Ikhlas

Ikhlas
Ujian


__ADS_3

"Viraaaa…" teriak Abil, sembari melempar tas tepat di depan Vira.


Buggghhhh


Terdengar suara tas yang menghantam meja dengan sempurna.Vira dan Dilla terkejut sekaligus heran milihat sikap Abil. Vira mengeryitkan alisnya, tanda dia tidak mengerti maksud kemarahan Abil. Sebaliknya Dilla terkekeh setelah sadar alasan dibalik kekesalan. Dilla dan Abil menjadi teman terbaik Vira di kelas ini. Mereka berbeda karakter, tapi seakan sama dalam segala hal.


Abil Muaffaq teman satu bangku Vira dalam kelas ini. Suka tidak suka dia harus melihat dan mendengar suara cempreng Abil. Laki-laki pertama yang dekat dengan Vira. Sebab dengan Abil Vira merasa tenang. Tanpa takut Abil menyukai atau menggoda imannya. Pribadi Abil sangat supel, dia tipe orang yang mudah bergaul. Abil bisa dekat dengan Vira, sebab dia menyadari batasan yang ada diantaranya. Dari sikap saling menghargai itulah. Vira dan Abil bisa dekat tanpa ada rasa canggung.


"Kenapa pagi-pagi berteriak? Kamu pikir aku tidak bisa mendengar. Bukannya mengucapkan salam, kamu malah marah tidak jelas!" ujar Vira ketus, Abil maju menatap wajah Vira lekat. Kedua matanya mengunci sosok Vira, seakan harimau yang siap memangsa makanannya.


Dengan sigap Dilla menarik tubuh Abil. Dia tidak ingin Abil melakukan sesuatu yang tak penah ingin dilihat Dilla. Meski sebenarnya terselip rasa cemburu di hati Dilla. Ketika melihat kedekatan Abil dan Vira. Namun Dilla mengingat perkataan Vira. Tidak akan ada cinta dalam hidup Vira. Setidaknya sampai dia lulus kuliah. Vira tidak ingin menjadi tulang rusuk laki-lak, dia hanya akan menjadi tulang punggung keluarganya saat ini. Seandainya rasa itu ada saat ini. Vira akan menyimpannya rapat-rapat.


"Kamu akhir-akhir ini selalu berangkat lebih dulu? Aku jadi kesepian tanpamu. Seharusnya kamu tunggu aku, kita bisa berangkat bersama!" cerocos Abil, Vira menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak mungkin berangkat bersama Abil. Padahal Vira melihat ada cewek yang selalu berada di rumah Abil.


"Abil tampan, bukankah tadi ada Cindy. Aku melihat mobilnya terparkir manis di halaman rumahmu. Aku tidak ingin ada cewek yang mengira aku kekasihmu. Cukup Dilla yang cemburu padaku!" ujar Vira menggoda Dilla, Abil diam mencerna perkataan Vira. Dia tidak menduga bila Vira terlalu menjaga perasaan orang lain.

__ADS_1


"Sekarang duduk di mejamu. Aku tadi pagi sudah sangat lelah mengejar bus. Agar bisa datang tepat waktu ke kampus. Sekarang aku harus melihatmu kesal kepadaku!" tutur Vira kesal, Abil mendengus kesal mendengar Vira menyuruhnya pergi. Vira meminta Abil duduk di tempat lain.


Sebentar lagi Arif akan mengajar. Dia satu-satunya dosen yang mengenal batasan antara laki-laki dan perempuan. Arif sangat tidak suka bila melihat ada laki-laki dan perempuan terlalu dekat. Dilla hanya melihat interaksi dua teman sekelasnya. Satu dipuja-puja banyak wanita dan yang wanita selalu mengacuhkan cinta.


Dilla menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum, "Mereka berdua dua pribadi yang unik. Hidupku akan berwarna bersama mereka! " batin Dilla. Sekilas Dilla melirik Abil yang berjalan menjauh. Ada satu tatapan yang sejak tadi tidak dihiaraukan oleh mereka bertiga.


"Vira, sejak tadi Fariz menatap ke arah kita. Aku rasa dia cemburu melihat kedekatanmu dengan Abil!" bisik Dilla, Vira mengangguk mengerti. Sontak Dilla terkejut melihat jawaban Vira. Dia tidak pernah menduga, Vira akan mengiyakan dengan rasa percaya diri.


"Fariz dan aku tidak akan bisa berteman. Seandainya rasa Fariz masih ada untukku!" bisik Vira tegas, Dilla mengangguk mengerti.


"Abil, kenapa harus dia laki-laki yang dekat denganmu? Tidak bisakah aku yang berada diposisimu. Aku melihat sikap hangat tanpa batas yang kamu berikan padanya. Siapa dia Vira? Siapa Abil yang begitu mudah mendapatkan senyum dan ramahmu? Siapa dia?" batin Fariz kesal dan emosi. Rasa cemburu mengusai Fariz. Dia tidak menduga ada laki-laki yang mendapatkan perhatian Vira dengan mudah.


Beberapa menit kemudian Arif masuk, setelah menyapa para muridnya. Arif membagikan kertas kuis yang sudah dia siapkan. Seperti biasa Arif selalu memperbolehkan, siapa yang lebih dulu selesai keluar? Hadiah bagi murid yang pintar dan hanya berpikir tentang pelanjaran.


Arif menatap muridnya dengan lekat. Dia berkeliling mengawasi para muridnya. Agar tak ada yang berniat curang. Arif begitu ketat saaf ujian. Dia tidak akan bersikap lemah. Arif melihat hal serupa yang diberikan para muridnya. Mereka mengerjakan dengan sangat teliti. Sebab satu nilai buruk dari Arif. Akan membuat nilai mereka buruk di laporan nilai akhir semester.

__ADS_1


"Maaf pak Akhir, saya sudah selesai!" ujar Vira dan Abil hampir bersamaan. Mereka berjalan ke depan, sembari memberikan kertas pada Arif. Seketika Arif mendongak, dia menerima kertas dari Abil dan Vira. Sekilas Arif mengoreksi hasil ujian keduanya. Baik Abil dan Vira mengerjakan ujian dengan sepenuh hati. Sehingga hasil yang mereka dapatkan di luar dugaan Arif.


"Hanya 30 menit kalian sudah selesai. Kalian sengaja mengerjakan asal atau kalian berdua saling memberikan jawaban. Semua kalian lakukan hanya, karena ingin segera keluar dari kelas saya!" ujar Arif lantang, Vira menunduk sebaliknya Abil terus menatap raut wajah Arif. Seolah dia menatang Arif, karena Abil merasa benar.


"Apapun yang pak Arif pikirkan? Berapapun nilai yang aku dapat, aku sudah berusaha semampuku. Jangan pernah menuduh Vira melakukan kesalahan yang tak pernah dia lakukan!" sahut Abil dingin.Arif tersenyum melihat satu lagi laki-laki yang siap pasang badan demi Vira.


"Aku merasa kamu seolah enggan melihatku. Apa aku ada salah denganmu? Setiap kelasku kamu selalu berusaha keluar secepat mungkin!" ujar Arif, Abil menggeleng lemah. Vira berdiri mematung di samping Abil. Tak sedikitpun Vira ingin berdebat dengan Arif.


"Saya bukan tidak suka melihat anda. Saya enggan melihat wajah mereka yang terpesona akan ketampanan anda. Daripada saya ikut terpesona pada anda, lebih baik saya keluar mengerjakan hal yang lebih positif!" sahut Abil, Arif mengangguk pelan. Terlihat Abil menoleh pada Vira. Satu-satunya wanita yang tidak tertarik pada Arif. Dosen idola kampus yang tampan dan pintar.


"Vira, apa kamu keluar dari kelasku? Karena takut terpesona padaku!" ujar Arif, Vira menggeleng lemah. Jawaban final yang melukai hati Arif. Mengubur dalam-dalam rasa Arif untuk Vira.


"Hidup saya terlalu berat untuk saya tanggung. Tidak ada ruang dalam hidup saya untuk terpesona pada anda. Jadi saya tidak akan terpesona pada siapapun? Jika akhirnya membuat saya semakin rumit!" ujar Vira dingin, Arif mengangguk mengerti. Vira dan Abil keluar dari kelas. Fariz sejak awal melihat kedekatan Vira dan Abil.


"Saya sudah selesai!" ujar Fariz sembari memberikan kertas ujiannya. Arif mengangguk mengiyakan, sekilas dia melihat tatapan cemburu Fariz.

__ADS_1


"Vira hanya berteman dengan Abil. Dia hanya akan merasa nyaman. Ketika hubungan itu ada tanpa janji sebuah rasa. Vira bukan wanita yang siap terikat. Namun seandainya kelak dia terikat. Dengan siapapun itu? Aku orang yang pertama mengucapkan selamat. Dia pantas bahagia, setelah semua yang dia alami. Jadilah temannya bila menjadi kekasihnya sudah tak mungkin lagi!" ujar Arif lirih, Fariz diam mendengarkan perkataan Arif.


__ADS_2