Ikhlas

Ikhlas
Falan Muhammad Aleki


__ADS_3

Di salah satu penjuru bumi, bagian paling dalam negara ini. Nampak seorang wanita duduk tegak di atas kursi rodanya. Menatap lurus matahari yang tenggelam di balik gunung. Tatapan yang menanti senja menyeruak dari ufuk timur. Tatapan penuh kerinduan akan sosok yang tak dapat terucap. Berharap senja mampu menghapus kerinduan tanpa nama di hatinya. Guratan emas sang pencipta yang menenangkan gelisah hatinya. Lukisan indah tiada tanding penuh dengan kehangatan. Menyambut petang yang penuh dengan kedamaian.


Wanita yang duduk tepat di samping gubuk kecil. Sebuah gubuk yang berbanding terbalik dengan rumahnya. Rumah indah nan asri yang di bangun di sebuah bukit. Rumah yang berdiri kokoh diantara rumah para warga. Tanpa ada gerbang besi yang membatasi. Tinggi tempatnya duduk, membuatnya dengan mudah menatap senja. Wanita yang seolah nyaman duduk di atas kursi rodanya. Walau angin sore berhembus begitu kencang. Sampai hijab panjangnya tertiup dengan begitu mudahnya. Namun angin seolah tak sedikitpun mengusik hatinya. Dia tetap tenang, menanti sang senja datang.


"Dik, lebih baik kita masuk. Hari semakin sore, sebentar lagi maghrib. Ingat kondisimu belum sepenuhnya pulih!"


"Sebentar lagi, senja belum menyapaku. Setelah menatap senja, aku akan masuk!"


"Hampir dua minggu kamu disini, tak seharipun kamu melewatkan senja. Tidakkah kamu bosan menatap senja yang sama!" Ujar sang kakak, nampak gelengan kepala dari sang wanita. Sebuah isyarat yang mengatakan, jika tak pernah ada kata bosan saat menatap senja.


"Hanya senja yang mampu menghapus rinduku!"


"Jika memang kamu merindukannya, lantas kenapa kamu menolaknya? Apa kamu takut tak bahagia? Lagipula sama saja dengan sekarang. Kamu mencintainya, tapi menyakiti hatinya dan hatimu!"


"Kakak tidak mengenalnya, dia laki-laki yang baik. Aku hanya wanita lemah, hatiku penuh dengan kepedihan. Aku percaya, ada makmum terbaik untuknya. Sama halnya senja, aku hanya ingin menenangkannya. Tanpa aku berpikir ingin menetap dengannya. Senja tak pernah menjanjikan pertemuan denganku. Namun senja akan datang, disaat aku membutuhkannya. Dimanapun dan kapanpun aku berada? Senja setia ada dalam sepiku. Aku ingin menjadi senja baginya. Mencintai tanpa janji bersatu, tapi setia ada dikala sepinya!"


"Jelas kamu sangat mencintainya. Kakak ingin bertemu dengan laki-laki hebat itu. Dia yang mampu meluluhkan hati dingin adikku. Tentu bukan laki-laki sembarangan!"


"Jangan pernah menemuinya. Kakak akan membuatku malu. Aku yakin kakak akan menceritakan tentang perasaanku. Sejak aku mengenalnya dan kemudian mencintainya. Sejak itu aku menyimpan cinta ini. Aku tidak ingin membaginya dengan siapapun? Termasuk dia orang yang aku cintai!"


"Kenapa kamu bersikap keras? Cinta itu ada, karena hatimu percaya dia yang terbaik. Kamu tidak boleh bersikap egois, bagaimanapun hatimu berhak bahagia?"


"Mungkin aku tak pantas bahagia. Lihat sekarang, tubuhku melemah tepat di saat aku mulai mencintainya. Kepergianku tanpa pamit, jelas membuatnya menjauh. Jadi lebih baik aku belajar melupakan. Daripada aku mengenangnya, tapi tersakiti!"


"Kamu tidak akan bisa melupakannya. Bahkan dalam tak sadarmu, hanya namanya yang kamu sebut. Jelas dia memiliki arti penting dalam hatimu!"

__ADS_1


"Sejak kapan kakak mengetahui namanya? Tidak perlu berasumsi, jika kakak tidak mengetahuinya!"


"Bukankah dia laki-laki yang ada di layar ponselmu!" Ujar sang kakak santai, seketika sang wanita menoleh. Dia merasa malu sekaligus heran. Ketika menyadari, kakaknya mulai memeriksa ponsel pribadinya.


"Kakak!" Teriaknya histeris.


"Tenang saja, aku sekilas melihat wallpapermu. Aku tidak selancang itu, sampai membuka isi ponselmu. Hanya saja aku semakin yakin. Dia benar-benar berarti dalam hidupmu. Sebab dia yang laki-laki pertama yang ada di ponsel pribadimu. Selain nomerku dan nomer ayah!"


"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi. Aku lelah, kakak masuklah ke dalam. Aku akan masuk setelah senja terbenam!" Ujar sang adik ceria dengan senyum menggoda. Sang kakak mengusap kepala sang adik yang tertutup hijab.


Tangan kekar sang kakak yang selalu melindungi dan menjaganya. Kasih sayang yang nampak jelas dari dua saudara. Hubungan penuh dengan ketulusan, tanpa berpikir akan balasan. Sebuah hubungan yang berlandaskan darah, tapi memiliki arti yang melebihi hubungan darah.


"Baiklah, kakak masuk. Ingat, segera masuk setelah senjamu menghilang. Kakak akan membuatkanmu makan malam. Setelah itu kakak harus ke rumah sakit!"


"Siap bos!" Ujar sang adik, sembari memberi hormat pada sang kakak.


Perlahan Falan meninggalkan sang adik. Seorang kakak yang selalu mengkhawatirkan adiknya melebihi dirinya. Meski Falan percaya, adiknya mampu menjaga diri dengan baik. Falan seorang dokter di pelosok negeri yang sangat terpencil. Dia sengaja mengabdikan diri di daerah tertinggal. Semua demi cita-cita mulia sang adik. Mendirikan rumah sakit terbesar dan terlengkap. Agar tak ada lagi warga pelosok yang meninggal tanpa pertolongan.


Rumah sakit yang dibangun tak jauh dari rumah kecil tempat Falan tinggal sementara. Sebuah kompleks yang dibangun, demi menunjang para medis yang bekerja di rumah sakit. Bahkan Falan memberikan beasiswa bagi pelajar sekitar. Menempuh pendidikan di universitas kedokteran. Agar kelak menjadi dokter yang mengabdi pada daerahnya.


Program yang dirancang sedemikian rupa. Demi impian mulia sang adik. Berharap ketulusan mereka menjadi cahaya bagi yang membutuhkan. Bahkan Falan berniat mendirikan sekolah. Namun rencana masih terkendala izin dan lahan pembangunan yang belum selesai. Falan sengaja memilih di pelosok ini. Sebab sang adik merasa nyaman dan damai dengan suasana yang begitu asri dan tenang. Tidak ada batasan si kaya dan si miskin. Semua bercampur dan saling membantu setiap ada yang kesusahan.


"Permisi!" Sapa Bayu ramah, Falan langsung menoleh.


Nampak Bayu baru turun dari sepeda motor sport miliknya. Jalan terjal dan berliku yang dilewati bayu. Membuat Bayu tidak bisa menggunakan mobil. Terpaksa Bayu menggunakan sepeda motor. Agar bisa sampai di rumah kecil yang berada di atas bukit. Bahkan butuh waktu hampir satu jam lebih. Sampai akhirnya Bayu tiba di rumah ini. Rumah tempat Farah tinggal pergi menjauh darinya tanpa kata.

__ADS_1


"Iya ada apa? Sedang mencari siapa?" Sahut Falan ramah.


"Maaf jika boleh saya bertanya. Apakah Farah tinggal di rumah ini?"


"Farah!" Ujar Falan menegasakn, Bayu mengangguk tanpa ragu.


"Kamu siapa?"


"Saya Bayu, sahabat Fatih kakak Farah!"


"Jadi dia laki-laki yang membuat Farah jatuh cinta!" Batin Falan.


"Namamu siapa tadi?"


"Bayu Afrizal Sanjaya!" Ujar Bayu tegas.


"Kamu putra keluarga Sanjaya!" Ujar Falan datar, Bayu mengangguk perlahan. Seakan Bayu tidak peduli akan status sosial keluarganya.


"Pantas kamu bisa menemukan Farah. Kekuasaan keluarga Sanjaya begitu hebat. Mampu menemukan tempat terpencil seperti ini!"


"Anda mengenal keluargaku!" Ujar Bayu, Falan menggelengkan kepalanya.


"Farah ada di halaman belakang. Dia sedang menunggu senja. Jika kamu ingin menemuinya, temui dia. Namun satu hal pesanku, jangan mengasihaninya. Farah tidak suka dikasihani. Temui dia tanpa mengkhawatirkan kondisinya. Dia baik-baik saja selama ada aku!"


"Farah sakit!" Ujar Bayu tak percaya.

__ADS_1


"Dia sudah lebih baik, masa kritisnya sudah lewat!" Sahut Falan tegas.


__ADS_2