Ikhlas

Ikhlas
Keluarga Kecil yang Bahagia


__ADS_3

"Kakak, bisa kita bicara!"


"Masuklah Rayyan!"


Rayyan masuk ke adalam ruangan kerja Vira. Ruangan yang terbuka setelah dua puluh tahun lamanya. Ruangan yang sengaja ditutup dan hanya akan dibuka saat Vira datang. Ruangan yang menyimpan kenangan, keringat dan kerja keras Vira. Sesekali Fatih berdiam diri di ruangan ini. Bahkan tidur di dalam ruangan kerja Vira. Fatih merasa nyaman di dalam ruangan yang menjadi saksi bisu kerja keras Vira. Fatih merasa mendapat pelukan hangat dari Vira.


"Apa kakak akan tinggal selamanya?" Ujar Rayyan tegas, Vira menunduk seketika mendengar pertanyaan Rayyan.


Rayyan menghela napas, diam Vira seolah jawaban yang bisa ditebak. Rayyan lesu menyadari jawaban yang tak diharapkannya. Vira meletakkan album buku yang dipegangnya. Vira menghampiri Rayyan, menepuk pelan pundak Rayyan. Memberikan semangat yang tak pernah diterima Rayyan.


"Kakak belum bisa mengatakan apa-apa? Namun tinggal di tempat ini, bagi kakak sangatlah sulit. Kenangan pahit seolah terus mengusik ketenangan yang kakak miliki. Sehari kakak berada di tempat ini. Hati kakak merasa sakit, jiwa kaka gelisah. Disisi lain sendainya kakak pergi. Apa yang akan terjadi pada Fatih? Dua puluh tahun kakak pergi, sudah mampu membuatnya hancur. Jika kakak pergi lagi!" Ujar Vira terhenti, Rayyan menunduk. Seolah mengerti kesulitan yang dirasakan oleh Vira.


"Mungkin aku egois, tapi demi Fatih. Bertahanlah, tinggallah bersama kami. Jangan menjauh, agar kami bisa menjagamu!"


"Entahlah Rayyan, kakak belum bisa mengatakan apa-apa?" Sahut Vira tegas.


Tok Tok Tok


"Maaf menyela!" Sapa Arif, sesaat setelah dia mengetuk pintu.


"Masuklah Arif!" Ujar Vira, Arif mengangguk lalu masuk dengan langkah yang begitu tegas.


"Ada apa Arif!" Ujar Rayyan, nampak Arif membawa beberapa berkas.


Sejak kepergian Vira, Arif yang mengambil alih perusahaan Vira. Rayyan yang memimpin, sedangkan Vika yang memimpin. Perusahaan yang ditinggalkan Vira bertahan, meski hampir hancur ditangan perusahaan-perusahaan tamak. Terutama perusahaan Azzam yang besar. Azzam ingin menguasai perusahaan Vira, bukan demi kekayaan. Namun Azzam ingin memiliki harta yang memiliki kenangan Vira.


"Kak Vira, banyak yang harus diperbaiki setelah dua puluh tahun. Perusahaan yang kakak amanahkan, tak mampu aku jaga dengan baik. Perusahaan kita diambang kehancuran. Dua puluh tahun, aku mencoba bertahan dan berjuang. Namun perusahaan kak Azzam bukan perusahaan kecil yang akan menyerah begitu saja!" Tutur Arif, Vira diam mencoba mencerna pernuturan Arif.


Vira mengambil berkas yang diberikan Arif. Dengan seksama Vira memeriksa lembar demi lembar isi berkas. Vira mencari kekurangan dalam laporan yang dibawa Arif. Vira duduk termenung, tatapannya tajam membaca setiap laporan yang ada. Arif dan Rayyan diam, mereka menahan napas. Takut suara napas mereka mengganggu konsentrasu Vira.


Arif mengangguk pelan, dalam hati dia mengagumi Vira. Kakak ipar yang dulu menjadi mahasiswanya tetap sama. Usia yang menua tak lantas membuat Vira bodoh dan lemah. Kekaguman akan ketenangan dalam menyelesaikan masalah. Jelas membuat Vira menjadi orang yang pantas diperhitungkan dalam dunia bisnis yang kejam.


Huuufff


Suara helaan napas Vira, membuyarkan sunyi yang terasa. Vira meletakkan berkas yang dibacanya. Vira menggenggam ponsel pintarnya. Vira mengetik beberapa kata, entah pada siapa Vira mengirim pesan? Namun jelas dari raut wajahnya. Vira tengah bingung memikirkan masalah yang terjadi.


"Maaf!"

__ADS_1


"Untuk apa?" Sahut Vira tenang, berpura-pura tak mengerti perkataan Arif. Meski Vira mengerti, alasan kata maaf itu terucap.


Arif diam menunduk. Seolah tak memiliki jawaban akan pertanyaan Vira. Rayyan yang duduk tepat di sebelah Arif. Menyadari beban yang dipikul Arif. Rayyan juga merasakan rasa bersalah yang sama. Keduanya merasa tak mampu menjaga amanah Vira. Perusahaan yang susah payah dibangun Vira. Kini tengah berada di ujung tanduk.


"Apa yang terjadi bukan salahmu? Ketamakan mas Azzam, keserakahan keluarga Atmaja dan kekuatan mereka yang menjadi alasan perusahaanku hancur!"


"Tapi kak!" Sahut Rayyan, Vira mengedipkan mata. Isyarat apa yang dikatakannya benar adanya?


"Keluarga Atmaja bukan keluarga biasa. Kemampuan bisnis mereka tak bisa diragukan lagi. Kekuatan akan koneksi mereka, tak mungkin kita miliki. Pengalaman mereka tak bisa dianggap remah. Puluhan tahun perusahaan mereka berdiri. Takkan mudah untuk bersaing dengan mereka. Artinya perusahaan Atmaja, bukan lawan sepadan kalian!"


"Lantas, apa yang harus kita lakukan?" Ujar Arif.


"Diam, hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini!"


"Kak!" Sapa Rayyan, tanda dia tak memahami perkataan Vira.


"Dua puluh tahun aku pergi, hari ini aku kembali bukan tanpa alasan!"


"Maksud kakak!"


"Kamu akan tahu saatnya tiba, aku akan mengambil alih perusahaan. Bukan untuk membuatmu terlihat lemah. Aku hanya akan melihat, sekeras apa mereka ingin merebut perusahaan kecilku!" Ujar Vira pada Arif, dengan tegas dan tanpa ragu Arif mengangguk.


"Terima kasih!" Sahut Vira hangat.


"Rayyan, bantu kakak mencari dokter spesialis syaraf. Farah harus terud terapi, usahakan dokter perempuan. Farah merasa risih, jika dokter yang menanganinya laki-laki!"


"Aku akan meminta dia mencarikan dokter. Sebagai seorang dokter, dia pasti punya banyak kenalan!" Sahut Rayyan santai.


"Rayyan, dia yang kamu maksud itu istrimu. Jangan bersikap tak dingin seperti itu!"


"Hmmm, aku tahu!" Ujar Rayyan santai.


"Kalian berdua tetap sama, selalu bertengkar karena hal-hal yang sepele!"


"Bukan aku yang memulai, dia yang selalu dingin padaku. Kakak bisa mendengarnya sendiri!" Sahut Silvia dingin, Vira tersenyum mendengar keluhan Silvia yang penuh dengan cinta terhadap Rayyan adik laki-lakinya.


"Apa kabar kak?" Sapa Silvia ramah, Silvia meraih tangan Vira. Silvia hendak mencium punggung tangan Vira.

__ADS_1


"Hentikan!" Ujar Vira sembari menarik tangannya.


"Kenapa?"


"Tidak perlu melakukan hal itu!" Ujar Vira hangat, Silvia menggeleng lemah.


"Aku mungkin lebih tua dari kak Vira, tapi kakak bukan hanya saudara tertua suamiku. Kakak sudah selayaknya ibu baginya. Artinya kakak juga ibuku. Izinkan aku mencium tangan ibuku!" Ujar Silvia, lalu menarik paksa tangan Vira.


"Biarkan saja kak, dia memang adikmu!" Sahut Rayyan dingin.


"Rayyan!"


"Biarkan saja kak Vira. Kak Rayyan selalu dingin pada kak Silvia, tapi sebenarnya kak Silvia wanita paling dicintainya. Kak Rayyan hanya takut mengakui cintanya!" Sahut Vika, Arif seketika tertawa.


"Jangan asal bicara!" Sahut Rayyan kesal.


"Sudah, tidak perlu ribut. Kakak harus menemui seseorang!" Ujar Vira, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Satu per satu mengekor Vira keluar dari ruang kerja Vira. Mereka berjalan beriringan, Arif memeluk erat Vika. Bergelayut manja pada Vika istri tercintanya. Sedangkan Rayyan yang dingin pada Silvia, tapi penuh cinta dalam tatapannya. Mereka menjadi pasangan yang serasi penuh cinta.


"Farah, mama akan menemui seseorang. Jika kamu ingin ikut bersama mama. Lebih baik kamu siap-siap!" Ujar Vira, Farah mengangguk tanpa berpikir dua kali.


"Mama, aku ingin mengajak Farah jalan-jalan!" Ujar Fatih, Vira menoleh ke arah Farah. Seolah ingin meminta jawaban atas permintaan Fatih. Nampak Farah menunduk, seakan itu jawaban yang ditunggu Fatih.


"Fatih, kamu bisa melihatnya sendiri. Farah belum merasa nyaman jauh dari mama. Jika memang kamu ingin keluar bersama Farah. Lebih baik kamu ikut bersama mama. Kita bisa jalan-jalan!"


"Kenapa Farah tidak nyaman? Aku bukan orang lain!"


"Fatih, Farah baru saja mengenal kita. Jadi pantas kalau dia belum nyaman!" Ujar Rayyan.


"Tapi aku kakak kandungnya!" Ujar Fatih lirih, Fatih merasa kecewa dengan penolakan Farah.


"Kenapa tidak mengajak Nafisa saja? Pasti dia senang!" Ujar Vika menggoda.


"Mama, aku ikut mama!" Ujar Farah lirih.


"Baiklah, aku ikut mama!" Sahut Fatih lantang.

__ADS_1


"Kalian tidak akan menyesal ikut dengan mama!" Batin Vira.


__ADS_2