Ikhlas

Ikhlas
Satu Cinta Untukmu


__ADS_3

"Fariz!" sapa Vira ramah, seketika Fariz mengangguk ke arah Vira. Dengan senyum ramah penuh ketulusan. Fariz menyambut kedatangan Vira.


"Masuklah Vira!" ujar Fariz, Vira diam mematung di depan pintu.


Vira ragu melangkah maju, masuk ke dalam rumah megah keluarga Atmaja. Rumah dimana dia terhina, tak dianggap dan tersisih. Rumah megah yang seakan menyimpan kepahitan tanpa batas. Vira mengingat jelas suara tamparan dan sakitnya. Raut wajah penuh amarah Angga Atmaja masih sangat jelas di benak Vira. Seketika tubuh Vira bergetar hebat. Rasa takut dan marah bercampur menjadi satu. Tak mampu Vira kendalikan.


"Vira, aku memahami isi hatimu. Aku sadar betapa keluargaku telah menyakitimu. Rumah yang seharusnya melindungimu. Malah menjadi rumah tempatmu tersisih dan hancur!" ujar Fariz lirih, Vira mendongak menatap Fariz.


Fariz laki-laki yang berusaha memahami setiap lukanya. Laki-laki yang menawarkan cinta tulus, tapi harus ditepis Vira demi cinta seorang Azzam Atmaja. Sahabat yang mengerti luka dan air matanya selama berada di rumah ini. Seorang adik ipar, yang entah bagaimana Vira harus bersikap kepadanya?


"Vira, aku mohon masuklah. Jika bukan demi aku atau kak Azzam. Masuklah demi mama, bukankah dia ibu yang sangat kamu hormati. Dia terbaring tak berdaya melihat kak Azzam hancur. Dia kesepian tanpaku disisinya. Kini kamu juga ingin menjauh darinya?" ujar Fariz mencoba membujuk Vira.


Vira diam, lalu tiba-tiba mengangguk. Vira mengucapkan bismillah dalam hatinya. Vira melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Atmaja. Tanpa peduli pada sekitar, Vira naik ke atas kamarnya. Tepat di anak tangga pertama, Vira merasakan dadanya terasa sakit. Mengingat setiap luka yang terjadi seminggu yang lalu. Vira berjalan tertatih menuju kamar Azzam.

__ADS_1


Vira mencoba kuat melawan rasa sakit dihatinya. Vira tidak ingin rasa sakit terus menerus ada dalam hatinya. Mungkin Vira terhina dan tersisih, tapi semua itu bukan salah Azzam. Air mata Vira bukan tanggungjawab Azzam. Melainkan tanggungjawab Angga Atmaja. Seorang tuan besar yang begitu menghargai uang.


Vira berjalan perlahan mendekat ke arah kamar Azzam. Vira memegang handle pintu kamar Azzam dengan ragu. Vira tak menduga dia harus kembali ke kamar Azzam. Tempat dimana bahagia tercipta? Satu-satunya tempat yang menyimpan kenangan indah dalam hatinya. Vira menekan nomer pin pintu Azzam. Seketika kamar Azzam terbuka, Vira diam membisu.


Tubuh Vira bergetar hebat, air matanya jatuh tanpa permisi. Vira melangkah jauh ke dalam kamar Azzam. Vira menutup pintu kamar yang tak lagi pantas dikatakan sebagai kamar. Tak ada kata rapi, semua barang hancur berserakan. Lantai marmer putih, meninggalkan noda merah darah kering Azzam. Tempat tidur yang dulunya selalu rapi dan wangi. Tak ubahnya tempat sampah. Banyak kertas berserakan, bantal tak lagi memiliki selimut. Sedangkan selimut tebal Azzam jatuh di lantai. Meja rias tak lagi berbentuk, kacanya pecah berserakan. Kamar yang dulunya indah, kini hancur tak terurus. Bau amis darah Azzam mengisi kamar Vira. Menggoreskan luka dihati Vira, sadar akan kesalahannya yang pergi meninggalkan Azzam.


Praaayyyyrrr


Vira tersadar saat dia mendengar suara pecahan kaca. Vira mencari Azzam, Vira memeriksa beberapa bagian di kamar Azzam. Vira tak ingin terjadi sesuatu lebih dari ini. Vira tak ingin melihat Azzam terus hancur dalam penyesalan. Cukup sudah Vira hancur, tak ingin Vira melihat hancur Azzam.


Vira menggebrak pintu kamar mandi. Beruntung kamar mandi dalam kondisi tidak terkunci. Jadi Vira bisa membukanya tanpa ada kesulitan. Vira masuk ke dalam kamar mandi. Dia memeriksa kamar mandi. Tepat saat tirai di buka. Vira menutup kedua mulutnya dengan tangan. Vira terkejut sekaligus hancur. Dia melihat hancur dan rapuh Azzam Auliqa Putra Atmaja. Putra pewaris yang selalu membanggakan keluarga Atmaja.


"Kak Azzam!" sapa Vira lirih, Azzam menoleh lemah. Dia tak menyahuti panggilan Vira, Azzam hancur tak bersisa.

__ADS_1


Kedua bola mata Vira membulat sempurna. Ketika dia melihat tubuh Azzam terendam sempurna di dalam bak kamar mandi. Azzam berendam dalam keadaan lemah tanpa semangat. Vira melihat tubuh Azzam yang mulai membiru. Raut wajah Azzam putih pucat. Sedangkan tangan Azzam terjulur ke luar dari bak kamar mandi. Darah segar menetes akibat pecahan kaca yang dilempar Azzam.


"Kak Azzam bangun!" ujar Vira lirih, seraya memeluk erat kepala Azzam. Vira menenggelamkan Azzam ke dalam pelukannya. Vira merutuki kebodohannya yang pergi dari hidup Azzam.


Kini Vira harus bersiap kehilangan Azzam. Tak ada lagi senyum di wajah tampannya. Azzam hancur tak bersisa. Mencoba hidup tanpa Vira, mungkin Azzam mampu. Namun hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Azzam seakan tak mampu. Azzam tak lagi mampu menatap dunia. Mungkin yang dilakukan Azzam salah, tapi cintanya pada Vira. Bukanlah kesalahan yang harus dia tutupi. Azzam lebih memilih tiada tanpa Vira disisinya.


"Vira sayang, kamu kembali!" ujar Azzam seraya menatap Vira lekat. Kedua mata Azzam sayu, tak ada lagi cahaya hidup di kedua mata indahnya. Azzam tersenyum bahagia, menatap Vira yang dia pikir hadir dalam angannya.


"Kak Azzam, maafkan Vira!" ujar Vira lirih, Azzam menatap Vira sendu. Wanita yang begitu dicintainya, kini tepat di depannya. Namun tubuhnya kini tak bertenaga, lemah tanpa daya.


"Kamu tidak salah, aku yang kalah oleh kekuasaan keluarga ini. Aku tak bisa menepati janjiku. Aku lemah tanpamu, tapi aku takut mendekat padamu. Jangan pernah salahkan dirimu atas kondisiku. Aku akan bahagia bila melihatmu bahagia!" ujar Azzam lirih, lalu kedua mata Azzam tertutup sempurna.


Vira panik melihat Azzam tak sadarkan diri. Vira mencoba membangunkan Azzam, tapi usahanya sia-sia. Azzam seakan tak ingin menatap dunia lagi. Vira memberikan handuk pada tubuh dingin Azzam. Vira membantu Azzam berdiri dengan seluruh tenaganya. Tubuh lemahnya harus kuat demi Azzam. Vira menidurkan Azzam di sofa.

__ADS_1


"Maafkan aku kak, maaf!" ujar Vira lirih, sembari mengusap wajah tampan Azzam. Vira mengecup kening Azzam lembut. Vira menatap lekat Azzam, laki-laki yang sekali lagi menghancurkan pondasi keteguhannya. Laki-laki yang membuatnya kalah dan mengalah demi cinta yang ada di hatinya. Satu cinta untuk satu nama dan selamanya.


"Kini kusadari apa itu cinta? Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Pantaskah aku menangis demi cintamu? Layakkah aku berjuang untuk bersamamu? Haruskah aku bertahan disampingmu? Sanggupkah aku kuat menerima sakit, agar kita bahagia? Pertanyaan yang kini bermain di benakku. Tanpa aku bisa menghentikannya. Namun semua terjawab, ketika kulihat hancurmu, saat kutatap rapuhmu, kala kudengar rintihan hatimu. Rasa sakit yang seakan menjawab keraguan hatiku. Rasa sakit yang kau pilih, tepat sejak aku menjauh darimu. Demi diriku kamu memilih hancur. Karena cintaku kamu rapuh. Kini kusadari, dalam setiap cintamu ada luka yang kutorehkan. Dalam setiap impianmu bersamaku, ada keraguan yang sengaja dan selalu kutunjukkan. Tanpa kusadari cinta kita saling melemahkan. Aku lemah demi satu cinta dan nama dihatiku, satu rasa selamanya, untukmu Azzam Auliqa Putra Atmaja. Nama yang entah kapan tertulis di dinding hati terdalamku? Sebaliknya kamu rapuh tanpa cintaku, rasa yang selalu terluka dengan sikap teguhku. Haruskah kita saling menjauh, seandainya hanya luka yang tertinggal. Pantaskah kita saling mencinta, bila akhirnya saling menyakiti. Layakkah kita berjuang, ketika jalan cinta ini buntu terhalang restu. Apapun yang kelak terjadi? Hari ini aku yakin, cintaku satu hanya untukmu. Aku berada di rumah ini demi dirimu. Akan kutelan hinaan, hanya agar kamu merasa tenang. Seandainya kelak aku pergi? Kuharap kamu tak serapuh hari ini. Karena rapuhmu alasanku sakit dan hancur!" batin Vira pilu, sembari menatap wajah Azzam.


__ADS_2