Ikhlas

Ikhlas
Fakta yang Terkuak


__ADS_3

"Vira!" Teriak Azzam lantang, suara Azzam menggema ke seluruh bagian rumah megah Vira.


"Vira!" Teriak Azzam lantang, amarah yang jelas terlihat di mata Azzam.


Vira mendengar teriakan Azzam dari lantai dua rumahnya. Vira melihat dari jendela kaca kamarnya. Kedatangan Azzam sudah diprediksi Vira. Kekacauan yang dilakukan Farah, jelas memancing emosi Azzam. Amarah yang jelas membuat keributan besar. Sebuah bom kecil telah diledakkan oleh Vira. Sebuah ledakan kecil, akan memancing ledakan yang lebih besar.


"Ada apa Azzam? Kenapa kamu berteriak? Kita bisa bicara baik-baik di dalam!"


"Dimana Vira? Minta dia keluar, aku harus mendengar penjelasan darinya. Vira bertanggungjawab akan sikap kasar Farah. Dia yang selama ini membesarkan Farah. Vira dalang dari kekejian Farah!" Ujar Azzam emosi, Arif diam mendengarkan. Sejenak Arif takut melihat amarah Azzam.


Nampak dua bola mata Azzam memerah, amarah yang tak lagi mampu disembuyikan. Farah menyulut emosi Azzam yang lama tersimpan. Kemarahan Azzam bukan tanpa alasan, perbuatan Farah diluar nalar. Dia mengusir Fariz dari perusahaan, bahkan rumah tempat Fariz tinggal. Farah begitu dingin, dia tak melihat suara rintihan Fariz. Tak ada rasa kasihan di mata Farah. Dengan dingin Farah mengambil seluruh aset Fariz. Saat kerugian Farah tak mampu diganti oleh Fariz. Semua telah berpindah tangan, Farah menjadi pribadi menakutkan. Azzam merasa kecewa, mendengar Farah sanggup melakukan segalanya demi kepuasan hatinya.


"Kita masuk, kak Vira ada di dalam. Dia sedang istirahat, kak Vira sakit sejak kemarin. Aku akan memanggilnya!" Ujar Arif lirih, mencoba menenangkan Azzam.


Amarah Azzam yang semula meledak-ledak seketika mereda. Azzam luluh tanpa syarat, ketika dia mendengar sakit Vira. Tak ada yang bisa mengelak, jika cinta Azzam masih sangatlah besar untuk Vira. Azzam merasa sesak, saar mendengar Vira sakit. Tubuhnya langsung lemah tanpa tulang. Azzam tak mampu menutupi kecemasannya. Cinta benar-benar membuat Azzam tak berdaya. Vira menjadi racun sekaligus madu dalam hidup Azzam. Dengan racun cinta Vira, Azzam seketika mati. Dengan madu kasih sayang Vira, Azzam merasa hidupnya sempurna. Cinta yang tak mudah bersemi. Bahkan jauh lebih sulit terlupakan.


"Vira!" Gumam Azzam, lalu berjalan masuk ke dalam ruang tamu rumah megah Vira.


Azzam melangkah dengan langkah gontai. Tubuh tegapnya seakan tak bertulang. Bahkan Arif mencoba menopang tubuh Azzam yang terhuyung. Arif melihat rapuh dan hancur Azzam. Azzam rapuh ketika mengetahui Vira sakit, tanpa dia bisa mendekap Vira. Di sisi lain, Azzam hancur melihat Farah bersikap tak pantas pada keluarganya. Dua sisi yang sama-sama tak mampu ditanggung Azzam.


"Duduklah, aku akan memanggil kak Vira!" Ujar Arif mempersilahkan Azzam duduk.


"Tidak perlu Arif, aku sudah ada di sini!" Ujar Vira lantang, Azzam mendongak menatap Vira.


Vira menuruni tangga dengan tubuh lemahnya. Wajah Vira terlihat pucat, bibirnya biru seakan tubuhnya kedinginan. Azzam terdiam mematung, dia merasa bodoh telah marah tanpa alasan. Hatinya semakin sakit, saat melihat Vira yang begitu lemah. Bahkan untuk berjalan, Vira merasa kesulitan. Jaket tebal yang dikenakan Vira. Semakin menampakkan, Vira sedang tidak baik.


"Maaf!" Ujar Azzam lirih, tepat setelah Vira duduk di depan Azzam.


Vira tersenyum mendengar kata maaf dari Azzam. Setelah teriakan lantang Azzam, jelas permintaan maaf Azzam terasa aneh dan lucu. Namun Vira mengerti, Azzam tetap sama seperti dulu. Azzam yang selalu mengedepankan emosi, daripada kebenaran. Sifat yang membuat Vira menjauh dari hidup Azzam.


"Tidak perlu, kamu berhak marah. Kamu berhak menuntut penjelasan dariku. Namun aku juga berhak diam tak menjelaskan. Sebaliknya aku meminta maaf mewakili Farah. Dia putri kecilku yang terluka, dia kehilangan arti kasih sayang. Saat dirinya membutuhkan belaian kasih sayang!"

__ADS_1


"Dia putriku juga!"


"Aku tahu itu, sebab dia menuruni sifatmu. Jiwa kerja kerasmu, tidak midah menyerah meski mengalami kegagalan. Farah tak pernah mengenal kata kalah. Dia tak gentar menghadapi siapapun? Farah pandai dalam menilai sebuah bisnis. Dia pintar layaknya dirimu dalam dunia bisnis. Farah jelas duplikatmu, dia bak kembaranmu. Seolah Farah ingin membuktikan diri, dia memang putri Azzam Auliqa Putra Atmaja!" Tutur Vira dengan suara lemahnya, Azzam menunduk.


"Lantas, kenapa dia ingin menghancurkan keluarga Atmaja?"


"Karena kalian yang lebih dulu menghancurkan hidup putriku!"


"Apa maksudmu Vira? Tidak mungkin aku menghancurkan hidup putriku. Jangankan membuat Farah hancur. Bahkan aku baru mengenalnya!" Ujar Azzam membela diri, Vira menggelengkan kepala lemah.


Farah memberikan sebuah album foto kepada Azzam. Dengan perasaan heran, Azzam menerima sebuah album foto dari Vira. Dengan isyarat mata, Vira meminta Azzam membukanya. Vira seolah ingin menunjukkan sesuatu pada Azzam. Lebih tepatnya Vira ingin mengatakan kenyataan yang lama tersembunyi.


Azzam membuka perlahan album yang ada di tangannya. Azzam membuka lembar pertama, seketika kedua mata Azzam terbelalak. Kedua bola mata Azzam membulat sempurna. Foto yang dilihatnya, begitu menyayat hatinya. setetes bulir air mata Azzam menetes tepat di atas foto USG hitam putih. Azzam membuka lembar demi lembar album foto. Hatinya semakin teriris, saat membaca tulisan tangan di bawah tiap-tiap foto. Tangis Azzam pecah, ketika melihat lembar terakhir. Tangis yang tak bersuara dan terasa begitu menyesakkan.


"Ini!" Ujar Azzam dengan suara yang bergetar.


"Ini milik Farah, putri kecil kita. Putri yang terabaikan dalam diamnya!"


"Kata maaf itu terlambat, hati Farah membeku. Setiap hangat yang ditunjukkan Farah dalam foto. Tak bersambut dan selalu kamu acuhkan. Alasan Farah tak ingin menganggapmu ada!"


"Vira, aku tak pernah berniat!"


"Mas Azzam, janin lemah dalam rahimku. Kini tumbuh menjadi remaja yang kuat dan tangguh. Jika dulu keangkuhan keluarga Atmaja tak mampu menggugurkannya. Saat ini kekuatan keluarga Atmaja takkan mampu menghentikannya. Gadis kecilku yang dulu hampir tiada, karena kesombongan tuan Angga. Kini hidup dengan dua kaki lemahnya dan siap menghancurkan kesombongan tuan Angga. Gadis remaja yang terusir, saat ingin menyapamu karena cacatnya. Kini berdiri tegak, bukan hanya mengusir namamu dalam hatinya. Bahkan dia tak ingin melihat bahagiamu. Farah selalu ingin mengenal keluarga Atmaja, tapi kekejian dan keangkuhan kalian yang terus mengacuhkannya!"


"Tidak mungkin!"


"Itu benar Azzam, apa yang dikatakan Vira adalah kebenaran yang tak pernah diketahui olehmu!"


"Om Dimas!" Ujar Azzam heran.


"Vira datang menemuimu, tepat setelah dia memeriksakan kandungannya. Vira kembali dengan membawa foto USG janin Farah. Namun dengan sombongnya, papa mengusir Vira. Kak Angga menuduh Vira berselingkuh. Mereka menghina Vira, seolah Vira tak lebih dari perempuan malam. Foto janin pertama, saat Vira bahagia. Foto janin yang kedua, tepat setelah mobil keluarga Atmaja menabrak tubuh lemah Vira!" Tutur Dimas lantang, Azzam menggelengkan kepalanya lemah.

__ADS_1


"Setelah Vira siuman dari koma, Farah harus lahir dengan usia kandungan yang belum sempurna. Bukan di sebuah rumah sakit, melainkan rumah sakit jiwa. Vira terguncang saat menerima dua surat darimu. Sebuah undangan kebahagian atas pernikahanmu, satu lagi surat kehancuran Vira yang telah kamu tandatangani. Surat yang membuat Farahku lahir hanya dengan berat 1.3 kg!"


"Bohong!" Teriak Azzam histeris, Vira diam menunduk. Semua yang tertutup rapat, kini mulai terkuak. Menjawab alasan kebencian Farah yang begitu besar.


"Keluarga Atmaja belum merasa cukup, sampai saat putri kecilku Farah belajar berjalan di usia 4 tahunnya. Mereka kembali datang, bukan untuk menyapa. Melainkan menabrak tubuh mungilnya, sampai Farah mengalami patah tulang kaki. Sehingga dia harus bergantung pada kursi roda!"


"Tidak!" Teriak Azzam tak percaya.


"Foto terakhir yang kamu lihat, saat Farah menjadi pelajar terbaik dan bertemu denganmu. Kamu menepis tangannya, saat ingin mencium punggung tanganmu. Kamu memarahinya, ketika bibir mungilnya memanggilmu papa. Kamu membentaknya, waktu Farah menjatuhkan pialamu tanpa sengaja. Sejak itu Farah menutup kisah bersama keluarga Atmaja. Hanya menghancurkan kalian menjadi tujuan hidup Farah. Sebab kesempatan dan kasih sayang yang Farah berikan, telah kalian sia-siakan!"


"Semua bohong!"


"Untuk apa kami membohongimu Azzam? Lihatlah tanggal cetak foto, agar kamu sadar. Kapan kamu kehilangan Farah selama-lamanya?"


"Aku mengenal keluargaku, tidak mungkin mereka berbuat sekeji itu. Atas dasar apa mereka memburu Farah? Sedangkan pada Fatih, mereka tak pernah melakukan apapun?"


"Karena aku pemilik 50% saham perusahaan anda!" Sahut Farah lantang, Vira dan Azzam menoleh bersamaan.


"Bagaimana mungkin?" Ujar Azzam tak percaya.


"Mas Azzam, kamu pernah menghibahkan 50% sahammu padaku. Dengan cacatan aku memiliki satu putri denganmu!"


"Secara tidak langsung, Farah pemilik setengah saham perusahaanmu!" Ujar Dimas santai.


"Vira, katakan jika yang aku dengar itu sebuah kebohongan!"


"Maafkan aku, tapi itu semua benar!"


"Sekarang silahkan anda pergi. Kita akan secepatnya bertemu!" Ujar Farah dingin dan tegas.


"Setelah kamu hancur, maka seluruh keluarga Atmaja. Karenamu mereka terus memburuku. Dengan memburumu aku akan menghancurkan mereka!" Batin Farah dingin.

__ADS_1


__ADS_2