
"Cecil, kita pergi bersama Vira. Aku lelah pura-pura bahagia bersama mereka!" Ujar Fariz sembari menggandeng tangan Cecil.
"Fariz berhenti!"
"Dulu papa tidak bisa menghentikanku. Sekarangpun papa tidak berhak melakukannya!" Sahut Fariz lantang.
Fariz menarik tangan Cecil, mengajaknya menjauh dari keluarga Atmaja. Fariz berdiri tepat di belakang Vira. Angga berdiri seraya berkacak pinggang. Melda hanya diam menunduk, lagi dan lagi dia melihat pertikaian antara ayah dan anak. Melda hanya bisa pasrah melihat semua itu. Dia tidak bisa memilih diantara anak atau suami.
"Vira, lebih baik kita makan ikan bakar di tepi pantai. Angin laut jauh lebih dingin, daripada AC restoran ini. Terlalu lama kita disini, kita bisa mati terpanggang. Mereka orang-orang yang panas akan kekuasaan dan harta!" Ujar Fariz lantang, Azzam mendongak menatap Fariz. Lagi dan lagi dia menjadi pahlawan di depan Vira.
Cecil menunduk terdiam, tubuh dan hatinya dingin membeku. Tak ada suara yang mampu dia katakan. Sekadar menolak atau mengiyakan ajakan Fariz. Cecil merasa sesak melihat sikap Fariz pada Vira. Tanpa Fariz sadari, dia membuat Cecil tersisih. Seakan cinta Fariz untuk Vira masih ada dan abadi.
"Vira masih ada dalam hati terdalammu. Bukan kak Azzam yang membela dan menjadi benteng Vira. Melainkan dirimu yang terus setia menyimpan rasa padanya. Salahkah aku yang mulai berharap kamu akan mencintaiku. Jika kini aku melihat, dirimu begitu cemas akan luka Vira!" Batin Cecil pilu.
Fariz menoleh ke arah Cecil, dia merasakan diam Cecil yang terluka. Tangan Fariz menggenggam erat Cecil. Dengan tarikan pelan, Cecil terkejut dan sadar dari lamunannya. Fariz menatap lekat wajah Cecil. Kedua mata Fariz mengunci mata indah Cecil.
"Kenapa kamu diam?" Ujar Fariz lirih, sembari menangkup wajah Cecil. Dengan lembut Fariz mengusap pipi Cecil. Menyalurkan kehangatan cinta yang belum sepenuhnya ada.
"Kamu cemburu melihat kepedulianku pada Vira!" Ujar Fariz, Cecil menggeleng lemah. Fariz mengangkat dagu Cecil. Tatapan tajam Fariz mencari kebenaran di balik jernih mata Cecil.
"Kamu berbohong, percuma kamu menyembuyikan sakitmu. Kedua matamu menjawab luka itu. Aku tidak akan berjanji apapun padamu. Namun percayalah, sejak tanganku menggenggammu. Sejak saat itu, aku belajar mencintaimu dan melupakan cintaku pada Vira. Jujur rasaku belum sepenuhnya hilang, tapi tidak ada harapanku untuk bersama Vira. Peduliku hanya sebagai seorang sahabat dan adik tidak lebih!" Tutur Fariz, Cecil menunduk semakin dalam.
Setetes air mata bening jatuh membasahi pipinya. Dengan hati Fariz bisa mendengar tangis yang ditahan oleh Cecil. Fariz menghapus air mata Cecil, seraya menggeleng lemah. Berharap Cecil tidak menangis.
"Mencintai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melupakan cinta jauh lebih sulit. Namun aku yakin dengan teguh cintamu. Aku bisa menatap masa depan yang indah. Aku akan belajar, dukung dan tunggu aku dengan kesabaran cintamu. Agar kelak hanya namamu yang ada dihatiku!" Ujar Fariz, Cecil mengangguk tanpa ragu.
"Maaf!" Sahut Cecil, Fariz menggeleng lemah. Isyarat Fariz tidak marah akan sikap Cecil yang kekanak-kanakan.
"Cecil, aku tidak pernah mengenalmu. Namun aku percaya, kamu yang akan membuat Fariz bahagia. Aku bukan siapa-siapa yang pantas kamu cemburui? Aku dan Fariz hanya teman dan selamanya akan menjadi teman!" Ujar Vira, lalu menarik tubuh Cecil. Keduanya saling memeluk erat. Melupakan rasa sakit yang tak sepantasnya ada.
"Vika, kakak pergi dengan Fariz. Jaga dirimu baik-baik!" Ujar Vira lirih, tanpa peduli tatapan sinis Angga dan Arka. Sedangkan Azzam hanya diam, seolah takut akan kekuasaan Arka Atmaja.
"Kak Vira, kami ikut. Aku tidak berada di tempat, dimana istriku merasa tidak nyaman?" Sahut Arif, seraya menggandeng tangan Vira. Menuntun istri cantiknya berdiri meninggalkan makan malam keluarga Atmaja.
"Hebat kamu Vira, dua penerus keluarga Atmaja. Angkat kaki dari acara makan malam ini. Semua demi ikut bersamamu. Seolah darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Tidak ada artinya!" Ujar Angga sinis, Vira menoleh seraya mengutas senyum simpul.
Vira bukan menertawakan perkataan Angga. Vira hanya ingin membalas hinaan dan amarah Angga dengan kebaikan. Vira tidak ingin semuanya semakin keruh. Dengan senyum simpulnya, Vira berharap semua akan membaik.
"Maaf saya permisi!" Ujar Vira.
"Tunggu Vira!"
"Ada apa?" Sahut Vira heran, ketika Azzam berdiri menghentikannya.
__ADS_1
"Kamu bisa pergi, tapi Fatih akan tetap bersamaku. Selama ini dia selalu bersamamu. Biarkan malam ini, Fatih bersama keluargaku. Dia berhak dan harus mengenal keluarga ayahnya!" Ujar Azzam arogant, Vira menatap Azzam lekat. Mencari sosok Azzam yang pernah dikenalnya. Namun entah kenapa? Malam ini dia hanya melihat Azzam yang dingin.
"Maafkan aku kak Azzam, Fatih akan ikut bersamaku. Aku tidak akan meninggalkan Fatih sendirian!" Sahut Vira tenang, Azzam berjalan menghampiri Vira.
Tepat di depan Vira, Azzam menghentikan langkahnya. Azzam meradang tanpa alasan, seakan penolakan Vira telah merendahkan harga dirinya. Azzam menggenggam erat bahu Vira, menarik tubuhnya sehingga dekat dengan wajahnya. Vira meringis kesakitan, tapi Vira mencoba menahannya. Dia tidak ingin semuanya semakin kacau tak terkendali.
"Kamu tidak berhak melarang Fatih bersamaku. Apa kamu lupa? Aku yang membuatnya ada. Darah keluarga Atmaja yang mengalir dalam tubuhnya. Dengan alasan apa? Kamu mengatakan dia sendirian. Sedangkan kedua matamu bisa melihat. Kami semua ada bersamanya!" Ujar Azzam emosi, cengkraman tangan Azzam terasa ngilu menembus tulang Vira.
Dengan perlahan dan sangat tenang. Vira menepis cengkraman Azzam. Vika mencoba membela Vira, tapi dengan gelengan kepala. Vira menghentikan Vika yang ingin mendekat ke arahnya. Sedangkan Fariz sudah siap mendaratkan bogem mentahnya ke arah wajah Azzam. Namun lagi dan lagi, Vira menghentikannya. Seolah Vira tidak ingin melihat Azzam terluka.
"Kak Azzam salah paham. Aku tidak melarang kamu bertemu atau makan bersama Fatih. Namun aku tidak akan meninggalkannya. Bersama keluarga yang sejak awal tidak menerimanya. Lebih baik besok kak Azzam jemput Fatih. Syifa akan ikut bersama kalian!"
"Kenapa kamu melarang Fatih mengenal kami? Seperti perkataan Azzam, kami bukan orang lain. Kami ini keluarganya, darah Atmaja mengalir dalam nadinya. Jika kamu tidak mengijinkan Fatih tinggal. Kami akan menuntut secara hukum. Agar hak asuh Fatih jatuh ke tangan kami!" Sahut Angga, Melda menggelengkan kepalanya. Dia tidak sependapat dengan Angga. Dia tidak ingin melihat Fatih jauh dari Vira.
"Apa itu yang akan kamu lakukan?"
"Jika kamu memaksa!" Sahut Azzam dingin, Vira mundur menjauh dari Azzam.
"Kak Azzam, maafkan aku. Fatih akan ikut bersamaku!" Ujar Vira final, lalu menjauh dari Azzam.
"Vira!" Teriak Nadya lantang, sontak Vira menoleh.
Dia melihat Nadya berdiri, lalu berjalan dengan anggun menghanpirinya. Nadya memberikan sebuah berkas pada Vira. Tanpa banyak bicara, Vira membaca berkas yang diberikan Nadya.
"Vira, aku rasa kamu mengerti isi berkas itu. Jika kamu memaksa membawa Fatih. Maka besok pagi, kamu akan mendapatkan surat panggilan dari pengadilan. Kami akan menuntut hak asuh Fatih!"
"Siapa kamu berani berebut Fatih denganku!" Ujar Vira dingin, sesaat setelah melempar berkas di meja samping Nadya.
"Aku calon ibu, sekaligus pengacara keluarga Atmaja. Kami akan menuntutmu, karena telah menghalangi kami bertemu Fatih!" Sahut Nadya sinis.
"Silahkan lakukan apapun yang kalian inginkan. Fatih tidak akan pernah bersama keluarga Atmaja. Jika kalian terus memaksa, aku akan menyerang kalian balik. Seekor semut kecil akan menggigit bila terus diinjak. Begitu pula aku, akan melawan bila terus kalian serang!"
"Vira kenapa kamu keras kepala? Biarkan Fatih bersamaku malam ini. Dia putraku, aku berhak bersamanya!"
"Kak Azzam, dia wanita keras kepala dan rendah. Tidak ada gunanya bicara dengannya. Hanya membuang waktu dan energi kita!" Sahut Nadya, Vira meradang.
"Tutup mulutmu, kamu tidak dalam porsi bicara. Calon istri yang nyata lebih mirip perebut suami orang. Tidak pantas menjadi ibu dari anakku!"
Plaaakkk
"Vira!" Teriak Azzam lantang, bersamaan dengan tangannya yang melayang menampar Vira.
"Kak Vira!" Teriak Vika histeris.
__ADS_1
Vira menghapus darah yang keluar dari sudut bibir Azzam. Dengan jari jempolnya, Vira mengusap darah merah segar di bibirnya. Vira tersenyum melihat sikap Azzam yang tak terkendali. Vika mendekap erat Vira, dia menangis melihat luka kakaknya.
"Vira, maaf!" Ujar Azzam lirih, Vira diam tak bergeming.
Vira menoleh ke arah Nadya yang tersenyum penuh kemenangan. Tamparan Azzam pada Vira, seakan pembelaan Azzam padanya. Vira meminta Vika melepaskan pelukannya. Dengan suara parau menahan tangis. Vira memanggil Syifa. Vira meminta berkas yang dititipkannya.
"Kak Azzam, maaf jika aku membuatmu marah. Tamparanmu seakan jawaban atas bimbang hatiku!"
"Apa maksudmu?" Ujar Azzam bingung, Vira melepas sesuatu dari lehernya. Sebuah kalung berliontin cincin, dilepas Vira dari lehernya.
Vira meletakkan kalung berserta cincin di atas berkas yang diminta dari Syifa. Vira membuka berkas itu, lalu menandatangani salah satu lembar dalam berkas. Vira menghela napas panjang, tepat setelah menandatanganinya.
"Vira, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Kak Azzam, aku kembalikan cincin yang dulu kamu berikan padaku. Cincin pengikat kita, saksi bisu janji suci diantara kita. Cincin yang menemaniku selama ini. Cincin yang menggantikanmu menjaga diriku. Cincin yang membuatku ingat setiap moment bahagia kita!"
"Apa yang ingin kamu katakan? Jangan berpikir yang tidak-tidak!"
"Kak Azzam, terima kasih telah ada di dunia ini. Mencintaimu membuatku merasa sempurna. Kini aku harus melepaskan cintaku, karena semua sudah berbeda. Bukan tanganku yang pantas kamu genggam. Berkas perceraian yang kamu kirimkan sudah aku tandatangani. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu!"
"Kamu bicara apa? Aku tidak pernah ingin menceraikanmu!"
"Azzam, sudah tidak perlu bicara dengannya. Dia wanita rendah, tidak pantas diberi hati!" Ujar Angga sinis, Azzam menggeleng tak percaya. Dia mengambil berkas yang dimaksud Vira. Sedangkan Vira berjalan menghampiri Nadya dan keluarga Atmaja lainnya.
"Nadya, kamu mungkin pengacara hebat yang mampu memenangkan kasus apapun. Namun sampai napas terakhirmu, kamu tidak akan pernah bisa memisahkan putra dari ibunya. Karena aku ibunya, kekuatan dan kemampuanku takkan pernah bisa kamu kalahkan. Fatih lahir dari rahimku, darah dan air mataku yang membesarkannya. Jadi sampai kapanpun? Kamu tidak berhak merebutnya dariku. Entah kamu seorang wanita atau bukan? Disaat wanita lain berjuang membantu kaumnya. Kamu malah ingin menyakiti wanita lain, tapi percuma aku bicara. Kamu tidak akan pernah mengerti perasaan seorang ibu. Sebab sampai detik ini, kamu belum pernah melahirkan. Hanya hati seorang ibu yang bisa melihat kepedihan kehilangan anak!" Tutur Vira dingin, seketika Nadya menunduk terdiam. Terhina, mungkin itu yang dirasakan Nadya.
"Tuan besar Atmaja, kalian ingin merebut Fatih dariku. Silahkan saja, lakukan sekuat kalian bisa. seharusnya kalian malu, putra yang kalian rebut dariku. Tidak lain janin yang ingin kalian bunuh. Sampai kapanpun? Aku tidak akan membiarkan kalian merebutnya. Dengan seluruh kemampuanku, akan kubuat kalian menyesal!"
"Kita lihat saja!" Sahut Angga, Vira mengangguk pelan.
"Vika, lebih baik kita pergi!"
"Syifa, minta menager restoran menggratiskan semua makanan ini. Masukkan ke dalam tagihan bulananku!" Ujar Vira, Syifa mengangguk pelan.
"Kamu tidak akan mampu membayarnya!" Ujar Nadya sinis.
"Aku memang tidak mampu membayarnya. Sebab aku tidak perlu mambayarnya. Restoran ini salah satu usaha milikku. Kepemimpinannya di bawah pengawasanku!" Ujar Vira dingin, lalu berlalu meninggalkan orang-orang kaya yang miskin hati.
Kreeekkk
"Aku tidak akan pernah bercerai darimu!" Ujar Azzam sembari merobek berkas yang ditandatangani Vira.
"Terserah padamu, aku sudah memenuhi keinginanmu!" Sahut Vira tenang.
__ADS_1
"Selamanya kamu istriku, tidak akan diganti oleh siapapun? Termasuk Nadya!" Ujar Azzam.
"Jika memang berakhir, aku sudah siap. Aku mencintaimu Azzam, sangar mencintaimu!" Batin Vira pilu.