
"Vira, ada apa dengannya?" ujar Silvia cemas, Abil menunduk tak berani menatap. Azzam cemas melihat darah yang terua mengalir dari telapak tangan Vira.
Silvia Nugraha salah satu dokter kandungan rumah sakit terbaik di kota ini. Dia tak lain kakak kandung Abil Muwafaq Nugraha. Salah satu orang yang sangat menyayangi Vira. Kakak angkat yang sudah selayaknya saudara kandung. Hubungan Vira dengan keluarga Abil. Tidak hanya dengan Abil, Silvia dan kedua orang tua Abil sangat menyayangi Vira. Mereka menganggap Vira bagian keluarga mereka.
"Suster, segera bawa Vira ke ruang IGD!" teriak Silvia lantang. Rasa cemas Silvia melebihi rasa gelisah Azzam. Silvia berlari menuju ruang IGD untuk merawat Vira. Azzam tertegun menatap dokter yang terlihat begitu perhatian pada Vira.
Sikap dokter yang seakan mengenal Vira dengan baik. Bahkan jelas perhatian yang diberikannya. Tidak seperti dokter yang merawat pasiennya. Melainkan seorang kakak yang cemas akan sakit adiknya sendiri. Sekilas Silvia menatap Azzam lekat. Seolah Silvia marah dan emosi melihat Azzam. Seandainya mampu, mungkin Silvia ingin membunuh Azzam dengan tatatpannya.
"Abil, jangan berani keluar dari rumah sakit ini. Kakak akan buat perhitungan denganmu!" teriak Silvia emosi, sesaat sebelum dia masuk ke dalam ruang IGD. Abil menelan ludahnya kasar, teriakan Silvia membuat nyalinya menciut.
Abil mengenal karakter sang kakak dengan sangat baik. Dengan tatapannya saja, Abil sudah menduga seberapa besar amarah sang kakak. Mungkin Silvia perempuan, tapi tenaga dan watak kerasnya melebihi laki-laki. Dia bisa menghancurkan segalanya dengan amarah. Silvia tegas dan mandiri, tak pernah Silvia berpikir bergantung pada siapapun? Karakter yang sama dengan Vira.
"Abil, dia kakakmu. Aku baru tahu kakakmu seorang dokter. Aku kagum padanya, apalagi cara dia menatapmu. Sangat dingin dan keren, aku salut padanya!" cerocos Cecil tanpa jeda, Abil menoleh dengan kesal. Cecil terkekeh melihat raut wajah kesal Abil. Tak pernah dia melihat Abil ketakutan. Hari ini Cecil melihat sisi lain Abil yang sangat lemah.
"Diam kamu, bukan hanya aku yang akan dimarahi kak Silvia. Kamu akan ikut merasakannya, dia marah karena melihat Vira terluka. Jadi lebih baik kamu bersiap-siap. Kak Silvia kalau marah tidak peduli tempat!" ujar Abil ketus, Cecil begedik ngeri. Kini dia yang mulai ketakutan. Abil berhasil membuat Cecil percaya akan perkataannya. Abil dan Cecil cemas memikirkan amarah Silvia. Sebaliknya mereka lupa akan sosok Azzam.
Azzam berdiri tepat di depan ruang IGD. Azzam menempelkan keningnya di dinding rumah sakit. Tangannya mengepal menahan amarah. Dadanya terasa sakit, ketika kedua matanya melihat darah yang mengalir. Setiap tetes darah Vira menusuk relung hati Azzam. Bak sebilah pisau tajam yang mengiris tipis hatinya.
Bugh Bugh Bugh
Hantaman tangan Azzam terdengar nyata. Menggema di lorong rumah sakit. Amarah yang tak lagi mampu ditahannya. Azzam hancur tak bersisa, dingin sikap Vira. Membuat tulang-tulangnya lumpuh. Tak ada yang tersisa dalam hidupnya. Seandainya Vira pergi dari hidupnya. Hanya Vira yang menjadi semangat hidupnya.
"Amarahmu takkan mengembalikan yang telah terjadi. Darah Vira yang menetes telah mengering. Bukti semua nyata terjadi dan tak dapat dihindari. Doa tulusmu yang dibutuhkan Vira. Dia akan baik-baik saja, semua tergantung dari ketulusan doamu. Bukan air mata penuh amarah yang akan menolongnya. Namun doa dari hatimu terdalammu yang mungkin mengembalikan Vira. Bersimpuh pada-NYA, berserah dan pasrah pada kehendak-NYA. Jalan terakhir yang harus kamu lakukan. Bukan menangis meratapi dan merutuki ketetapannya!" ujar Arif lirih, sembari menepuk pelan pundak Azzam.
Andra berdiri di samping Azzam dan Arif. Tiga sahabat yang selalu menenangkan satu sama lain. Azzam menunduk lesu, Arif dan Andra menepuk pundak Azzam. Seolah ingin mengatakan, jika Azzam tidak sendiri. Azzam menoleh, sontak Andra dan Arif tertegun. Mereka melihat jelas air mata Azzam. Air mata lemah dan rapuh seorang Azzam.
"Vira segalanya dalam hidupku. Dia kuat dan lemahku, aku tak lagi bernapas tanpa menatapnya. Haruskah aku pasrah, ketika harapan nyata tak terlihat. Pantaskah aku berserah, jika dia yang aku butuhkan. Aku mampu tiada demi dirinya. Namun melihatnya sakit karena diriku. Sungguh aku tak mampu!" ujar Azzam lirih, Arif dan Andra terdiam.
__ADS_1
"Ambil wudhu dan sholat, hanya itu yang akan membuatmu tenang!" sahut Rayyan, Azzam menoleh. Rayyan berjalan dengan gagah menghampiri Azzam. Abil mendekat ke arah Rayyan. Saudara Vira yang tak pernah terlihat.
"Tampannya!" ujar Cecil lirih, Abil menyikut tangan Cecil keras. Seketika Cecil menjerit kesakitan.
Rayyan menghampiri Azzam, dengan lembut Rayyan menarik tangan Azzam. Mencium punggung tangan Azzam, lalu bergantian dengan ke arah Arif dan Andra. Ketiganya termenung menatap Rayyan. Sikap sopan dan hangat Rayyan mengingatkan dirinya pada sosok Vira.
"Kak Abil!" sapa Rayyan, Abil mengangguk. Keduanya berpelukan setelah Rayyan mencium punggung tangan Abil. Azzam terpaku melihat kedekatan Abil dan Rayyan. Kedekatan yang seakan takkan pernah jadi miliknya.
"Siapa yang memberitahumu tentang kondisi Vira? Jangan katakan, kamu tahu dari Nadya si pengkhianat itu!" ujar Abil ketus, Rayyan mengangguk tanpa ragu.
"Sudah kuduga!" sahut Abil lirih, Rayyan tersenyum simpul. Dia berjalan mendekat ke arah pintu ruangan IGD.
Rayyan menatap lekat, seolah dia bisa melihat Vira. Rayyan diam tak bergeming, tangannya menempel tepat di pintu. Azzam melihat sosok yang begitu tenang. Namun tenang yang seakan-akan menjadi ombak besar. Ombak yang akan membawa Vira jauh darinya.
Kreeeekkk
"Akhirnya kamu datang?" ujar Silvia sinis, Rayyan mengangguk pelan. Silvia berlalu melewati Rayyan, dia menghampiri Abil.
"Abil!" sapa Silvia ketus, Abil mendongak menatap sang kakak yang penuh amarah.
Plaaakkkk
"Sudah kukatakan, jaga dia baik-baik. Kondisinya sangat lemah. Resiko terburuk Vira, sudah kukatakan dengan sangat jelas. Haruskah Vira tiada, baru kamu sadar akan kesalahanmu. Aku tak percaya, tugas semudah ini saja kamu tidak bisa!" ujar Silvia penuh amarah, Abil diam menunduk. Dia memegang pipi bekas tamparan Silvia. Azzam termenung menatap amarah Silvia. Sikap yang terlalu berlebihan bila itu menyangkut Vira istrinya.
"Kak, aku!" ujar Abil tertahan saat melihat Silvia menatap tajam.
"Lebih baik kamu diam, jika hanya mencari alasan. Sampai terjadi sesuatu pada Vira. Aku akan mencarimu!" ujar Silvia ketus, Abil diam menunduk. Tak ada yang bisa dikatakan lagi.
__ADS_1
Azzam mendekat ke arah Silvia, seakan ingin bertanya kondisi Vira. Azzam heran melihat sikap Silvia yang lebih nyaman mengatakan segalanya pada Abil. Sedangkan jelas Vira itu istrinya.
"Ada apa anda mendekat padaku? Anda ingin mengetahui kondisi istri anda? Sungguh ironis, Vira kecilku harus menikah dengan tuan muda keluarga kaya, tapi tak berhati. Ditambah dia harus mengenal sahabat yang tak mampu menjaganya. Apalagi saudara laki-laki yang tak pernah ada saat air matanya menetes!"
"Maksud anda apa? Kenapa anda marah?" sahut Azzam lirih.
"Haruskah aku bahagia, saat melihat adikku meregang nyawa. Pantaskah aku diam, saat hidup keponakanku dipertaruhkan!" sahut Silvia kasar.
"Apa maksud anda?" ujar Azzam tak mengerti, Silvia tersenyum sinis.
"Sangat pantasa anda tidak mengetahui kehamilan Vira. Suami yang tak pernah bisa menjaganya, tak sepantasnya tahu akan buah hatinya. Mungkin keluargamu menganggap hina Vira kecilku, tapi dia permata dalam hatiku. Dia tidak akan sendirian, meski kalian bertiga tidak ada. Laki-laki seperti kalian tidak pantas berada di dekat Vira!" ujar Silvia emosi, Azzam mundur beberapa langkah.
"Vira hamil!" ujar Azzam tak percaya, Silvia tersenyum sinis. Dia mendekat ke arah Azzam.
"Terlambat, seandainya anda bahagia hari ini. Kehamilan Vira sangat kritis, kemungkinannya sangat kecil akan bertahan. Jadi tidak perlu ada air mata atau senyum di wajahmu. Sampaikan salamku pada tuan Angga Atmaja. Hari ini dia berhasil menghancurkan Vira kecilku. Kelak Vira yang akan menghancurkanny!" ujar Silvia sembari berlalu.
Bruuukkkk
"Azzam!" teriak Arif dan Andra bersamaan. Mereka menopang tubuh Azzam yang jatuh terduduk.
"Percuma kamu datang, ketika Vira kecilku tak lagi butuh dirimu!" ujar Silvia pada Rayyan.
"Jika kak Vira tidak membutuhkanku. Setidaknya aku bisa melihatmu!"
"Jangan berharap aku akan baik padamu!" sahut Silvia ketus, Rayyan tersenyum simpul.
"Abil, kakakmu menakutkan!" bisik Cecil, Abil menoleh.
__ADS_1
"Diam kamu!" sahut Abil kesal.