Ikhlas

Ikhlas
Makan Siang


__ADS_3

"Azzam, arah jam 9!" ujar Andra lirih, sontak Azzam menoleh. Sepintas raut wajah Azzam terlihat heran. Dia tidak mengerti alasan Andra memintanya menoleh.


Arif yang kebetulan satu meja dengan Azzam dan Andra mendongak menatap lurus ke arah pintu masuk. Arif terbelalak layaknya Azzam yang tertegun. Azzam terkejut sekaligus bahagia. Wajah yang sangat dirindukannya berada tak jauh darinya. Tepat setelah kejadian di rumah sakit. Azzam tak lagi bisa bertemu Vira.


Sebuah kebetulan yang sangat indah, siang ini tanpa rencana. Azzam bisa melihat kembali wajah cantik Vira. Sengaja Azzam menahan rasa rindu dihatinya. Azzam tidak ingin melihat Vira terpuruk saat bertemu dengannya. Azzam tersiksa menahan rindu yang begitu dalam pada Vira. Azzam layaknya mayat hidup, kacau tak tentu arah. Hanya dua sahabat yang selalu menjadi semangat dan ada di setiap dukanya.


"Vira!" ujar Azzam lirih dan lemah. Hatinya terasa sakit, kala Azzam mengingat kepingan penolakan Vira. Kini kedua mata Azzam bisa menatap Vira. Namun kedua tangannya tak mampu menggapai tubuh Vira. Kedua kakinya terasa lumpuh tak mampu mendekati Vira. Azzam rapuh tak lagi bisa tegak berdiri.


Arif menepuk pelan pundak Azzam. Arif mengedipkan kedua matanya. Ketika Azzam menoleh ke arahnya. Isyarat semua akan baik-baik saja. Arif percaya Azzam dan Vira akan bersatu, tapi waktu masih menguji kuat cinta diantara mereka. Azzam mengangguk mengiyakan Arif. Andra menggenggam tangan Azzam. Sederhana tapi itulah yang semangat yang dibutuhkan Azzam kini.


"Lihatlah Azzam, percaya atau tidak. Allah SWT mempertemukanmu dengan Vira disini. Tempat yang tak mungkin Vira datangi. Nyata kini dia ada di tempat ini. Yakinlah, DIA selalu mempunyai cara yang tak pernah bisa kita duga sebelumnya!" ujar Arif bijak, Azzam diam menunduk. Sekilas terlihat Azzam menganggukkan kepala pelan. Azzam mengerti maksud perkataan Arif.

__ADS_1


Azzam mencoba mengalihkan pandangannya. Agar Vira tidak menyadari keberadaannya. Sangat mudah bagi Azzam melihat Vira, tapi Vira belum tentu bisa melihat Azzam. Meja Azzam tertutup vas bunga besar. Jadi tidak mudah dilihat dari luar. Azzam dan kedua sahabatnya baru saja menyelesaikan rapat. Mereka sengaja memaksa Azzam datang ke cafe ini. Agar Azzam bersedia makan siang. Sejak Azzam jauh dari Vira, dia tidak peduli lagi pada kesehatannya. Melda hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Dua putranya hancur demi satu wanita.


KREEEKK KREEEKK KREEEKK


Suara roda yang menggelinding di lantai keramik. Terdengar nyaring di telingan Azzam dan kedua sahabatnya. Mereka tak mampu mengedipkan kedua matanya. Mereka tertegun menatap pilu Vira. Tubuh kuat Vira sangat rapuh, seolah tak ada tulang yang kini menopang tubuhnya. Vira terlihat sangat kurus, hijab panjang dan lebarnya mampu menutup tubuh Vira. Seakan tak ada daging yang membungkus tubuh Vira.


Azzam hancur, sehancur-hancurnya tatkala kedua matanya menatap tubuh lemah Vira. Jelas dia melihat Vira tak lagi kuat menopang tubuhnya. Vira sangat kurus, tulang belulangnya seakan ingin menunjukkan diri. Hanya wajah Vira yang masih tetap sama. Teduh dan lembut penuh dengan pancaran iman. Azzam menunduk terdiam, dia mengusap setetes air mata yang jatuh. Azzam tak mampu menahan rasa sakitnya. Menatap Vira yang begitu tersiksa.


Arif menyadari dilema yang kini dirasakan Azzam. Hatinya sakit menatap lemah Vira. Namun tubuh Azzam tak lagi kuat mendekap Vira. Penolakan dan tatapan tajam Vira, seakan membuat Azzam lemah dan takut mendekati Vira. Azzam memilih menjauh, tapi dia akan tetap melindungi Vira dengan segenap hati dan jiwanya.


"Terserah padamu, kamu tahu yang terbaik. Apa yang terjadi pada Vira bukan kesalahamu? Kalian menikah secara sah, sebab itu putramu ada karena ridho-NYA. Meski kini semua berbeda, tapi bayi yang ada dikandungan Vira tetap putramu. Kamu berhak mengazaninya. Suaramu yang kelak pertama kali terdengar di telinganya. Vira berjuang demi bayimu, sebaliknya kamu harus berjuang demi Vira dan putramu!" ujar Arif, Andra mengangguk setuju dengan perkataan Arif.

__ADS_1


Azzam menoleh ke arah Vira. Terlihat Vira sudah duduk di salah satu meja. Ada rasa bahagia, sekaligus takut dihati Azzam. Dia tidak akan sanggup melihat amarah Vira. Rayyan ada di samping Vira. Mungkin dia belum kembali ke asrama prajurit. Kondisi Vira belum memungkinkan untuk ditinggal sendiri. Vira juga masih menolak keberadaan Azzam.


"Kak Vira, makanlah meski sedikit. Kakak sudah dua hari tidak menyentuh makanan. Aku melihat kakak selalu muntah melihat nasi. Aku mohon, hari ini saja kakak memaksakan diri. Agar kakak tidak lemah seperti ini!" bujuk Rayyan, Vira menggeleng lemah.


Sejak tiga hari yang lalu, Vira sulit untuk memakan sesuatu. Vira selalu mual dan muntah, bila melihat atau mencium harum nasi yang baru saja matang. Vira tidak bisa mengkonsumsi apapun? Hanya segelas air hangat yang bisa masuk ke dalam perutnya. Entah kenapa Vura begitu sulit mengkonsumsi apapun?


Rayyan mengajak Vira ke cafe ini untuk makan siang. Rayyan berpikir Vira akan bisa memakan sesuatu bila dia merasa tenang. Suasana cafe yang tenang. Seakan menjawab kegelisahan hati Vira. Rayyan menyuapi Vira, tapi Vira menolak dengan tegas. Sekilas Viro menolak untuk membuka mulut. Rayyan semakin gelisah memikirkan kondisi Vira.


"Rayyan, biarkan aku mencoba menyuapinya. Mungkin saja dia bersedia membuka mulut!" ujar Azzam tegas, Rayyan mengangguk pelan. Dia berharap Vira akan bersedia makan sesuatu.


"Kak Azzam!" ujar Vira lirih.

__ADS_1


__ADS_2