
"Lebih baik Kita masuk, udara malam tidak baik!" ujar Melda, Azzam mengangguk sebaliknya Vira menggeleng. Dia takut bertemu dengan Angga Atmaja.
"Aku ada untukmu, percayalah pada rasa kita!" ujar Azzam, Vira menunduk lalu mengangguk pelan. Vira berjalan di belakang Azzam. Dia berlindung di balik tubuh tegap Azzam. Melda tersenyum melihat kebersamaan Azzam dan Vira. Kehangatan sikap Azzam pada Vira. Menggetarkan hati Melda, mengingatkan dirinya akan sosok Angga Atmaja dulu.
Azzam menggandeng tangan Vira erat. Mereka berdua berjalan beriringan. Sejujurnya Vira sangat lelah, dia tidak pernah terjaga sampai larut malam. Berbeda dengan Azzam yang terbiasa begadang. Melda berjalan tepat di samping Azzam. Mengiring pasangan yang baru saja menikah. Meski ada rasa kecewa akan keputusan Azzam. Namun dia bahagia melihat senyum yang terpancar di wajah Azzam.
"Berhenti, untuk apa anak ART itu masuk ke rumah ini? Azzam lepaskan tangannya, kenapa kamu menggandengnya!" teriak Angga lantang, Azzam dan Melda menoleh ke arah Angga. Sebaliknya Vira ketakutan mendengar teriakan Angga. Vira menggenggam erat tangan Azzam. Menyembuyikan wajahnya di balik punggung tegap Azzam.
Azzam merasakan dingin tangan Vira. Ketakutan Vira nyata, Azzam menarik tubuh Vira ke sampingnya. Azzam merangkul tubuh Vira yang bergetar hebat. Sedangkan kedua mata Vira menutup. Perkataan Angga membuat Vira marah sekaligus takut. Azzam menyandarkan kepala Vira di bahunya.
Melda berjalan menghampiri Angga. Tak ada rasa takut di wajah Melda melihat amarah Angga. Sejak beberapa hari yang lalu, Angga sulit untuk tidur. Hampir setiap malam Melda menemani Angga begadang. Melda tidak pernah bertanya kegelisahan Angga. Namun Melda menyadari, semua terjadi karena Azzam putra kebanggaannya. Azzam mulai menjauh darinya, sikap hangat Azzam mengusik Angga. Sebab dia merasa tidak pernah mengenal Azzam putranya.
"Melda, katakan apa yang terjadi? Kenapa wanita itu berdiri di samping Azzam? Jangan buat aku bingung!" ujar Angga emosi, Melda tersenyum ke arah Angga.
Melda menatap Azzam yang berdiri bersama Vira. Dua pasangan yang akan hancur oleh kekuasaan keluarga Atmaja. Namun Melda berjanji dalam hati. Akan melindungi hubungan mereka. Tidak akan Melda membiarkan Angga menyentuh atau menyakiti Vira.
"Dia Vira Azza Ifatunnisa, istri putramu Azzam Auliqa Putra Atmaja!" ujar Melda lirih dan santai. Tangan Melda menunjuk ke arah Vira dan Azzam. Kedua bola mata Angga membulat, seakan ingin keluar dari tempatnya. Angga meradang, raut wajahnya merah.
Azzam mengangguk mengiyakan perkataan Melda. Azzam akan melakukan apapun demi mempertahankan pernikahannya dengan Vira. Azzam tidak ingin melawan Angga, tapi dia tidak akan diam saja. Seandainya Angga menyakiti Vira.
Plaakkkk
__ADS_1
"Kamu kehilangan akal, dia anak ART. Kamu pewaris keluarga Atmaja. Dimana harga dirimu Azzam? Tidak bisakah kamu mencari wanita yang jauh lebih baik darinya!" ujar Angga emosi, sesaat setelah menampar Azzam.
Vira menggigil sembari menutup mata. Apa yang ditakutkannya terjadi? Penolakan akan status dirinya, membuat Vira harus mendengar hinaan yang tak sepantasnya. Vira menyembuyikan wajahnya semakin dalam. Azzam melepaskan tangannya, Azzam memeluk erat Vira. Menenggelamkan wajah Vira di dalam dada bidangnya.
"Pulang!" ujar Vira lirih tak terdengar. Azzam membelai lembut kepala Vira yang tertutup hijab. Azzam mencoba menenangkan rasa takut Vira. Namun rasa takut Vira tidak dengan mudah menghilang.
"Papa, tampar aku lagi. Seandainya semua itu bisa membuatmu lega. Namun jangan pernah papa menghina Vira. Dia tulang rusuk Azzam saat ini. Menghinanya sama saja papa menghina diriku. Dia tidak salah akan pernikahan ini. Aku yang terlalu takut kehilangan dirinya. Aku memintanya menikah, ketika hatinya belum sepenuhnya percaya!" ujar Azzam sopan, Angga semakin marah mendengar pembelaan Azzam.
Saat Angga begitu marah melihat Azzam menikah dengan Vira. Melda malah santai melihat amarah Angga. Melda duduk menjadi penonton dalam perdebatan yang tak penting. Seakan Melda mampu menenangkan Angga.
"Azzam, kamu benar-benar kehilangan akal. Statusnya jauh di bawah kita. Tidak mungkin dia menjadi menantu keluarga Atmaja. Ditaruh dimana muka kita? Jika para kolega mengetahui aib ini!" ujar Angga lantang penuh amarah. Azzam menggeleng tak setuju, Vira hanya diam membisu. Tak ada yang bisa Vira lakukan. Jika dia bicara, takutnya akan menyulut emosi Angga semakin menjadi.
"Fariz!" sapa Vira lirih, sembari menatap Fariz sendu. Azzam menoleh ke arah Vira. Dia melihat ketakutan Vira menghilang. Ketika melihat Fariz ada di dekatnya. Sepintas tapi nyata, Azzam merasakan sesak di dadanya. Azzam cemburu menyadari, ada laki-laki lain yang membuat Vira merasa tenang.
"Jangan menatapku seperti itu. Jika tatapan itu hanya akan melukaiku. Kenyataan dirimu telah menikah dengan kak Azzam. Sudah cukup membuatku hancur. Jangan lagi kamu membuat diriku berarti, tapi nyatanya kak Azzam yang berhak atas dirimu kini. Aku kalah oleh saudaraku sendiri. Wanita yang kucintai, kini menjadi istri kakak kandungku. Mungkinkah semua rasa ini menghilang. Jika kelak kita akan hidup di bawah atap yang sama!" batin Fariz pilu.
Fariz mendengar keributan dari lantai bawah. Dia sengaja turun, untuk mengetahui yang terjadi. Betapa kagetnya Fariz, saat melihat Vira memeluk Azzam sangat erat. Seketika tubuh Fariz terasa lemas. Seakan belum cukup rasa kecewanya melihat kedekatan Azzam dan Vira. Lagi dan lagi Fariz menelan kepahitan. Fariz mendengar kenyataan Vira telah menjadi istri kakak kandungnya. Vira wanita yang dicintainya, kini menjadi kakak iparnya.
"Hai wanita murahan, kenapa kamu menatap Fariz? Belum cukup kamu membuat Azzam kehilangan akal. Sekarang kamu ingin merayu putraku yang lain. Dasar wanita murah!" ujar Angga lantang, Azzam mulai marah mendengar hinaan Angga. Melda berdiri mendekat pada ke arah Angga. Mencoba menenangkan hati panas Angga.
"Fariz, antar Vira ke kamarku. Aku harus bicara dengan papa!" ujar Azzam tegas, Vira menggeleng lemah. Dia tidak ingin menjauh dari Azzam. Sebaliknya Azzam mengedipkan kedua matanya. Berharapa Vira percaya padanya.
__ADS_1
"Kenapa sekali kamu meminta bantuanku? Itu mengantar Vira ke kamarmu. Bantuan yang menyakiti hatiku!" ujar Fariz lirih hampir tak terdengar.
Azzam menatap tajam ke arah Fariz. Seakan dia mendengar perkataan Fariz. Azzam meminta Vira ikut dengan Fariz. Agar Vira tidak mendengar hinaan yang jauh lebih menyakitkan. Angga merasa tak mengenal Azzam. Kehangatan Azzam mengingatkan dirinya dulu. Ketika dia merasakan cinta yang tulus pada Melda.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu mulai menyadari? Azzam yang ada di depanmu. Bukankah dirimu dulu. Kegilaan Azzam, kegilaan sama yang pernah kamu lakukan. Tuan Angga, dengarkan suara hati putramu. Sebelum kamu kehilangan dia sepenuhnya!" bisik Melda, Angga diam membisu.
"Papa, Vira bukan wanita terhormat dan kaya. Namun dia juga bukan wanita hina dan miskin. Bukan Vira yang menginginkan pernikahan ini, tapi aku yang memaksanya menikah denganku. Dia yang membuatku merasa sempurna dan tak berharga. Saat bersamanya aku merasa sempurna dan hidup. Sebab aku bisa menangis dan tersenyum. Tanpanya aku merasa tak berharga. Sebab dia alasanku ada dan berjuang!" tutur Azzam, Melda menangis mendengar penuturan Azzam. Ada rasa haru mendengar besar cinta Azzam pada Vira.
"Kamu terlalu mendramatisir!"
"Papa, cinta bukan sebuah drama. Cintaku nyata untuknya. Selama 20 tahun lebih aku hidup dalam gelap dan sepi. Aku sendirian merindukan pelukan hangat darimu. Namun ambisi yang selalu kamu ajarkan padaku. Membuatku menyadari, kehadiranku hanya sebagai pewaris bukan putra yang berhak dipeluk olehmu. Lama aku hidup dalam gelap, sampai akhirnya aku bertemu Vira. Wanita yang menghangatkan hatiku. Wanita yang menerangi jiwaku. Wanita yang membuatku hidup dengan harapan. Bahwa ada cinta dan bahagia untukku. Aku merindukan kasih sayang kalian!"
"Jika kamu merindukan kami, kenapa kamu malah menentang kami? Dengan menjadikan dia istrimu. Kamu telah melawan kami!" ujar Angga marah, Azzam menggeleng lemah.
"Aku tidak ingin melawan papa dan mama. Sadarilah papa, mungkinkah aku akan bicara setenang ini saat aku marah. Dia wanita yang memintaku tetap bersama kalian. Namun dengan janji, dia akan bersama disampingku!"
"Sampai kapanpun papa tidak setuju!" ujar Angga dingin dan tegas.
"Aku datang kemari hanya ingin mengenalakan dia pada papa. Besok kami akan pergi, jika papa menginginkannya!" ujar Azzam final, lalu pamit menuju kamarnya. Melda menatap sendu punggung Azzam. Ada rasa bahagia teramat dihatinya. Melihat putranya telah menemukan kebahagian.
"Kak Angga, jika Azzam pergi. Aku akan ikut dengannya. Kamu hidupku, dia belahan jiwaku. Jika aku harus memilih, jujur aku tidak sanggup. Lebih baik aku menjauh pergi!"
__ADS_1