
"Sayang, kamu kenapa lama di kamar mandi? Kamu tidak apa-apa bukan?" teriak Azzam sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Hampir setengah jam Vira berada di kamar mandi. Azzam cemas memikirkan kondisi Vira. Pertemuannya dengan Nadya, serta hinaan Angga pada Vira. Takut membuat Vira bersedih dengan mengunci diri di kamar mandi. Awalnya Vira izin ke kamar mandi, karena sakit perut. Namun Azzam gelisah setelah hampir setengah jam Vira tak kunjung keluar.
Berkali-kali Azzam mengetuk dan menanyakan kondisi Vira. Namun tak ada jawaban, sekadar menenangkan kegelisahan Azzam. Sikap diam Vira semakin membuat Azzam ketakutan. Dia takut terjadi sesuatu pada Vira. Sempat ada penyesalan di hati Azzam. Kenapa dia tidak meletakkan CCTV di kamar mandi? Seandainya ada CCTV, Azzam dengan mudah mengetahui kondisi Vira.
"Sayang, aku mohon buka pintunya. Setidaknya bicaralah agar aku yakin kamu baik-baik saja!" teriak Azzam lebih keras, Vira diam tak menanggapi perkataan Azzam.
Vira bingung harus berbuat apa? Dia merasa kesakitan, perutnya kram tak bisa digerakkan. Vira mampu menahan rasa sakit di perutnya, tapi Vira lupa membeli sesuatu yang sangat dibutuhkannya sekarang. Biasanya Vira memiliki cadangan, tapi hari ini dia lupa untuk membelinya. Masalah yang ada di hidupnya, sejenak melupakan Vira akan waktu datang bulan.
Kreeekkk
Vira membuka pintu kamar mandi perlahan. Tangan Vira meremas perutnya yang kram. Rasa sakit yang teramat dirasakan Vira. Keringat dingin membasahi keningnya. Vira berjalan membungkuk saat keluar dari kamar mandi. Azzam semakin cemas melihat Vira yang kesakitan. Vira berhambur memeluk Azzam, sikap manja yang tak pernah ditunjukkan Vira.
Azzam memeluk Vira erat, ada rasa takut melihat Vira kesakitan. Azzam mendekap erat Vira, seolah takut Vira terjatuh dari pelukannya. Sedangkan Vira menyandarkan tubuhnya manja ke dalam dada bidang Azzam. Vira membalas pelukan Azzam. Seakan rasa sakit Vira akan hilang dengan memeluk Azzam. Vira menenggelamkan kepalanya lebih dalam di dada Azzam.
Aneh tapi nyata, rasa sakit Vira sedikit menghilang. Napas memburu Vira menahan sakit, sedikit mereda dan tenang. Vira merasa tenang dalam dekapan Azzam. Kehangatan dekapan Azzam menghilangkan sakit perut Vira. Dengan lembut Azzam membelai perut Vira. Azzam mengusap beberapa kali, berharap rasa sakit Vira sedikit membaik. Vira merasa nyaman saat Azzam menyentuh perutnya.
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba sakit perut? Kamu makan apa tadi? Awas saja sampai kamu makan sembarangan!" ujar Azzam cemas, Vira menggeleng dalam pelukan Azzam. Vira menutup mata merasakan sakit di perutnya yang seolah-olah ditusuk-tusuk jarum.
Azzam dan Vira duduk bersandar di sofa. Vira menyandarkan tubuhnya di pelukan Azzam. Dengan penuh kasih sayang, Azzam membelai kepala Vira yang tertutup hijab. Sesekali Azzam mengusap perut rata Vira. Sekadar ingin menenangkan Vira, agar tidak merasakan sakit. Vira menerima setiap sentuhan Azzam, rasa sakit yang dialami Vira sedikit menghilang. Bahkan Vira tertidur di dalam pelukan Azzam. Rasa sakit saat akan datang bulan. Mampu membuat seseorang pingsan. Beruntung Vira memiliki Azzam, setidaknya rasa sakitnya sedikit mereda.
__ADS_1
"Sayang, aku ambilkan obat sebentar. Wajahmu mulai pucat, aku yakin perut pasti sangat sakit. Jika perlu kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Azzam, Vira menggeleng lemah. Vira merasa lemah untuk sekadar bicara. Meski rasa sakitnya mereda, tapi terkadang rasa sakitnya tiba-tiba muncul.
Setiap kali rasa sakitnya datang, Vira akan merintih sembari meremas tangan Azzam. Melihat Vira kesakitan, Azzam semakin kalut. Namun dia bingung harus berbuat apa? Vira tidak bersedia ke dokter atau minum obat. Vira memilih merasakan sakitnya, tanpa berpikir ingin mengobatinya. Mungkin Vira sanggup menahan sakitnya, tapi Azzam sudah tak sanggup melihat Vira kesakitan.
"Sayang, aku mohon. Sekali saja kamu menuruti perkataanku. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan!" ujar Azzam, Vira menggeleng dalam pelukan Azzam. Terdengar Azzam menghela napas panjang. Vira sangat keras kepala. Meski sebenarnya rasa sakit dialami Vira sangat wajar di awal datang bulan.
"Kak Azzam, sekarang jam berapa?" ujar Vira lirih dan lemas. Azzam mengeryitkan dahinya tidak mengerti. Azzam bingung melihat sikap Vira. Bukannya minum obat, Vira malah menanyakan jam.
Azzam melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Malam sudah semakin larut, Vira menghela napas kecewa. Vira merasa sudah sangat malam untuk keluar dari rumah. Seandainya dia di rumah lamanya. Mungkin Vira sudah keluar membelinya sendiri.
"Sakit!" ujar Vira lirih, Azzam mengusap wajahnya gusar. Dia tidak mengerti harus berbuat apa? Azzam mencium puncak kepala Vira. Azzam cemas melihat kondisi Vira.
"Kak Azzam, aku boleh tidak pergi ke minimarket depan. Aku butuh sesuatu, aku janji sebentar saja!" ujar Vira lirih, Azzam menggeleng seraya melotot. Azzam marah mendengar Vira ingin keluar di malam hari. Bukannya hanya karena sudah sangat malam, tapi Vira masih sakit. Azzam takut terjadi sesuatu di jalan.
"Aaawwwwsss!" rintih Vira, Azzam panik langsung mendekat pada Vira. Azzam berjongkok di depan Vira. Tangannya mencoba mengusap perut Vira, tapi Vira menepisnya dengan kasar. Azzam menghela napas panjang. Dia bingung menghadapi perubahan sikap Vira.
Azzam menyerah menghadapi Vira. Akhirnya dia memilih menjauh dari Vira. Azzam meninggalkan Vira yang sedang kesal dan kecewa. Lebih baik Azzam menjauh, agar dia tidak melihat Vira kesakitan. Vira semakin marah melihat Azzam meninggalkannya. Azzam tidak bisa memahami Vira. Dia merajuk hanya agar Azzam memanjakan dan menuruti semua keinginannya. Vira layaknya anak kecil yang butuh belain orang tuanya.
Vira keluar dari kamar Azzam. Dia berjalan dengan kesal. Vira harus segera membeli pembalut. Entah kenapa rasa sakit Vira menghilang? Berganti rasa kecewa pada Azzam. Watak wanita yang tak mudah dimengerti. Terkadang kuat dan tak ingin dimanja. Terkadang lemah dan selalu ingin dimengerti. Perasaan yang tak mydah dipahami oleh orang lain. Hati mereka rapuh, tapi keinginan mereka kuat.
Tap Tap Tap
__ADS_1
"Vira!" teriak Azzam, sembari berlari menuruni tangga.
Azzam histeris mencari Vira. Ketika dia menyadari Vira tidak ada di dalam kamar. Azzam meninggalkan Vira sendiri di kamar. Dia keluar dari kamar, untuk menemui Angga. Azzam berpikir Vira akan berhenti marah, setelah dia keluar menjauh. Namun dugaannya salah, dia tak menemukan Vira di kamarnya. Sontak Azzam kalut, dia cemas mengingat Vira dalam kondisi sakit.
Azzam memeriksa semua bagian rumah megahnya. Azzam berlari mengelilingi rumah, membuka satu ruangan lalu menutupnya. Azzam bak orang yang kehilangan akal. Azzam ketakutan tanpa alasan. Seakan dia kehilangan Vira untuk selamanya. Azzam menggeledah seluruh bagian rumahnya. Langkah kaki Azzam membangunkan seluruh penghuni. Termasuk Angga yang masih berada di ruang kerjanya.
Melda menghampiri Azzam yang tengah menunduk di samping sofa ruang tengah. Kedua tangannya menopang tubuh lemahnya. Azzam bingung memikirkan Vira. Fariz dan Angga menatap lekat Azzam. Mereka tak percaya Azzam begitu rapuh. Melda menepuk pelan pundak putranya. Azzam menoleh menatap Melda.
Seketika Melda mundur beberapa langkah. Melda terhenyak melihat air mata Azzam. Melda merasakan sakit yang teramat. Melda melihat ketakutan yang tak biasa di mata Azzam. Kedua mata yang selalu yakin menghadapi keras hidup. Kini mata itu rapuh dan tak bercahaya.
"Sayang, Vira baik-baik saja. Dia tidak akan pergi meninggalkanmu. Mungkin dia sedang keluar. Lebih baik tenangkan dirimu, mama akan menemanimu mencari Vira. Kita akan menemukannya!" ujar Melda lirih, sembari mendekap Azzam. Pelukan yang tak pernah ada diantara Melda dan Azzam. Pelukan seorang ibu yang terlupakan tanpa alasan. Namun pelukan Melda yang kini nyata menenangkan Azzam.
Azzam mengangguk lemah, Melda mencium puncak kepala sang putra. Azzam merasakan kehangatan dekapan Melda. Angga menatap sendu Azzam. Putranya yang hancur dan rapuh, karena seorang Vira wanita tanpa harga diri dihadapannya.
"Mama istirahatlah, aku akan mencarinya sendiri!" ujar Azzam lirih, Melda mengangguk pelan.
"Sayang, kenapa pergi tanpa pamit? Apa yang harus kulakukan tanpamu? Baru saja aku merasakan kebahagian bersamamu. Sekarang kamu pergi tanpa pamit. Dimana kamu sekarang? Marahlah, tapi jangan pergi dariku!" batin Azzam pilu. Azzam mengusap air mata yang menetes tanpa pamit.
Azzam berlari keluar dari rumah, dia melajukan mobilnya keluar dari rumah megahnya. Azzam mengingat perkataan Vira yang ingin pergi ke minimarket. Azzam melajukan mobilnya mencari minimarket terdekat. Sesekali Azzam mengusap air mata cemasnya. Azzam takut terjadi sesuatu pada Vira.
"Tuan Angga Atmaja, di depan kedua matamu. Putra kebanggaanmu menangis tanpa rasa malu. Dia rapuh dan hancur, saat Vira anak ART yang hina dimatamu pergi tanpa pamit. Aku hanya mengingatkan, bijaklah dalam memutuskan. Satu kasalahanmu akan menghancurkan tiang penyangga keluarga ini. Vira mungkin hina, tapi dia alasan hidup putramu!" ujar Melda lirih tepat di samping Angga.
__ADS_1
"Mungkin dia menjadi hidup Azzam, tapi aku akan membuat semuanya berbeda. Kita lihat saja, siapa yang akan ada di samping Azzam? Dia tidak pantas menjadi menantu keluarga Atmaja. Tidak akan kubiarkan pewaris keluarga Atmaja lahir dari rahimnya!" batin Angga sinis.