
"Vira!"
"Kak Azzam!" Sahut Vira ramah, saat melihat Azzam berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa Vira? Haruskah selalu seperti ini. Kamu meninggalkanku tanpa kata. Kamu menyimpan semua kebenaran dariku. Kamu menutupi lukamu yang nyata aku penyebabnya. Apa yang ingin kamu tunjukkan? Kamu ingin mengatakan pada dunia. Kalau aku tak lebih dari laki-laki tak bertanggungjawab!" Cecar Azzam lantang, Vira menggeleng lemah.
Vira menatap nanar Azzam yang tengah berdiri di depannya. Vira terdiam mendengar perkataan yang seolah pertanyaan yang sejak dulu ditunggunya. Sebuah kepedulian yang tak pernah dan hampir tidak ada dari Azzam. Terkadang Vira ingin menyerah. Menjauh dari pernikahan yang membuatnya hancur.
"Apa yang harus aku katakan? Tidak semua hal perlu dikatakan. Terkadang cinta itu dibuktikan dengan perhatian tulus. Bukan cinta yang ada setelah penjelasan!"
"Apa maksudmu Vira? Kamu mengatakan semua ini, seakan kamu sedang menyanjungku. Padahal kamu membuatku terlihat bodoh.Ku diam padaku, tapi mengatakan semua hal pada om Dimas!" Sahut Azzam emosi, Vira menggeleng seraya tersenyum simpul.
"Kak Azzam salah bila berpikir aku menceritakan semua hal pada kak Dimas. Satu kata tak pernah keluar dari mulutku. Tak pernah aku ingin menjual suamiku pada orang lain. Sebab aku sangat menghormatimu. Seorang istri layaknya pakaian bagi suaminya. Aku sangat mengagumimu!"
Azzam tertunduk lesu tepat di depan Vira. Dengan kedua tangannya Azzam menutup wajahnya. Azzam gusar sekaligus takut, ketika semua kebenaran terungkap tanpa bisa dihindari lagi. Azzam tak pernah menyangka, Vira menyadari semua masalah dalam yang pernah ada dulu. Namun ketakutan Azzam semakin nyata, ketika Vira menyimpan semua luka itu. Vira tak pernah mengungkapkan sakitnya.
"Kenapa Vira? Sebesar itu luka yang aku torehkan. Namun diam yang selalu kamu tunjukkan. Seakan dirimu baik-baik saja. Sampai kapan aku harus menjadi orang yang salah? Ketika aku sadari, semua lukamu bukan orang lain yang meninggalkannya. Aku orang yang begitu kejam padamu!" Ujar Azzam lirih penuh penyesalan.
Azzam merasa bersalah pada Vira, luka yang ditorehkannya benar-benar dalam. Luka yang sakit, meski tak bernanah. Seandainya waktu bisa diputar, ingin rasanya Rafa Azzam kembali ke masa lalu. Memperbaiki setiap kesalahan yang tanpa sengaja dia lakukan pada Vira.
"Kak Azzam!" Ujar Vira lirih, sembari mengangkat dagu Azzam pelan.
__ADS_1
Kedua mata Vira menatap lekat wajah Azzam. Ketampanan yang nyata membuatnya luluh dalam jebakan cinta Azzam. Tatapan penuh arti, isyarat cinta yang begitu tulus dan dalam. Vira menangkup wajah Azzam lembut, kedua tangan Vira terasa hangat menyentuh pipi Azzam. Sekilas terlihat Vira mengusap mata indah Azzam. Mencoba menghapus penyesalan Azzam yang terlihat di kedua mata indahnya.
"Jujur aku sakit, aku kecewa, bahkan aku menyesal telah menikah denganmu. Namun aku sadar, cintaku tulus bukan kebohongan. Menikah denganmu pilihan hidupku, bukan paksaan. Fatih lahir dengan cinta nyata, bukan kepalsuan!"
"Sayang!" Ujar Azzam lirih, Vira mengedipkan kedua mata indahnya.
"Kak Azzam, saat aku tahu cintaku hanyalah pelampiasanmu. Aku sakit, tapi aku mencintaimu dengan ketulusan hati. Sebesar apapun kamu menipu cintaku. Aku percaya kelak hatimu akan menyadari tulus cintaku. Ketika aku tahu kenyataan, pernikahan kita menjadi alasan orang tuamu menghina ibuku. Aku kecewa bahkan hancur, lagi dan lagi aku kalah. Cintaku membuatku yakin, jika kamu bukan mereka yang akan menyakitiku. Namun ujian tak pernah ada hentinya. Kala tabir kematian ayahku terungkap, aku menyesal telah menjadi bagian hidupmu. Nyatanya kamu menjadi alasan kematiannya. Sekali lagi Allah SWT, menguji cintaku. Fatih lahir dengan cinta tulus kita. Suara manja Fatih, saat menanyakan siapa ayahnya? Hatiku kalah dan harus mengalah, demi senyum Fatih!"
"Kenapa kamu diam? Sekali saja kamu katakan salahku. Setidaknya aku bisa memperbaiki diriku, agar salahku tak semakin besar!" Ujar Azzam lirih, Vira menggeleng lemah.
"Seperti cintaku yang terus diuji, aku ingin melihat tulus cintamu. Jika kamu sungguh mencintaiku. Kakak akan melihat pengorbanan cintaku. Keikhlasanku terlalu kuat, sampai tak ada air mata yang menetes!" Ujar Vira lirih, Azzam menunduk lemah.
Azzam menggenggam erat tangan Vira. Meratapi kebodohannya yang terus menyakiti Vira. Kala dia berbicara cinta, disisi lain dia menyakiti Vira tanpa henti. Azzam lama hanyut dalam kebanggaan diri. Merasa dirinyalah yang terlalu mencintai Vira, tapi kenyataan cintanya tak lebih dari luka.
Cup
Satu kecupan manis mendarat sempurna di kening Azzam. Menghancurkan tembok penghalang yang membuat keduanya jauh. Kehangatan kecupan hangat Vira. Mengalirkan getaran cinta di hidup Azzam. Vira memecah penyesalan Azzam dengan mudah dan penuh cinta.
"Sesungguhnya aku tidak butuh kata maafmu. Aku hanya ingin melihat kepedulianmu padaku. Bukan penyesalan yang kuharapkan darimu, tapi kesadaran hatimu. Jika aku dan Fatih butuh dekapanmu, bukan hanya janjimu. Sejak dulu aku mencintaimu dengan hati bukan janji. Sebab janji hanya akan menghancurkan ikatan suci. Sesuatu yang tak pernah pasti, jangan pernah kamu janjikan!" Ujar Vira sesaat setelah mengecup kening Azzam.
"Bisakah kita kembali seperti dulu. Mengenal dari awal, melupakan masa lalu yang terjadi!" Ujar Azzam memelas, Vira mengangguk tanpa ragu.
__ADS_1
"Kapanpun aku siap memegang tanganmu? Melangkah bersama merenda bahagia. Bukan demi kita semata, tapi demi Fatih buah hati kita. Dia alasanku sanggup menahan luka, menunggu Azzam Auliqa Putra Atmaja!"
"Terima kasih!" Ujar Azzam, lalu menarik tubuh Vira dalam dekapan hangatnya.
"Kak Azzam, lepaskan pelukanmu!" Teriak Vira meronta, Azzam mengeryitkan dahinya pelan. Dia tidak mengerti cara berpikir Vira. Beberapa menit tadi, Vira begitu hangat. Sekarang Vira terlihat dingin.
"Kenapa lagi sekarang?"
"Kita belum menikah kembali. Secara hukum aku memang istrimu, tapi secara agama kita telah berpisah. Nikahi aku kembali, baru kakak berhak akan diriku!" Sahut Vira dingin, Azzam mengangguk mengiyakan. Meski sesungguhnya hati kecilnya menjerit. Vira menerbangkan Azzam setinggi langit, tapi dalam sekejap Vira menjatuhkannya tanpa ampun. Suka tidak suka, Azzam harus menelan hasrat yang mulai menggebu.
"Papa!"
"Mama!" Teriak Fatih lantang, Azzam menghela napas panjang. Vira menoleh ke arah Azzam, seolah dia mengerti arti helaan napas Azzam.
"Kak Azzam, Fatih putramu bukan orang lain. Jika kamu merasa dia menganggu, apa itu tidak berlebihan?" Bisik Vira, Azzam menggeleng lemah.
"Mama, ayo pulang ke rumah!" Ujar Fatih manja, sembari mengalungkan tangannya ke leher Vira. Dengan hangat Vira mengangguk, Vira menggendong Fatih. Namun dengan cepat Azzam merebutnya.
"Sayang, biarkan aku yang menggendong Fatih!" Sahut Azzam dingin, Vira mengangguk seraya tersenyum. Suara lemah Azzam, isyarat rasa kecewa Azzam akan kedatangan Fatih.
"Ucapkan ijab qobul dulu, baru aku milikmu seutuhnya. Aku akan buat Fatih menjauh!" Bisik Vira.
__ADS_1
"Segera, persiapkan dirimu!" Balas Azzam.