Ikhlas

Ikhlas
Pengganti


__ADS_3

"Vira!" sapa Fariz, Vira langsung menoleh. Sesaat setelah mendengar seseorang memanggilnya.


Vira melihat ke arah jam dinding. Terlihat jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIB. Hari masih sangat pagi. Sang fajar belum menampakkan wajahnya. Kabut masih jelas menghalangi pandangan. Dinginnya terasa menusuk ke tulang-belulang. Embun pagi masih menempel di rerumputan. Belum beranjak menjauh, menandakan sinar sang fajar belum terasa hangatnya.


Tepat setelah sholat subuh, Vira mengayuh sepeda mini lamanya. Dia bergegas menuju rumah keluarga Atmaja. Vira menerobos gelapnya pagi dan dinginnya kabut. Dengan sekuat tenaga Vira mengayuh sepeda. Dia harus segera sampai di kediaman keluarga Atmaja. Ibunya meminta Vira menggantikan sementara pekerjaannya. Kondisi kesehatan ibu Vira terus menurun. Sebab itu Vira yang kini menggantikan pekerjaan ibunya. Tentu semua dikerjakan sebelum dia berangkat kuliah.


Sengaja Vira berangkat pagi buta. Bukan dia ingin menyembunyikan diri dari tetangga sekitar. Namun Vira tidak ingin bertemu dengan Azzam atau Fariz. Vira yakin kedua pewaris keluarga Atmaja masih tertidur pulas. Meski sebenarnya tanpa Vira sadari. Keduanya selalu bangun tepat waktu.


Seperti saat ini, ketika Vira sedang berada di tempat cucian. Fariz datang menghampiri Vira. Fariz ingin menyapa Vira, walau Vira enggan untuk menyahuti. Fariz mulai belajar memahami arti cintanya pada Vira. Penolakan Vira mulai bisa diterima Fariz. Sebab kini dia mengerti alasan sikap tegas Vira menjauh dari kata cinta.


"Fariz, kamu sudah bangun!" ujar Vira kaget, sembari memegang dadanya yang berdetak hebat. Fariz mengangguk pelan, dia mengiyakan perkataan Vira.


Fariz melihat Vira datang. Menggunakan sepeda mini pemberian almarhum ayah Vira. Kebetulan Fariz sedang berada di balkon kamarnya. Vira mungkin tidak bisa melihat ke atas, tapi Fariz dengan mudah bisa melihat ke bawah. Begitu Vira sudah masuk ke dalam. Fariz langsung mengumpulkan semua baju kotornya. Hanya dengan begini dia bisa menghampiri Vira yang sedang mencuci dan menyetrika bajunya.


"Maaf mengagetkan, aku hanya ingin memberikan pakaian kotor. Aku pikir tadi bik Siti yang sedang mencuci. Jadi aku turun memberikan baju kotorku. Aku tidak tega bila dia harus naik turun tangga!" cerocos Fariz, Vira mengangguk lalu mengambil pakaian kotor Fariz.


Vira mengambil semua pakaian kotor Fariz tanpa ada rasa canggung. Seakan Vira lupa Fariz siapa? Vira menganggap pekerjaan yang utama dan melupakan masalah yang ada diantara dirinya dan Fariz. Sebaliknya Fariz terdiam sesaat. Dia melihat sikap Vira yang sangat biasa. Tidak ada rasa malu atau canggung yang diperlihatkan Vira. Lama Fariz menatap cara kerja Vira.


Fariz melihat kedua tangan Vira memilah baju-baju yang diberikan oleh Fariz. Jelas terlihat tidak ada rasa canggung atau jijik. Ketika Vira harus menyentuh pakaian dalam milik Fariz. Sikap Vira yang sangat bertanggungjawab. Menyelipkan rasa bersalah. Fariz hanya ingin menemui Vira, malah kini dia yang membuat Vira harus bekerja keras


"Maaf Vira, aku membuatmu melakukan banyak pekerjaan!" ujar Fariz lirih, Vira menggeleng seraya tersenyum.


Vira tidak merasa keberatan melakukan pekerjaan ini. Malah sebaliknya Vira berterima kasih pada Fariz. Sebab dia tidak perlu susah payah datang ke kamar Fariz untuk mengambil pakaian kotor. Lagipula seandainya bukan Vira yang melakukannya hari ini. Tentu ibunya yang akan mencuci dan menyetrika semua pakaian Fariz dan seluruh anggota keluarga Atmaja.


Vira tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan ini. Malah ada rasa bangga di hati Vira. Sebab dari keringat mencuci pakaian inilah. Dia dan adiknya terus hidup dan bisa bersekolah. Tak pernah Vira berpikir menjadi buruh cuci pekerjaan hina. Selama pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas.

__ADS_1


"Aku malah senang kamu mengantarnya kemari. Jadi aku tidak perlu mengetuk pintu kamarmu. Hanya untuk mengambil pakaian kotor. Selagi kamu masih berdiri disini. Sekalian saja kamu bawa pakaian yang shdah aku setrika!" ujar Vira lirih, sembari mengutas senyum simpul.


Fariz seketika mengelus dadanya pelan. Entah kenapa jantung Fariz berdetak hebat? Tatkala dia melihat senyum Vira yang terus mengembang. Selama dia mengenal Vira, baru pagi ini dia menerima kehangatan yang begitu nyata. Vira selalu tersenyum ke arahnya. Seandainya Fariz bisa memilih. Dia lebih ikhlas mengubur cintanya sedalam mungkin. Asalkan bisa terus dekat dan melihat senyum Vira padanya. Impian sederhana yang dimiliki Fariz. Sebagai bentuk cinta sederhananya pada Vira.


"Kamu memerintahku!" goda Fariz seraya mengutas senyum. Vira mengangguk tanpa ragu, lalu Vira tertawa lepas.


Tanpa keduanya sadari, jarak yang pernah ada. Kini tiba-tiba mencair. Vira dan Fariz melebur jarak yang seakan ingin menjauhkan mereka. Vira mulai merasa nyaman berada di dekat Fariz. Ketika kini Fariz mulai menyadari, bukan cinta yang menjadi prioritas Vira saat ini. Melainkan menjadi tulang punggung yang mampu meringankan beban sang ibu.


"Sudah jangan banyak bicara, ambillah pakaianmu. Aku harus meneruskan pekerjaanku. Jika aku terus bicara denganmu. Aku akan terlambat ke kampus!" ujar Vira sopan, Fariz mengangguk mengerti.


Fariz mengambil pakaian miliknya yang sudah disetrika oleh Vira. Sedikitpun Fariz tidak merasa keberatan melakukan pekerjaan yang tak pernah dia bayangkan. Selama Vira bisa dekat dan menganggapnya teman. Bukan tuan muda keluarga Atmaja. Layaknya sopan santun Vira selama ini.


"Tunggu!" ujar Vira lantang, Fariz menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah Vira, Fariz mengangkat kepalany ke arah Vira. Fariz diam menunggu Vira berbicara. Sedikit lama Fariz menunggu, Fariz merasa Vira ragu mengatakannya.


"Kamar tuan Azzam!" ujar Vira ragu, tangannya saling meremas. Fariz melihat jelas ketakutan, sekaligus keraguan Vira.


Fariz menyadari jika hubungan Vira dan Azzam berbeda. Status keluarga Atmaja tidak akan mudah dilalui Vira dan Azzam. Keduanya akan terus saling menjauh. Sebab itu Vira ragu bertanya, dimana kamar Azzam? Ada rasa takut Vira untuk bertemu dengan Azzam


"Di lantai dua hanya ada dua kamar. Sebelah kiri kamarku dan sebelah kanan kamar kak Azzam. Naiklah dan ambil sendiri pakaian kotornya. Aku tidak pernah masuk ke dalam kamarnya. Jadi jangan memintaku masuk kesana!" ujar Fariz lirih, Vira menunduk lemah.


Akhirnya Vira dan Fariz berjalan beriringan menuju lantai dua. Fariz menunjuk sebuah kamar tepat di depan kamarnya. Vira mengangguk pelan mengerti maksud Fariz. Tanpa menoleh lagi, Fariz langsung masuk ke dalam kamarnya. Fariz seakan tak peduli akan pertemuan Vira dan Azzam.


Braaakkkkk


"Asthgfirrullah!" ujar Vira lirih, sembari mengelus dadanya pelan. Vira terkejut mendengar suara pintu kamar Fariz. Jelas Fariz menutupnya dengan sangat keras, seolah Fariz sedang marah. Vira berjalan pelan ke arah kamar Azzam.

__ADS_1


Vira berdiri tepat di depan kamar Azzam. Tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi seakan tertahan di udara. Vira diam mematung, entah kenapa tubuhnya membeku? Vira seolah tak mampu mengetuk pintu kamar Azzam. Fariz menatap punggung Vira yang mematung di depan kamar Azzam. Fariz sengaja membuka kembali pintu kamarnya. Dia merasa Vira takut mengetuk pintu kamar Azzam.


"Maafkan aku Vira, aku tidak bisa membantumu. Mungkin Azzam kakakku, tapi selama belasan tahun tak pernah ada kedekatan diantara kami. Bagaimana mungkin aku membantumu? Kamar yang sedang kamu ketuk pintunya. Tak pernah satu kalipun aku masuk ke dalamnya. Vira maafkan aku!" batin Fariz, lalu masuk ke dalam kamarnya lagi. Mencoba menutup telinganya, agar dia tidak mendengar apapun.


Kreeeekk


Terlihat pintu kamar terbuka, Vira langsung mundur beberapa langkah. Azzam membuka pintu kamarnya. Sebenarnya dia sudah menyadari kedatangan Vira. Azzam sengaja memasang kemera CCTV di kamarnya. Sebab Azzam tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Meskipun itu Melda mamanya sendiri.


"Masuklah, pakaian kotorku ada di dalam kamar mandi!" ujar Azzam singkat, sembari bersandar pada daun pintu. Vira mengangguk pelan.


Vira berjalan perlahan masuk ke dalam kamar Azzam. Tepat saat dia melewati Azzam, Vira mencium aroma tubuh Azzam yang menenangkan. Kedewasaan Azzam terpancar nyata dari aroma tubuhnya.


"Kamar yang begitu besar dan rapi, bagaimana mungkin orang sesibuk tuan Azzam? Merapikan tempat tidurnya sendiri. Sungguh sesuatu yang tak biasa. Nadya pasti bahagia hidup bersama tuan Azzam!" batin Vira sembari mengedarkan ke seluruh penjuru kamr Azzam.


"Jika sudah selesai, keluarlah. Aku harus bersiap!" ujar Azzam dingin.


"Baik tuan Azzam!" sahut Vira lirih, sembari menunduk. Lalu keluar dari kamar Azzam.


"Tunggu!"


"Iya tuan Azzam, ada yang bisa saya bantu!" sahut Vira ramah.


"Ada, jangan pernah panggil aku tuan Azzam. Aku bukan majikanmu!" ujar Azzam ketus, Vira diam membisu.


"Maaf, saya tidak bisa!" sahut Vira lalu menjauh dari Azzam.

__ADS_1


__ADS_2