alasan hubunganmu dengan Vira berakhir!" Tutur Andra, sesaat setelah melihat amarah Azzam. Suara gebrakan meja menggema di seluruh ruang kerja Azzam.
Azzam marah mendengar perkataan Andra. Bukan karena Andra salah, melainkan Azzam merasa semua perkataan itu benar. Fakta jika Azzam mampu menemukan Vira dengan mudah. Namun semua seolah fakta yang menyakitkan. Sebuah kebodohan yang dilakukan Azzam dua puluh tahun yang lalu.
"Aku bodoh!"
"Kamu akan semakin bodon, jika menghancurkan keluargamu. Farah tidak akan datang memelukmu. Meski kamu menghancurkan keluargamu. Cara pandang Farah tak sedangkal pemikiranmu. Jika aku boleh jujur, satu-satunya gadis yang membuatku takut tak lain Farah. Putri tak mudah dihadapi, dia tegar dan tangguh. Bahkan aku melihat putraku hancur dengan sikap dinginnya!" Tutur Andra tenang, Azzam menatap penuh rasa percaya.
Andra bukan tipe pribadi yang akan kalah oleh orang lain. Gadis sederhana seperti Farah tak mungkin membuat Andra kalah. Sejak dulu, Andra mampu meluluhkan banyak hati wanita. Namun dengan tegas, Andra mengatakan ketakutannya saat berdebat dengan Farah. Seolah Farah gadis yang tak mudah ditaklukkan
"Maksudmu?"
"Bima mulai menyimpan rasa pada Farah. Namun jauh sebelum rasa itu ada. Bima menganggumi ketakwaan dan kejujuran sikap putrimu. Farah membuat Bima melupakan dunianya. Bersama putrimu aku melihat Bima tersenyum. Kehangatan keduanya saat bicara, membuatku yakin rasa itu ada. Apalagi saat putrimu meminta Bima menjauh darinya. Seketika aku merasakan dunia Bima hancur. Jujur Azzam, putrimu bukan gadis biasa. Dia istimewa dengan kelemahannya!" Ujar Andra tenang, meski hati dan pikirannya gelisah.
"Tidak mungkin!" Sahut Azzam, Andra mengangguk tanpa ragu.
"Faktanya itu yang terjadi. Hanya dengan satu kata yang keluar dari bibir putrimu. Bima hancur dan kebingungan!"
"Kenapa Farah meminta Bima menjauh?"
"Alasan yang sama, ketika Vira menjauh darimu!"
"Putrimu tidak ingin ada perselisihan diantara aku dan Bima. Tanpa banyak berpikir dia meminta Bima berhenti menjadi dokter pribadinya!"
"Vira!" Ujar Azzam lirih, Andra mengangguk pelan.
"Pribadi Vira yang membuatku yakin dia putri kalian. Gadis kecil dengan pemikiran yang begitu luas dan tegas. Tak ada yang membuatnya bergeming dari keputusannya!"
"Lantas, bagaimana kondisi Bima?"
"Dia baik-baik saja. Aku hanya berharap, waktu menyembuhkan lukanya. Menghapus nama putrimu dihati dan benaknya!"
"Nama mungkin terhapus, tapi rasa yang tumbuh takkan mudah terlupakan!" Sahut Azzam lirih.
"Entahlah Azzam? Apapun itu, aku harap semua baik-baik saja!" Ujar Andra final, Azzam mengangguk pelan.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Masuk!"
"Permisi pak, perwakilan dari perusahaan pengembanh sudah datang!" Ujar Via sekretaris Azzam, dengan anggukan kepala Azzam mempersilahkan mereka masuk.
Andra berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Azzam. Sejak beberapa tahun yang lalu. Andra tak lagi membantu Azzam mengelola perusahaan. Andra fokus mengurusi rumah sakit keluarga. Hanya sesekali Andra datang menemui Azzam.
"Selamat pagi pak!"
"Pagi!" Sahut Azzam lalu mendongak. Azzam terkejut sekaligus senang melihat Fatih datang menemuinya. Namun bahagia itu hanya sebentar, sikap dingin Fatih seketika menghancurkan senyum di wajah Azzam.
"Fatih!"
"Maaf tuan Azzam, kami sedikit terlambat!" Ujar Bayu, Azzam mengangguk seolah memahami keterlambatan mereka.
"Silahkan duduk!" Ujar Azzam, tatapannya mengunci wajah tampan Fatih. Putra yang begitu dirindukannya. Kini berada sangat dekat dengannya.
"Kami datang menyerahkan rincian dari proyek yang kami tangani. Silahkan tuan Azzam memeriksanya!"
"Berikan berkas itu, aku akan memeriksanya!" Pinta Azzam ramah, Bayu memberikan berkas ditangannya.
Azzam memeriksa berkas yang diserahkan Bayu. Sejenak ruang kerja Azzam serasa mati, tak ada suara yang terdengar. Hanya suara napas penghuni ruangan yang naik turun. Andra mengamati wajah Fatih, entah kenapa Andra merasa mengenal Fatih.
"Baiklah, semua sudah selesai. Kalian bisa menghubungi penanggung jawab proyek!"
"Terima kasih pak!"
"Sama-sama!" Ujar Bayu dan Fatih.
"Tunggu!"
"Ada apa tuan?"
"Kamu siapa? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Azzam!" Ujar Andra pada Fatih.
"Tanyakan pada tuan Azzam, ada hubungan apa antara aku dan dirinya?"
"Azzam dia?"
Fatih putraku, kakak kandung Farah!"
__ADS_1
"Aku sudah menduga, sama seperti ayahnya. Tatapan tajam dan tegas pribadi yang menurun padanya!" Ujar Andra tak percaya.
"Dia memang putraku!" Ujar Azzam lantang.